Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
CEMBURU BUTA


__ADS_3

Dua hari lagi, tepatnya tanggal dua belas Juli adalah hari ulang tahun Dian. Saya berencana memberikan kejutan untuk pertama kalinya buat dia.


Saya sudah mengontak Nevi, untuk bersedia menemani saya ke Jogja. Nevi dengan senang hati menerima ajakan saya. Kebetulan katanya Risa pacar Nevi sudah mulai melakukan KKN juga di luar kota. Sehingga dengan ke Jogja bersama saya, dia bisa sedikit melepas jenuhnya.


Setelah saya persiapkan dengan matang, akhirnya saya dan Nevi beranjak ke salah satu RS Pemerintah di daerah Bantul Jogja untuk memberikan kejutan buat Dian.


Dengan dua motor kami berjalan beriringan, menelusuri jalanan selatan kota Semarang.


Jalur ini terkenal sebagai jalur yang selalu macet dan sering terjadi kecelakaan juga. Sehingga membuat kami selalu berhati hati di dalam berkendara.


Truk truk besar, mobil mobil kontainer serta bus bus antar provinsi mendominasi kemacetan kali ini. Belum lagi cuaca kota Semarang yang panasnya selalu menyengat kulit.


Perlahan namun pasti, saya dan Nevi terus melajukan motornya menuju kota itu.


Tiga jam berlalu, setelah melewati Ungaran, Bawen, Ambarawa, Secang, Magelang dan Muntilan, akhirnya saya sampai juga di icon kota itu.


Di Tugu Jogja tepatnya, saya dan Nevi beristirahat sebentar sembari mencari sego kucingan, nasi bungkus yang tenar di kota itu untuk melepas rasa lapar kami.


Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke kota Bantul. Sepanjang perjalanan menuju Bantul, nampak rumah rumah pasca gempa sedang banyak yang sedang di renovasi namun ada juga yang masih dibiarkan menyatu dengan tanah.


Memang efek gempa masih begitu terasa di wilayah itu, apalagi telah memakan banyak korban jiwa.


Dengan waktu tempuh kurang lebih dua puluh lima menit akhirnya saya dan Nevi sampai juga ke lokasi yang kami tuju.


Saya memang tidak memberikan kabar terlebih dahulu kepada Dian untuk datang ke tempat KKN nya itu. Saya hanya mendapatkan informasi dari Adi dan Meta teman Dian, terkait dimana lokasi agar saya bisa bertemu dengan Dian.


Hari ini tepat jam dua siang, setelah menunggu lama bersama Nevi sembari ngopi ngopi di salah satu warung pas menghadap gerbang rumah sakit itu.


Akhirnya kami pun melihat Dian keluar dari dalam rumah sakit umum itu. Namun posisinya sedang di bonceng oleh seorang pria. Awalnya saya kira biasa, mungkin Dian di bonceng oleh tukang ojek atau temannya. Namun saya lihat, Dian memeluk erat pria itu dari belakang.


"Ndre, kae Dian. Tapi karo sopo yo ?" Celetuk Nevi.


"Waduh, kurang tahu saya Nev. saya ya engga kenal juga." jawab saya.


"Labrak ae wiss." perintah Nevi.


"Santai Nev, nanti lama lama juga tahu Dian bersama siapa." jawab saya lagi.


Nevi sebagai sahabat saya pun, merasa sesuatu yang kami lihat itu begitu menyakitkan perasaan.


Nevi membayangkan kalau itu adalah Risa, yang ada di posisi Dian. Nevi bilang kalau itu Risa, saya sudah labrak dan pasti langsung diminta kejelasan terkait hal ini. Hanya saya berbeda dengan Nevi, saya memang cemburu melihat kejadian tadi namun saya masih bisa berfikir jernih sebelum melakukan hal yang mungkin akan memalukan buat saya nantinya.


"Nev, ayo kita ikutin !" saya dan Nevi bergegas mengendarai motor kami masing masing untuk mengikuti kemana Dian dan pria itu pergi.


Diluar dugaan, mereka ternyata menuju sebuah rumah yang menyerupai asrama di pinggir jalan raya tidak jauh dari rumah sakit tempat Dian melakukan kegiatan KKN. Setelah pria itu memarkirkan motornya, Dian dan pria itu pun beranjak menuju anak tangga dan menuju kelantai atas asrama itu. Disini saya dan Nevi hanya memperhatikan mereka dari jauh, melihat mereka ditelan anak tangga rumah itu.


"Kejar, Ndre !" Cetus Nevi.


"Nanti Nev, itu tempat apa juga kita engga tahu." balas saya. "Mending saya telfon ponsel dia saja dulu. Memastikan Dian sedang apa." balas saya lagi.


Kali ini kejutan yang saya rancang agak sedikit berantakan, malah saya sendiri yang mendapatkan sebuah kejutan dari Dian.


Saya ambil ponsel saya untuk mencoba menelfon Dian dan saat itu tiga kali panggilan saya tidak dia angkat.


Lalu akhirnya saya sms Dia.

__ADS_1


"Hi, sedang apa ?" isi sms saya untuk Dian.


Saya dan Nevi terus mengawasi asrama itu, satu jam berlalu ponsel saya tidak menginformasikan kegiatan Dian.


Dua jam berlalu lagi lagi tidak nampak Dian keluar dari asrama itu. Hingga menjelang maghrib tiba, Dian keluar asrama itu masih dengan pria yang mengajaknya. Dian nampak berbeda, rupanya dia sempat mangganti pakaiannya. Hal ini juga yang membuat saya semakin merasa cemburu dan curiga.


Tanpa basa basi lagi, saya dan Nevi kemudian menyusulnya dari belakang, mengikuti kemana Dian pergi selanjutnya.


Ternyata Dian dan pria itu melanjutkan perjalanan mereka kearah Malioboro. Sesampainya disana Dian dan pria itu memasuki sebuah resto gudeg yang cukup terkenal di daerah disana.


Ponsel saya masih belum menerima informasi apapun tentang Dian.


"Piye, Ndre ? samperin aja wis." pinta Nevi yang nampaknya ikut gemas saat ini dengan Dian.


"Jangan dulu Nev, ini tempat umum." jawab saya.


Nampak dari kejauhan, saya melihat Dian dan pria itu duduk bersebelahan. Mereka mesra sekali, nampak tangan Dian selalu dalam genggaman pria itu.


"Anjing, Ndre. Mesra sekali mereka, kamu disini aja ya." Nevi pun tiba tiba berinisiatif masuk ke resto itu.


"Mau ngapain lu !" saya bergegas merangkul Nevi, agar jangan gegabah dan terlalu masuk ke ranah pribadi saya.


"Kalem, Ndre. Saya cuma mau masuk, beli minuman disana, sambil iseng iseng nanya nanya ke dia untuk memastikan dia satu kampus sama saya. Setidaknya kalau kita sekampus, dia masih memikirkan kamu Ndre." jelas Nevi.


"Oh, Ok. Saya awasi dari sini ya." jelas saya.


Akhirnya Nevi memasuki resto itu, dia mulai berbincang bincang dengan pelayan disana. Nampaknya dia sedang bernegosiasi tentang menu yang akan dia pesan. Setelah pelayan itu menyiapkan pesanan Nevi, Nevi sepertinya menyapa dan menjabat tangan Dian dan pria itu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Dari sudut ini yang cukup dibatasi oleh sisi jalan Malioboro, pria itu nampak merangkul Dian sembari berbincang bincang dengan Nevi dan komunikasi mereka akhirnya terputus ketika seorang pelayan menghampiri Nevi sambil membawa sebuah bungkusan.


Setelah menerima bungkusan itu, Nevi segera keluar dari resto itu dan menghampiri saya. Saya juga melihat Dian dan pria itu akan memulai menyantap beberapa menu makanan di meja mereka.


"Siap, Broo." sahut saya. "Sekarang, kamu mau cerita apa ?"


"Ndre, yang sama Dian itu. Seorang Dokter Koas, tapi jangan marah ya." jelas Nevi lagi.


"Engga usah di jelasin lah, pasti Dia pacarnya toh ?" tanya saya.


"Calon suaminya malah. Kata Dian sendiri yang bilang begitu. Terus ketika saya tanyakan kabar kamu ke Dian, Dian seakan akan amnesia Ndre." Jawab Nevi.


"Serius Nev." tanya saya.


"Serius Bro, kapan saya bohongin kamu Nyet." jawab Nevi serius.


Mendengar jawaban itu, saya langsung berdiri dari motor yang saya duduki.


"Pulang ke Semarang Nev !" saya langsung menyalakan motor saya.


"Sik toh, sik... Kalem sik Broo." Nevi langsung menghadang motor saya sambil mencabut kuncinya.


"Mau apa lagi ?" tanya saya lagi.


"Engga kamu labrak dulu mereka atau mencari tahu apa yang akan mereka kerjakan lagi selanjutnya." jelas Nevi.


"Ini malah bikin saya emosi engga sih Nev, nantinya." sahut saya. "Sudah jelas, mereka serius dan sudah lama bersama di asrama terus posisi saya yang letih begini itu harus sabar seperti bagaimana lagi ?"

__ADS_1


'Oh yowiss terserah." jawab Nevi. "Sik Ndre, saran saya sih sabar dulu aja. Ngerokok sik lah !" saran Nevi sambil memberikan sebungkus rokok untuk saya ambil sebatang isinya.


Saya pun mengikuti keinginan Nevi. Lalu saya menikmati rokok itu sembari menghabisi waktu untuk mengawasi mereka yang sedang asik bergenggaman tangan sembari menikmati menu hidangan.


"Dian.. Dian.. Saya fikir, kamu wanita yang kuat dan tangguh. Ternyata kamu seorang player." keluh saya dalam hati.


Iseng iseng lagi, saya tekan nomer telfon dia dari ponsel saya. Namun kali ini nomernya tidak aktif.


"Ayolah Dian, jujur saja sama saya." isi pikiran saya menjadi tidak karuan.


Sebatang, dua batang rokok sudah habis saya dan Nevi hisap bersama sama. Saya dari kejauhan melihat Dian begitu dekat dengan pria itu.


Saya dan Nevi pun bisa menyimpulkan Dian telah mendaratkan perasaannya kepada pria itu. Dian selama hampir enam bulan di Jogja pun ternyata sudah mengkhianati kepercayaan saya.


Perasaan saya mulai terisi rasa cemburu yang telah memuncak. Namun saya masih tenang, karena saya tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan penggerebekan.


Saya sendiri sebenarnya tidak betul betul juga sayang dengan Dian dari awal. Karena memang saya sadar ada dinding tinggi yang memisahkan kami berdua.


Bila dipaksakan, kami berdua harus mengorbankan seseorang meninggalkan Tuhannya untuk cinta.


Rasa cemburu itu wajar saya rasakan, karena saya sudah mengenal Dian dan bersama sama dengan Dian selama hampir satu tahun. Saya dan Dian sudah mulai mengkolaborasikan pemikiran juga terkait rancangan masa depan kami berdua. Bahkan kami selalu terlihat kompak dalam mengembangkan bisnis keluarga Dian.


Entahlah, apa yang ada dipikiran orang tua Dian. Saya merasa mereka begitu menerima kehadiran saya. Ketika setiap ada event keluarga sekalipun, mereka masih mengingat saya dan mengundang saya untuk bisa hadir. Saya pun benar benar merasa nyaman berada dilingkungan mereka.


Hanya saja, saya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bisa memutuskan hubungan ini saja. Memutuskan hubungan yang benar benar akan membuat saya total melupakan dan bahkan tidak mau lagi melihat Dian.


Tidak berapa lama, Dian dan pria itu beranjak dari resto gudeg tempat mereka tadi melepaskan laparnya. Saya dan Nevi masih mengikuti mereka dan nampaknya mereka mengarah ke asrama itu kembali.


Kali ini saya nekat untuk melabrak mereka, saya mengikuti mereka parkir di asrama diikuti oleh Nevi. Dian dan pria itu tidak menyadari kehadiran kami, karena memang kami parkirkan kendaraan kami agak jauh dari parkiran mereka. Jarak kami dengan Dian dan prianya itu sekitar delapan detik saja. Ketika Dian dan pria itu naik ke lantai dua asrama dengan menaiki tangga. Saya dengan cepat mengikuti mereka dan hanya terpisah satu ibu tangga saja.


Setelah saya mencapai beberapa ibu tangga, saya melihat Dian dan pria itu berjalan ke salah satu kamar. Saya masih mengikuti Dian dari belakang, lalu nampak sebuah kamar telah mereka bukakan kuncinya dan mereka masuk ke dalam kamar itu bersama sama. Pria itu sebelum sekilas mencium pipi Dian sebelum masuk kedalam kamar.


Saya lalu menghampiri kamar itu, didepan kamar saya sedikit mendengar suara ******* mereka. Karena memang belum sepenuhnya pintu kamar itu tertutup sempurna. Dan....


###################################


Hari ini saya berada di kost saya yang baru, saya memutuskan untuk pindah dari sana. Saya tidak mau masih ada sisa kenangan yang ada, saya mencoba melupakan apa yang telah terjadi beberapa hari yang lalu juga di Jogja.


Hati saya sepertinya telah dimodifikasi lagi menjadi baru, saya melupakan noda noda kecil di hati saya. Saya habiskan hari hari saya, dengan berbagai macam kesibukan. Dari melahap sisa sisa mata kuliah dan memfokuskan program skripsi saya.


Saya sama sekali tidak lagi berinteraksi sosial, saya memfokuskan menghindar dari keramaian dan bahkan teman teman kuliah saya.


Setiap saya selesai kuliah, saya segerakan saja meninggalkan kampus itu untuk kembali ke kost saya.


Sesekali pernah saya melihat Dian memperhatikan saya berjalan menuju parkiran motor dari koridor lantai dua kampus kami.


Dian rupanya sudah menyelesaikan jadwal KKN nya dan tinggal mengikuti bimbingan skripsi. Tatapan Dian ke arah saya terlihat sangat tajam, dan sama sekali tidak pernah berpaling hingga saya ditelan bangunan parkir.


Kemungkinan jika memungkinkan dan sesuai dengan jadwal, saya dan Dian bisa ujian sidang skripsi dan wisuda di tahun yang sama. Namun saya berharap selama proses ini, saya tidak akan pernah bertemu lagi dengan Dian.


Dian sudah memiliki kehidupannya yang baru bersama pria itu. Dian juga tidak bisa berkutik ketika saya ketuk pintu kamar mereka waktu itu dan seolah olah saya salah mengantarkan paket makanan ke kamar mereka.


Dian melihat jelas wajah saya dalam pelukan pria itu. Dan dia malah memalingkan wajahnya. Sedangkan hanya pria itu saja yang menjawab pertanyaan saya sambil dia menutup kembali pintu kamarnya.


Detik detik saya bertatatapan dengan Dian pun agak lama, Dian pasti sadar kalau kurir dadakan itu adalah saya. Ditambah saya sebelum meninggalkan asrama itu, saya telah sempat mengirimkannya mms berupa foto pintu kamar mereka dan satu kalimat. "Selamat Tinggal !"

__ADS_1


Hingga saat ini, ponsel saya tidak ada lagi telfon klarifikasi atau pesan balasan apapun dari Dian. Disinilah saya menganggap, saya sudah mulai bisa dilupakan olehnya dan saya akan belajar juga untuk tidak akan pernah menampakkan kehadiran saya didepan Dian. Saya pun, selalu mencoba mengganggap dia tidak pernah ada di kampus ini.


(bersambung..)


__ADS_2