Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
HARI SIALAN


__ADS_3

Tiga bulan sudah, saya berstatus berpacaran dengan Dian dan sudah hampir menuju tiga tahun juga saya berkuliah di kampus ini.


Sekarang jadwal kami sedang sibuk sibuknya.


Saat ini saya sedang mengumpulkan kembali sks demi sks yang perlu saya perbaiki dan sudah berencana menyusun berkas skripsi.


Untuk yang kedua sebenarnya saya masih belum fokus, karena saya perlu memperbaiki nilai nilai saya dulu yang masih kurang.


Waktu saya dengan Dian pun akhir akhir ini menjadi semakin sering dilalui bersama sama.


Dian kadang kadang menginap di kostku.


Bentar dulu... Jangan sukrodzon. Kost saya itu campur, ada kost putri dan kost putra.


(kalau Dian pernah typo menulis di smsnya kost putra menjadi kost pria di episode ke sepuluh).


Kalian ingat, di episode kesepuluh juga, di kost saya ada temannya Dian yang ngekost di kost ini.


Temannya itu bernama Meta. Ya, Dian akhir akhir ini sering tidur di kamar ¹Meta. Karena katanya mereka akan mulai sibuk melakukan KKN di semester depan. Mereka juga katanya satu kelompok untuk mata kuliah itu. Makanya Dian akhir akhir ini bertambah akrab juga dengan Meta.


Saya sering di cuekin juga ketika mereka sedang bersama dan saya juga tidak terlalu menanggapinya serius. Saya hanya mengganggap mereka itu adalah calon emak emak yang sedang latihan untuk.masa yang akan datang.


Karena saya sewaktu mengambil.program diploma sudah mengambil mata kuliah KKN. (itu loh, mata kuliah praktek yang terjun langsung kelapangan selama full satu.semester sebelum menjumpai skripsi).


Oleh sebab itulah, saya tidak bisa lagi mengikuti mata kuliah itu. Padahal andai bisa, betapa serunya saya KKN dengan Dian. Rasanya seperti bertamasya, mungkin.


Semester depan tinggal hitungan dua bulan lagi, sebelum berpisah sementara ditinggal oleh Dian yang akan KKN keluar kota. Saya berencana mengajak Dian ke suatu tempat.


Tempat ini saya kenal ketika saya masih aktif mendaki Gunung Ungaran dengan Nevi dan Wahyu. Memang kami semua mengawali pendakian Ungaran biasanya melalui post Bandungan namun saat turun gunung, saya tidak pernah melewatkan untuk mampir ke tempat suci ini.


Lokasinya masih di sekitaran Bandungan Semarang, tempat ini cukup terkenal di kalangan wisatawan lokal. Tapi saya yakin, suatu hari tempat ini akan menjadi destinasi wisata menarik di wilayah Semarang.


Ya, seperti di daerah Magelang yang terkenal dengan Borobudurnya atau di Sleman Yogyakarta yang tersohor dari Prambanannya.


Di Semarang, tepatnya di Bandungan terkenal juga dengan destinasi wisata bernama Gedong Songo.


Namun berbeda dengan Borobudur dan Prambanan, Gedong Songo ini candinya berpencar namun tetap berada di lokasi itu. Katanya gedongnya itu ada sembilan sama seperti namanya.


Pagi pagi tepatnya pukul enam pagi di hari Minggu, saya merayu Dian untuk bisa jalan kesana. Saya sebenarnya tidak memberi tahu ke Dian juga, tujuan sebenarnya itu mau kemana. Saya hanya bilang akan mengajak Dian ke Bandungan Semarang.


Karena banyak yang bilang kalau daerah sana cenderung tempatnya orang orang yang serius berpacaran dan berimage negative. Demi bisa diijinkan oleh orang tuanya Dian. Saya disarankan Dian, izinnya mau ke gereja pagi karena ada persekutuan doa.


Memang jago sekali, anak ini kalau sudah buat surat izin.


Pagi pagi saya dan Meta, Hahaha... Meta itu cantiknya seperti Ghea Indrawari, peserta dan mungkin pemenang di ajang pencarian bakat.


Balik lagi. Pagi Pagi saya dan Dian menelusuri arah selatan kota Semarang, menuju ke arah Bandungan. Tidak pagi, siang, sore bahkan malam. Lalu lintas disana selalu macet. Dengan didominasi kendaraan kendaraan besar, seperti bus bus besar dan mobil mobil kontainer.


Untungnya pagi itu suasananya sangat sejuk, sehingga kami masih sangat bersemangat melewati rintangan jalanan itu.


Setelah sebuah rumah makan ayam bakar terkenal dan terbesar di Semarang terlewati, saya lalu berpisah dari jalanan macet itu untuk mengambil belokkan ke kanan memasuki jalanan kampung yang sering juga dilalui angkutan pedesaan.


Dari situ sebenarnya masih tinggal satu jam lagi ke lokasi.


"Kamu mau nyulik saya kemana sih ?" tanya Dian.


"Memang kamu belum pernah lewat sini, Yan." sahut saya.


"Belum lah, engga boleh sebenernya cewek cewek yang belum nikah diajak kesini." jelasnya.


"Kenapa ?" tanya saya lagi.


"Rata rata cewek yang habis diajak pasangannya kesini jadinya hamil." jelas Dian lagi.


"Sebegitu negatifnya kah tempat ini atau memang tuh cowok bego aja, Yan." canda saya.


"Bego kenapa ?" tanyanya heran.


"Bego aja, kenapa nembaknya didalem lah. Makanya hamil" ceriwis saya.


Obrolan demi obrolan saling dilancarkan dari mulut kami, sehingga perjalanan semakin tidak terasa telah mencapai pasar bunga di Bandungan.


Disini jalanannya sudah cukup menanjak, saya ingat ingat setelah ini ada sebuah tanjakan terakhir yang cukup curam sebelum kelokasi setelah belokan tajam. Tapi saya lupa lokasinya dimana.


Karena lupa itulah, saya agak sedikit kurang waspada. Di sebuah tikungan tajam itu, saya kurang ancang ancang dalam memainkan gas motor saya. Jelas saja motor kami ikut kaget dan tidak kuat untuk menaklukan tanjakan itu.


Motor kami lalu tiba tiba mati dan karena diposisinya ada didalam tanjakan curam. Bisa dibayangkan apa yang terjadi.


Saya dan Dian terpelanting dari motor karena tidak kuat menahan keseimbangan. Kami tergeletak di pinggiran aspal. Kaki Dian nampaknya sempat tertindih badan motor. Sedangkan saya berusaha menjaga agar Dian tidak jauh terpental.


Insiden itu begitu perih dan menyakitkan. Karena jalanan itu sepi, tidak ada yang menolong kami.


Dian saya lihat agak sedikit menangis, karena menahan sakit di mata kakinya yang lecet akibat tergores bagian body motor. Saya juga mengalami lecet di bagian sikut lengan karena sempat terbentur batu dipinggiran aspal.


Melihat kondisi Dian yang kesakitan dibagian kaki, saya meminta Dian untuk meluruskan kakinya. Saya langsung melihat kondisi kaki Dian, untunglah tidak ada yang terkilir. Hanya saja, mata kakinya sedikit sobek. Saya lalu mencoba menghentikan pendarahannya dan untungnya tidak begitu parah.


Disaat saya sedang berfokus dengan Dian. Segerombolan motor yang konvoi menghampiri kami. Mereka satu persatu menghentikan laju motornya dan fokus ingin membantu saya dengan Dian.


Empat orang pengendara motor itu, menanyakan kondisi saya dengan Dian. Setelah saya jawab baik baik saja, mereka semua pun merasa lega.


Dan yang tiga lagi turun kebawah, menuntun naik motor saya ketempat saya dan Dian duduk duduk menerima nasib.


Setelah mengantarkan motor didekat saya, mereka bertiga lalu mengakali motor saya agar dapat menyala kembali.


Akhirnya motor saya dengan cepat bisa menyala kembali seperti sedia kala. Untungnya motor saya juga tidak rusak sedikit pun. Sekilas saya lihat tidak ada satu pun lampu yang pecah.


Setelah menyalakan motor saya, mereka menawarkan kembali diri mereka apakah kami memerlukan bantuan. Karena saya rasa sudah aman dan hanya menghilangkan syok saja, saya mempersilahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan kembali dan tidak lupa saya ucapkan banyak banyak terimakasih.


Rombongan sepeda motor itu lalu bersama sama pergi meninggalkan kami untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.


Sembari menunggu Dian bisa menghilangkan traumanya, saya hisap sebatang rokok yang ada di saku saya. Sesekali saya kembali memijit kaki Dian dan mengecek kondisi kakinya yang luka.


Tiba tiba,


"Plak !!" tamparan keras Dian, bersarang di pipi saya.

__ADS_1


Ternyata emosi Dian memuntah, saya hanya tersenyum saja melihat Dian seperti itu.


"Kita mau kemana sih, Ndre ?" rengek Dian.


"Ini tanjakan terakhir, diujung tanjakan itu ada tempat yang indah. Pasti kamu akan senang deh dan tidak sia sia untuk jauh jauh pergi kesini." jelas saya.


"Ndre, kamu masih belum nyerah ?" sahut Dian.


"Udah, kamu enakin badan aja dulu. Saya, engga buru buru kok. Tenang saja." balas saya.


Saya pun membiarkan Dian untuk kembali relax. Saya juga mencoba menguatkan Dian untuk tetap melanjutkan perjalanan.


"Coba kamu berdiri dulu, Yan !" perintah saya.


"Gendong." pinta Dian manja.


Akhirnya saya sedikit mengangkap tubuh Dian, dan mencoba membuatnya berdiri.


"Ada yang sakit engga di sendi sendi ?" tanya saya lagi.


"Engga ada, Ndre. Cuma kaki saya perih tau." rengeknya.


"Anak mamah makanya harus sering sering keluar rumah, kalau perlu naik gunung. Hahaha" sindir saya.


"Ceriwis lu, Ndre." celetuk Dian. "Hayo, kita jalan lagi." Dian nampak sudah bersemangat kembali.


Kami pun akhirnya beranjak dari tempat itu. Sementara kami menuntun motor kami hingga sampai diujung tanjakan. Saya yang mendorong stang motor, Dian yang mendorong di bagian belakan motor.


Beruntung di ujung tanjakan itu tanahnya datar, sehingga kami bisa istirahat terlebih dulu setelah lumayan jauh juga mendorong motor di tanjakan curam ini.


"Katanya setelah tanjakan ada tempat yang bagus." keluh Dian sambil mencari tempat untuk mendaratkan pantatnya.


"Ini baru tanjakan pertama." jawab saya.


"Ah, males deh. Katanya tanjakan terakhir." sahut Dian, sambil terlihat sedikit ngos ngosan karena capek.


Wajah Dian nampak memerah, pipinya seperti memakai blush on warna merah jambu. Dian terlihat cantik sekali pagi itu.


"Udah ngeluhnya." balas saya. "Gini aja, kalau tempatnya nanti menurut kamu tidak bagus. Saya akan traktir kamu jalan jalan ke Yogyakarta suatu hari nanti." jelas saya lagi.


"Bener ya ?" tanya Dian.


"Beneran." jawab saya.


"Awas loh kalau bohong." Dian pun membalasnya sambil berdiri dari singgasana duduknya menandakan dia sudah siap.lagi melanjutkan perjalanan.


"Engga lah." saya pun membalas sambil menghidupkan kembali motor saya.


Lalu saya mengajak Dian untuk melanjutkan perjalanan ini kembali.


##################################


Setelah menelusuri jalan, perjalanan kami pun akhirnya terhalang oleh sebuah gapura besar yang ditujukan sebagai pintu masuk wisatawan menikmati pemandangan funtastik di Gedong Songo. Puncak Gunung Ungaran juga nampak gagah terlihat dari gapura ini.


Dian nampak begitu takjub dengan tempat ini. Saya rasa, Dian baru pertama kali juga berada disini.


"Ada deh. Ayo masuk Yan !" saya lalu mengajak Dian menuju loket.


Setelah membeli dua tiket masuk, kami pun memasuki gerbang Itu. Sepanjang setapak yang kita lalui, Dian tidak henti hentinya memukul bahuku.


"Indah banget Ndre, saya baru tahu ada tempat seperti ini disini." katanya.


"Jangan bohong Yan, masa kamu baru kesini. Kamu kan asli Semarang." tanya saya heran.


"Serius Ndre, tempat ini sering diceritakan sama papah tapi papah belum pernah mengajak saya kesini saat kecil. Hingga akhirnya saya harus melupakan tempat ini." jelas Dian. "Sungguh sejuk dan indah tempat ini ternyata Ndre. Ndre lihat disana ?" Dian lalu menunjuk tiga buah candi yang berdiri gagah diatas bukit yang terlihat memiliki altar yang sangat luas dibanding candi candi lainnya.


"Iya, kenapa Yan." sahut saya.


"Ayo kita kesana Ndre !" ajak Dian.


"Ok."


Saya senang sekali melihat Dian sangat antusias dengan tempat ini. Letih, capek dan perih di tangan saya serasa terobati. Bahagia sekali rasanya.


"Yan jangan cepat cepat jalannya." sahut saya. "Kaki kamu memang sudah baikan."


"Ah di tempat ini, kaki saya tidak pernah terasa sakit lagi Ndre." jawab Dian.


"Ya.. Ya.. Ya.. Tapi kita belum sarapan loh."


"Dasar laperan lu Ndre, Ayo kita keatas dulu. Kali saja diatas ada warung pecel." Rayunya.


"What ! Kagak mungkin ada lah. Kan posisi kantin di sebelah sana." tunjuk saya.


"Udah, kita nikmati moment sangat langka ini dulu Ndre." jelas Dian. "Kenapa kamu tidak menginfokan sebelumnya sih, saya kan bisa bawa kamera milik papah." sambungnya lagi.


"Kalau saya beri tahu dulu, namanya bukan surprise dong." kata saya.


"Janji loh Ndre, kamu akan ajak saya kesini lagi." balas Dian. "Saya tidak mau melewatkan kesempatan ini, banyak sekali spot spot foto yang bagus disini Ndre."


"Iya, Yan. Tenang aja." jawab.


Disaat menuju ke lokasi tiga candi di altar pusat objek wisata ini, kami melewati lokasi penyewaan kuda.


"Mau naik kuda, Yan." tawaran saya.


"Ah, kudanya besar besar sekali. Serem, Ndre." jawab Dian.


"Ya kalau yang kecil dan tidak menyeramkan, itu cuma ada di komidi putar lah." jelas saya.


"Hahaha... Saya mau naik kuda kamu saja." sindir Dian.


"Loh, saya engga paham ini kalau begini." terang saya.


"Udah lama ya." jelas Dia.

__ADS_1


"Maksudnya ?" kata saya heran.


"Hahaha, ceriwis juga lu Ndre." Dian langsung meninggalkan saya lebih jauh.


Setelah setengah jam menyusuri jalan setapak ini, kami sampai juga di candi yang kita tuju. Ini terlihat dari Dian yang agak cerewet setelah sampai di altar itu.


"Wow, Ndre bagus sekali disini Ndre spotnya." Teriak Dia dengan cerewet. "Ah, sayang banget. Coba kalau saya bawa kamera Ndre."


"Cerewet, hahaha. Foto aja dulu pakai kamera di ponsel kamu Yan." sahut saya.


"Gambarnya kecil banget Ndre, engga jelas juga pemandangannya." keluhnya. "Cepetan kesini Ndre, jalanmu tumben kayak keong."


"Hmmm... Laperrr tau !" jelas saya lagi.


"Ndre itu gunung apa aja ya ?" tanyanya sambil berteriak.


"Gunung Ungaran." jawab saya.


"Bukan, gombloh." ledek Dian. "Udah saya tunggu kamu sampai dulu deh." sambungnya lagi.


Setelah delapan belas langkah, saya pun sampai juga di altar itu.


Benar apa yang diungkapkan Dian, dilangit timur tampak deretan panorama gunung saling bertumpuk. Terlihat jelas puncak puncak mereka, dari yang terpendek hingga yang tertinggi.


Disini betul betul spot yang indah, spot yang di edit oleh alam untuk semua pengunjung disini. Langit pagi yang cerah saat ini juga, benar benar membuat kami menemukan moment moment baru.


"Itu Gunung apa, Ndre. Ada tiga ya." tanya Dian lagi, sambil iya memeluk bagian samping tubuh saya.


"Oh, itu anak gunung, dengan ibu dan bapaknya." jawab saya ngawur.


"Hmmm... Serius." rengek Dian.


"Ini kalau engga salah loh ya, yang kecil itu Puncak Bukit Telomoyo, agak tinggi dari si kecil itu Puncak Gunung Merbabu, Dibalik Gunung Merbabu ada Puncak Merapi dan disamping Merbabu dan Merapi ada Puncak Gunung Lawu." jawab saya sebenarnya ngasal, tapi itu cukup menjawab rasa penasaran Dian.


"Kuliah kamu gimana, Bapak Andrea Gunawan Putra ?" tanya Dian lagi.


Mendengar pertanyaan itu, saya langsung mendorong sedikit pelukan Dian. Agar saya bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Tumben nanyanya begitu sih, Ibu Dian Yani Aprillia ?" keanehan saya, membuat saya balik bertanya.


"Serius, aku nanya." jelasnya lagi.


"Kayaknya saya perlu menambah satu atau dua semester lagi Yan. Kemungkinan kita wisudanya bareng deh." jawab saya.


"Yah, masih lama dong." Dian justru kecewa dengan jawaban saya.


"Masih lama, maksudnya." tanya saya heran.


"Kapan, saya kamu ajak ke Bandung Ndre ?" maksud Dian.


"Oh, bahas ke arah sana toh. Makanya kalau nanya itu to the point aja." jawab saya.


"Liburan semester, sebelum kamu berangkat untuk KKN juga boleh." sambung saya lagi.


"Serius Ndre," Dian merasa kurang yakin.


"Serius lah, demi Puncak Bukit Telomoyo, Puncak Merbabu, Puncak Merapi dan Puncak Lawu itu. Saya berjanji akan mengajak kamu ke Bandung di liburan semester ini." Sumpah saya kepada Dian.


Dian pun tersenyum manis lalu pelukkannya semakin erat disamping saya.


"Tapi kayaknya tadi ada yang kurang ya ?" canda saya.


"Kurang gimana ?" Dian langsung menengadahkan wajahnya mendekati wajah saya.


"Bukan itu," sanggah saya sambil menahan bibir Dian menyentuh bibir saya.


"Petirnya kok engga ada ya, tadi." sambung saya lagi.


"Hahahaha. Saya kira apaan lu Ndre." Dian malah tertawa. "Petirnya akan muncul, kalau janji kamu engga ditepati Ndre." sambung Dian lagi cengengesan.


"Waduhhh, serem dong."


"Iya lah, semesta disini akan mengutuk kamu. Karena telah mengecewakan seorang gadis yang menyayangi kamu." ungkap Dian.


"InsyaAllah, akan saya tepati Yan." sambung saya.


"Ndre, nanya lagi." tanya Dian lirih.


"Keluargamu, kira kira bisa menerima aku engga ya ?" lanjutnya.


"Bisa lah, siapa sih yang engga mau punya mantu dan ipar secantik kamu." jawab saya.


"Bukan itu, Ndre." lanjut Dian lagi. "Ah, kamu engga pernah serius."


"Iya, terus apa ?" kata saya.


"Kalau saya berbeda sama keluargamu, Ndre."


"Udah, engga usah khawatir. Itu kita fikirkan nanti saja.


Kamu tenang saja, Yan. Keluargamu juga menerima saya dengan baik. Kamu pun akan mendapatkan yang terbaik juga, saya janji." jelas saya.


Saya dan Dian lalu duduk bersama di atas rumput altar tiga candi itu sambil menikmati keindahan pucak gunung, hingga mereka semua hilang ditelan awan awan putih yang membuat hari terasa semakin panas.


"Yan, saya laper." keluh saya.


"Oh iya, Hahaha.. Di tas saya ada roti. Makan aja ?" sahut Dian.


"Engga bilang bilang." saya pun bergegas mengambil tas Dian dan membukanya.


"Mana rotinya ?" tanya saya ketika tidak menemukan makanan satu pun di dalam tas Dian.


"Lah itu, yang bungkusnya putih. Yang memiliki sayap juga." canda Dian.


"Hmmmm...." karena kesal saya pun mengitik ngitik tubuh Dian dengan jari saya.

__ADS_1


Kami pun tertawa lepas dengan posisi itu. Tidak terasa semua mata pengunjung di objek wisata itu mengalihkan pandangan mereka ke arah kami. Karena kami rasa sudah terlalu heboh, akhirnya Dian dan saya segera hentikan candaan itu.


(bersambung..)


__ADS_2