Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
ANDAI WAKTU BISA SAYA PUTAR KEMBALI


__ADS_3

Minggu pagi, saya melajukan motor saya. Saya boncengi Dian menuju sebuah gereja tempat biasa Dian beribadah. Gereja itu letaknya cukup jauh dari kost saya, ternyata letaknya dipusat kota juga dan dekat dengan Sekolah Pelayaran terkenal di kota itu.


Ya kalau dari tempat Dian tinggal, pastinya sangat dekat.


Sepanjang perjalanan, Dian memeluk saya erat sekali. Dari sepion yang saya arahkan ke wajahnya, dia tampak sangat bahagia. Saya sering melihat dia senyum senyum sendiri.


Tapi berbeda dengan perasaan saya, saya merasa bersalah kepada Dian.


Entahlah, apa yang akan terjadi esok terjadilah, fikir saya. Untuk saat ini saya hanya mengejawantahkan saja apa yang dia mau.


Yang sangat saya sesali, kenapa hal ini terlambat saya ketahui. Karena salah saya juga, saya terlalu cepat mengenal Dian. Seandainya memang saya tahu, mungkin saya lebih memilih untuk pergi dengan cara apapun atau tidak menganggap istimewa perhatiannya.


Hati kecil saya yang lain juga menilai, bahwa setiap pertemuan saya dengan Dian itu memang kepolosan cinta. Sebuah cinta tulus yang terlahir dari dua insan yang sedang dimabuk asmara. Rasa sayang alami seorang manusia kepada manusia lainnya. Saya yakin bisa, pasti ada jalan keluarnya. Pasti ada.


Namun sisi jiwa saya yang lain cenderung merasa sepertinya saya salah memilih Dian untuk menjadi sosok pasangan saya. Saya menilai, Dian mendekati saya hanya sebagai pelarian belaka. Tapi semuanya sudah terjadi, jadi saya hanya memerankan peran saya untuk saat ini saja. Selebihnya akan terjawab oleh waktu dan ini seperti sebuah awal kebimbangan bagi saya.


Dengan menunjukkan arah ke kiri atau kanan disetiap pertigaan atau perempatan yang saya temui, akhirnya kami berdua sampai juga di sebuah Gereja yang lumayan besar. Gereja itu bernama Gereja Katholik Atmodirono.


"Sudah sampai." kata Dian."Kamu mau ikut masuk tidak, Ndre."


"Hmmm... Baiknya gimana Yan."


"Ikut masuk aja yu." Dian lalu menggandeng tangan saya dan menuntun saya menuju kedalam.


Para jemaat saya lihat mulai nampak memadati kursi kursi yang telah sengaja dipersiapkan. Dian mengajak saya memilih sebuah kursi dan kita dibuat duduk bersebelahan.


"Dian." sapa saya.


"Hmmm..." katanya.


"Saya duduk dibelakang aja, jangan disini." jelas saya. "Atau saya tunggu di parkiran saja deh."


"Hahahaha, wajah kamu panik gitu." tawa Dian. "Ya sudah, kalau kamu mau jalan jalan dulu disekitaran gereja ini silahkan tapi kalau mau nunggu dan engga mau kemana mana. Kamu disini saja, Temeni aku." jelasnya lagi.


"Janganlah, saya engga enak. Nanti ganggu kamu beribadah." jawab saya. "Saya keliling keliling sekitaran sini aja deh. Kali nemu tempat ngopi enak."


"Ya sudah, kalau rekomendasi saya. Mending kamu ke arah RS dekat rumah aku saja. Di depannya ada penjual bubur kacang ijo yang enak." kata Dian. "Kamu nanti tunggu aja disana, jika aku sudah selesai, aku telfon."


"Yowis, saya pergi dulu ya." pinta saya.


"Tahu jalan keluarnya kan." ejek Dian lagi.


"Tahu lah, sayang." balas saya.


Saya pun akhirnya keluar dari ruang utama gereja itu menuju ke tempat parkiran motor di sisi gereja.


"Ra sido sembahyang, Mase ?" sapa tukang parkir.


"Mboten Pak, ono sing ketinggalan." jawab saya.


Gimana ?


Sudah lumayan kan, bahasa jawa saya.


Setelah berhasil.keluar dari area parkir gereja itu, saya pun meluncur kearah warung burjo yang dimaksud oleh Dian. Ternyata tidak terlalu jauh juga, setelah melewati dua belokkan yakni belok kiri dan belok kanan akhirnya sampai juga saya di lokasi.


Warung bubur kacan ijo itu terlihat nyaman sekali, halamannya cukup luas juga. Kelebihan sisi sisi warung itu betul betul disiapkan untuk pelanggan. Puluhan kursi dan meja tertata rapih, ada bangku dan meja panjang juga, serta bisa juga kalau ingin lesehan.


Katanya warung burjo ini cukup terkenal, suasana disana katanya akan ramai ketika malam atau lebih ramai lagi, ketika malam minggu tiba.


Saya pun bergegas memarkirkan motor saya ditempat yang telah disediakan. Kemudian saya pesan menu spesial disana dan langsung membayarnya. Setelah itu, saya tinggal menunggu pesanan saya datang.


Saya lalu memilih meja dengan kursi kecil di sisi sebelah utara warung itu, lalu saya membuka bungkus rokok yang sudah lama saya simpan di saku celana saya. Sambil menunggu Dian, akhirnya saya nikmati hidangan itu dengan ditambah menghisap batang demi batang rokok.


Satu jam berlalu, ponsel saya belum juga berbunyi. Rasanya ingin pindah dari tempat itu, tapi saya bingung mau ke arah mana lagi. Akhirnya saya paksakan saja tetap duduk dikursi ini sambil melihat lihat pengunjung yang datang di warung ini.


Saya perhatikan, pengunjung di warung ini rata rata remaja. Mungkin masih duduk dibangku sekolah menengah bahkan mahasiswa. Style mereka seperti anak anak RnB semua rata rata, memang sekarang lagi jaya jayanya passion seperti ini.


Kalau saya mah, hanya kaos oblong dengan celana sobek di dengkul. Style anak mapala abis pokoknya.


Satu jam setengah berlalu, ponsel pun belum berbunyi. Ada rasanya saya ingin mengirimi sms ke Dian, tapi saya takut menggangu ibadahnya. Jadi saya urungkan saja niat saya itu.


Sembari menunggu Dian, saya teringat kembali kejadian semalam. Malam yang jahanam, yang pertama kali saya lakukan bagi saya. Masih terbayang wajah Dian ketika menjalani detik demi detik bahkan jam kutukan itu. Semuanya masih terbayang jelas.

__ADS_1


"Argghhhh... Anjing !" keluh saya dalam hati.


"Bangsatttt !!" saya marah lagi, hati saya rasanya begitu penuh emosi. Tapi sulit saya ungkapkan.


Saya berjanji, tidak akan lagi lagi seperti itu. Saya pun pastinya akan berusaha mengontrol emosi saya. Karena tekad saya disini untuk sukses. Saya tidak mau jadi pecundang, ya... Saya tidak mau jadi pecundang di kota orang.


"Kring.. Kring.." tiba tiba ponsel saya berbunyi dan ternyata dari Dian.


"Hallo," sapa saya.


"Jemput saya, Ndre." pintanya. "Tadi saya ketemu mamah, kita diundang makan dulu di warung bebek dekat gereja ya."


"Oh, gitu." saya agak heran."Tante bilang apa? Semalam kan kamu engga pulang kerumah."


tanya saya lagi, tujuannya agar saya tidak kelabakan kalau ada setting Dian nantinya.


"Ya udah kamu cepet kesini aja ya. Masalah semalam saya bilangnya tidur di kostnya Suci temen saya. Aman kok Ndre." jelasnya.


"Oh, aman deh kalau gitu." ungkap saya.


"Kenapa, kamu panik ya ?" tanyanya lagi.


"Engga, saya agak.canggung nanti Yan. Penampilan saya sedang tidak rapih. Nanti tante engga suka lagi lihat saya." jelas saya.


"Jangan panggil tante, panggil saja mamah Ndre. Udah kamu cepetan kesini. Ceriwis banget kamu. Hahaha." keluh Dian.


"Yowiss, saya on the way Yan."


Saya pun bergegas mengambil motor saya diparkiran warung burjo itu dan segera bergegas kesana.


Sesampainya didepan gereja, saya lihat Dian sudah menunggu saya didepan gerbang. Dia melambaikan tangannya serasa ingin memastikan saya melihatnya. Saya pun lalu menghampirinya dan menyerahkan helm cadangan serta mempersilahkan dia duduk di jok belakang.


"Ngapain pakai motor sih. Dekat ini." kata Dian.


"Oh, memangnya di sebelah mana ?" tanya saya.


"Itu.. diseberang gereja kok." Dian pun menunjukkan lokasi dan benar lokasinya persis didepan tempat ini.


"Ok, saya parkirin motor di dalam dulu ya." saya pun pamit dengan Dian, untuk memasukkan motor saya di lahan parkir milik gereja itu.


"Lah, Mase kok balik meneh. Sembahyange wis rampung kok Mas." sapa tukang parkir gereja. Sepertinya dia sudah cukup mengenal saya, padahal saya baru sekali ke tempat ini.


Saya pun tersenyum, lalu mengeluarkan bungkusan rokok dan saya keluarkan dua batang rokok yang saya maksudkan untuk salam perkenalan kepada mereka.


"Hahaha... Rokok Om." saya menawarkan rokok pada tukang parkir itu.


"Oh, enggih Mas. Aku ambil ya." jawab tukang parkir itu. "Sampeyan telat kok, wis pada bubar." jelasnya lagi.


"Saya cuma nganter jemput dia doang Om." jawab saya lagi sambil menujukkan jari saya ke arah Dian.


"Wealahhh, sampeyan dikira jemaat nang kene." jelas tukang parkir lagi.


"Hahaha.. Bukan Om." ungkap saya. "Yowiss Om, nanti saya sambung lagi gih. Saya nitip motor disini dulu ya."


"Siap Mase. Tenang.. Aman pokoke." jawab tukang parkir itu yang nampaknya sudah semakin akrab dengan saya.


"Sip.. Pareung." pamit saya.


"Nggih.. Monggo mas."


Lalu saya menghampiri Dian dan kami berdua lalu beranjak menujun warung makan bebek yang ditunjuk oleh Dian.


#################################


Didalam warung bebek itu ternyata Ibu Dian tidak cuma sendiri. Di meja yang beliau pilih nampak duduk seorang laki laki tengah baya yang saya rasa mungkin Ayahnya Dian dan satu lagi seorang laki laki yang usianya tidak terlalu tua dari saya.


"Lah, papah karo Mase kesini juga toh." sapa Dian sembari menghampiri keduanya untuk mencium tangan.


Saya pun mengikuti Dian, menghampiri Ibu, Bapak dan Kakaknya Dian untuk mencium tangan mereka.


"Engko sik, koe sopo ?" tanya Kakaknya Dian kepada saya.


"Saya temennya Dian Ka." jawab saya.

__ADS_1


"Welehhh, kesukaanmu mas. Ngintrogasi wae." bela Dian.


Tatapan Ayah Dian begitu sejuk. Tanpa basa basi beliau mempersilahkan saya duduk. Saya menghadap beliau, Dian menghadap Ibunya dan Kakaknya Dian duduk disisi lainnya.


"Pah, kenalin ini Andre. Temen kuliah Dian. Kebetulan lagi ada perlu disekitaran sini makanya saya ajak sekalian." Ungkap Dian.


"Gayamu Nduk, ngomong wae pacarmu." celetuk kakaknya Dian.


Ayah dan Ibunya Dian langsung menatap saya. Saya pun sebenarnya ingin langsung merespon ungkapannya Dian. Namun...


"Gubrakkk" sesuatu yang gaduh terjadi di bawah meja. Ternyata Dian sedang menendang kaki kakaknya. Sontak semua yang ada di meja itu menjadi terkejut dan kami pun saling tertawa.


"Ayoo, udah nanti lagi ngobrolnya. Kita makan dulu." Kata Ayah Dian.


Saya lihat mereka semua sibuk menyiapkan nasi dan lauk dipiring mereka masing masing. Lalu ternyata sebelum makan mereka semua melakukan doa bersama.sesuai keyakinan mereka.


Saya tidak cukup canggung saat menyiapkan makanan saya, karena Dian sudah lebih dulu mengambilnya dan mempersiapkannya untuk saya. Saya pun tidak lupa mengucapkan terimakasih padanya.


Saat makan pun, mereka sama sekali tidak banyak bicara. Kita sama sama menikmati hidangan yang ada. Sesekali kakaknya Dian menawarkan untuk menambah nasi atau lauknya kepada saya.


Karena saya rasa cukup, saya menolak tawarannya.


Setelah semuanya selesai, Kakaknya Dian memperkenalkan dirinya.


"Aku Chris De. Kakane Dian." sapanya sambil menjulurkan tangannya.


"Saya Andre, Mas." saya pun menjawab, sambil membalas jabatan tangannya.


Tiba tiba, Ayahnya Dian menjulurkan tangannya juga ke arah saya.


"Saya Papahnya Dian."


Sontak semua tertawa terutama Dian. Mukanya langsung nampak memerah.


"Saya Andre, Pah." saya menjabat tangan Papahnya Dian.


"Nak Andre, asli mana ?" Tanya Papahnya Dian.


"Bandung Pah." jawab saya.


"Ealahhh, jauh juga ya." sahutnya. "Berarti Chris, nanti kalau ada resepsi dengan adat sunda, Papah dapat belajar bikin sambutan dari Mas Andre." ungkap Papahnya Dian sambil melempar pandangannya ke arah Chris.


Kak Chris malah mulai bercanda dengan berbicara bahasa sunda.


"Enya, Naon teh kitu." celoteh Kak Chris.


"Tak sambit gelas loh sampeyan Mas." Dian lalu membelas saya.


"Hahaha, udah biasa kok." jawab saya.


Akhirnya kami pun semakin akrab. Setelah dirasa cukup, kami beranjak dari warung bebek itu. Ibu dan Papahnya Dian berpamitan pulang duluan ke rumah. Kak Chris berpamitan ingin ke sanggar seni di kampusnya dan Dian malah justru pamitan ke Papah dan Ibunya untuk mengajak saya ke sanggar rias milik keluarganya. Saya mengira kita sama sama melanjutkan obrolan tadi di rumah Dian.


Karena saya hanyalah tamu Dian, maka saya mengikuti saja keinginan Dian. Papah dan Ibu Dian pun mempersilahkan saya untuk mampir ke sanggarnya.


Lalu kami pun pergi masing masing meninggalkan warung bebek itu.


"Kamu engga pulang dulu kerumah ?" tanya saya .


"Hari Minggu ini, jadwal saya merapihkan sanggar." jawab Dian.


"Oh Ok lah." saya pun mengiyakan saja. Lalu saya dan Dian bersama sama memasuki lahan parkir gereja itu untuk mengambil motor dan berangkat ke arah sanggar.


"Ciee, cuiittt.. Cuittt..." goda tukang parkir.


"Hahaha... Aman Om. Terimakasih ya." sapa saya sambil ngacir keluar dari gerbang gereja itu.


"Kamu kenal mereka ?" tanya Dian.


"Engga, kenalannya baru tadi pagi." jelas saya.


"Aneh. Kayak udah lama kenal." judes Dian.


"Memang kamu engga pernah lihat mereka sebelumnya." tanya saya lagi.

__ADS_1


"Sekilas aja sih." jawab Dian sambil mulai memeluk saya erat.


(bersambung...)


__ADS_2