
Jam delapan pagi, saya baru bangun, Nevi saya lihat sedang sibuk mengaji.
Nevi adalah sahabat saya yang sebenarnya beda kota juga dengan saya juga. Kita kebetulan bertemu disaat ada kegiatan pendakian Gunung Semeru.
Pendakiannya bertemakan bersih bersih hutan. Saya dan Nevi sama sama ditugaskan di Pos Jambangan kala itu.
Mungkin temen temen pembaca yang hobby mendaki gunung, pastinya sudah tidak asing lagi dengan pos ini di Gunung Semeru.
Selain indah karena terlihat begitu dekatnya Puncak Semeru. Pos ini sangat memukau karena dipenuhi padang rumput, puluhan pohon cemara, padatnya tanaman centigi bahkan bunga edelweis.
Ditambah tekstur topografinya yang relatif datar dengan banyak sudut sudut pos yang teduh. Maka dari itu Pos Jambangan banyak dimanfaatkan para pendaki sebagai basecamp sebelum melintasi pos selanjutnya.
Sehingga karena hal tersebutlah, kami ditugaskan untuk fokus di pos itu. Dan jelas saja, sampah disana begitu banyak bahkan berserakkan tak beraturan.
Dengan sabar saya bersama rekan rekan petugas yang lain berusaha mengumpulkan dan membersihkan sampah sampah yang berserakan tersebut hingga tak terasa kami sudah mengumpulkan tiga bahkan empat karung penuh berisi sampah.
Ditengah letih setelah selesai memungut sampah, saya pun mengeluh.
"Sial !" keluh saya pelan. "Rokok ketinggalan di pos bawah lagi." gerutu saya lagi.
Akhirnya dengan mulut masam, saya berteduh di bawah salah satu pohon cemara untuk sekedar mengembalikan mood dan tenaga. Hingga dari sini lah, saya mengenal sosok bernama Nevi.
"Rokok Mas ?" sapa Nevi.
"Siap Mas, kebetulan rokok saya ketinggalan di bawah. Saya ambil satu ya ?" jawab saya sopan.
"Semua juga engga masalah Mas, saya banyak stock rokok juga kok." jelasnya. "Banyak nih di tas." sambil menunjukan isi tas kecil di pinggangnya.
Benar saja, didalam tas itu nampak empat bungkus rokok yang masih belum di buka segelnya.
Saya awalnya ragu ragu, menerima pemberian dia.
"Apa mau yang masih baru ?" tanya Nevi lagi saat saya sudah mulai bengong.
"Engga usah Mas, saya ambil ya. Terimakasih". saya langsung menyambut bungkus rokok itu dan mengambil satu batang dari delapan batang rokok yang saya lihat masih tersisa didalam bungkus itu lalu membakarnya.
"Darimana ?" tanya Nevi lagi.
"Bandung Mas" jawab saya, "Oh Iya maaf, saya Andre." dengan mengulurkan tangan saya.
"Nevi dan jangan panggil Mas ya." jawabnya sambil menjabat tangan saya.
"Jauh amat dari Bandung kemari ? Ikut mapala mana ?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Saya independent Nev. Kebetulan temen saya Wahyu pimpinan tim yang waktu itu kasih arahan kita di Pos Ranu, itu teman saya." jelas saya. "Dia yang ngajak." sambung saya lagi.
"Oh, kamu temennya Wahyu. Wahyu itu sekampus dengan saya. Satu mapala juga." katanya.
"Wah asik dong, di kampus kalian ada mapalanya. Kampus saya mana boleh organisasi ekstrim begini." celetuk saya.
"Loh memangnya kenapa ?" tanyanya heran.
"Kampus saya mengijinkan ektrakulikulernya hanya hafidz quran dan nasyid Nev."
"Loh kampus apa pondok ?" tanyanya heran. "Gitu amat."
"Ya Kampus," jawab saya, "Dan saya satu satunya dari tiga lelaki yang study di kampus itu, Bro. Hahaha." jelas saya sambil tertawa.
"Jurusan lu perawat, gila ! Asik dong, dikelilingi cewek cewek." ledek Nevi.
"Bukan, ini di bagian obatnya." jelas saya.
"Mantap.. Hahaha. Satu jurusan dong kita." jawab Nevi sambil tertawa.
"Hahaha, saya kira jurusan ini langka." tawa saya, "Berarti lu kuliah di Semarang dong ?" tanya saya balik.
"Lah, iya. Wahyu itu senior saya." jelasnya lagi.
Dari situlah saya semakin akrab dengan Nevi. Nevi kaget saya sudah semester akhir dan tinggal menunggu wisuda. Sedangkan dia baru masuk di semester dua namun program study saja yang berbeda. Saya hanya mengambil ahli madya, sedangkan dia strata.
Nevi itu seorang anak pemuka agama di kota Cirebon. Ayahnya selalu konser dimana ada acara pernikahan berlangsung. Bahkan kalau ayahnya tidak datang, maka pernikahan itu pun terpaksa batal. Hahahaha... Kagak lah, kan masih ada lah, penghulu yang lain.
Tidak lama, handphone saya berbunyi.
"Hallo Selamat Pagi ? Saudara Andre, apakah bisa ke Kampus Setia Bakti hari ini jam sepuluh pagi ?" tanya seorang wanita dari seberang ponsel.
"Bisa bu, saya akan segera kesana. Terimakasih"
singkat saya.
"Kami tunggu ya saudara Andre.Terimakasih kembali. Ttutt.. Tutt.. "
"Mantap. Hayo siap siap !" Nevi malah bangkit sambil ngeluyur ke arah kamar mandi.
##################################
Sesampainya di kampus, saya dengan Nevi segera memenuhi undangan penelfon itu.
__ADS_1
Katanya tadi dari pihak finance yang menelfon. Tujuannya agar saya bisa segera melengkapi dokumen dan melakukan pelunasan semester pertama saya disana.
Setelah selesai, saya langsung menghadap dekan untuk di bimbing menuju dosen pembimbing. Dosen pembimbing saya hingga selesai study program ternyata Ibu Eka.
Ibu Eka terlihat begitu memperhatikan penampilannya. Beliau nampak cantik walaupun sudah berusia diatas kepala 3. Bahkan parfumnya pun begitu menyenangkan hidung saya.
Saya sedikit tersindir oleh beliau saat pertama kali bertemu. Beliau menyindir saya dalam segi penampilan.
Beliau meminta saya untuk bisa mencukur rambut bergaya 'man bun dreadlocks' saya. Katanya, jika ingin berkuliah disini.
Saya pun menyanggupi, memang sebenarnya saya juga tidak betah dengan rambut ini.
Setelah membahas rambut saya, saya juga diberi wejangan juga agar saya bisa lebih teliti lagi memilih program sks setiap semesternya.
Katanya agar tidak terlalu berat dan masih bisa mendapatkan nilai yang baik setiap semesternya.
Diruangan beliau pun, saya seperti mahasiswa yang baik. Saya seolah olah selalu mengikuti arahan beliau.
Hingga tidak terasa sudah dua jam berlalu, saya berada di dalam ruangan itu.
Setelah dirasa cukup oleh beliau, saya dipersilahkan meninggalkan ruangannya.
Diluar, nampak Nevi dan Risa sedang asik berdiskusi di meja pendaftaran seperti biasanya itu. Ketika melihat saya keluar dari ruangan Ibu Eka, Nevi dan Risa meminta saya untuk bergabung.
"Selamat ya Ka, akhirnya kita sekampus." Sapa Risa, sambil mengulurkan tangannya.
Namun belum sempat saya terima uluran tangan Risa untuk saya jabat, Nevi malah melesat dengan cepat menggantikannya.
"Iya sayang, kita akan bersama selamanya." goda Nevi.
"Hiiii.... Amit amit". Risa pun langsung melepas genggaman Nevi sambil mengibas ngibas tangannya seolah jijik telah mengenai sesuatu.
Dan kita pun semua tertawa, bahkan suasana lobby itu menjadi semakin cair.
"Ka. saya Risa, baru semester dua ya Ka." bisik Risa.
"Terus ?" balas bisik saya.
"Belum pernah pacaran." bisiknya lagi.
"Opoooo ? Bisik bisik." Nevi menggerutu.
"Hahaha... " saya tertawa.
__ADS_1
"Huuuu... Kepo !" keluh Risa.
(bersambung..)