PANGERAN KEJAM 2

PANGERAN KEJAM 2
PUTRI LILI DI SERANG


__ADS_3

“Feng keterlaluan. Jadi ini yang membuat dia baik kepada kamu.”


Yin mengantar lili ke kamar karena sudah malam. Lili meminta ratu yin untuk tidak mengatakan apa pun di depan pangeran Feng.


Pura-pura tidak apa-apa saja. Yuk juga ikut mengantar. Mereka hanya berhenti sampai di depan pintu kamar Feng.


“Ibu, ayah, saya masuk lebih dulu.” Pamit lili kepada keduanya.


“Iya sayang. Sampai Feng mencelakai kamu, atau kekasihnya itu mencelakai kamu disini, atau punya rencana terselubung, ibu yang akan membunuh wanita itu dengan tangan ibu sendiri.”


Lili mengangguk. Itu diluar kehendak lili. Kalau FUI baik dia dan semuanya akan baik. Kalau FUI jahat dia bisa juga waspada. B


Yin mengusap perut lili. Lili pun masuk ke kamar Feng. Feng sudah ada di dalam kamar. Dia sudah tidur dengan cepat.


Lili tidur di sebelah Feng. Dia hanya bisa menatap punggung feng. Lili ingin tidur di peluk lagi. Jadi dia mencolek punggung Feng.


“Ibu sudah setuju. Anda bisa membawa FUI kemari besok.” Kata lili kepada Feng. Dia menoleh menatap lili. V


Feng mengangguk. “boleh malam ini tidur minta peluk?” tanya lili kepada Feng.


Feng mendekati lili. Dia langsung memeluk lili. Mereka tidur saling memeluk sampai pagi tiba.


Dug!


“Ahh, sayang. Kamu menendang?”


Baru kali ini lili merasakan tendangan bayinya. Dia ingin memberitahu Feng. Dia juga baru bangun dan dibangunkan tidurnya oleh tendangan sang bayi dalam kandungan dia. Tapi ketika lili membuka mata, Feng tak ada dihadapan dia. Kemana Feng?


Lili mencoba duduk di ranjang. Ada dayang yang masuk.


“maaf yang mulia putri, ini ramuan dari pangeran Feng. Katanya diminta putri UU nntuk minum. Jangan sampai lupa.”


“pangeran dimana?”


“Sudah keluar sejak pagi.”


Ahh, lili dapat menduga dia kemana. Pasti menemui kekasihnya. Hati lili sakit sekali. Tapi dia berusaha tabah.


Lili mengambil ramuannya. Dia meminumnya. Pahit, tapi sekarang lebih sakit hatinya.


“Putri mau mandi? Mau kamu siapkan airnya?” tanya dayang kepada lili.


Lili mengangguk.


***

__ADS_1


Feng memang datang menemui FUI. Dia berangkat pagi-pagi buta. Ketika lili belum bangun. Feng menatap lili yang masih tertidur. Entah kenapa ada rasa dalam hatinya yang mendorong dia untuk mencium kening lili.


Sebelum dia pergi, Feng perlahan mencium kening lili dan mengusap perut lili serta mencium perut lili secara perlahan. Baru dia pergi.


“Rasa apa ini?”


Di jalan Feng tak bisa berhenti membayangkan yang tadi pagi. Sampai dia berhenti di depan rumah temannya. Bukannya ketuk pintu, Feng malah berdiri melamun di sana.


Teman Feng membuka pintu. Dia sedang mau membuang sampah. Sampai Feng dia temui didepan pintu.


“Pangeran, ada apa pagi-pagi sekali kesini? Mau diam saja di depan rumah saya? Mau apa? Jaga rumah?”


“hah, tidak. Saya mau menemui FUI dan mengajak fui untuk tinggal di istana.”


“Maksudnya?”


Teman Feng mengajak dia masuk. Feng menjelaskan semuanya.


“Pangeran, apa anda tidak memikirkan perasaan putri lili. Dia juga sedang mengandung anak anda. Pasti dia lebih sensitif.”


Fui tak sengaja mendengar ada suara Feng. Dia mau keluar. Ketika akan menemui Feng, dia mendengar semuanya. Dia jadi benci dengan teman Feng itu.


Feng diam saja. Dia hampir goyah. “tapi saya sudah berjanji. Lagi pula putri lilinya yang tak keberatan sendiri.”


Kakau perlu membunuh ratu yin yang tak pernah menyetujui hubungan dia dengan Feng.


“Aku senang sekali.”


Mereka ada di jalan pulang. Feng dan fui yang menuju ke istana. Keduanya lewat hutan. Tak ada yang bisa melihat keduanya.


Feng dan fui tak henti bergandengan tangan.


“iya. Aku juga senang sayang.”


Feng menjawab ucapan FUI dengan senang. Tapi hatinya terasa bimbang.


***


Butuh waktu hampir setengah hari kalau tanpa kekuatan dari desa ke istana.


Lili ada di ruang makan kerajaan dengan kedua adiknya Feng dan juga ratu yin.


Ratu yin sudah tanya kepada lili, dimana Feng pagi ini. Lili tak menjawab. Yin tahu maksud lili yang tak menjawab.


Sampai keduanya masuk ke ruang makan. Xia yang marah besar melihat Feng. Feng gandengan tangan dengan fui masuk.

__ADS_1


“Kak Feng. Kak Feng benar-benar gila ya? Kak Feng bawa perempuan ke istana? Sementara istri kakak sedang hamil anak kakak? Kak Feng benar-benar tidak waras. Dimana hatinkakak? Kalau aku yang di seperti itu kan, bagaimana perasaan kakak melihat aku?”


Feng diam saja. Dia tak akan tega melihat xixi atau pun Xia jika diperlakukan suaminya seperti itu. Tapi ini sudah terlanjur.


“dik, duduk. Kak lili yang mengizinkan kakak kamu membawa nona FUI kok.”


“kakak, kak lili juga sudah gila apa? Tau ahh, aku pergi dari sini. Selera makan siang ku hilang.”


Xixi pergi dari sana. Xia malah ikutan pergi. Lili menghampiri FUI dan mengulurkan tangannya.


“selamat datang di istana. Semoga kamu betah di sini. Jangan pikirkan Xia dan xixi kalau kamu baik kepada mereka, mereka juga pasti lama-lama akan baik kepada kamu.”


“Tentu, terima kasih sudah menerima saya putri lili. Anda baik sekali.”


Fui malah menarik lili ke dalam pelukan dia. Feng senang keduanya wanita itu akur.


“Hati-hati. Lili sedang hamil besar, jangan terlalu ditekan pelukannya.”


“iya maaf.”


Fui pun melepaskan pelukannya. Tapi dia semakin kesal karena ini, kenapa Feng jadi perhatian ke lili.


“mari makan.”


Lili mengajak fui untuk makan bersama. FUI mengangguk. Feng malah membantu lili untuk duduk dan menahan kursi lili.


“Hati-hati.”


Lili tersenyum manis kepada Feng. FUI kesal sekali. Kenapa dia disini Feng harus perhatian kepada lili.


Ratu dan raja senang melihat Feng baik dan perhatian kepada lili. Tapi mereka tak suka dan fui di sini.


“ada kamar bekas Lili dulu. Kamu bisa tinggal di Sana. Nanti akan saya minta dayang untuk membersihkannya.”


“lili tetap tidur di kamar kamu kan Feng?” tanya ratu yin kepada Feng.


“Kenapa saya tidak boleh tidur dengan pangeran Feng?” tanya FUI dengan lancangnya.


“hai, jangan lancang kamu ya. Kamu bukan apa-apa di sini.” Ratu yin murka.


“ibu, jangan seperti itu kepada fui. Dia kan hanya bertanya.” Tapi Feng malah membela FUI.


“Tahu diri kamu. Kalau kamu tidak tahu diri disini saya bisa mengusir kamu kapan pun. Jaga sikap disini.”


Yin kesal sekali. Dia memilih pergi dari sana. Lili merasa tak enak kepada semuanya. Karena dia, semua jadi tak nyaman untuk makan.

__ADS_1


__ADS_2