
Kurikulum ajaran baru sudah di mulai. Mahasiswa baru saat ini sedang galak galaknya mengikuti program pengenalan kampus. Beruntunglah saya, karena saya mengambilnya program transfer jurusan maka saya diperbolehkan tidak mengikuti program tersebut.
Program itu mungkin seru bagi mahasiswa baru. Namun bagi saya, program itu sangatlah merepotkan.
Saya dan Nevi seperti biasa. Setelah menaruh sepeda motor di lahan parkir. Kami masuk kampus ini melalui lobby.
Sebenarnya, lahan parkir yang luas tersebut menyambung dengan kantin serta lapangan utama. Bahkan bisa langsung menyambung juga ke teras kelas kami ataupun teras laboraturium. Karena tidak dibatasi gerbang apapun, apalagi pagar.
Satu satunya gerbang dikampus itu yakni di lahan kampus paling depan dan dilengkapi pos scurity di sampingnya.
Saya tahu kenapa Nevi bela belain dirinya ke kelas dengan mengambil jarak yang lebih jauh dibanding dari lahan parkir. Hanya untuk satu nama, yaitu Risa.
Risa sebenarnya mahasiswi di kampus ini. Namun karena dia aktif di senat dan lumayan cantik juga menurut saya, makanya dia diberi tugas tambahan menjaga meja resepsionis disaat waktu kosongnya jam perkuliahan.
Katanya ada juga rekannya yang lain, yang mendapat tugas yang sama. Namun dia bukan statusnya mahasiswa tetapi staf. Jadi disaat Risa mengikuti jam kuliah, staf tata usaha itulah yang akan menggantikannya.
Risa itu tergolong gadis yang rajin. Jam 7 pagi ini saja, dia sudah datang dan menyambut kami.
Sekilas Risa tidak menyadari kalau disamping Nevi itu adalah saya.
"Hahaha, potong rambut koe Nev ?" tanya Risa sambil cekikikan. "Nah ngono, rapih tenan lah."
"Demi koe Sa, aku rela opo wae wis." godanya.
"Loh, iki sopo Nev ? Andre ngendi ? Rak melu ngampus." tanya Risa berentetan seperti petasan.
Sontak saya tertawa, melihat kelakuan Risa. Risa tidak sadar, kalau yang bersama Nevi selama ini itu saya.
Karena kemarin saya memang sengaja menggundulkan kepala saya, demi perjanjian saya dengan dosen pembimbing itu.
"Wealahhh, Nopo gundul Ka." Rengek Risa. "Rambutmu wingi kuh seksi tenan kok."
"Emang sekarang engga seksi ?" Tanya saya.
"Seksi juga sih, pengen jilat." jawab Risa.
"Enak ae, dijilat." Nevi mulai cemburu rupanya terhadap kedekatan saya dengan Risa. Tapi Nevi tahu, saya orangnya seperti apa. Sehingga kecemburuannya itu tidaklah dianggap serius.
Disaat kami sedang bercengkrama, munculah sosok mahasiswa tegap sepeti seorang tantama. Khasnya dia adalah berambut cepak, berbadan kekar berisi dan tidak lupa atribut logo bordiran mapala selalu melekat di tasnya.
__ADS_1
"Yu..." panggil Nevi.
"Woii, piye Bro." jawab mahasiswa itu, sembari mendekati kami.
Gayanya yang tengil memang adalah ciri khasnya juga dengan style pakian fanelnya.
Menguatkan dia tentang aroma aroma kebebasan.
Wahyu juga bisa dibilang anak saudagar kaya di kota ini. Makanya orang orang berseragam ormas juga mengenalnya. Tapi Wahyu tidak menyobongkan ketenarannya diluar kampus, kalau di dalam kampus dia hanyalah mahasiswa biasa yang sederhana dan ramah.
"Masih kenal ora ?" jawab Nevi sambil mengarahkan telunjuknya kearah saya.
"Sik.. sik... Kayak kenal. Hmmm... Sopo yo ?" Wahyu mulai bingung. "Hahaha... Asuuu, koe Ndre. Hahaha."
"Hahaha.. Iya yu. Kok lali." terang saya membalas tawa dan pelukannya.
"Kagak ngomong ngomong lu kesini. Mau ngapain ?" tanya Wahyu.
"Kuliah lah, Tolol." jawab saya.
"Hahaha... Asuuu.. Asuuu... Temen sekampus dadine." ledek Wahyu.
"Siapp !!" saya dan Nevi pun mengiyakan ajakan Andre.
"Lanjut ya ! Saya mau ketemu dosen pembimbing saya dulu Ndre." jelasnya. "Pamit dulu ya !" jelasnya lagi sembari berpamitan.
Setelah kami menyetujuinya, Wahyu pun langsung segera menghilang dibalik pintu ruangan dosen.
Saya, Nevi dan Risa akhirnya bubar dan mulai mengikuti jadwal kuliah kami masing masing.
Walau satu kampus, saya dan Nevi jarang bisa sekelas. Karena Nevi adalah mahasiswa reguler yang full kuliahnya dari pagi sampai lewat waktu dhuhur. Lalu bisa jadi akan dilanjut praktikum jika memang ada.
Sedangkan saya, hanya mengambil beberapa mata kuliah saja. Melengkapi beban sks dari kurikulum tahunan di kampus ini.
Hari ini saya mengikuti dua mata kuliah di pagi saja. Setelah itu saya berencana mencari kost kostan tiga petak yang sekiranya bisa terasa nyaman dan bersih saja. Jika memang cocok, saya rencananya akan memboyong Nevi satu kost dengan saya.
##################################
Dikantin kampus, sesuai yang telah dijanjikan Wahyu sebelumnya. Saya dan Nevi bersama sama memasuki deretan ruangan di tengah lapangan utama itu yang dibaliknya berisi lahan parkir sepeda motor.
__ADS_1
Pintunya ada dua, pintu di ujung kiri untuk masuk dan pintu di ujung kanan untuk keluar.
Ketika memasuki ruangan itu, di tengah ruangan tersusun rapih meja meja makan panjang beserta bangkunya yang tak kalah panjuang juga. Saya hitung, muat hingga enam meja dan dua belas bangku panjang.
Saya rasa cukup nyaman lah, untuk melepas lapar dan dahaga.
Didepan meja meja itu berjejer lapak lapak jualan, menunya beragam. Ada bubur ayam, mie ayam, gado gado, soto bahkan rujak buah pun ada.
Ketika sedang asik asiknya memperhatikan lapak lapak itu, Wahyu memanggil kami berdua. Dia ternyata duduk di bangku pertama di depan pintu di ujung kanan. Kami pun menghampirinya.
Terlihat Wahyu sedang berbincang bincang dengan ketiga temannya di meja itu.
"Hahaha, kesini kawan." sambut Wahyu. "Kenalin Ndre, ini Sonny anak Jambi, Boim dan Ridwan dari Brebes." Jelasnya sambil mengarahkan saya untuk mengenali wajah wajah mereka.
Saya pun, langsung menjabat tangan tangan mereka bergiliran. Sepertinya mereka adalah rekan seangkatan Wahyu. Ini terlihat dari wajahnya yang sama sama tua
"Hayo, mau minum atau mau makan apa ?" sambung Wahyu lagi, mempersilahkan kami untuk segera memesan makanan. "Tenang, saya yang traktir Ndre." terang Wahyu.
Mendengar hal itu, Nevi segera memesan menu yang iya tuju, yakni Soto Kudus. Sedangkan saya mungkin hanya rujak buah, tujuannya agar bisa dimakan bersama sama di meja itu.
Sambutan Wahyu itu, menurut saya sangat luar biasa. Wahyu juga sebenarnya saya kenal sama dengan Nevi. Disaat berada di jalur pendakian.
Saat itu, kita sama sama mengeksplore Ciremai untuk pertama kali. Disitulah rombongan kami bertemu, rombongan saya digawangi oleh saya dan di rombongan Wahyu pun digawangi oleh Wahyu.
Di Meja itu pula lah, saya dinyatakan menjadi anggota dan pengurus mapala di kampus itu dan harus siap mengikuti program program yang akan segera mereka laksanakan. Begitu pun juga saya, dengan senang hati dan merasa terhormat diterima menjadi anggota.
Setelah keseruan waktu istirahat siang sudah habis. Wahyu dan rekan rekannya berizin kepada kami untuk melanjutkan jam kuliahnya.
Sedangkan saya dan Nevi ada rencana mencari kost kostan kosong untuk nantinya saya tinggali.
Ketika hendak keluar dari kantin itu, saya tidak sengaja bersenggolan dengan seorang mahasiswi.
Karena senggolan itu saya rasa terlalu keras, saya pun membantunya menstabilkan badannya.
"Maaf Ka, tidak sengaja ya." ungkap saya.
"Oh iya Mas, aku engga apa apa." jawab gadis itu.
Saya dan Nevi pun, segera berlalu ke parkiran untuk meninggalkan kampus ini.
__ADS_1
(bersambung..)