
Feng ingin tidur di samping lili, tapi dia merasa canggung. Dia diam dan berdiri saja dipinggir ranjang, bolak-balik jalan dan menatap lili yang bayak masih tidur dengan nyenyak.
“Indah.”
Feng tak sengaja menatap lili lama. Dia kagum melihat paras lili yang cantik. Kulit dan lekuk tubuhnya juga.
“Apa yang aku bilang.”
Feng segera membuang mukanya. Dia kembali berjalan sekeliling dengan tak jelas. Bagaikan dia tidur. Hanya ada satu ranjang. Tak ada kursi atau yang lainnya.
“anda, kenapa jalan-jalan seperti itu?”
Lili bangun. Dia mendengar langkah kaki feng. Dia menatap Feng dengan bingung. Lili ingin duduk tapi perutnya masih sakit. Lili meringis memegangi perutnya.
“jangan banyak bergerak. Kata tabib kamu tidak boleh banyak bergerak dulu, minimal sampai besok kalau kamu merasa perutnya sudah tidak sakit. Tidur saja.”
“Tapi, ini kan tempat tidur pangeran, saya akan ke kamar Xia.”
“jangan, tidak perlu.”
Lili mencoba duduk lagi. Tapi Feng yang gemas, lili keras kepala, tak bisa diberitahu, akhirnya dia terpaksa menyentuh lili. Membantu lili untuk berbaring lagi dan menarik selimutnya kembali.
“diam! Jangan bergerak atau saya bisa marah.” Pangeran Feng terpaksa mengancam lili.
Lili kaget. Suara pangeran Feng meninggi. Dia diam dan berbaring lagi.
“saya, tidak akan tidur kalau begitu. Saya berdiri saja.” Kata Feng sambing memegangi keningnya. Dia pusing memikirkan caranya tidur. Padahal badannya sakit semua setelah latihan tadi.
“pangeran, tidur saja. Saya tidak akan mendekati pangeran. Gunakan bantal gulingnya untuk jadi pembatas, di tengah kita. Pangeran terlihat sangat lelah sepertinya.”
Feng tadinya mau menolak. Tapi dia kembali berpikir. Itu lebih baik untuk tubuhnya. Feng pun mengangguk setuju. Dia mengambil bantal panjang dan menaruhnya di tengah ranjang. Memisahkan dia dan putri lili. Putri lili kembali tidur dengan nyaman. Feng pun mencoba tidur dengan nyaman. Dia memalingkan badannya, tidur membelakangi putri lili.
“Ahh, sayang. Ada apa? Tidur ya?”
Lili berbicara sendiri. Dia mengusap perutnya. Terasa kencang, juga seperti kram, sakit. Pangeran Feng yang baru mau tidur mendengar lili. Dia tak tega mendengar lili yang seperti mendesah sakit. Dia berbalik. Feng menatap lili. Benar saja, dia membuka matanya. Tadinya Lil tidur kan?
“kenapa tidak tidur?” tanya Feng kepada lili.
“Tidak apa-apa pangeran. Hanya saja sedikit sakit dan keram. Pangeran tidur saja, tidak usah memperdulikan saya. Maaf kalau menganggu pangeran.”
__ADS_1
Feng mengangguk. Dia mencoba acuh. Dia membalikkan badannya dan mau memejamkan matanya lagi. Tapi lili bergerak seperti tak nyaman. Feng membalikkan badan menatap lili lagi.
“Apa anakku sangat nakal di dalam saja. Apa dia main perang di dalam?”
Feng yang kesal akhirnya mengusap perut lili. Lili kaget sekali. Feng menyalurkan energi dia ke perut lili yang dia usap. Lili merasa nyaman. Sepertinya anak Feng memang ingin tidur di usap ayahnya.
Lili dan Feng akhirnya malah tidur berpelukan secara tak sadar.
***
Pagi tiba di kerajaan mereka. Langit dengan warna yang sangat indah. Biru dan hijau cerah. Semua yang melihat ini heran.
“ada apa dengan langit?”
“indah sekali.”
“Tak biasanya seperti ini.”
Semua diam menatap langit. Opara prajurit dan dayang yang bertugas juga. Mereka yang sedang berjalan berhenti menyempatkan melihat keindahan langit yang langka ini.
Ratu yin dan raja yuk juga baru keluar dari kamar mereka. Ratu yin ingin mempersiapkan pernikahan. Raja yuk akan mengatur keamanan dan yang lainnya. Ketika Mereka keluar dan akan berpisah, mereka dikejutkan dengan langitnya.
“Apa ini? Apa pangeran Feng dan putri lili bersama?” ratu yin berpikiran seperti itu.
“ada apa ibu, ayah. Langit indah sekali.”
“iya, bukan kah itu perpaduan energi kakak dan hijau milik kakak lili?”
Xia dan xixi juga berpikiran yang sama. Ratu yin mengangguk. Dia penasaran kali ini apa lagi yang terjadi kepada dia.
Ratu yin langsung lari ke kamar pangeran Feng. Bingung dan juga khawatir melihat ratu yin, raja yuk pun ikut lari mengejar sang istri. Xixi dan Xia ikutan lari ke kamar kakaknya.
Brak!
Mereka membuka pintu dengan keras. Ratu yin dan putri Xia juga xixi ke kamar pangeran Feng. Mereka ingin melihat keadaan lili. Ketika mereka masuk, mereka terdiam melihat pangeran Feng dan putri lili sedang tidur pelukan.
“ada apa sih? Berisik ganggu orang tidur tau?” pangeran Feng terbangun. Putri lili juga.
Mereka melihat ratu yin dan yang lainnya menatap keduanya. Pangeran Feng dan putri lili yang dilihat mereka baru sadar, tangan putri lili ada di atas dada pangeran Feng. Badan mereka juga jadi dekat, berpelukan.
__ADS_1
“maaf.” Putri lili langsung menjauh dari badan pangeran feng.
Bukan lili yang mendekat, tapi Feng yang mendekati lili dan memeluk lili. Karena ini, lili yang mundur hampir saja jatuh. Feng melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dia berusaha menahan putri lili. Putri lili hampir jatuh dari ranjang. Pangeran Feng menariknya ke dalam pelukan dia.
“Oh, pantes di luar langit indah. Ya sudah lah. Dilanjutkan Saja.” Kata ratu yin yang menarik kedua anak perempuannya.
“Iya. Lanjutkan.”
“romantis.”
“Kan enak kalau begini lihatnya.”
Awalnya Xia dan xixi yang bersorak menggoda keduanya. Tapi keduanya hanya diam. Lalu raja yuk yang jadi ikutan.
Raja yuk kembali menutup pintu kamar Feng. Feng dan lili saling menatap. Jantung lili yang berdebar kencang.
“Awas jatuh. Bahaya, jangan terlalu kepinggir.” Kata Feng kepada lili.
“Iya.” Lili mengangguk. Dia kembali duduk di tengah. Lili menatap tangan Feng yang masih melingkar di pinggang dia.
“maaf.” Feng baru menyadarinya. Lili mengangguk lagi.
“saya yang salah, semalam saya tertidur sampai memeluk kamu karena mengusap perut kamu. Saya mandi dulu.”
Feng turun dengan cepat dari ranjang. Dia ke tempat mandi. Lili diam saja menatapnya. Dia tersenyum semalam dan karena hal ini.
Lili lapar menunggu Feng selesai. Dia mengambil buah yang ada di samping diam. Tapi tak bisa menguspasnya. Tangannya malah kena pisaunya.
Feng baru saja keluar dari tempat mandi. Dia hanya memakai bawahan tanpa atasan. Terlihat badannya yang bagus.
“auh.”
Lili memekik kesakitan. Dia meniup jari tangannya. Feng yang baru keluar mendengar itu. Feng langsung lari dah mendekati lili.
“kenapa? Kenapa bisa terluka?”
Feng melihat jari lili. Feng langsung mengobatinya.
“Mau apa? Mau bunuh diri?” tanya Feng kepada lili. Lili menggeleng. Dia menunjuk buahnya.
__ADS_1
“kupas buah saja, kenapa sampai terluka.” Feng yang menyembuhkan luka lili. Menutup dengan energinya. Setelahnya dia mengambilkan buahnya untuk lili dan mengupaskannya.