PANGERAN KEJAM 2

PANGERAN KEJAM 2
FUI MERENCANAKAN SESUATU


__ADS_3

Fui tak mau membuang kesempatan. Dia akan mencari celah secepatnya untuk menyingkirkan lili dan anaknya itu.


Selesai makan siang, feng dan lili mengantar FUI ke kamarnya. Tapi Feng malah menggandeng lili. Lili sudah susah untuk berjalan. Tabib bilang dalam dua hari ini lili bisa saja melahirkan.


‘kenapa Feng jadi perhatian dengan wanita itu sih. Menyebalkan sekali.’


“Ini kamarnya.” Lili membukakan pintu. Dayang sudah membersihkannya.


“Kita tidak bisa tukar kamar?” tanya FUI kepada lili. “ini kan kamar kamu dari awal. Aku di kamar feng. Lagi pula Feng kan lebih mencintai saya?”


Lili menatap feng. Feng tak tahu harus apa di antara dua wanita ini. Dia menyerahkan semuanya kepada Feng.


“kalau aku tidak satu kamar dengan Feng, lebih baik aku pulang saja ke desa.”


Fui pergi begitu saja. Lili mau mengejar dia. Tapi dia kalah cepat. Perut lili malah jadi sakit. Lili terdiam. Dia merasakan perutnya yang sakit. Tangannya mengusap perut bawahnya. Satu tangannya di pinggang dia.


Feng lari ke lili, tadinya dia mau mengejar fui. Tapi bingung harus bagaimana. Dia juga khawatir melihat lili .


“Kenapa? Sakit?” tanya Feng kepada lili.


Lili mengangguk, “sedikit. Mungkin karena sudah mau lahir saja. Pangeran mau mengejar fui, silakan kejar.”


“nanti saja. Dia tiak akan kenapa-napa juga. Kamu yang lebih mengkhawatirkan. Aku gendong, kita ke kamar dan minta tabib untuk memeriksanya.”


Lili mengangguk saja. Feng menggendong lili ke kamarnya. Sepanjang jalan dayang melihat itu. Ada beberapa dayang yang menghampiri mereka. Terutama dayang yang ratu yin khususkan untuk menjaga dan mengawal putri lili.


“pangeran, ada apa dengan putri lili?”


“tolong panggilkan tabib ke kamar saya.” Kata Feng kepada dayang itu.


“Baik pangeran.”


Mereka pergi memanggilkan tabib. Kabar itu sampai ke telinga putri xixi dan putri Xia. Juga dengan ratu yin dan raja yuk. Mereka segera ke kamar Feng.


“Ada apa? Apa putri lili sudah mau melahirkan?”


Lili sudah berbaring di ranjang kamar Feng. Ada Feng dan tabib juga yang sudah di Saja. Tabib sedang memeriksa lili. Tabib menggeleng kepada ratu yin.


“Belum. Yang mulia putri hanya sedikit panik dan khawatir saja. Karena itu perut yang mulia putri sakit dan tegang saja.”


“lili, sudah ibu bilang kan? Kenapa kamu malah membawa wanita itu ke sini?”


Yin mendekati lili. Lili diam saja.


“Ibu aku boleh Istirahat?” tanya lili kepada sang ratu.


“Tentu.”

__ADS_1


Semua keluar dan ratu pun meninggalkan lili. Lili istirahat di kamar Feng. Feng menggunakan kesempatan ini untuk ke desa. Menemui FUI.


FUI kembali ke desa. Ke rumah temannya. Dia ditanya istri temannya Feng. Temannya Feng yang penggembala malah yang kesal mendengar itu.


“orang kamu itu bukan siapa-siapa. Kenapa jadi minta satu kamar dengan pangeran Feng. Sudah diterima di sana dengan putri lili saja sudah bersyukur. Kamu itu tidak tahu diri.”


FUI kesal sekali mendengar itu. Dia jadi menyimpan dendam dengan teman Feng itu. Awas saja nanti, anaknya dulu yang akan dia habisi.


“cia dimana?”


Cia adalah anak sang penggembala. Kemarin, FUI suka main dengan CIA. Cia juga.


“ada di pasar. Cia sedang main dengan anak-anak, mungkin di dekat lapangan tak jauh dari pasar. Anda mau main dengan CIA nona?” istri teman pangeran Feng itu yang bertanya. Dia sama sekali tak curiga.


FUI mengangguk. FUI pamit ke sana. Dia mencari CIA untuk menghabisi CIA. Setelah sakit hati. Aura gelapnya semakin mendominasi FUI.


FUI melihat CIA sedang main dengan anak-anak yang lain. Sedang main lempar batu.


“Cia.”


Fui tak bisa mengendalikan dirinya. Dia langsung mendekati cia. Dia mencengkeram kepala Cia. Mau mengambil energi Cia.


“FUI.”


Feng datang ke rumah temannya. Tapi temannya bilang FUI ada di dekat pasar. FUI tak jadi membunuh CIA di depan Feng.


Dia mengendalikan hasrat ingin membunuh. FUI berbalik dan tersenyum manis kepada Feng.


“aku mau menjelaskan sesuatu. Ayo ikut aku.”


Feng meraih tangan FUI. Dia menggandeng FUI ke atas pohon tempat dia biasa merenung. Mengajak fui melihat semua pemandangan dari sana.


“fui, tolong mengertilah dulu. Biarkan lili melahirkan dulu. Setelah itu aku akan meminta ibunda untuk merestui hubungan kita dan kita akan menikah.”


“Meminta kamar itu, sedikit keterlaluan. Terlebih kamu belum menjadi istriku. Pasti akan banyak orang istana dan tetua menentang.”


“Ini saja putri lili harus memohon kepada para tetua, FUI. Jadi mengertilah?”


Fui akhirnya mengangguk. Dia akan diam kali ini. Tapi akan segera melenyapkan lili sebelum dia melahirkan.


“mau kembali dan minta maaf dengan lili dan ibu juga?” tanya Feng kepada fui.


FUI mengangguk. Dia kembali ke istana dengan Feng. Xia dan xixi mau mengantarkan ramuan dan juga buah untuk putri lili. Mereka mau ke kamar Feng.


Keduanya tak sengaja betyenu dengan FUI. “mau apa lagi dia kesini?”


“bukannya dia sudah membuat kak lili jadi sakit kan?”

__ADS_1


Keduanya ketus sekali dengan fui. FUI mengulurkan tangannya. “saya minta maaf. Saya ke sini juga mau minta maaf dengan putri lili. Sebagai permintaan maaf saya, saya ingin menjaga putri lili sampai dia melahirkan Juga.”


Xia dan xixi tak mau berjabat tangan dengan fui. Keduanya masuk ke kamar begitu saja.


“kak, kata tabib minum obatnya dulu. Ini juga ada buah.”


Xixi dan Xia menaruhnya di meja. Feng dan fui masuk. Xia menatap Feng.


“Kak, bantu kak lili duduk.”


“iya.”


Feng membantu lili duduk. FUI yang kesal sekali karena itu. Tapi dia akan mencoba menahannya.


“kata tabib kakak harus memberikan energi ke ramuannya juga kan? Ini belum diberikan.”


“iya.”


Feng mengangguk lagi. Dia pun memberikan energinya ke ramuan itu. Setelahnya dia membantu lili untuk meminumnya.


FUI ikut duduk di samping Feng. Dia mau mengambilkan buah untuk lili.


“Ini makan buahnya. Supaya kamu dan anak kamu sehat sampai melahirkan nanti dan selamat.”


Fui bahkan mengusap perut lili. Xia dan xixi yang tak suka melihat itu. Bagi mereka dia seperti masih jahat Saja.


“jangan sentuh keponakan kita. Awas saja kamu mencelakai kak lili atau keponakan kita yang masih diperut kak lili.”


“Amda berhadapan dengan kami berdua.”


“Xia, xixi?” lili memperingatkan keduanya.


“kakak, biarkan kami seperti ini. Kami juga menjaga kakak dan keponakan kami.”


“dia boleh disini. Tapi kamu juga akan waspada kepada dia.”


Xia dan xixi menatap FUI dengan penuh kewaspadaan.


“Saya tak masalah. Saya juga tak mau mencelakai putri lili dan anaknya. Kalau begitu saya permisi saja, saya akan istirahat di kamar.”


Fui pergi dari saja. Lili tak enak dengan Feng. Feng ingin mengejar fui, tapi bayinya menendang keras. Lili sampai kesakitan.


“Ahh.”


“ada apa kak?”


Xixi dan Xia panik mendengarnya. Lili menarik tangan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2