Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
SEMAKIN PELIK


__ADS_3

Dua hari setelah kunjungan kerumah Dian, saya menghilang. Dian menelfon saya berkali kali tapi tidak pernah saya angkat. Tujuh belas smsnya pun tidak saya balas, isinya semua panjang panjang.


Sms pertama :


"Kamu masih marah sama saya ?"


Sms kedua :


"Please, angkat telfon saya Ndre !"


Sms ketiga :


"Ndre, kita sudah sama sama dewasa Ndre. Tolonglah hargai saya, saya ingin segera berbicara dengan kamu. Saya kangen Ndre !"


Sms ke empat :


"Ndre, saya ke kostmu bareng Adi (salah satu teman kelompok kami, yang juga sering main kekost saya menemui temannya yang kebetulan ngekost disini). Kamu kemana sayang ? kok kamu hari ini engga pulang ke kost loh, kata ibu kostmu. Kamu dimana, ayo dong sayang ! Angkat telfon saya."


Sms ke lima :


"Sayang, aku orangnya nekat loh. Tolong dong, jawab sms saya atau angkat telfon saya."


Sms ke enam :


"Sayang, hari ini kamu bolos tiga mata kuliah loh sayang.


Saya sudah copyin ya semua materinya hari ini. Belajar yang rajin ya sayang."


Sms ke tujuh :


"Saya pulang sendiri loh Ndre, kamu dimana ? Tega banget sih pacar aku. I Miss U Honey."


Sms ke delapan :


"Angkat telfon saya dong, Andre. Plisss... I love you."


Saya kadang tidak tega melakukan hal ini. Saya tidak biasa memainkan perasaan perempuan. Tapi saya harus meyakini diri saya dulu, kalau saya benar benar suka dan sayang Dian.


Sms ke sembilan :


"Saya engga bisa tidur, kata Iwan (temennya Adi) teman kostmu. Kamu belum pulang juga.


Kamu sebenarnya ada dimana sih Ndre ?


Kamu Cemburu ?


Tapi jangan begini caranya Ndre."


Sms ke sepuluh :


"Angkat telfon saya Ndre ! Saya tahu saya salah, berilah saya waktu untuk menjelaskan semuanya Ndre.


Pulang ke kost ya !


Besok pagi, saya ke kostmu dulu sebelum ke kampus. I miss you sayang."


Sms ke sebelas :


"Astaga kamu dimana sih Ndre ? Hari ini saya engga kuliah ya. Saya akan seharian tunggu kamu di kamar kostmu. Ibu kost tadi kasih kunci serep kamar kamu ke aku. Aku sudah diizinin beliau tinggal disini untuk nungguin kamu."


"Dian, saya mohon. Tolong jangan paksakan diri kamu untuk mencintai saya. Kalau tidak benar benar sayang, tolong tidak usah dekati saya." ini adalah isi hati saya.


Saya belum membalas smsnya, telfonnya pun tidak. Saya saat ini berada di tempat Wahyu.


Saya sekilas menceritakan Dian ke dia. Sayang Wahyu tidak pernah mengenalnya. Melihat pun tidak pernah, padahal Dian adik tingkatnya.


Saya malah disarankan oleh Wahyu untuk tegas ke perasaan saya sendiri. Dia mengingatkan saya tentang kembali pada tujuan awal saya berada di kota ini. Menyarankan saya untuk fokus mengejar impian saya di Semarang.


"Ndre, Nevi kalah karena harta. Sekarang kamu, jangan sampai kalah karena wanita." tegas Wahyu.


"Duarrr !!" ini ternyata maksud Wahyu selama ini.


Saya baru paham, ternyata Nevi kalah karena harta. Itu karena Nevi berasal dari keluarga sederhana sehingga sifat mindernya begitu lekat ketika diberi tantangan baru. Nevi tidak berani seperti saya, meminta pekerjaan dan mampu bertanggung jawab terhadap tantangan yang nantinya ada.


Saya mudah takluk karena tidak bisa tegas terhadap wanita. Saya selalu luluh oleh air mata wanita. Begitulah kesimpulan Wahyu tentang saya.


Sms ke dua belas :


"Kemarin kita kan baru bersama Ndre, kamu sendiri kan berkomitmen sama aku. Kalau kamu tidak mau meninggalkan aku. Please Ndre, kamu dimana ?"


Sms ke tiga belas :


"Enak ya, kost kamu disini campur. Ada kost pria dan kost putri. Saya di kamarnya Meta ya Ndre. Saya ada rencana menginap dikamarmu, sampai kamu bersedia pulang dan menemui aku."


Sms ke empat belas :

__ADS_1


"Ndre, aku tidak akan pernah berhenti sms kamu dan telfon kamu. Sampai kamu bersedia bicara denganku Ndre. I Love You."


Sms ke lima belas :


"Aku tahu, kamu baca sms ku. Aku pasrah, Ndre. Jika ini memang terbaik untuk semuanya. Saya hanya sayang kamu dan itu akan selalu aku buktikan kapan pun kamu mau."


Sms ke enam belas :


"Temen temen kost kamu seru juga Ndre. Aku jadi betah disini. Ndre, pulanglah ! Kamu kok tega ngelakuin aku seperti ini."


Sms ke tujuh belas :


"Ndre, saya izin tidur di kamarmu ya. Tolong kali ini terima telfonku."


"Kring.. Kriing..... Kring.. Kring..." ponsel saya berbunyi. Entah sudah berapa kali, Dian menelfon saya. Dia juga tetap bertekad kuat untuk mengajak saya berbicara.


"Ya sudahlah." jawabku yakin.


"Hallo ?" sapa saya untuk seberang telfon.


"Ndre, kamu kemana aja ?" sahut Dian lega di seberang telfon. "Kamu kenapa belum pulang, Ndre ? Aku mau bicara."


"Bicara disini aja, bisa kan ?" tegas saya. "Kenapa harus bertemu."


"Kamu dimana Ndre, aku susul ya." rengek Dian.


"Engga usah. Saya cuma mau tanya sama kamu Yan. Apa kamu serius sama saya ?" pertanyaan konyol ini terpaksa saya lemparkan ke Dian. Biar saya tahu, keseriusan hatinya.


"Apa yang harus saya buktikan ke kamu, Ndre ?" sahutnya. "Apa yang perlu aku lakukan, agar kamu yakin kalau aku ini tidak main main."


"Saya minta, lepaskan masa lalu kamu Yan !" pinta saya.


"Pelan pelan toh, Ndre. Tidak secepat itu juga. Ok aku salah, tapi kan kamu tidak tahu duduk masalahnya." jelasnya. "Ndre, pulang ya ? Aku tunggu kamu disini ya."


Disini, saya merasa Dian telah sepenuhnya meminta saya untuk kembali. Karena tidak tega dengannya, saya lalu berpamitan dengan Wahyu.


Selama hampir dua hari, saya tinggal di rumah Wahyu. Sudah biasa, karena ketika mengkonsep design juga saya menghabiskan waktu berjam jam bahkan berhari hari dikamarnya. Kamarnya terpisah dengan tempat tinggal keluarganya.


Konsepnya seperti kamar ART kalau di perumahan perumahan elite ibu kota, terpisah dari rumah utama. Tapi Wahyu sangat senang untuk tidur dan menempatinya. Katanya disini dia bebas bisa keluar masuk sesukanya.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya saya sampai di kost saya. Posisi kamar saya, pintunya sudah terbuka dan saya tahu ada seseorang yang sedang menunggu saya disana.


"Andre !!" tiba tiba Dian langsung memeluk saya. Ketika saya baru menampakkan diri dari balik pintu.


"Dian, lepasin !" pinta saya, "Tidak enak kalau dilihat penghuni yang lain."


Akhirnya saya mendorong Dian agak masuk kedalam kamar. Lalu karena ini saya rasa adalah urusan rumah tangga, maka saya menutup pintu kamar saya.


Dian masih menangis sambil memeluk saya, saya biarkan dulu dia melepaskan emosinya.


Pelukkannya terasa hangat dan aku perlahan lahan mendekapkan punggungnya.


Nafasnya terasa naik turun sama seperti detak jantung saya yang saat ini baru pertama kali merasakan pelukkan wanita.


Dalam posisi ini, emosi dan nafsu saya diuji. Saya menyadari ada yang mulai mengeras di bagian otot tubuh saya. Membuat saya merasakan semakin sesaknya dibagian celana.


"Dian, kita duduk aja ya." pinta saya, ketika saya sudah mulai banyak menelan ludah saya sendiri.


Dian pun akhirnya melepas pelukan saya dan dia mengikuti permintaan saya untuk duduk di sofa yang memang sudah saya siapkan untuk lebih asik lagi bermain game. Lalu saya duduk di sofa yang ada di sebelahnya. Kami pun bertatapan berdua, disaksikan sebuah televisi yang tertanam di tembok kamar saya.


"Kamu mau ngomong apa ?" tanya saya.


"Kamu serius mau menyelesaikan hubungan ini, Ndre ?" Dian malah balik bertanya.


"Saya cuma minta, kamu tidak main main Yan. Itu saja." jawab saya. "Kita ini bukan lagi anak sekolah yang masih penuh dengan kekangan orang tua atau pun masih mau main main."


"Aku serius Ndre, Serius.. Aku betul betul serius." jawab Dian yang nampak meneteskan airmatanya.


"Ok kalau serius, aku antar kamu pulang ya." terang saya.


"Engga mau. Aku mau kepastian kita dulu." tegas Dian sambil dia berdiri dan menatap tajam ke arah saya.


Saya pun lalu berdiri,


"Iya.. Maafkan saya ya." jawab saya menenangkan Dian, sambil saya mengulurkan tangan saya untuk berusaha meraih tangannya.


Tapi lagi lagi, Dian menubruk saya. Akhirnya kami pun berpelukan kembali.


"Dian ?" saya menyapanya.


Dian lalu menengadahkan wajahnya keatas untuk mencari tatapan mata saya.


"Maaf ya, saya cuma ingin memastikan. Kalau kita ini tidak untuk main main." jelas saya lagi.


Penjelasan saya itu, tidak dijawabnya. Perlahan lahan Dian mendekatkan wajahnya kepada saya.

__ADS_1


Lalu... Waktu seakan berjalan melambat. Kami berlajut dalam sebuah emosi yang tidak lagi bisa dibendung. Emosi yang seakan akan kita telah menemukan jawaban dan sebuah permasalahan yang pelik.


Kami menari nari dalam lautan asmara, latar yang sebelumnya berada di saksikan televisi kini beralih diruang tengah. Seperti terbebas dalam belenggu setan, kami berenang dengan peluh keringat disebuah ranjang. Berirama seperti melodi, memacu adrenalin dan meningkatkan denyut jantung.


******* demi ******* terus berjalan seperti sebuah nyanyian, sesekali meracau dan sudah tidak lagi terkontrol.


Sampai akhirnya kita akhiri pergumulan ini dengan sebuah ******* yang panjang.


##################################


"Dian, kamu kenapa ?" Sapa saya ketika melihat Dian kini terdiam disamping saya.


"Eh engga apa apa." jawab Dian lalu dia diam lagi.


Kami pun menjadi setengah berselimut, seakan akan telah larut berbaring di sebuah ranjang di tengah ruangan itu.


"Ndre, aku menginap disini ya." bisik Dian.


"Hmmm... Iya, tidak apa apa." jawab saya.


Tiba tiba Dian membalikkan badan saya kembali, kali ini saya dalam posisi menghadap langit. Lalu dengan wajah seksinya, dia bergegas duduk diatas tubuh saya. Pelan pelan lalu mengarahkan wajahnya ke arah bawah bagian tubuh saya. Dan....


Lagi.... Dan lagi.


Kita terus bergadang dan tidak pernah beralih dari tempat itu hingga pagi.


##################################


"Tettt... Tetttt... Tetttt..."


Jam weaker saya berbunyi. Menunjukkan waktu sudah jam 5 pagi. Lalu tanpa pikir panjang saya segera mematikan jam weaker itu dan menjadikan suasana ruangan itu menjadi tenang kembali.


Disamping saya, saya lihat Dian masih tertidur. Tidurnya sangat pulas, dia masih terlihat cantik ketika tidur. Tapi saya berniat tidak ingin mengganggunya lagi. Saya tahu, dia mungkin sangat lelah untuk saat ini.


Setelah mengumpulkan semangat untuk bangkit. Saya pun bergegas menuju kamar mandi yang letaknya di belakang tembok di ruangan tengah yang menjadi latar film action kami tadi malam.


Setelah mandi, saya merasa badan saya begitu segar.


Dengan kaos oblong dan celana boxer saja. Saya nyalakan kompor yang saya miliki untuk menyiapkan air panas untuk membuat kopi.


Letak dapur saya persis di depan kamar mandi.


Yah beginilah ruangan kost saya. Terdiri dari tiga petak, ruang pertama berukuran tiga kali tiga meter untuk ruang tamu.


Ruang tamu sudah saya lengkapi hanya dengan televisi dan dua buah sofa untuk saya dan teman teman saya berkompetisi game.


Ruang tengah agak luas, berukuran tiga kali lima meter. Ruangan ini ditujukan untuk tempat tidur serta menaruh sebuah lemari pakaian.


Setelahnya yang ketiga atau paling belakang adalah ruangan dengan luas tiga kali tiga meter lagi. Ruangan itu ditujukan untuk kamar mandi dan dapur.


Setelah ceret tempat memasak air saya berbunyi lalu saya tuangkan isinya kedua buah gelas kecil. Satu gelas saya tuang untuk kopi dan satu lagi saya tuang untuk teh.


Dian masih terlihat tertidur, sama sekali tidak ada pergerakan dari aroma yang sudah saya buat.


Karena saya tidak mau mengganggunya, saya bawa saja segelas kopi ini keluar kamar saya.


Untuk saya nikmati dengan menghirup udara pagi yang masih segar.


Kebetulan di depan setiap kamar kost kami telah disediakan juga kursi dan meja sebagai fasilitas. Disinilah saya menikmati kopi ini.


"Hei sudah bangun." saya di kejutkan oleh Dian, ternyata dia sudah menggunakan pakaiannya lalu menyapa saya yang sedang duduk duduk di depan.Untung kost ini sepi.


Memang setiap hari minggu kost ini selalu terlihat sepi. Karena sebagian besar penghuninya memilih pulang di hari sabtu. Jika pun ada penghuni lain yang masih tinggal, paling pergerakkan diawali di pukul sepuluh pagi.


Rumah pemilik kost pun tidak menyatu dengan kost kami. Letaknya berada dua rumah dibelakang kost ini. Sehingga betul betul hari ini terasa begitu sepi.


"Eh sudah bangun." jawab saya. "Itu, saya sudah buatkan teh buat kamu."


"Baik sekali kamu, Ndre ?" manja Dian. "Bentar ya, saya mandi dulu."


Dian pun kembali masuk kedalam kamar lagi, tapi...


"Ndre, jam tujuh antar saya yuk ?" ajak Dian.


"Kemana ?"


"Ada kebaktian di Gereja, Ndre." sahut Dian.


Saya terkejut sekali, selama ini saya lupa tentang biodata Dian. Saya bingung harus bagaimana, saya...


"Oh Tuhan, kenapa begini." keluh saya dalam hati.


"Ndre, kok belum di jawab." teriak Dian dari dalam.


"Iya, nanti saya antar. Tenang saja." jawab saja.

__ADS_1


"Apapun itu... Apapun ituuuuuuu..... Arghhh..... Ok lah, jalani saja dulu." isi hati saya.


(bersambung..)


__ADS_2