Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
KEDATANGAN


__ADS_3

Di ujung kota Semarang, didepan Makam Belanda yang cukup terkenal. Saya untuk pertama kalinya, berhasil menginjakkan kaki saya di kota itu.


"Hallo, Sob. Apa kabar ?" sapa saya kepada seseorang yang ada di dalam ponsel.


"Sudah sampai rupanya.


Ok, sekarang kamu tinggal naik angkutan minibus saja.


Cari yang ke arah Penggaron ya. Nanti saya jemput." jawabnya.


"OK Sob. Tonggoni Yo !"


Setelah percakapan itu, saya sempatkan diri untuk menyalakan sebatang rokok dan mulai mengikuti arahan dari sahabat saya itu.


"Ah... Panas sekali kota ini." Keluh saya dalam hati.


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya minibus yang dimaksud oleh sahabat saya pun datang.


Tanpa berpikir panjang, saya hentikan minibus itu, lalu saya menaikinya. lalu saya memilih duduk di sepasang bangku yang masih kosong di baris kedua belakang kemudi.


Dengan santai, saya menikmati suasana jalanan ujung barat kota itu.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahiim.


Ya Rabb, semoga ini adalah pilihan terbaik untuk saya.


Lapangkanlah jalan saya dan saya mohon Ya Rabb, ridhoilah saya untuk bisa tinggal lebih lama dan bermanfaat di kota ini Ya Rabb. Aamiin." inilah sepenggal doa saya saat itu.


Tidak terasa, minibus yang saya tumpangi sudah melintasi sebuah lapangan dan persimpangan yang cukup terkenal di kota itu. Sebuah masjid besar mulai nampak terlihat, dia berdiri kokoh dan megah menghadap ke arah saya. Diikuti banyak jejeran pusat perbelanjaan yang menandakan bahwa saya sedang berada di pusat kota.


Minibus terus berlalu, mengantarkan saya ketempat tujuan saya hari itu. Untuk menghilangkan rasa suntuk, saya sekali kali mengarahkan pandangan kepada orang orang di dalam minibus ini.


Dengan aksen jawa yang khas serta dengan nada bicara yang pelan dan lembut ketika mereka saling berinteraksi. Saya mengambil kesimpulan bahwa orang orang disini sangat ramah.


Sekilas bahasa mereka sebenarnya sulit untuk bisa saya terjemahkan. Karena sebagian otak saya terasa berat juga, ketika mencari makna dari bahasan bahasan mereka.


"Mungkin, besok atau lusa. Saya juga akan berbincang bincang seperti itu dengan teman teman saya." tawa saya dalam hati.


Satu jam berlalu, akhirnya seorang kondektur minibus itu mulai berteriak ke dalam minibus.


"Hayo.. Hayo.. Wis tekan Penggaron ! Penggaron.. Penggaron !" teriak sang kondektur.


Semua penumpang yang bertujuan sama dengan saya, mengambil posisi berdiri. Mereka sama sama menunggu minibus ini berhenti dan bergegas keluar dengan bergiliran.

__ADS_1


Sesampainya di Terminal Penggaron. Saya langsung mengambil ponsel saya, untuk mengabari sahabat saya tentang kedatangan saya.


"Hallo Sob, kamu dimana ? Saya baru sampai di Terminal Penggaron nih." Tanya saya kedalam ponsel.


"Arah jam 8." jawabnya.


Setelah mengarahkan pandangan saya sesuai arahan sahabat saya itu. Akhirnya saya angkat telapak tangan saya untuk menyapa dan bergegas menghampiri mereka.


"Hahaha... Apakabar lu Ndre ? Lama kita tidak bertemu. Tambah ganteng aja lu." Sapa sahabat saya sembari memeluk saya.


"Lu juga Broo, rambut emang sengaja gitu di gondrongin ya. Hahaha.." jawab saya.


"Oh ya, kenalin.


Dia Firdaus, teman kost saya. Dia dari Blora." Nevi lalu memperkenalkan temannya kepada saya.


"Hallo Bang, saya Andre." saya pun menyapanya sambil mengulurkan tangan saya untuk bisa dijabat olehnya.


"Firdaus, hahaha.. Jangan panggil Bang lah. Kita seumuran." jawabnya.


Setelah itu, kami memutuskan untuk sejenak minum minum santai di sebuah warung kopi disekitaran terminal itu. Sembari saya melepaskan rasa lapar saya.

__ADS_1


Setelah semua sudah tertuntaskan, akhirnya kami semua bergegas pergi dari tempat itu.


(bersambung..)


__ADS_2