
"tadi pangeran Feng kemari yang mulia. Pangeran Feng sudah melalukannya."
Tabib menunjukkan ramuan yang sudah diisi energi pangeran Feng jiga. Keduanya mengangguk dengan lega, raja yuk dan ratu yin.
Mereka pun membawa ramuan itu kembali ke kamar pangeran Feng. Pangeran Feng, untuk diberikan kepada putri lili.
"Sayang, ini minum dulu."
"Kak, biar aku bantu."
Ratu yin mau membantu lili untuk minum obatnya. Xia dan xixi membantu lili duduk. Ratu yin memberikan gelas ramuannya. Lili minimnya sampai habis.
Lili menutup mulutnya. Dia hampir memuntahkannya. Semua yang melihat di sana panik.
"Tabib, ini kenapa?"
Ratu yin yang khawatir. Dia tabib terbaik di istana, apa dia meracuni putri lili. Tabib menjelaskan, kalau mungkin ramuannya pahit.
"Iya ibu. Saya tidak bisa meminumnya saja. Ini pahit sekali." Katanya.
Ratu yin lega mendengar itu.
"Bertahan dan dibiasakan ya sayang. Untuk kebaikan kamu dan anak kamu."
Lili mengangguk. Dia kembali menghabiskan minumannya. Pangeran yuk kembali ke hutan, dia main dengan teman penggembalanya lagi. Dia cerita semuanya. Dia menemukan lili, dan ternyata lili hamil anaknya. Dia juga memberikan obat itu. Pangeran Feng juga memantau lili, dia melihat dari depan energi yang dia buka. Seperti sebuah layar yang terputar memperlihatkan putri lili sedang minum obat dan sempat mual.
"Selamat ya yang mulia, yang mulia akan segera memiliki anak."
Pangeran Feng malah menatap temannya itu dengan kesal. Dia sama sekali tak bahagia.
"Bagaimana sekarang menyingkir putri lili. Aku sangat membenci dia."
"Yang mulia, putri lili sedang mengandung anak anda. Apa anda sama sekali tidka kasihan? Anda hanya malu karena pingsan dibuat oleh putri lili kan?"
"Tapi tetap saja, itu mempermalukan ku."
"Anda perlahan akan menyayangi dan mencinta putri lili yang mengandung anak anda yang mulia."
__ADS_1
"TIDAK MUNGKIN! tidak akan pernah."
Feng kesal sekali. Akhirnya dia memilih pergi dari sana. Feng mau kembali ke istana. Mau istirahat di kamar dia. Tapi masih ada lili di sana.
Hari sudah malam. Feng kira lili sudah pindah. Tapi karena tadi minum ramuan pahit. Kepala dia jadi pusing dan badannya makin lemas karena menahan mual. Dia masih berbaring di atas ranjang Pangeran Feng.
Ratu yin, raja yuk, putri Xia dan xixi sedang di ruang makan. Sedang makan malam. Ada dayang yang berjaga di depan. Jadi mereka lebih tenang meninggalkan lili. Lili juga butuh istirahat. Sendiri.
Brak!
Feng kira sudah tak ada lili di kamar dia. Dia membuka pintunya dengan keras. Dayang dan pengawal yang berjaga di luar mencoba memberitahu dan menghentikan pangeran Feng. Tapi pangeran Feng sedang terlihat marah. Tak ada yang berani.
Lili yang sedang tidur dengan nyenyan dan nyaman jadi kaget. Dia terbangun dan mengusap perutnya. Anaknya juga kaget.
"Kamu kenapa masih disini?" Tanya Feng dengan kasar kepada lili.
"Maaf, tadi setelah minum ramuannya, kepala saya pusing, mau pindah dan jalan tidak bisa. Saya akan pergi sekarang." Lili baru mau turun. Dia baru berdiri tapi kepalanya masih terasa pusing.
Putri lili hampir jatuh. Pangeran Feng dengan sigap menangkap tubuh lili. Dia jatuh dipeluk Feng.
"Menyusahkan saja. Duduk di sini dulu saja. Aku panggil ibunda ratu dan ayah supaya kamu bisa dipindahkan ke kamar lain."
Dia ke ruang makan kerajaan. Semua sedang makan. Feng menggebrak meja makan dengan kesal. Membuat semuanya kaget.
"Kakak, apaan sih main pukul meja. Mau sok jagoan? Nanti pingsan sama kak lili." Xia yang meledek.
Feng kesal sekali, "dia yang pingsan kali. Cepat keluarkan dari kamar ku ibu. Aku mau istirahat. Aku tidak bisa tidur dengan lili."
"Lili juga tidak mau tidur dengan kamu. Tunggu!" Ratu yin yang selalu lembut dengan Feng kini lebih tegas. Feng sampai kaget.
"Apa salah Feng?"
"Kamu itu, memperlakukan wanita seenaknya. Ibu juga wanita, kamu punya dua adik wanita, bagaimana kalau adik kamu yang diperlakukan seperti itu."
Feng pergi dari ruang makan begitu saja. Walau dia selalu bertengkar dengan Xia. Dia juga membenci xixi. Tapi dia tak mau kalau adik-adiknya itu sampai di sakiti oleh laki-laki.
Feng jadi melamun di halaman belakang istana. Sambil menunggu lili dipindahkan. Tapi dia berubah pikiran. Kamarnya lili kotor. Apa lili akan dipindahkan ke sana. Dia jadi tak tega.
__ADS_1
Ratu yin, raja yuk, putri Xia dan xixi ke kamar Feng. Mereka menemui lili.
"Ayo sayang, kita pindah. Feng itu keterlaluan."
"Tapi ibu mau kamu dan Feng segera mengumumkan pernikahan. Kali ini tidak boleh membantah. Untuk status anak kamu. Kamu tidak perlu Melayani bahkan menganggap dia sebagai suami kamu. Hanya untuk status di kerajaan sana sayang. Mau ya?"
Ratu yin tak henti mengomel. Lili terpaksa mau. Feng ke kamar. Dia mendengar semuanya. Dia juga tak masalahnya. Setidaknya untuk status anak itu.
Xia dan xixi mau membantu lili berdiri. Tapi lili hampir jatuh lagi.
"Kamu gak bisa jalan, putri lili?" Yuk yang bertanya.
"Sepertinya iya sayang. Mau minta pelayan bawa tandu saja apa?" Tanya ratu yin kepada suaminya.
Raja yuk baru mau pergi keluar dan memerintahkan pelayan. Tapi semua melihat Feng datang dan jalan mendekati mereka.
"Lama, aku sudah mau tidur. Sini aku gendong ke kamar. Mau tidur di kamar siapa? Tidak mungkin di kamar yang dulu kan. Harus diperbaiki dulu."
Semua kaget melihat Feng yang tiba-tiba menggendong putri lili begitu saja.
Putri lili menatap feng yang membopong dia. Tangannya melingkar dileher Feng secara reflek karena takut jatuh.
"Ke kamar aku kak." Xia memberitahu.
Feng mengangguk. Dia berjalan perlahan dan keluar, untuk mengantar putri lili. Sepanjang jalan Feng dilihat pelayan, dayang, prajurit.
"Menunduk kalian. Jangan lihat-lihat. Apa lihat-lihat, mau saya beri pelajaran?"
Feng marah-marah. Semua langsung menunduk ketika Feng lewat.
Feng tadinya ingin menggunakan kekuatan dia agar cepat sampai. Tapi dilarang oleh ibunya, ratu yin. Karena tabib berpesan untuk tidak menggunakan kekuatan yang berlebih kepada putri lili dulu. Takut mengguncang kehamilannya yang masih rentan karena putri lili sakit dan selama ini hanya makan seadanya di gua dan di hutan terlarang. Tak banyak buah atau daun yang bagus disana. Hanya ada banyak racun dan buah terlarang.
Feng pun terpaksa jalan seperti manusia biasa. Dengan perlahan dia membawa lili ke kamar xi. Menidurkan lili di atas ranjang Xia.
Kedua matanya sempat bertemu. Tapi dia langsung memalingkan wajahnya. Feng pergi tanpa kata.
"Kakak, kakak tidak apa-apa?" Xia dan xixi mendekati lili. Ratu yin dan raja yuk juga mengikuti sampai masuk kamar Xia.
__ADS_1
Lili mengangguk. Dia sama sekali tidak kenapa-napa.