
Tiga hari berlalu, tidak terasa ini adalah weekend pertama saya di perantauan.
Semakin hari, saya semakin akrab dengan penghuni kost lain.
Mereka semua jauh jauh datang ke ibukota, rata rata sebagai buruh pabrik. Wajar saja saat weekend, suasana kost ini menjadi ramai.
Kost Mak Jah, berisi sekitar dua belas kamar dan baru terisi sepuluh kamar saja. Semua penghuninya adalah laki laki dan hanya tiga penghuni yang berstatus mahasiswa sebelum saya tinggal disana.
Setiap malam minggu tiba. Jika penghuni kost itu tidak pulang kampung, semua penghuni kost katanya selalu berkumpul di teras.
Mereka seperti saudara, mereka juga sering menggelar makan makan dengan beralaskan daun pisang.
Kadang ada yang gitar gitaran bahkan sampai nyanyi bersama.
Kalau awal bulan, mereka biasanya sering menggelar adu ketangkasan bermain game sepak bola dengan hadiah seadanya.
Diteras itu, ada sebuah televisi. Tidak besar, mungkin hanya dua puluh empat inci dan dua pasang kursi yang menantangnya.
Teras itu tidak dipagar sama sekali. Tapi kata semua penghuni kost disini, televisi itu selalu aman dari gondolan maling.
Televisi itu sudah ada dari Kost Mak Jah berdiri, yakni tahun 1904. Hahaha... Emangnya pabrik jamu.
Katanya sudah empat tahun, televisi itu belum ada yang menggantikan bahkan hilang.
Suasana kost kali ini kebetulan sedang ramai ramainya mengadakan turnamen game sepak bola.
Saya suka sekali saat saat seperti ini. Selain menambah kedekatan, saya juga bisa unjuk gigi terkait keterampilan saya dalam bermain game.
Saat sedang asiknya ingin memulai pertandingan, tiba tiba kami semua dikejutkan oleh suara Mak Jah dari arah belakang kami semua.
"Ayo cah cah bagus, mangan mangan !." sapanya, sambil membawakan nampan berisi satu wakul penuh nasi putih dan lkan peda goreng sebagai lauk serta tidak lupa sambalnya.
Semua pun bersorak kegirangan. Karena mendapatkan subsidi gratis.
Informasi dari Nevi, Mak Jah selalu melakukan hal ini dengan menu berbeda setiap weekend di awal bulan.
Tujuannya memberikan reward untuk penghuni penghuni kost yang pembayaran tepat waktu, sekaligus menagih uang kost.
__ADS_1
Walau agak jutek dan galak selayaknya ibu ibu paruh baya, sebenarnya Mak Jah adalah sosok pengganti ibu juga bagi para penghuni kost disini. Pokoknya Mak Jah is the best kalau kata anak kost sini mah.
Kehadiran Mak Jah disusul oleh seorang wanita muda. Mungkin seperti remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas.
Cukup menarik, penampilan seperti gadis desa yang identik lugu dan pemalu.
(Putri digambarkan seperti Anggi diajang pencarian bakat tahun 2022).
Nevi menyenggol saya, dia berbisik dan memberitahukan bahwa ini yang namanya Putri. Sosok wanita yang tempo hari selalu di sebut sebut oleh Mak Jah. Lalu saya hanya menjawab "Oohh.. Ok."
"Mas Andre. Piye, betah nang kene ?" sapa Mak Jah.
Sebenarnya, saya agak malu disapa beliau seperti ini. Karena saya disini statusnya menumpang. Bahkan selain menumpang, saya sering di jamu oleh Mak Jah.
Kata Nevi, semenjak saya ada disini. Mak Jah selalu menanyakan keberadaan saya dan selalu perhatian dengan Nevi.
Bahkan, Mak Jah katanya selalu menyuruh Nevi kedapurnya untuk makan malam dan katanya sekalian disuruh membawakan juga makan malam buat saya.
Namun, karena Nevi tahu rasa malu. Saya juga sih, walau kadang malu maluin.
Memang strategi marketing emak emak ini luar biasa. Ketika melihat mangsa, rasa rasanya dipepet terus. Apalagi melihat ada dua kamar kost yang masih kosong.
Tarif kost disini, sebenarnya tidak terlalu mahal. Hanya seratus lima puluh ribu perbulan. Sudah free listrik dan pakai air sepuasnya.
Namun karena status saya masih belum jelas, saya pastikan menumpang dulu disini barang seminggu.
Kadang, ketika menjelang ashar atau disaat teras sedang kotor. Saya suka berinisiatif dengan senang hati menyapu teras itu.
Saya kadang mengetahui Mak Jah sering muncul dan memperhatikan saya menyapu teras.
Mungkin Mak Jah juga merasa senang, kalau kostnya selalu bersih semenjak kehadiran saya.
"Settt... Udah jauh aja ini."
"Maaf.. maaf ! Kita balik lagi kesaat Mak Jah menyapa saya."
"Alhamdulillah betah atuh Mak." jawab saya.
__ADS_1
"Oh ya Mak, besok lusa itu pengumuman saya diterima atau tidak kuliah disini. Mohon doanya ya Mak." sambung saya lagi.
"Aamiin" seketika, seluruh penghuni kost kompak menjawab doa saya.
"Iyo Nang, jo.lali yo.. Ngekost nang kene yo." sahut Mak Jah.
Seketika Nevi, batuk batuk.
"Nopo koe Nev ?" tanya Mak Jah.
"Ora Mak. Niki loh, sambel jenengan pedese puol." jawab Nevi.
Seketika semua tertawa terbahak bahak melihat kelakuan Nevi.
Ditengah hiruk pikuk itu, ada uluran tangan yang meminta di jabat ke arah saya.
"Saya Putri, Mas." sapa gadis itu.
"Oh Iya, saya Andre ya." jabat saya.
Lalu kami pun tenggelam dalam genggaman.
Setelah berjabat tangan, Putri langsung segera kembali ke rumahnya meninggalkan Mak Jah sendirian yang sedang mengatur prasmanan makanannya diatas teras.
"Niku anakku Mas." kata Mak Jah.
"Oh iya Mak. Putri Mak, cantik." puji saya. "Sudah kelas berapa Mak ?" tanya saya.
"Tekok dewek loh, mrono." goda Mak Jah.
Mendengar kalimat itu, Nevi mendadak batuk batuk kembali.
Seketika muka saya jadi merah karena menahan malu. Basa basi saya serasa tidak asik.
Akhirnya malam itu, kami habiskan bermain game dan menyantap hidangan makan malam dari Mak Jah.
(bersambung..)
__ADS_1