Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
UJIAN PERTAMA


__ADS_3

Setengah semester sudah berlalu, saya akhirnya mendapatkan tempat kost agak layak di banding dengan Kost Mak Jah. Minimal kamar MCK nya sudah rapih dan bersih.


Kamar kost saya juga sudah di fasilitasi televisi dan sebagai anak gamers tidak lupa sebuah playstation yang pastinya mempermanis kenyamanan di kamar saya.


Nevi sebenarnya saya ajak untuk ikut bergabung, namun dia lebih memilih untuk sendiri karena lebih menjaga privasi.


Akhirnya dia memutuskan untuk tetap ngekost di kost Mak Jah.


Nevi juga menginformasikan ke Mak Jah kalau saya jadinya diterima kuliah di pusat kota, agak berbohong sedikit memang. Tujuannya agar Mak Jah tidak terlalu kecewa jika saya tidak memilih kostnya sebagai tempat tinggal.


Hal ini sebenarnya sepele, tapi agak sensitif dikalangan pengusaha kost di daerah situ.


Bisa membuat penghuni yang lain merasa kurang nyaman. Apalagi Mak Jah sangat getol sekali memperdayakan putrinya sebagai daya tarik.


Putri anaknya itu memang cantik, manis dan menggoda sekali kaum adam. Padahal cara berpakaiannya selalu sopan, tapi ternyata di kost itu banyak juga yang ngefans dirinya.


Terutama dari kalangan pekerja yang ngekost disana, katanya setiap malam minggu ada saja penghuni kost yang telah berhasil mengajak Putri jalan jalan bahkan sepertinya ada juga yang sangat serius mendekati Putri.


Setelah mengetahui bahwa saya akhirnya kuliah di pusat kota. Mak Jah memakluminya dan berharap saya masih terus mampir ke kostnya.


Saya dengan senang hati mengiyakan. Memang Nevi selalu jago menyenangkan hati orang lain.


Di tempat tinggal saya yang sekarang, suasananya selalu ramai. Selain memang penghuninya sebagian besar mahasiswa yang kuliah dikampus yang sama.


Setiap hari, ketika menunggu jam kuliah selanjutnya atau ketika ada jam kuliah yang kosong. Kost saya selalu dijadikan basecamp mereka.


Setiap penghuni kamar sepertinya memiliki teman teman berbeda, mungkin sesuai angkatannya atau juga teman teman masa SMA nya yang kini kuliah bersama.


Hal ini membuat saya tidak asing dengan muka muka mereka dikampus. Apalagi dengan mereka, kadang mereka juga tidak segan segan menyapa saya ketika berkunjung ke penghuni kost yang lain.


Kamar saya apalagi, dari pagi hingga sore bahkan malam tidak pernah sepi. Mereka leluasa menonton televisi, tidur bahkan berkompetisi bermain game. Bahkan ketika saya ada keperluan pun, saya juga merasa nyaman saja meninggalkan kamar. Karena selalu ramai dan nonstop tidak pernah sepi kecuali hari Minggu.


Kuliah diperantauan, walau diperhatikan oleh orang tua terkait uang saku bulanan. Tetap saja tidak pernah cukup bagi saya.


Padahal saat itu, saya dapat subsidi dari orang tua saya enam ratus ribu perbulan. Dalam hitungan statistik harusnya cukup, dua ratus lima puluh ribu untuk sewa kost dan sisanya untuk biaya hidup.

__ADS_1


Namun sisanya ini bukan hanya saya saja yang menikmati. Ketika Nevi sedang kehabisan uang bulanan saya rangkul dia juga untuk bersama sama menikmati keadaan. Kita tidak pernah perhitungan, ada bersama sama tidak ada ya masih ada Wahyu.


Wahyu juga sebenarnya tidak pelit, tapi Wahyu juga teman yang telah mengajarkan kita untuk tidak terlalu berharap dari orang lain.


Suatu ketika saya ada rencana ingin bekerja di usaha milik keluarganya Wahyu. Karena menurut kami, Wahyu bisa digolongkan berasal dari keluarga yang mampu. Usaha keluarganya banyak, dari cafetaria bahkan distro pakaian pun ada.


Ketika Wahyu mampir ke kost saya, saya sempat memberanikan diri menyampaikan maksud saya. Wahyu pun seketika langsung menyanggupi dan menawarkan saya untuk bisa membantu di sektor apa. Bahkan sampai ke nego penghasilan.


"Kamu yakin, mau bantuin saya Ndre ?" tanya Wahyu.


"Yakinlah Yu. Karena diperantauan ini saya harus bisa memanfaatkan waktu saya menjadi produktif." sambut saya.


"Ya sudah, cuma kamu mau di bidang apa, pramuniaga cafe atau distro ?" jelas wahyu.


"Gw di distromu saja Yu, saya bisa bantu rapihin distromu. Minimal melayani tamu atau kalau perlu ikut bantu ide design untuk kaos kaos distro kamu juga saya siap." pinta saya.


"Ok untuk designmu, aku nanti lihat dulu." katanya. "Soalnya ada orang yang sudah rutin dibagian itu. Tapi untuk yang lain, bisa sih sementara kamu menutupi karyawan saya yang baru baru ini resign."


"Ok Yu. Siap." kata saya.


"Loh, memang Nevi kenapa Yu." saya pun jadi penasaran.


"Ya, nanti juga kamu tahu sendiri Ndre." jawabnya."Ujian pertama itu memang harta. Hahaha, setelah itu nanti kamu tahu sendiri."


Kalimat Wahyu memang penuh bahasa kiasan, penuh arti dan penuh makna.


Ujian pertama itu harta, diotak saya mungkin Nevi pernah menggelapkan uangnya Wahyu kali ya. Ah gila saja, kalau dia berani seperti itu.


Rasanya tidak mungkin, karena saya dengan Nevi nyaman nyaman saja terkait pembagian keuangan. Bahkan saya menilai Nevi tidak terlalu kolot perihal uang.


Setelah percakapan itu, Wahyu menyarankan saya. Setiap jam tiga sore datanglah ke distro nya. Shift saya dari jam tiga sore sampai jam sepuluh malam setiap harinya. Kecuali minggu, dia meminta saya dari jam delapan pagi hingga jam tiga sore dan libur hanya satu kali dalam seminggu.


Saya pun mengiyakan dan pastinya akan bertanggung jawab dengan keputusan dan kepercayaan itu.


Wahyu percaya dengan saya, karena di setiap pendakian yang kita lalui bersama pun, kita tidak pernah berakhir dengan perdebatan.

__ADS_1


Kita sama sama bisa saling melengkapi dan sama sama bisa meredam ego kita masing masing dan sudah hampir empat tahun juga saya mengenal Wahyu. Walau intensitas bertemu jarang saat itu, tapi saya selalu bisa kalau dia ajak. Dia pun juga sebaliknya, sama juga bersedia ketika saya ajak.


Informasi ini saya sampaikan kepada Nevi, sekaligus saya penasaran juga. Ada masalah apa terkait saat itu, antara Wahyu dan Nevi.


Nevi didepan saya tidak bercerita banyak, dia hanya mendengar saja dan memberikan wejangan seperti ini.


"อย่า จำกัด ความฝันของคุณกับคนอื่น เมื่อสิ่งต่าง ๆ ไม่สนับสนุนฉันจะยังคงสนับสนุนตัวเอง"


Hahahaha... Yah begitulah. Dan saya sekarang berstatus mahasiswa dan juga penjaga toko per esok hari.


"Terimakasih Yu, saya siaplah bertanggung jawab terkait hal ini." janji saya dalam hati.


"Ndre, itu wejangan saya ngerti kagak ?" Nevi berbisik.


"Ngertilah broo, tenang aja." jawab saya.


"Aku ikuttt !" terdengar suara wanita dari belakang.


"Loh, kok ada Risa. Nev ?" tanya saya ke Nevi.


"Iya lagi main ke kost aja." bisik Nevi lagi.


"Kok bisa ?" saya tanya lagi.


"Ka saya Risa, baru semester tiga loh ?" bisik Risa.


"Terus ?" balas saya.


"Hahaha... Belum pernah pacaran." tawanya.


Begitulah kira kira, ternyata diam diam Nevi dan Risa sudah mulai ada kedekatan lebih intens lagi. Beruntungnya Nevi, Risa sama sekali tidak terpengaruh oleh kondisi kost Nevi.


"Semoga cinta kalian abadi, Broo" doa saya dalam hati.


(bersambung..)

__ADS_1


__ADS_2