
Beberapa hari terlewati dan hari itu pun akhirnya tiba. Saya berencana bersama Dian, berkunjung ke kota Bandung dengan menggunakan jalur kereta api.
Stasiun Poncol saat ini sejuk sekali dan masih sepi dari lalu lalang penumpang kereta api.
Tepat pukul tujuh pagi, Kereta Ciremai Ekspress yang akan mengantarkan kami ke Bandung pun telah tiba. Kami lalu mengikuti arahan yang ada di tiket ini untuk mencari tempat duduk kami.
Setelah mendapati gerbong dan tempat duduk yang kami cari akhirnya perjalanan pun dimulai.
Saya melihat Dian agak sedikit tegang.
"Hei, kamu kok diem aja. Tidak seperti biasanya." tanya saya ke Dian.
"Ndre, tangan kamu mana ?" pinta Dian.
"Aku tuh tegang banget tahu, rasakan aja dinginnya tangan saya."
Saya akui, Dian nampak gugup dan agak sedikit gelisah. Lalu saya arahkan saja dia, untuk mensandarkan kepalanya ke bahu saya. Saya pun tidak henti hentinya menenangkan perasaannya.
"Yang kamu khawatirkan apa sih ?" tanya saya lagi.
"Saya khawatir, orang tuamu tidak bisa menerima perbedaan kita Ndre." jawabnya lagi.
"Kok kamu bahas ini lagi. Sudah.. kamu tidak perlu khawatir." saya mencoba terus menenangkannya.
Memang sih, saya juga khawatir dengan respon kedua orang tua saya nantinya kepada Dian. Karena kita ketahui bahwa Dian ini berbeda.
Namun dengan tekad dan rasa cinta kami yang semakin besar dan mendalam. Saya tetap nekad dan berusaha memperkenalkan Dian dalam lingkungan keluarga saya.
Sepanjang perjalanan yang telah memakan waktu empat jam itu, Dian sama.sekali tidak berbicara satu patah kata pun kepada saya.
Dia hanya menikmati perjalanan ini dengan tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu saya.
Ketika sudah sampai di Stasiun Cirebon, baru lah Dian berbicara sama saya. Itupun dia hanya bertanya kalau keretanya sudah sampai mana.
Setelah mendapat jawaban dari saya, dia pun tertidur lagi.
Setelah kurang lebih enam jam perjalanan, kami sampai juga di Stasiun Cimahi Bandung.
"Yan, bangun.. Sudah sampai." Sapa saya menbangunkan Dian.
"Sudah sampai Bandung." katanya.
"Iya, ayo kita lanjut lagi perjalanan ke rumah saya." lanjut saya.
"Engga mau, kita nginap di hotel aja ya." rengek Dian manja.
"Lah, gimana ceritanya. Udah sampai sini kok minta tidurnya di hotel." protes saya.
"Tunggu sampai aku siap dong, Ndre." mood Dian mulai berubah.
"Oh, iya deh. Ayo kita lanjut jalan lagi." jelas saya.
"Beneran.. Jangan kerumah dulu ya." pintanya lagi.
"Iya bawell." saya pun membalasnya.
Akhirnya dengan terpaksa saya memutar arah tujuan setelah sampai di kota Bandung. Harusnya saya mengambil jalur kanan menuju kerumah saya di belakang RS Dustira Cimahi namun karena permintaan Dian lah, saya akhirnya mengarahkan taxi saya menuju salah satu hotel di daerah Braga.
Dian yang baru pertama kali ke Bandung begitu antusias menikmati suasana di kota itu. Sama seperti saya, ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Semarang.
Dian selalu aktif menanyakan setiap bahasan bahasan saya menggunakan aksen bahasa sunda kepada supir taksi ketika kami sedang berkomunikasi.
Katanya bahasa sunda itu lucu dan aksen akhirnya selalu bercengkok. Saya dan Dian pun akhirnya selalu meledek aksen daerah masing masing. Supir taxi yang taxinya saya naiki kadang kadang melirik ke kami melalui sepion tengah mobil. Saya pun hanya tersenyum, ketika mendapati matanya melirik ke arah kami.
__ADS_1
Sesekali supir taxi itu pun ikut menimbrung bahasan kami dan itu membuat suasana menjadi semakin ramai dan menarik.
Di salah satu hotel di sekitaran Braga, setelah mendapat kamar dan menaruh semua barang bawaan kami. Kami berkeliling menikmati kota itu.
Kami habiskan waktu bersama, karena dua minggu lagi Dian akan meninggalkan saya sendirian di Semarang.
Surat izin untuk KKN nya telah di setujui dan saya harus menunggu enam bulan untuk bertemu dia kembali.
Kita lalu mengendarai motor sewaan, berkeliling kota Bandung seharian. Dari Braga itu sendiri, ke Dago bahkan sampai ke kebun binatang di Taman Sari. Disana dari lihat Monyet sampai ke Trenggiling kita tidak capek capeknya berkeliling.
Hingga hari itu kita tutup dengan melihat live musik dengan menikmati serabi di daerah Setiabudi.
"Buat akang akang dan teteh teteh yang mau menyumbang suaranya malam ini, silahkan naik saja ke atas panggung." tawar seorang penyanyi di acara itu, yang bertujuan untuk mencairkan suasana dan menambah malam ini lebih semarak.
Dian tiba tiba mengacungkan tangannya. Semua pengunjung disini bertepuk tangan, namun saya merasa aneh.
Sejak kapan Dian bisa bernyanyi, lah wong bersama saya saja dia sama sekali tidak pernah menunjukkan bakatnya. Bahkan disaat saya bermain gitar pun dia tidak pernah ikut bernyanyi malah sabar mendengarkan suara fals saya.
Tapi malam ini Dian dengan percaya diri sekali menaiki panggung mereka. Dia berbisik kepada para musisi di malam itu, mungkin dia akan merequest sebuah lagu. Benar saja, tidak lama sebuah lagu "Arti Hadirmu" milik Audy Item habis dia makan dengan lembut dan terasa enak sekali untuk di dengar. Semua pengunjung pun mengapresiasi suara Dian.
Enak sekali, renyah suaranya dan membuat pengunjung semua berteriak minta Dian bernyanyi lagi. Saya merasa kagum dengan rasa percaya dirinya. Di lagu kedua, Dian meminta saya untuk ikut naik ke atas panggung bersamanya.
Alamak, bisa dibayangkan. Bagaimana rasanya perasaan saya.
Saya menaiki panggung dengan dada berdebar debar serta kaki yang gemetar.
"Dia ini pacar saya. Calon ayah bagi anak anak saya. Suaranya... Ya tidak jelek jelek amat lah." terang Dian kepada semua pengunjung yang ada disana.
Ungkapan Dian semakin membuat semarak di cafe itu, banyak yang memberi tepuk tangan dan ada juga yang menyuruh saya turun.
Selenting terdengar ada yang teriak,
"Wah, tetehnya kayaknya musibah nih dapetin Dia."
Saya langsung merespon sumber suara itu dan saya balas dengan tertawa saja.
"Kangennya Dewa, Ndre." bisik Dian.
"Oh Ok." saya tahu banget lagu ini.
Pastinya saya tidak akan mengecewakan lah.
Kami pun bernyanyi bersama sama.dengan seirama, bahkan kami akhiri lagu ini dengan saling berpelukkan.
Semua pengunjung berteriak.. Lagi... Lagi...
Saya dan Dian pun hanya tersenyum. Karena saya rasa sudah cukup, saya dan Dian menyerahkan mix kami kepada vocalis band itu kembali.
"Terimakasih akang dan teteh, saha tadi teh. Enya, Akang Andre dan Teteh Dian. Beuhh suarana Ajibbb euy. Ayo semua berikan mereka tepuk tangan yang meriah." pinta vocalis band itu yang posisinya sebentar kami gantikan.
Saya dan Dian merasa mendapat penghargaan berada disini, tepuk tangan mereka kami terima dengan senyuman dan terimakasih.
Kemudian live musik berjalan kembali. Kami pun balik ke tempat duduk kami dan menikmati hidangan malam itu lagi.
Kami menikmati live musik itu hingga selesai. Ditengah tengah alunan musik, banyak kami dapatkan teman teman baru. Pengunjung pengunjung yang datang yang sempat mendengar suara kami menghampiri meja kami dan mengirimi kami beberapa gelas minuman selamat datang katanya.
Kami pun berterimakasih dan menerima sambutan mereka. Saya dan Dian akhirnya menyempatkan untuk maju lagi kepanggung menyanyikan masing masing satu lagu lagi. Dian menyanyikan lagu miliknya Rossa yang berjudul Pudar sesuai request para pengunjung dan saya membawakan lagunya Kerispatih dengan Kesalahan Yang Sama.
Tak terasa malam.semakin larut. Jam di tangan saya menunjukkan pukul jam 1 pagi. Sudah hampir lebih dari 3 jam kami berada disana.
Akhirnya karena malam sudah larut, kami memutuskan untuk kembali ke hotel.
Dian nampak bahagia sekali, pelukkannya ketika saya bonceng sangat erat dan begitu cerewet sepanjang jalan.
__ADS_1
Tidak lama kami pun sampai di hotel, dan kami pun tidur dikamar masing masing.
###################################
Pagi harinya,
"Kriing.. Kriing.." Ponsel saya berbunyi.
"Hallo, Kenapa Yan ?" saya pun mengangkat telfonnya.
"Ndre, aku ke kamarmu ya." jawabnya, "Tenang, engga aneh aneh kok."
"Hahaha, aneh aneh juga engga apa apa." canda saya.
"Kamu berani ?" balasnya. "Munafik lu Ndre." lagi lagi dia membalasnya dengan canda.
"Engga Yan. Bercanda." terang saya. "Kan kita sudah komitmen, lupakan yang sudah terjadi. Kita ingin hubungan ini sehat sehat saja kan ?" terang saya lagi.
"Pintu kamar saya sudah saya buka. Kemari saja Yan." jelas saya.
"Ok saya kesana ya." jawab Dian.
Tidak lama, Dian pun memasuki kamar saya. Dia masih mengenakan kemeja tidur warna biru setelan yang pas dengan celananya.
"Hadeuhhh... Menggoda sekali kamu."
Mendengar saya berbicara seperti itu, Dian malah semakin berani menggoda saya. Dia langsung menaiki ranjang saya dan terkesan ingin mencium saya dengan manja.
Saya pun agak menghindar, walau hingga akhirnya berakhir dengan Dian menyandarkan kepalanya dipaha saya.
"Hayuu, kerumahmu sekarang." pinta Dian.
"Tumben. Beneran nih mau ?" balas saya.
"Iya sih, saya pikir pikir. Kayaknya ini kesempatan kita juga, untuk membuka semuanya." saya pun melanjutkannya lagi disaat masih ada keragu raguan dari Dian.
"Kalau orang tuamu menolak saya gimana, Ndre." ungkap Dian.
"Kan belum dicoba. Siapa tahu itu hanya rasa takut berlebihan kita saja." jawab saya.
"Kamu sendiri kalau masuk ke keyakinan saya gimana Ndre." ungkap Dian lagi.
"Saya tidak bisa, Yan." jawab saya lagi.
Kata kata ini, membuat Dian ragu ragu lagi untuk berkunjung ke rumah saya.
Kita ini seperti dua orang remaja yang sedang gamang. Rasa sayang dan cinta kami sudah dibilang kuat. Namun, kami masih terkukung oleh tradisi dan adat yang turun temurun tidak bisa di negosiasi lagi.
Terus terang saya selalu bilang kepada Dian, kalau saya sampai kapanpun tidak akan pernah bisa berubah. Jika mau dibilang olehnya kalau saya egois, ya karena saya nanti yang akan memimpin kapal ini berlayar.
Sedangkan dalam sisi Dian, entahlah. Dia sekilas selalu menanyakan kalau saya bersedia atau tidakkah mengikuti maunya. Egonya juga begitu tinggi, karena Dian tahu kelemahan saya.
Semenjak kejadian itu, saya selalu merasa bersalah. Saya selalu mengikuti apa yang Dian mau. Karena Dian tahu, saya melakukan hal ini sebagai rasa tanggung jawab saya yang pernah melakukan hal yang tidak biasa kepada Dian.
Tapi Dian juga tahu batasan batasannya. Dia selalu mempertimbangkan apa yang dia mau dan berusaha tidak terlalu juga memanfaatkan saya.
Dian tahu, kejadian saat itu membuat saya begitu menyesal. Saya berusaha membuat Dian tidak lagi mengungkit ungkit masa lalu yang pernah kelam bersama saya.
Saya tidak mau ada airmatanya lagi yang keluar.
Karena saya tahu juga, kalau Dian itu perempuan yang berasal dari keluarga baik baik.
Ditengah ketidak jelasan kita di hari itu, akhirnya saya dan Dian memutuskan untuk membatalkan terlebih dahulu bertamu kerumah saya.
__ADS_1
Kami memutuskan untuk kembali ke Semarang, keesokan harinya. Karena feeling kami sama sama menyatakan kalau saat ini belum waktunya kita tahu sebuah jawaban dari waktu.
(bersambung..)