Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
SUASANA BARU


__ADS_3

Keesokan harinya, saya diboncengi sepeda motor oleh Nevi menuju kampusnya. Jarak kost ke kampusnya tidak terlalu jauh, mungkin sekitar dua ratus meter saja.


Sesampainya di kampus, Nevi meninggalkan sepeda motornya di lahan parkir kampus itu.


Lalu dia mengajak saya menuju lobby.


Didalam sebuah lobby, kami bertemu dengan seorang perempuan muda, mungkin usianya seumuran, duduk dsebuah kursi belakang meja dengan papan nama diatasnya bertuliskan "Pendaftaran". Dia terlihat sudah akrab dengan Nevi.


"Widihh, nambah ayu ae bojoku." sapa Nevi menggoda perempuan itu.


"Opo cah uelekk. Ngopo mrene ?" jawab nya. "Nev, kae sopo ?" sambungnya lagi, sambil tatapan cantiknya menghujam ke arah saya.


*(Risa digambarkan seperti Tiara Idol, peserta diajang pencarian bakat di Indonesia tahun 2020)


"Nah iki, iki koncoku sing aku ceritakno bien. Sing gelem kuliah nang kene." jelasnya.


Sekilas saya sedikit paham terkait percakapan mereka. Namun tetap saja, saya harus menterjemahkan kalimat kalimat itu cukup lama.


"Oh iya Ndre, kenalin ! Dia pacarku, namanya Risa." ajak Nevi.


"Bohong ! Pacar gundulmu." jawab Risa.


"Oh, ya. Saya Andre". respon saya, "Salam kenal ya." sambung saya lagi.


Kami pun saling berkenalan dan berjabat tangan. Namun ada yang aneh dari genggaman tangan Risa. Genggaman tangannya seakan akan terasa tidak mau dilepas.


"Weleh, kelakuanmu." kita dikejutkan oleh gerutu Nevi sahabat saya. "Uculno napa tangane. Aku cemburu loh."


Mendengar ucapan itu, Risa malah menarik tangan saya semakin erat.


Saya diajaknya duduk disebuah kursi dan kami saling berhadap hadapan.


"Berkas berkas lengkap ? Lulusan SMA mana ?" interogasinya dengan agak centil.


"Ngawur, dia itu mau transfer jurusan. Sok sokan meh ngospek." jawab Nevi seketika.


Saya saat itu tidak merespon ungkapan Nevi, saya hanya segera sibuk mengeluarkan semua berkas berkas yang telah saya bawa didalam tas saya.


"Oh iya toh. Awet muda ya Nev, koncomu." jawab Risa.


"Iya ka. Saya ada rencana ingin transfer jurusan di kampus ini. Apakah masih ada slot yang kosong kah ?" akhirnya saya pun mulai terbawa suasana.


"Weh lah, kok saya dipanggil kakak, dek." cetus Risa.


"Hmmm... Mulai." Nevi ikut menyahut.


"Oh, maaf ka.


Terkait transfer jurusan memang dibatasi slotnya.


Untuk semester baru nanti, kemungkinan hanya ada 5 kursi saja." jawab Risa sambil menjelaskan kepada saya.


"Namun, kakak Andre beruntung nih. Kakak masih terdaftar di kursi ketiga," jelasnya lagi.


"Hahaha, akhirnya kamu bisa masuk dan kuliah bareng dengan saya Ndre." sahut Nevi bahagia.


"Tapi belum tentu." jawab Risa dan kalimat itu mengejutkan kami semua.

__ADS_1


"Kenapa ?" tanya saya.


"Iya, semoga slot ini tidak membludak peminatnya saja Ka.


Karena kalau sudah membludak, akan ada seleksi ketat untuk memilih siapa yang akan layak kuliah disini." jawab Risa sekali lagi.


"Ok, Ka Andre. Sekarang mohon dilengkapi dulu biodatanya dan jangan lupa lengkapi juga semua lampirannya ya.


Setelah lengkap, saya akan kumpulkan berkas Ka Andre di meja dekan prodi untuk dianalisis." sambung Risa lagi.


"Baik. Terimakasih." jawab saya.


"Biodataku kapan ada di buku nikah bersamamu Sa ?". canda Nevi


"Wisuda aja dulu, nembe ngelamar aku, Nev." Risa pun menjawab candaan Nevi dengan cibiran manjanya.


Akhirnya, saya berpindah dan mencari ruang kosong di sudut meja itu. Saya mulai mengisi kertas yang diberikan oleh Risa ini dengan biodata saya.


Sekilas disaat sela sela saya mengisi biodata itu. Saya merasakan mahasiswi mahasiswi yang melintas di.lobby itu memandangi saya dengan aneh. Saya merasa telah menjadi mahluk luar angkasa yang baru saja memasuki dunia baru dari alien bernama manusia.


"Ah, sudahlah... Bukan urusan saya." keluhku dalam hati sambil terus fokus menyiapkan lampiran lampiran yang diminta oleh selembar kertas itu.


Setelah saya anggap semua sudah lengkap, barulah saya kembali menghampiri Risa.


"Ini Ka, berkasnya sudah saya lengkapi." sapa saya, sembari menyerahkan sebuah map berisikan beberapa dokumen.


"Nev, koncomu ki sopan tenan yo ?" jawab Risa.


"Risa engga usah dipanggil kakak, Ndre. Panggil namanya saja, kita kan seumuran." sahut Nevi.


"Baik, Ka Andre. Harusnya saya yang manggil kamu kakak." ungkapnya.


"Untuk berkas, setelah dianalisa akan masuk ke finance ya kak.


Nanti pihak finance kampus kami akan menginfokan ke Ka Andre.


Berarti, nanti Ka Andre sudah bisa kuliah dikampus kami dan sudah bisa memulai mengumpulkan SKS.


Tidak hanya itu, setelah beres di finance. Dekan prodi akan menginfomasikan ke Kak Andre, siapa dosen pembimbing Ka Andre." jelas Risa lagi, kali ini betul betul lengkap.


"Oh baik, Sa. Kira kira berapa lama ya ?" tanya saya, memastikan.


"Semester baru kan dimulainya bulan depan ya Ka. Paling minggu depan, Ka Andre diminta menghadap tim finance dan langsung bertemu dekan prodi."


"Baiklah. Terimakasih." jawab saya.


"Aku daftar juga dong ?" sapa Nevi ke Risa.


"Daftar DO, Nev ?" jawabnya.


"Assemm. Padahal aku ingin daftar jadi pacarmu, Sa." kekeh Nevi.


"Huuu... Rak sudi aku." Risa pun membalas.


Dan lobby itu terasa renyah oleh tawa kami bertiga.


#################################

__ADS_1


Kembali di Kost Mak Jah.


Setelah semua urusan saya sudah beres di kampus itu. Nevi mengajak saya kembali ke kost.


Seperti sudah rutinnya, ibu separuh baya itu selalu terlihat rajin sekali menyapu teras kost.


Sekilas beliau melihat ke arah kami, saat kami memarkirkan motor.


"Sing endi Nev ?" sapa ibu itu.


"Sing kampus Mak." jawab Nevi.


"Oh, yowis." sahut ibu itu sembari menunduk dan kembali mendayungkan sapunya.


"Nev, koncomu iki ora iso boso jowo yo. Wingi aku sangkane maling."


"Oh iya Mak, iki koncoku sing Bandung. Jenenge Andre." jelasnya. "Koncoku, meh kuliah neng kene Mak. Numpang disit paling nang kene Mak, sampe dapat kost." sambungnya Nevi lagi.


"Nopo rak dikongkon ngekost nang kene wae, Nev ?" tanya ibu itu.


"lah, aku terserah wonge toh Mak." jawab Nevi.


"Ndre, kenalin ini Mak Jah. Ibu kost kami disini." sambung lagi Nevi, untuk menjelaskan.


"Iya Mak, saya Andre. Saya izin numpang sementara di kost ini dulu ya Mak." jawab saya, sambil menunduk mencium tangan ibu itu.


"Oh iya Nang, anggep wae umah dewek yo." jawab Mak Jah.


"Enggih Mak." saya pun membalas.


"Nev, sedurunge mlebu. Jukut mangan mrono, ajak koncomu ning dapur.


Putri (nama anak perempuannya Mak Jah) masak uakeh." info Mak Jah kepada kami semua.


"Wuidihh, tumben Mak." canda Nevi.


"Alhamdulillah, rejeki anak sholeh." sambung Nevi lagi, sembari mengajak saya ke dapur rumah Mak.Jah.


"Matursuwun Mak"


"Nev, ojo lali."


"Opo toh Mak ?"


"Kenali koncomu karo Putri."


"Alah-alah, kenalan dewek toh."


"Walah, gundulmu Nev.. Nev."


Untungnya, di dapur tidak nampak sosok Putri, anak dari Mak Jah. Nevi dan saya pun dengan leluasa serta tanpa malu malu menyiduk nasi dan mengambil lauk pauk di meja dapur itu dengan sesuka hati.


Sungguh suasana baru yang menyenangkan dan dipenuhi orang orang baik.


"Alhamdulillah."


(bersambung..)

__ADS_1


__ADS_2