PANGERAN KEJAM 2

PANGERAN KEJAM 2
MELON ; DARI PANGERAN FENG


__ADS_3

TOK


TOK


Ada yang datang mengetuk pintu kamar putri Xia.  Dari luar tersebar suara dayang yang minta izin kepada putri Xia. 


“Yang mulia putri, ini ada melonnya.”


Putri Xia dan xixi menatap putri lili. Putri lili terlihat yang paling senang.  Xixi yang menawarkan diri untuk turun dan membawakannya. 


“Tunggu kak.  Biar xixi yang bawa ke sini.” Katanya.


“makasih dik.” Ujar lili pada xixi. 


Xixi mengangguk dengan senang hati.  Dia mengambil melonnya dan memberikannya kepada lili. 


“Wah, melonnya kelihatan enak sekali.  Seperti masih sangat segar baunya.”


“Iya kak.  Makan sepuasnya kak.  Buat kakak dan keponakan kita di dalam perut Kakak.”


Xia dan xixi senang sekali melihat lili mendapatkan melonnya.  Lili sangat menikmati melon itu. 


Feng yang ada di kamar dia, yang melihat lili makan dengan lahap itu pun sangat senang. 


“kira-kira, siapa ya kak yang bawa melonnya. Bukannya kata dayang dan pelayanan, baru ada besok?” ujar Xia. 


“Kalau ada yang bisa menempuh jarak dengan sangat cepat, bukannya hanya kakak, ibu, ayah, mungkin panglima dan semacannya kan?”


“Iya.  Mungkin ibu yang menyuruh.  Pasti kan ibu juga mau yang terbaik untuk cucu dan menantu pertama ibu.”


“Iya mungkin.”


Keduanya juga ikut makan.  Karena sudah makan banyak nasi sebelumnya, lili jadi tak sanggup menghabiskan melonnya. 


“ish, aku cari buat siapa? Yang dikira kasih, susah-susah ibunda. Mereka lagi main ikutan makan, memangnya mereka berdua juga hamil?”


Feng kesal.  Dia menyudahi memantau ketiganya.  Dia memilih tidur. Tak lupa mandi karena sejak sore juga belum mandi. 


Ketiganya, selesai makan melon itu akhirnya tidur.   Karena penasaran, Xia dan xixi besok akan bertanya kepada ibunya, apa ibunya yang mengirim melon ini. 


***

__ADS_1


Feng bangun lebih dulu.  Cahaya matahari masuk ke kamar dia.  Membuat tidur feng terusik.


Tapi dia ingat satu hal, yang pertama kali ada dipikiran dia setelah bangun.  Putri lili.  Dia ingin mengecek keadaanya. 


Dia membuat tabir, membuat seperti layar untuk melihat keadaan ketiganya di kamar.  Feng lega,  ketiganya masih tidur, baik-bain saja.  Feng penasaran dengan lili.  Dia memperbesar melihat lili.  Dia cantik sekali ketika tidur.  Feng juga melihat ke perut lili yang sudah buncit. 


Sampai lili bangun.  Feng kaget.  Dia seperti ketahuan.  Jadi dia memutuskan energinya yang mengintip lili. 


“Kak, kita mandi bersama yuk?” tanya Xia dan xixi.  Mereka ikutan bangun karena lili yang di tengah bergerak. 


Mereka memeluk lili.  “maaf ya dik.  Kalian bangun karena kakak ya?” lili tak enak kepada keduanya. 


“tidak kak.  Kan sudah siang saja.  Itu mataharinya lihat.”


Xia dan xixi kompak melihat ke luar jendela kamar mereka yang tinggi. Lili tak keberatan mereka mau mandi dengan dia.  Lili dan kedua adik Feng itu pun mandi bersama. 


Kamar mandi yang luas, seperti tempat pemandian putri dan putra raja di kerajaan. Mereka masuk ke kolam yang luas dan sudah dihiasi banyak bunga di sana. 


“hati-hati kak.”


Xia dan xixi membantu lili turun ke kolam mandinya.   Mereka sudah menggantikan pakaian mereka, dengan serba putih, pakaian khas untuk mandi. 


Lili memegang tangan keduanya.  Dia perlahan turun dari sana.  Ketiganya duduk berhadapan di dalam Kolam. 


“Kalian berdua saja.  Sini kakak bantu gosok.  Kakak ingin.. biasanya kakak mandi sendiri di sungai.”


Mereka malah jadi sedih mendengar cerita itu.  Keduanya pun menurut.  Lili yang pertama melalukannya, setelah itu gantian dengan Xia dan xixi yang membantu menggosok punggung lili. 


“Boleh kita mandiin keponakan kita juga gak kak?”


Keduanya ingin mengusap perut lili.  Lili mengangguk memperbolehkan.  Mereka pun melakukannya dengan senang hati.  Sambil mengajak keponakan di dalam perut lili ngobrol.


“Nanti kalau sudah lahir, sudah besar, jangan kayak ayah ya? Jangan kayak kak Feng. Tidak perhatian dan lembut sama Anak dan istrinya.”  Xia yang mengatakan itu. 


Di sisi lain, di kamar Feng juga.  Dia sedang Mandi.  Tapi dia mandi sendiri.  Penasaran juga mereka sedang spam. Feng kembali membuka gerbang untuk melihat ketiganya.  Gerbang energi seperti layar. 


Feng mencari di kamar tidak ada. Tapi dia mendengar samar-samar suara keduanya.  Feng mencoba mengikuti suara itu.  Hingga dia berhenti di kamar mandi. 


Dia tak mau melihat kedua anaknya mandi.  Walau masih pakai baju.  Tapi tak pantas melihat baju seperti itu ditubuh wanita ketika mandi.  Jadi dia memfokuskan saja kepada lili. 


Dia dengan jelas melihat perut lili.  Tubuh lili. Cantik dan menggoda. 

__ADS_1


“Sudah ahh.  Sudah mulai gila ini otak.” Feng gelud dengan pikiran kotornya sendiri. 


Feng pun mematikan koneksi energinya. Dia menyelesaikan mandinya.  Mengganti bajunya dan bergegas ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan ibu dan ayahnya. V


Begitu juga di kamar Xia.  Xia, xixi dan lili ganti baju.  Mereka meminta datang untuk masuk ke kamar dan membantu menata rambut dan Pakaiannya.


“Yang mulia putri, yang mulia ratu sudah menunggu di ruang makan.” Kata salah satu dayang. 


Xia mengangguk.  Lili diam saja.  Selesai berpakaian cantik.  Ketiganya keluar.  Lili selalu di tengah, Xia dan xixi di sisi kanan dan kirinya.


“Kita nunggu dia lahir kak.”


“kapan kan?”


Keduanya tak henti menyentuh perut lili.  Ada dayang yang ikut dengan mereka. 


“Sudah berapa hari, Yang mulia putri, maaf saya lancang bertanya.”


“lima, atau enam hari ini. Kenapa memangnya ya?”


“mungkin, Harusnya tiga hari lagi.”


“wah, benarkah? Aku sangat menunggunya.”


Xia dan xixi bersorak senang.  Mereka tak sengaja berpapasan dengan pangeran Feng yang lewat mau ke arah ruang makan juga.  Feng berhenti menatap ketiganya.


“ada apa? Apa ada masalah?” Feng bertanya lebih kepada Xia. 


“apa? Kakak masalahnya.  Sana pergi, Kita tidak mengajak kakak berbicara, wlee..”


Xia menjulurkan lidahnya untuk mengejek sang kakak.  Feng kesal sekali.  Jadi dia main pergi begitu saja. 


“feng, dimana Xia, xixi dan putri lili.”


Dia sampai lebih dulu di ruang makan.  Ratu yin bertanya kepada dia.  Dia hanya menunjuk dengan matanya, menoleh ke belakang.


“yang mulia pangeran, ini ramuan putri lili.  Silakan,” tabib datang.  Dia memberikan satu mangkuk ramuan yang harus diminum setiap hari oleh putri lili. 


Lili datang digandeng Xia dan xixi, dalam satu malam, perut lili jadi lebih besar.  Jadi sedikit susah untuk lili berjalan dan masih menyesuaikan.


“Sayang, sini duduk.  Minum ramuannya dulu.  Tunggu Feng menyelesaikan ramuannya.”

__ADS_1


Ratu yin ikut menuntun lili.  Mendudukkan lili di kursinya.  Feng sedang berkonsentrasi memberikan energinya di ramuan itu.  Tapi dia mencoba melirik lili yang duduk di samping dia. 


Demi lili, dia melakukan ini.  Apa Feng mulai menyukai lili dan membuka hatinya untuk lili. 


__ADS_2