PANGERAN KEJAM 2

PANGERAN KEJAM 2
PUTRI LILI HAMIL ANAK PANGERAN FENG ; KEMBALI


__ADS_3

Ratu yin dan raja yuk kaget.  Keduanya langsung menuju ke kamar  pangeran Feng.  Putri lili masih terbaring tidur di sana.   Ratu yin melihat perut putri lili. 


"Dia?"


Ratu yin langsung memeriksa dengan tenaganya. Dia terkejut mendengar ada detak jantung dan dia seperti masuk ke dalam mimpi dan dipanggil nenek oleh suara anak laki-laki. 


"Dengar kan?"


Ratu yin membuka matanya setelah dia berkonsentrasi tadi.  Ratu yin menoleh menatap raja yuk ada di samping dia. 


"Kakek."


Yuk bingung mendengar itu.  Dia juga mengangguk.  Raja yuk menunjuk perut lili. 


"Apa itu artinya lili hamil anak Feng? Bagaimana bisa?"


Yin menggeleng.  Banyak gambaran yang ditunjukkan oleh keduanya dalam waktu sekilas.


"Pangeran Feng!"


Ratu yin kesal sekali.  Dia ingin sekali memarahi sang anak.  Dia ingin pergi.  Tapi Raja yuk menahannya. 


"Sayang, kamu disini saja.  Biar aku yang menemui pangeran Feng dan bicara dengan dia.  Lebih baik kamu cek keadaan putri lili dan cucu kita."


Ratu yin mengangguk.  Raja yuk ke luar dari kamar pangeran Feng.  Ratu yin keluar dan meminta penjaga untuk memanggilkan tabib istana.  Ratu yin kembali masuk ke kamar putri lili.  Putri lili terbangun.  Dia kaget melihat sekeliling.  Bukan di gua lagi, tapi di kamar yang pernah dia lihat. 


"Sayang, kamu sudah bangun."


Ratu yin mendekati putri lili.  Dia duduk di samping putri lili.  Memeluk Putri lili dan mengusap perut putri lili. 


"Ibu ratu, bagaimana bisa ibu disini? Aku disini?" Putri lili menjauh dari ratu yin.


"Ibu sudah tahu semuanya.  Perbuatannya pangeran Feng sangat keterlaluan.  Dia punya kekuatan yang sangat luar biasa.  Bahkan dia yang menceritakan kepada kita semua."


"Ini bukan anak pangeran Feng yang mulia.  Ini hanya anak saya.  Saya permisi."


Putri lili melepaskan pelukan ratu yin.  Dia turun dari ranjang dan mau pergi.  Putri lili baru mau menggunakan kekuatannya untuk berlari, terbang cepat keluar dari kamar pangeran Feng.  Tapi pangeran Feng menghentikannya di depan pintu kamarnya.  Di depan mata putri lili.   Kedua mata mereka saling menatap.  Putri lili menatap pangeran Feng dengan kesal dan benci.  Pangeran Feng memalingkan muka. 


"Karena sudah terlanjur.  Tetap tinggal disini.  Kamu tidak bisa lari membawa keturunan kerajaan."


"Salah sendiri tidak pernah melenyapkan dia sejak dulu di dalam perut kamu."


Dengan teganya pangeran Feng mengatakan itu.  Hati putri lili terasa sangat sakit sekali.  Dia menangis menunduk mendengar itu.


"Pangeran Feng, jaga ucapan kamu.  Mau kamu ibunda hukum?"


Pangeran Feng pergi dari sana.  Tak lama Xia dan xixi datang.  Dengan cepat kabar lili kembali tersebar di istana.  Mereka langsung ke kamar kakak laki-lakinya itu. 

__ADS_1


"Kak lili."


Keduanya memeluk putri lili bersamaan.  Ratu yin memisahkan mereka. 


"Hati-hati, kakak kalian sedang hamil."


"Iya kah?"


Mereka segera melepaskannya dan menunduk melihat ke perut lili.  Mereka malah keasikan dan kesenangan melihat lili hamil. 


"Tapi kenapa kakak menangis?"


"Kak Feng ya? Memang minta dipukul kepalanya kak Feng itu.  Jahat banget sih sama istri dan anaknya?"


Xia yang mengomel paling panjang.  Dia mau pergi.  Tapi ditahan ratu yin. 


"Bujuk kakak kamu yang ini dulu.  Minta kak lili tinggal disini. Kak lili mau kabur lagi."


"Iya kak?"


Xixi dan Xia akhirnya menemani lili dan membujuk lili.  Menggandeng lili ke kamar dan kembali duduk.


"Kak, jangan pikirkan kak Feng."


"Demi kita."


"Dia kan juga keponakan kita kak, ya.  Kita mohon kak."


"Makasih Kak."


Lili memutuskan tinggal di sana.  Entah sampai kapan.  Keduanya memeluk lili dengan hati-hati. 


Tabib datang.  Raja yuk yang sejak tadi diam dan hanya melihat ke empat wanita itu, akhirnya keluar karena tabib mau memeriksa lili. 


"Berbaring dulu yang mulia putri," kata sang tabib kepada lili. 


Lili pun menurut.  Dia berbaring.  Tabib mulai memeriksa keadaan lili dan kandungannya. 


"Bagaimana tabib? Apa semuanya baik-baik saja?"


Ratu yin yang bertanya kepada sang tabib.  Tabib menjelaskan semuanya.  Semuanya baik.  Hanya asupan putri lili perlu di perhatikan.  Bayinya kuat, putri lili yang sedikit lemah.  Dengan aura dan energinya juga.  Putri lili tidak boleh banyak mengeluarkan kekuatan dia. 


Ratu yin mengerti.  Dia sendiri yang akan merawat putri lili.  Tabib juga akan membantu membuatkan ramuan untuk putri lili. 


"Yang mulia, maaf.  Tapi saya butuh energi dari pangeran Feng.  Untuk memulihkan yang mulia putri." Tabib menunjuk putri lili. 


Lili hanya diam. Dia rasa Feng tak akan melakukan itu.  Dia kan membenci dirinya. 

__ADS_1


"Baik.  Akan saya katakan kepada pangeran Feng. Dia harus mau."


"Sayang, kalian jaga kakak kalian ya.  Ibu mau menemui pangeran Feng.  Awas saja kalau tidak mau."


Ratu yin mengusap puncak kepada putri lili yang masih berbaring.  Wajahnya jadi pucat, tidak sesegar dulu. 


"Ibu ratu, saya boleh pindah ke kamar saya kan? Saya tidak mau satu kamar dengan pangeran Feng."  Pinta putri lili kepada ratu yin.


"Tapi kamar kamu harus dibersihkan.  Dan sudah banyak yang harus dibenarkan dulu.  Bagaimana?"


"Di kamar aku dulu tidak apa-apa ibu ratu."


Xia menawarkan diri.  Dia melirik kakaknya.  Lili lebih baik seperti itu.  Ratu yin mengangguk, dia juga tak keberatan. 


"Tunggu disini dulu.  Tabib kan mau membuatkan kamu ramuan. Setelah meminumnya baru kita pindah ke kamar putri Xia."


"Iya ibu."


Raja yuk masuk.  Dia mendengar semuanya dari luar.  Raja yuk juga meminta maaf kepada putri lili dan memohon untuk tinggal.  Dia sudah berjanji kepada mendiang ayahnya. 


"Kakak, sudah tahu anak kakak apa?" Tanya xixi dan Xia untuk membuat suasana jauh lebih nyaman. 


Lili mengangguk, "dengarkan dan tanya sendiri kepada keponakan kalian."  Lili mengarahkan tangan keduanya untuk menyentuh perut lili. 


Mereka kaget karena di sapa dan dipanggil bibi.  "Pejamkan mata kalian."


"Wahh, dia sangat tampan. Seperti kak Feng."


"Tapi jangan ikut menyebalkan seperti kak Feng."


Keduanya bahkan ditunjukkan secara gambaran, ketika mereka memejamkan matanya. 


"Aku rak sabar main secara nyata dengan keponakan aku kak."


Lili mengangguk dan tersenyum kepada keduanya.  Setidaknya ada mereka berdua yang membuat dia nyaman sedikit di istana. 


***


Ratu yin dan raja yuk mencari pangeran Feng.  Mereka mengirimkan telepati untuk memanggil dia. 


"Ish.  Menyusahkan sekali."


Feng sedang diluar.  Main dengan teman-temannya. Rakyat biasa. Dia pulang dan ke ruangan tabib. 


"Mana ramuannya?"


"Itu yang mulia."

__ADS_1


Feng langsung memberikan energinya disitu.  Setelahnya dia pergi begitu saja.  Ratu yin dan raja yuk ke ruangan tabib.  Dia pikir Feng tak datang karena tak menjawab telepatinya. 


"Tabib, pangeran Feng tidak menjawab kami." Kata ratu yin.


__ADS_2