
Lili terbangun. Dia mendengar mereka memanggil dan meminta tolong pangeran Feng. Lili tadinya ingin meminta tolong pangeran Feng. Tapi dia tak ada disisinya.
Lili tak bisa mengabaikan ini. Terutama dia anak kecil dan lili tahu karena mereka itu teman pangeran Feng. Entah tahu begitu saja.
Dengan kekuatan dia, dan pangeran yang ada di dalam perutnya, lili meluncur terbang ke sana. Lili melihat FUI sedang menghisap energi anak kecil wanita itu.
Sementara dua orang tuanya sudah tak berdaya mencoba melawan FUI.
“Nona FUI!”
Lili menyerah FUI dengan energinya. FUI terpental jauh. Kedua orang tuanya langsung memeluk CIA.
Lili membuat lingkaran untuk melindungi ketiganya. Walau pun dia kesusahan sendiri dan perutnya kembali sakit. Lili mencoba bertahan melawan FUI yang hilang kendali.
“Bagus kamu kesini. Jadi kamu mau menyerah nyawa kamu sendiri kepada saya kan? Saya yang harusnya dengan Pangeran Feng, bukan kamu. Apalagi anak itu, anak itu tak seharusnya ada.”
Fui dan lili bertaruh. Lili bertahan sebisa dia. Sampai dia kelelahan dan jatuh. Lili kalah.
Feng mencari lili di kamar. Dia tak menemukan lili. Feng sedang berjaga di luar dan memeriksa.
“lihat kak lili?”
“Apa ada yang lihat putri lili?”
Feng bertanya kepada kedua adiknya yang ikut berjaga. Tapi mereka tak melihatnya. Pada dayang dan prajurit juga.
“Tunggu.”
Feng mencoba mencari lili dengan telapati. Feng melihat lili dimana. Feng langsung pergi ke sana.
“Kak.”
Xia dan xixi khawatir. Mereka jadi mengikuti Feng dengan cepat. Feng sampai lebih dulu di sana. Ketika FUI mau mengambil energi lili, Feng terpaksa memukul FUI dengan energinya. FUI terpental jauh.
“Pangeran Feng. Kamu tega memukul aku?”
Fui terjatuh. Sampai darah keluar dari sudut bibirnya. Feng mendekati lili yang terduduk tak berdaya di tanah.
Feng juga melihat teman dan keluarganya. Cia menangis dan menceritakan semuanya. Xixi dan Xia baru sampai. Dia kaget melihat kakak iparnya jatuh dibawah dan memegangi perutnya. Meringis kesakitan disana.
“Kak.”
Xixi dan Xia mendekati lili. Membantu menahan tubuh lili. Feng menghadapi FUI. Dia menahan FUI untuk tidak berdiri lagi, mengancam dengan pedangnya.
“kak, wanita itu sudah diluar kendali. Dia hanya memanipulasi kakak dengan menangis di depan kakak. Yang menghabisi semuanya kemungkinan besar dia kak.”
“jangan lepaskan. Kalau sampai lepas, dia akan kembali dan lebih berbahaya lagi. Dia bisa mengancam semuanya kak. Musnahkan saja dia.”
Itu kata xixi. Ucapan xixi sangat bisa diandalkan dan dipegang oleh Feng. Karena xixi adalah salah satu dari mereka, yang tahu sifatnya energi hitam.
Tapi Feng tak tega mau melukaui FUI. FUI malah tersenyum jahat. Dia mau bangkitkan dan mencelakai lili lagi.
__ADS_1
Feng langsung menahannya. Menarik FUI, mencekik dengan tali energi birunya.
Brak!
Kali ini dia tak bisa menolak lagi. Dia harus membunuh FUI yang sudah berubah. Ini hanya jasad yang digunakan ilmu hitam itu untuk bersemayam dan mengendalikan tubuh kosong FUI.
“maafkan aku.”
Kali ini Feng benar-benar membasminya. Jasad itu terbakar, hilang bak debu. Feng masih menangisi kekasihnya. Dia bersimpuh di tempat dia menghabisi FUI. Walau itu hanya jasad FUI tanpa jiwa.
Energi lili juga mulai habis. Pelindung cia dan kedua orang tuanya mulai hilang. Mereka bisa keluar dari lingkaran energi itu.
“pangeran, maafkan kami. Karena kamu semuanya terjadi.”
Ketiganya berlutut di samping pangeran Feng. Pangeran Feng juga tak menyalahkan ketiganya.
Darah mengalir dikaji lili. Xia dan xixi panik melihatnya.
“kak Feng, Kak lili berdarah.”
Feng langsung menghampiri lili.
“sakit.”
Lili terus mengeluh kesakitan.
“bawa ke istana yang mulia. Cepat.”
Xia dan xixi pun menyusul. Ratu yin melihat itu.
“ada apa ini?”
Dia melihat Feng yang datang dan membawa putri lili. Kakinya sudah penuh darah yang mengalir.
“ibu, panggil tabib.”
“Iya.”
Semua panik melihat itu. Ratu yin meminta dayang untuk memanggilkan tabib. Feng membawa putri lili masuk ke kamarnya. Ada dayang dan juga tabib, juga ratu yin.
“Yang mulia, putri yin akan segera melahirkan.” Kata sang tabib.
“Tapi tenaga putri yin sudah habis, apa putri tin bertarung tadi?” tanya tabib lagi.
Yin tidak tahu. Dia melirik Feng. Xia dan xixi juga masuk ke kamar.
“Iya. FUI tadi ibu. Aku menyesal, aku minta maaf. Ini salahku, apa yang bisa aku lakukan tabib. Selamatkan dua-duanya. Saya mencintai putri lili.”
Antara setengah sadar, putri lili mendengar itu.
“ahh.”
__ADS_1
Tapi perut putri lili semakin sakit. Tabib dan dayang menyiapkan semuanya. Feng diminta tetap di kamar untuk menemani putri lili.
“Boleh bantu saya, alirkan tenaga dan energi kalian kepada putri lili. Itu akan sangat membantu.”
“Tentu tabib.”
Feng, putri Xia dan xixi bahkan ratu yin juga raja yuk melakukannya dari luar. Semua membantu putri lili.
“Ibu sakit.”
Lili tak henti mengeluh. Ratu yin mendekati lili dan menggenggam tangan lili.
“dorong yang kuat yang mulia pputri” ujar tabib kepada putri lili.
Putri lili pun mendorong dengan sekuat tenaga. Hingga bayi laki-laki yang tampan, sehat dan besar itu lahir ke dunia pendekar.
“siapa namanya kak?” tanya xixi dan Xia.
Bayinya di bersihkan. Putri lili juga. Kamarnya juga. Setelahnya bayi laki-laki itu kembali ke kamar.
“ini yang mulia putri, selamat sudah menjadi ibu sekarang. Pangeran juga, jangan suka berkelahi di pasar pangeran, sudah tua. Malu kalau berkelahi karena hal sepele.” Kata tabib mengejek Feng.
Feng diam saja. Dia memang suka mencari gara-gara kalau sedang bosan. Tabib memberikan bayinya kepada lili. Xia dan xixi tertawa.
“iya, sudah tua. Sadar diri, contohnya yang baik untuk anaknya.” Kata Xia kepada kakaknya.
“Iya. Bibi.” Feng memanggil Xia untuk anaknya. Bibi kan?!
“siapa nama yang akhirnya kamu pilih, Feng?” tanya Yin yang duduk di sebelah lili.
Lili menggendong bayinya. Dia mengusap pipi dan wajah sang bayi yang tampan. Mirip ayahnya. Mulutnya yang kecil juga tak henti mengecap.
Lili menatap feng. Dia juga ingin tahu nama yang diberikan Feng untuk anak mereka.
“emm, atas pertimbangan ku dan para tetua, kami memutuskan memilih nama long, yang artinya naga. Supaya menjadi kuat dan agung seperti dewa naga.”
“pangeran long. Itu bagus.” Yin setuju.
Lili juga mengangguk. “Pangerannya ibu.” Dia mencolek pipi ajaknya itu.
Feng duduk di sebelah lili. Dia mengusap anaknya. “boleh cium pipinya ya?” tanya Feng kepala lili. Lili mengangguk.
Feng mencium pipi anaknya. Tapi anaknya malah menangis.
“hayo loh kak. Kakak apain anaknya.”
“sampai nangis gitu.”
Xia dan xixi mengalahkan Feng. Feng angkat tangan.
“sumpah kakak gak cubit dan yang lain kok.”
__ADS_1
“mau minum susu ya pangeran long?” tanya Yin mengusap pipi cucunya.