PANGERAN KEJAM 2

PANGERAN KEJAM 2
PERJANJIAN FENG DAN LILI


__ADS_3

Perut Feng bunyi. Dia belum makan sejak tadi. Feng ingin ke ruang makan istana.


“saya duluan. Saya lapar, mau cari makan dulu.”


“Tunggu.”


Tapi lili menahan tangan Feng. Feng berbalik dan menatap heran lili.


“ada apa?”


“Kalau ibu ratu mau mencoba mengenal dan dekat dulu dengan fui, apa tawaran anda, yang mau mencoba dekat juga dengan saya bisa dipegang?”


Feng mengangguk. Lili juga mengangguk.


“Saya setuju. Saya akan mencoba membujuk ibu ratu yin untuk itu.”


“sungguh?”


Feng hampir tak percaya. Lili mengangguk banyak sekali. Keduanya pun sepakat.


“Ayo, ke ruang makan. Temani saya makan. Kita mulai hari ini dan nanti bicara dengan ibunda.”


“iya.”


Feng mengulurkan tangan kepada lili. Baru seperti itu, lili senang sekali. Dia meraih tangan Feng. Keduanya jalan bersama menuju ke ruang makan.


Banyak sekali yang melihat keduanya. Sampai di ruang makan. Feng meminta pelayan untuk membawakan makanannya. Setelah itu dia malah meminta lili untuk menyuapi dia.


“kata kamu kan, aku harus bersikap baik ke kamu? Untuk fui.”


Awalnya dia senang. Tapi ujungnya, dia sakit juga. Lili mengangguk. Dia mengusap perut buncitnya. Lili meminta tolong kepada anaknya, supaya bisa membantu mencari perhatian dan mencuri hati ayahnya itu.


“Aak.”


Lili pun menyuapi Feng. Feng jug bergantian menyuapi lili. Dayang uang mengantar makanan dan minuman lagi pun kaget melihat itu.


Banyak yang dibicarakan mereka ketika keluar dari ruang makan. Dari dayang satu ke dayang satunya lagi, hingga menyebar ke istana sampai prajurit.


Raja yuk yang sedang ikut latihan tak sengaja mendengar itu ketika di Istirahat.


“ada apa?” raja yuk juga penasaran.”


“begini yang mulia.”


Mereka yang tahu cerita manis itu pun menceritakan semuanya kepada raja yuk. Yuk senang sekali mendengar itu. Dia ingin mengabarkannya kepada sang istri.


“Latihannya cukup sampai disini. Silakan bubarkan!” Perintah yuk kepada semuanya.


“Baik yahg mulia.”


Mereka menjawab dengan bersama. Yuk pun meninggalkan tempat latihan. Dia bergegas menemui ratu yin. Dia mencari ratu yin di mana-mana. Tapi tak menemukan juga.

__ADS_1


Dia mencoba mencari dengan mata batinnya. “di kamar Xixi, ada apa? Xixi menangis?”


Yuk juga melihat itu. Dia bergegas ke kamar xixi. Xixi menangis di saham. Ada putri Xia jua yang mencoba menenangkan xixi dan menjelaskan semuanya. Sampai ratu yin datang. Dia masuk ke kamar xixi.


Tok


Tok


Dia mengetuk beberapa kali. Xia dan xixi menoleh ke arah pintu keduanya.


“siapa?” Xia yang berteriak dan bertanya. Karena xixi tak bisa. Dia sedang menangis.


“ini ibu, ibu boleh masuk?” Tanya ratu yin dari luar kamar.


Xia menunggu keputusan xixi. Dia melirik xixi. “bagaimana dik? Ibu boleh masuk?” tanya Xia sambil menyeka rambut yang menutupi wajah cantik adiknya itu yang menunduk.


“iya ibunda. Kata xixi ibunda boleh masuk.” Xixi mengangguk. Jadi Xia memberitahu ibundanya yang ada di luar.


“iya.” Ratu yin pun masuk ke kamar xixi. Dia mendekati xixi yang duduk di pinggir ranjang. Dengan kepalanya yang menunduk ke bawah. Di samping dia ada xia di sana. Yin duduk di samping xixi.


“Xixi, xixi tahu kan. Kak Feng itu rada-rada. Jangan sedih ya sayang?” Kata ratu yin kepada xixi.


“Iya, kan tahu sendiri. Kak Feng itu gila. Bukan rada lagi. Kan sekarang ibu dan ayahnya xixi sama dengan kakak. Berarti kak Feng menghina ayah yuk. Ya? Jangan tersinggung dan menangis?” tambah Xia lagi.


Tok


Tok


“Siqpa?” yin yang bertanya.


“Saya, raja yuk.”


“masuk.”


Yin sendiri yang mempersilakan masuk. Yuk bingung melihat xixi menangis. Dia melirik yin. Seakan saling lempar kode.


“Ada apa?”


“ini yang mulia rajam. Feng itu kan rada-rada ya? Setelah dia terluka di Medan perang?” tanya Yin kepada yuk.


“Ahh, iya.” Yin memberikan kode. Yuk diminta dia mengangguk saja. Dia pun melakukannya.


***


Di sisi lain. Lili meminta pangeran Feng untuk minta maaf kepada xixi. Mereka sampai di depan kamar xixi.


Tok


Tok


Lili yang mengetuk pintu kamar xixi.

__ADS_1


“Siapa lagi sih?”


Xia sendiri yang kesal dengan suara ketukan pintu lagi.


“putri xixi, ini kakak.” Kata lili.


“oh, masuk kak. Aku kira siapa.” Xia mengizinkan lili masuk, tanpa tanya dan juga tanpa tahu kalau lili dengan Feng.


Lili menarik Feng masuk. Ratu yin menatao Feng dengan kesal. Feng menunduk sedikit tak enak dan takut kepada ibunya itu.


“xixi, kak Feng ke sini mau minta maaf. Bukan maksud kak Feng seperti tadi.”


Lili mendekati xixi. Dia juga menari Feng.


“Iya. Kak Feng ke sini juga dia mau mengakui, kalau dia itu rada-rada, makannya suka asal bicara. Iya kan Feng?”


Itu ratu yin. Dia menatap Feng. Memaksa Feng seakan untuk mengakuinya. Feng menggelengkan kepala. Dia tak terima.


“Tidak. Apa maksudnya aku rada-rada. Kan benar apa yang?”


Feng tak bisa melanjutkan ucapan dia. Lili mencubit perut Feng yang berdiri di samping dia. Lili menggeleng. Meminta Feng untuk tidak melanjutkan ucapan dia.


“Ahh, iya. Maaf ya dik. Kan kakak itu rada-rada.” Ujar Feng mengulurkan tangan kepada xixi.


“mau kan maafin kakak kamu yang rada-rada ini?” dia menunduk untuk melihat wajah xixi yang menunduk sedih.


“Iya kak. Kakak rada-rada ya?” tanya xixi yang juga senang menggoda dan sedikit memghina Feng itu.


“iya lah.. buat kamu, biar kamu mau maafin kakak. Kamu mau kan maafin kakak?”


Xixi pun mengangguk. Dia meraih tangan feng dan menjabat tangan Feng. Feng pun menarik xixi ke dalam pelukan dia.


Yuk cerita soal yang para dayang lihat. Mereka menatap Feng. Feng mengangguk.


“apa? Dilihatin lagi? Aku salah lagi? Memang deh, aku yang serba salah.”


Feng marah-marah kepada semua yang menatap dia. Lili menggeleng..


“kali ini gak salah dan gak rada-rada. Bener kalau kamu romnatis dan baik sama lili.” Ujar yin kepada Feng.


Feng hanya tersenyum.


***


Mereka makan kalam bersama. Xixi sudah tak sedih lagi. Selesai makan, xixi dan Xia ke kamar. Lili mau ke kamar. Tapi dia menemui yin lebih dulu. Sesuai dengan janjinya dengan Feng.


“ibu, saya berjanji kepada pangeran Feng, kalau ibu akan mengenal FUI dan dia akan tinggal sementara di sini. Sebagai gantinya, pangeran Feng akan baik kepada saya. Dekat dengan saya.”


“putri lili.”


Yin tak setuju. Tapi lili tak henti memohon. Lili menjelaskan rencana dia. Dia berharap dengan seperti itu, Feng bisa jatuh cinta kepada dia dengan seiring berjalannya waktu. Walau pun lili tak tahu akan berhasil atau tidak. Tapi setidaknya dia sudah mencoba.

__ADS_1


__ADS_2