PANGERAN KEJAM 2

PANGERAN KEJAM 2
RANJANG PANGERAN FENG


__ADS_3

Feng kembali ke kamar dia.  Dia tidur di atas ranjangnya, bekas lili.  Baunya harum.  Masih tercium bau aura dan energi lili.  Enak, segar. 


Feng malah tersenyum mengingat tadi. Dia yang menggendong lili, bertatapan sangat dekat dengan mata lili. 


Jantungnya jadi berdebar kencang. "Apa ini?" Feng bergumam sendiri.   "Tidak mungkin.  Kamu tidak bisa mencintai atau membuka hati untuk wanita mana pun, Feng."  Feng memukul kepalanya sendiri beberapa kali . Agar dia bisa sadar dengan perasannya sendiri. 


Terakhir kali, dia mencintai seorang wanita.  Seorang pendekar wanita cantik.  Tapi dia ternyata orang suruhan ayahnya xixi.  Dia ingin membunuh Feng.  Feng tak sengaja menghunus pedangnya ke perut wanita itu.  Sampai dia meninggal.  Tapi wanita itu malah membalikkan pedangnya, dia tak mau menghunus Feng. 


"Saya mencintai anda yang mulia.  Saya tidak bisa menghunuskan pedang saya kepada anda.  Maaf karena saya tak bisa menolak tugas ini.  Tapi saya senang anda selamat dan saya meninggal di tangan anda. Pangeran Feng."


Pangeran Feng masih ingat benar ucapan wanita itu.  Putri Fui, dia cantik.  Baik selama yang Feng kenal.  Tapi nasib saja yang membuat dia lahir dari para pendekar jahat dan dia harus berbakti kepada ayahnya xixi. 


Yang Feng takutkan, xixi hilang kendali dan mungkin bisa melukai keluarga dia.  Terutama Xia yang sangat dekat dengan xixi. 


Feng diam-diam selalu mengawasi dengan baik, ketika xixi dan Xia bersama atau pun ketika Xia sendiri.


"Lili?"


Feng baru ingat, dimana ada xia, xixi selalu di sana.  Artinya apa mungkin ada di kamar Xia juga. 


Feng membuka auranya untuk melihat keberadaan xixi.  Ternyata dia ada di kamar Xia bersama dengan xia dan lili. 


"Kakak belum makan bukan dari tadi, aku minta dayang untuk membawakan makanan ya? Kakak mau makan apa?" Tanya Xia kepada lili. 


"Terserah. Tapi boleh minta buah melon?" Kata lili kepada Xia.  Xia mengangguk. 


"Tunggu ya kak.  Coba aku tanya ke para dayang dulu.  Ada atau tidak.  Xixi, titip kak lili ya, jangan ditinggal.  Siapa tahu butuh sesuatu."


"Iya kak." Xixi menjawab dengan senang hati.  Mereka duduk bersandar di ranjang, lili ada ditengah.  Xixi memeluk lengan lili dan sejak tadi mengusap perut lili. 


Feng tersenyum melihat itu.  Seperti dia sedang menonton layar.  Xia ke luar.  Dia memberitahu dayang di depan. 


"Tunggu ya kak."


Tak lama Xia kembali.  Dia duduk di samping lili lagi.  Dia juga ikut mengusap perut lili. 


"Kakak, kapan adik bayinya keluar? Kita sudah tak sabar ya dik?" Tanya Xia kepada lili.  Lili tersenyum.

__ADS_1


"Masih beberapa hari lagi seharunya. Masih cukup lama.  Tapi tak akan lama juga mungkin."


Berbeda dengan dunia manusia.  Mereka hamil lebih cepat dan lebih cepat melahirkan juga.  Dalam dunia manusia, waktu baru berjalan dua bulan, tapi  lili seperti sudah hamil lima bulan. 


"Kak, tadinya kita mau minta keponakan cewek.  Nanti gak bisa kak buatin kita keponakan cewek." Ujar xixi dengan polosnya. 


"Gimana mau bisa.  Kak Feng saja menyebalkan, dia tidak sayang ke kak lili.  Dasar kak Feng itu." Xia mengumpat Feng.


"Ish.  Di belakang aku gitu ya Xia.  Awal saja." Feng kesal melihatnya.  Sejak tadi dia masih menyimaknya. 


Lili hanya diam.  Tak lama datang datang.  "Maaf yang mulia putri, tapi tidak ada buah melon ya.  Kalau pun mau, baru besok datang dari pasar.  Sudah kami pesankan."


"Emm, iya.  Tidak apa-apa.  Terima kasih semuanya."  Lili terlihat sedikit murung.  Padahal dia ingin sekali. 


"Tidak apa-apa kan kak? Makan yang ada dulu?" Kata dia kepada lili. 


Lili mengangguk.  Xia dan xixi pun menemani lili makan.  Melihat lili makan dengan lahap. 


Feng ikut merasa sedih karena lili tak mendapatkan apa yang dia mau.  Feng tiba-tiba saja punya ide. 


Dia melesat dari kamar, langsung ke luar istana.  Dia menuju ke pasar.  Temannya yang gembala itu jualan di pasar juga istrinya.  Kalau tak salah mereka jualan buah-buahan. 


Tok


Tok


"Yang mulia.  Ada apa? Mau curhat?" Tanya dia kepada Feng.


"Bukan. Tapi mau beli melon. Ada kan?" Tanya Feng kepada temannya. 


"Belum dipetik.  Ada di lahan belakang.  Untuk siapa tengah malam?"


Feng bingung mau jawab apa.  Dia malu kalau harus jawab lili yang ingin karena hamil?


"Ahh, yang mulia putri lili ya? Sedang ingin karena hamil? Tengah malam sampai dibelain ke sini. Kan jauh sekali.  Sudah mulai cinta ya?"


"Apaan.  Tidak. Cepat! Mau saya rusak lahan kamu. Ingat ya semua ini karena saya."

__ADS_1


"Iya yang mulia pangeran yang kadang baik kadang sombong."


Teman pangeran Feng pun mengantar ke lahan belakang rumahnya.  Dulu dia sangat miskin.  Hampir tak bisa makan.  Sampai Feng tak sengaja bertemu dengan dia.  Dia kasihan dan memberikan emas yang kebetulan dia bawa. Lalu dijualnya ke pasar dan hasilnya untuk membangun rumah, membuka lahan.  Dia juga membantu banyak orang yang tak mampu, seperti anak-anak di desa dan yang lainnya. 


"Yang mana yang sudah matang?" Tanya Feng kepada temannya itu. 


"Itu yang mulia.  Yang mulia punya kekuatan tapi tak bisa hanya untuk membedakan melon yang enak dan tidak?"


"Tapi itu kecil.  Itu yang besar saja."


Temannya menunjukkan yang kecil.  Feng memilih yang paling besar.   Temannya itu menggeleng dan mentertawakan pangeran Feng. 


"Itu tidak terlalu manis yang mulia.  Bisa dilihat dari coraknya.  Percaya kepada saya."


"Baiklah."


Feng pun diam saja.  Temannya mengambil dan memetikkan melon itu.  Feng membawanya pulang.   Teman Feng geleng kepala, Feng memang seperti itu, suka memaksa, tak tahu berterima kasih dan main pergi begitu saja.  Tapi sebenarnya dia baik.  Seperti yang dilakukannya dulu.


Feng kembali ke istana.  Dia ke dapur dan memberikannya pada pelayan di dapur. 


"Ini bersihkan terlebih dulu.  Potong-potong yang kecil. Lalu antar ke kamar putri Xia."


"Yang mulia, bagaimana yang mulia tau.  Ini yang diminta putri lili, tapi kami kehabisan."


"Jangan bilang siapa pun kalau ini dari saya.  Kalau sampai ada yang bilang, habis kalian dengan saya."


"Baik yang mulia."


Mereka mengangguk takut kepada Feng.  Feng pergi begitu saja.  Dia kembali ke kamarnya.  Tidur dan kembali memantau ketiganya di kamar Xia. 


"Mereka bahkan belum tidur?"


Feng geleng kepala.  Mereka sedang asik main gunting, kertas, baru. 


"Satu, dua, tiga." Xia yang menghitung. 


"Ini yang menang, kita cium."  Xixi yang memberikan hukuman dan aturan baru karena dia yang sejak tadi menang. 

__ADS_1


"Curang.  Kan, harusnya yang menang itu bebas.  Hukum yang kalah." Lili protes. 


Feng tersenyum melihat itu.  Lili lucu sekali saat protes. 


__ADS_2