
Kejadian di Jogja, membuat saya sulit bisa menerima keadaan ini. Rasa sayang saya untuk Dian memang belum begitu tumbuh namun perjalanan saya dan Dian selama satu tahun ini tidak juga bisa dibilang sebentar.
Saya sepertinya terlalu dini menilai kesetiaan Dian. Walaupun hampir setiap hari kita bersama melakukan aktifitas. Mungkin disela kesibukan saya, Dian memanfaatkan moment ini untuk berhubungan dengan pria itu.
Betul seperti dugaan saya diawal, ketika saya pertama kali mengenal Dian. Dian begitu agresif, karena dia merasa kesepian. Atau disebabkan orang yang di cintainya lebih mementingkan perinsip dibandingkan Dian.
Dari Meta teman kost saya dulu, akhirnya saya tahu siapa pria itu. Meta itu teman sekelas Dian, Dia selalu menjadi teman cerita Dian karena Dian selalu berkunjung ke kamar kostnya jika saya sedang tidak ada di kamar saya.
Meta bercerita, (Meta itu cantik juga, seperti Lyodra Idol) kalau saya mungkin adalah pelarian Dian. Dian sulit melupakan cinta pertamanya sekaligus orang pertama yang memperkenalkan Dian tentang kasih sayang seorang kekasih.
Keegoisan Dian tumbuh karena pria itu juga. Pria itu bernama Yoga.
Yoga adalah teman sekolah Dian dibangku sekolah menengah atas. Yoga selalu bersama sama dengan Dian semenjak baru duduk dibangku kelas sebelas.
Sebenarnya Meta juga kaget, Dian malah lebih sering bersama saya dibanding dengan Yoga. Karena setahu Meta, Yoga masih berstatus pacar dari Dian. Pacaran mereka serius, mereka selalu kemana mana berdua.
Meta tidak berani menceritakan semua ini sebelumnya, karena Meta masih sering dikunjungi oleh Dian. Meta takut Dian marah dan menganggapnya pengkhianat.
Yoga saat itu masih berstatus mahasiswa fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di kota Jogja. Intensitas pertemuan Dian dengan Yoga mungkin berkurang karena mereka terpisah kota.
Disinilah Dian selalu merasa kesepian, karena Dian type orang yang tidak bisa jauh dari pasangannya. Sebenarnya Meta tidak tahu juga kalau Dian dan Yoga masih nerstatus pacaran karena Meta lihat Dian selalu bersama sama dengan saya.
Tetapi ketika pertama kali berada di Jogja. Meta terkejut juga kalau Yoga masih menjemput Dian di tempat KKN nya. Bahkan mereka selalu bersama sama di setiap kita semua mengadakan pertemuan untuk menyelesaikan tugas kelompok kita.
Disini Meta tahu alasannya, kenapa Dian tidak mau tinggal bersama Meta atau teman kelompok KKN nya yang lain. Ini semua karena Yoga.
Katanya Yoga memiliki sebuah apartement disana, sehingga mereka bisa lebih bebas tinggal bersama. Apartement itu mungkin yang saya anggap sebagai asrama.
Begitulah, cerita dari Meta terkait dengan Yoga. Saya memberanikan diri menanyakan hal ini ke Meta sebulan kemudian dari kejadian di Jogja. Karena memang Meta sudah saya anggap sebagai teman dekat Dian di kost saya apalagi mereka pernah satu kelas di sekolah menengah atas.
Awalnya Meta tidak berani cerita. Tetapi ketika Meta tahu, saya akan meninggalkan kost itu dan pindah ke kost yang lain. Meta sendirilah yang mengundang saya untuk mendengarkan ceritanya.
Meta juga tidak tega dengan saya untuk memulai menceritakan semuanya. Tapi karena paksaan dari saya dan saya janji tidak akan lagi menanyakan hal ini ke Meta, jika semuanya sudah jelas. Maka dia mulai berani dan nyaman mengungkapkan semuanya.
Akhirnya saya juga lega dan merasa ini adalah jalan terbaik untuk kita semuanya.
Meta bisa tinggal di kost dengan nyaman, karena saya sudah tidak lagi satu kost dengan dia. Dian juga sudah kembali dengan mantan pacarnya dan semoga selalu bahagia. Sedangkan saya akan bahagia dengan dunia saya sendiri, mencoba melupakan semua yang pernah terjadi dengan Dian.
Yoga memang saya sering pergoki ada di kotak sms Dian. Sempat saya sesekali mencoba kepo dengan isi ponsel Dian. Namun saya kira Yoga itu adalah nama kakaknya, itu jawaban dari Dian ketika sms itu ketahuan dari saya.
"Yoga siapa itu, Yan ?" tanya saya saat itu.
"Oh.. Itu Mas Chris. Dia sering dipanggil Yoga sama teman teman theaternya kalau mereka semua sedang ada disini. Jadi saya ketik aja nama Yoga dibanding Mas Chris. Sekaligus ngejek dia juga yang nyebelin." jawab Dian saat itu.
Bodohnya saya percaya juga dengan Dian dan ternyata Yoga lah yang waktu itu menelfon Dian ketika saya pertama kali berkunjung ke rumah Dian.
Ini adalah pengalaman pertama saya dalam berpacaran. Pengalaman pertama saya dalam mengenal seorang wanita yang saya anggap, lugu, anggun, baik dan setia. Saya juga baru kali ini menjadi korban gombalan wanita.
__ADS_1
Saya merasa seperti pecundang. Iya saya seperti seorang pecundang yang kalah telak di kandang orang. Saya seperti seorang pecundang tandang.
Nevi juga ketika mendengar cerita ini merasa ikut kecewa juga. Tapi sebagai sahabat, dia cuma bisa menguatkan saya dengan mentraktir saya makanan kesukaan saya.
Risa lebih parah lagi, katanya dia begitu marah dengan Dian. Kata Meta, Risa sempat menjambak rambut Dian dan menyuruh Dian untuk menjauhi saya. Katanya Meta, itu adalah emosi spontan seorang wanita ketika tahu bahwa seseorang yang tulus telah disia-siakan.
Karena hal ini pula lah, saya pernah agak naik emosinya dengan Risa. Karena jangan sampai kecerobohannya ini, membuat Risa dipanggil ke ruangan Dekan. Nevi juga ikut menenangkan suasana dan meminta maaf dengan saya.
Tapi semua sudah terjadi, semua masih baik baik saja.
Risa masih dekat dengan Nevi, bahkan Nevi sedang dipantau terus oleh Risa agar bisa wisuda bersama sama. Mimpi Risa, dia ingin saya, Nevi dan Dia bisa foto menggunakan toga di hari yang sama.
Nevi dan Risa saat ini sama sama dengan saya sedang menyusun skripsi. Tema mereka juga sama dengan saya, terkait pengembangan farmasi industri. Sehingga dosen pembimbing juga ada yang sama.
Hanya saja, mereka proses menyelesaikannya berdua sedangkan saya sendiri. Namun Risa dan Nevi siap membantu juga, jika saya memerlukan bantuan mereka dalam mengeksekusi data.
Tiga bulan lagi adalah jadwal yang panjang untuk kami semua mempersiapkan dan menghadapi ujian akhir. Sekarang tidak ada lagi yang namanya main main, kami semua nampak serius menyikapi tugas akhir ini.
Risa kadang saya lihat sering menangis di pelukan Nevi, ketika dia sedang down atau menghadapi banyak revisian di skripsinya.
Nevi juga sama, dia lebih sering mengajak saya dan Risa menikmati alam untuk membuka inspirasi dan kreatifitasnya. Saya sangat beruntung berada di lingkungan mereka. Ketika saya mentok ide juga, saya kadang mengundang mereka makan makan sambil berdiskusi.
Cita cita saya, saya hanya ingin lulus dari kampus ini dengan jalan yang baik. Tidak lagi memikirkan masa lalu, karena untuk masa depan saya, saya juga akan meninggalkan kota ini dan tidak akan pernah kembali lagi.
Saya sudah bisa melupakan kisah saya dengan Dian, meskipun sesekali kita pernah bertemu dan berpapasan di kampus, saya pun bisa menghindar darinya. Kadang sekilas Dian terdengar memanggil saya ketika saya terlihat olehnya, tapi saya sudah bisa buru buru cabut meninggalkan dia sendirian.
Di kampus pun saya selalu bersama sama Nevi dan Risa, bahkan tidak ada lagi orang yang saya sapa selain mereka. Jika ada Meta, mungkin akan saya ajak bergabung. Namun Meta masih terlalu sibuk dengan gengnya. Meta juga sepertinya sudah tidak lagi dekat dengan Dian. Karena menurut Meta, Dian selalu kemana mana dengan Yoga kekasihnya. Karena infonya setelah wisuda, mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan.
Saya harap, ini yang terbaik untuk Dian. Saya juga seandainya sudah selesai menyelesaikan misi saya, saya bisa meninggalkan kota ini dengan nyaman. Sebab memang sudah tidak ada hati lagi yang menunggu saya di kota ini nantinya. Tapi itu kalau sidang skripsi saya bisa saya lalui.dengan baik dan tidak sampai diulang semester depan.
###################################
Tiga bulan akhirnya berlalu begitu cepat, Risa dan Nevi sudah menyelesaikan sidangnya dengan hasil yang memuaskan. Sekarang tinggal giliran saya, Risa dan Nevi menghampiri saya.
"Semangat, Mas. Kamu pasti bisa !" pesan Risa.
"Iya Sa, terimakasih ya." jawab saya.
Nevi pun memeluk saya, memberikan dorongan dan spirit kalau saya juga pasti bisa menyelesaikan misi terakhir ini.
"Bisa ya Broo !" bisik Nevi.
"Siap, habis ini saya traktir kalian makan makan ya." jawab saya lagi.
Akhirnya saya pun pergi meninggalkan mereka berdua untuk memasuki ruangan ujian skripsi saya.
Didalam ruangan itu saya memulai pemaparan saya, saya buka semua berkas penelitian saya di depan para penguji. Saya meladeni ketiga penguji itu dengan tenang dan hingga akhirnya saya berhasil membuat mereka menutup sidang ini dengan tepuk tangan meriah mereka.
__ADS_1
"Saya sudah lulus, saya telah berhasil Tuhan." Saya lalu melakukan sujud syukur dihadapan mereka. Saya bersyukur, saya sudah melewati semua ini dengan baik. Dosen penguji pun bergantian menjabat tangan saya untuk mengucapkan selamat.
Ketika diluar ruangan pengujian itu, Risa dan Nevi menyambut saya dengan gembira. Akhirnya kita bisa wisuda bersama sama. Saya, Nevi dan Risa berencana merayakan ini semua di kantin kampus kami. Saya akan membayar makan mereka sepuasnya, tapi ketika kami sibuk merayakan semua ini.
"Ndre !" Seseorang memanggil nama saya dari belakang.
Saya segera menoleh ke arah panggilan itu, ternyata Dian sudah berdiri dibelakang saya.
Risa dan Nevi nampaknya segera menarik saya untuk tidak lagi meladeni Dian. Namun saya tahan niat mereka.
"Sebentar ya, kalian ke kantin saja dulu. Nanti saya susul." Pinta saya kepada Rusa dan Nevi.
Akhirnya Nevi dan Risa mengikuti kemauan saya, mereka lebih dulu menuruni tangga koridor lantai dua untuk menuju ke arah kantin.
"Kenapa Yan ?" tanya saya.
"Selamat ya, kamu sudah berhasil menyelesaikan semuanya." jawab Dian.
"Terimakasih, kamu juga sudah selesai kan." tanya saya lagi. "Tinggal nunggu wisuda juga. Selamat ya !" saya mengulurkan tangan saya kehadapan Dian.
Dian pun lalu menjabat tangan saya.
"Ok, saya pamit dulu ya." pinta saya, "Engga enak, saya sudah ditunggu oleh mereka di kantin." Saya lalu berpaling dan meninggalkan Dian. Dian pun terus melihat saya meninggalkannya dan menghilang dibalik ibu tangga.
Terimakasih Yan, untung kita tidak terlarut dalam perasaan. Mungkin jika kita tidak begini, kita akan terbelenggu antara keyakinan dan rasa sayang kita.
Di dalam kantin nampak Nevi dan Risa sedang menunggu saya. Kali ini saya akan mentraktir mereka makan siang ini. Mereka sangat antusias dan betul betul bahagia, seperti telah melepaskan beban berat di pundak masing masing.
"Ka, tadi Dian mau ngapain ?" tanya Risa tiba tiba.
"Oh, Dia cuma ingin mengucapkan selamat saja buat saya." jawab saya.
"Udah itu aja ?" balas Nevi.
"Sudah itu aja kok." jawab saya lagi.
"Kalau doi minta balikan gimana Ka ?" Pancing Risa.
"Kagak lah, Hahahaha..." balas saya sambil tertawa.
Entah, saya sama sekali sudah melupakannya. Meskipun pertemuan terakhir saya dengan Dian nanti, hanya di saat wisuda. Namun tidak ada sedikit pun keinginan saya untuk kembali padanya.
Dia sudah menempatkan cinta sejatinya dan saya hanya membalas rasa sayangnya dengan ketulusan. Ketika semuanya berakhir, saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan terus mendoakannya agar kasih sayang mereka abadi.
Sedangkan saya, saya hanyalah sepenggal kisahnya. Yang akan selalu dia lupakan.
Dan saya sebagai pecundang, harus tetap tersenyum untuk mencari cinta yang baru.
__ADS_1
(bersambung..)