
"Semoga KKN mu lancar ya. Cepet pulang ya nanti dari Jogja, saya kangen !" pinta saya.
"Iya Andre, kamu baik baik disana ya." jawab Dian.
"Love you" sahut saya.
"Love you too." Dian pun menjawabnya.
Inilah sepenggal cerita dalam sebuah rindu.
Dua bulan sudah, Dian sibuk dengan tugas KKN nya. Saya mencoba sibuk juga dengan sks remidial yang membuat penat saya semakin bertambah.
Semester ini terasa begitu panjang, suasana hati saya terasa sepi. Disinilah saya betul betul merasakan bagaimana rasanya menahan rindu.
Entahlah, walau ada tembok penghalang yang lebih besar dari ini. Saya dan Dian betul betul tidak ingin dipisahkan oleh apapun. Saya menyayangi Dian begitu juga dengan Dian.
Walaupun kita memutuskan untuk terus melangkah, namun dilubuk hati kita masih sama sama belum bisa kehilangan Tuhan dan kita juga tidak mau kehilangan suatu rahmat Tuhan juga.
Dian selalu terbuka dengan saya terkait keluarganya, namun saya belum juga bisa memperkenalkan Dian ke mamak atau ayah saya.
Saya mungkin dikenal Dian hanyalah pemuda yang berasal dari Bandung. Namun Dian belum tahu kalau keluarga saya sebenarnya adalah keturunan Minang yang sangat kental dengan keyakinannya serta budayanya.
Saya memang masih merahasiakan ini ke Dian, biar Dian tidak merasa terbebani. Karena saya takut ketika Dian tahu hal ini, polemik inilah yang akan membuat Dian merasa kurang nyaman. Apalagi semua orang sudah tahu kalau adat Minang sangat tidak menyetujui hubungan beda agama ini. Saya tidak mau melihat Dian kecewa terlebih dahulu.
Andai malam jahanam itu, tidak terjadi. Mungkin untuk selamanya rasa sayang ini tidak akan pernah ada. Tapi tidak munafik, saya bersyukur juga mengenal Dian. Saya menjadi tahu arti di cintai oleh seseorang dan mencintai seseorang.
Memang, ketika Dian mulai melabuhkan pedulinya sama saya. Disisi lain, Dian masih ada sisa sisa kenangannya yang membekas. Namun berangsur angsur mulai bisa juga dia melupakan kekasih masa lalunya itu karena saya mencoba lebih memahaminya.
Saya sendiri setelah mengenal Dian, menjadi lebih terurus dan selalu fresh dalam menjalani hari demi hari di perantauan.
Weekend kita, selalu kita manfaatkan dalam berbagai project bersama sama. Dian selalu mengajak saya mengikuti panggilan riasnya kebeberapa tempat, jika Ibunya sedang tidak sempat datang atau berada dalam project lain.
Saya pun sudah merasa dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Meskipun saya belum banyak begitu dikenal atau memperkenalkan diri di lingkungan keluarganya.
Ayah Dian yang rupanya adalah seorang pendamping pendeta pun selalu memenerima saya dirumahnya. Bahkan selalu mengajak saya kemanapun ada acara keluarganya.
Sebenarnya kemarin ketika saya dan Dian berada di Bandung itu adalah sebuah kesempatan saya untuk memperkenalkan silsilah keluarga saya kepada Dian. Namun Dian sendiri yang masih ragu ragu dan memutuskan untuk kembali pulang ke Semarang. Walau sempat saya tahan, namun Dian tetap bersikukuh kalau dirinya masih belum siap.
Ya, Dian masih belum siap kehilangan Tuhannya untuk sesuatu. Begitupun juga saya, belum siap kehilangan sesuatu juga untuk Tuhan saya.
Hari hari tanpa Dian rasanya susana kost jadi sepi sekali. Biasanya setiap pulang kuliah, Dian selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kost saya. Sekedar merapihkan barang barang bahkan kadang kadang mencucikan pakaian saya.
Dian itu wataknya keras, walau sudah saya larang mencuci pakaian saya dan saya menyarankan untuk di laundry saja. Dian tetap bersikukuh menyempatkan melakukan hal itu karena agar saya bisa menghemat uang bulanan.
Sebagai timbal baliknya saya selalu siap mengantarkan Dian kemana saja, sesuai dengan kebutuhan kuliahnya atau kebutuhan usaha keluarganya.
Dua bulan saya rasa sangat lama juga. Andai ada ponsel yang bisa membuat kita bertemu wajah mungkin rasa kangen saya sudah pasti terobati.
Hanya saja, saat ini teknologi belum ada yang bisa secanggih itu. Baru sekedar pesan kirim foto saja dalam bentuk mms (Multimedia Messaging Service) sedikit lebih canggih dari sms (Short Message Service).
Nevi juga saat ini, sedang sibuk sibuknya menyusun skripsi. Bahkan dia jarang pernah ada di kostnya untuk saat saat ini walaupun kekasihnya Risa sedang sama sama melakukan KKN di luar kota juga, sama seperti Dian.
Wahyu juga akhir akhir ini jarang juga ada di rumahnya. Katanya dia juga sedang sibuk di tugas akhir profesinya. Saya hanya bisa mampir saja ke distro milik Wahyu, sembari kembali mengajukan design design kaos yang telah saya rancang. Distro milik Wahyu memang tidak pernah ada sepinya. Apalagi kini pernak pernik terkait peralatan pendakian sudah banyak sekali peminatnya.
Mapala kampus pun akhirnya di ambil alih komandonya oleh saya sebagai ketuanya. Namun tetap saja, rasanya teramat sepi sekarang. Sepertinya basecamp mapala ini tidak bisa move on dari peninggalan pendiri pendirinya yang sudah lebih dulu meninggalkan kampus ini. Saya juga tidak bisa berbuat banyak dalam menggaungkan beberapa aktivitas menarik lagi untuk organisasi ini.Regenerasi dibawah saya juga akhir akhir ini sibuk dengan kegiatan kampus.
Entahlah, apa karena rasa rindu ini kah. Yang membuat saya merasa tidak nyaman dan kurang semangat menjalani semester ini.
"Kringg... Kring... " ponsel saya berbunyi.
__ADS_1
"Hallo Mak." sapa saya ketika saya tahu jika yang menelfon itu adalah mamak saya.
"Gimano kabarnyo, kau buyung ? Lama sekali kau indak pulang. Betah ruponyo kao dirantau yo ?" tanya mamak balik.
"Alhamdulillah baik mak. Mamak dan Abak sendiri apo kabarnyo ?"
"Alhamdulillah Mamak samo Abak, baik. Cuma mamak khawatir samo buyung sajo, mamak kira buyung lupo samo jalan pulang ke Bandung ya." balas mamak lagi.
"Indak lah Mak, buyung bukan lupo jalan pulang. Cumo buyung lagi banyak dan sibuk sibuknya ngambil jadwal remidian di kuliah ni sajo. Makanyo indak sa pulang dulu ke Bandung." jawab saya.
"Ya sudah baik baiklah buyung disana yo. Belajarlah yang rajin selagi masih mampu yo Nak. Mamak doakan kau pulang dengan sukses ya. Oy Masih ado kah uang disana, yung ?"
"Alhamdulillah, masih mak. Tapi kalau mau transfer lagi juga engga masalah." sahut saya.
"Ya sudah nanti mamak transfer ya."
"Terimakasih mak, maaf buyung masih merepotkan mamak."
"Oh ya sudah kalau kamu engga enak merepotkan mamak. Mamak tidak usah transfer ya." Canda mamak.
"Ya sudah Mak. Tapi besok Buyung minta ditransfer ya !"
"Ah, macam mana pula kau buyung. Bikin pusing mamak saja." keluh mamak.
"Mak.. Mamak asli padang apa batak ini ? kenapo logat mamak jadi batak begini." saya bertanya heran.
"Oh maaf mamak lupo, buyung. Mamak terbiaso saat mamak cubo nagih duit duit yang dipinjam temen temen mamak. Kalau pakai bahasa batak mereka pada takut dengan mamak."
"Onde mande, mamak nih. Saking banyaknyo duit mamak malah pinjam pinjamkan ke yang lain. Awas kalau dibawa lari mak."
"Indak mungkin dibawo lari lah Yung. Mamak simpan surat surat berharga mereka."
"Abak inda tahu lah Yung, kalau tahu mamak bisa digantung." jelas mamak. "yasudah, belajar yang rajin sajo ya Yung. Jangan lupo pulang kalau sempat yo."
"Pastilah mak. Baik baik juga ya di Bandung buat Mamak dan Abak ya."
"Tuuttt.. Tuttt... Tuttt.." telfon pun akhirnya ditutup oleh mamak.
Begitulah mamak saya, perhatian dan sayang sekali dengan saya. Saya adalah anak pertamanya dan saya punya adik perempuan bernawa Dewi. Kalau Adik saya yang bernama Dewi ini juga statusnya mahasiswi. Tapi dia mengambil kuliahnya di daerah Bandung juga. Katanya biar tetap dekat dengan Mamak dan Abak katanya. Padahal saya tahu, Dewi mengambil kuliah di Bandung karena tidak mau terpisah oleh pacarnya.
Abak atau ayah saya seorang pengusaha di daerah Bandung. Usahanya ada lima cabang dan semuanya sangat ramai. Biasa usaha ayah saya itu rumah makan padang kapou.
Sebagai orang minang, usaha yang paling mudah menghasilkan pundi pundi rupiah adalah membuka rumah makan. Alhamdulillah cabang ayah saya sudah ada lima cabang dan tersebar di sekitaran Bandung raya.
Katanya malah ayah saya mau membuka lima cabang lagi, entahlah itu dibahas sebelum saya berangkat ke Semarang. Mungkin saja ambisi ayah saya itu telah tercapai. Karena memang ayah saya itu orangnya ulet, dan selalu berani mengambil peluang dan kesempatan.
Karena suasana hari ini nampaknya sangatlah membosankan, akhirnya saya memutuskan untuk memacu motor saya berkeliling kota Semarang kalau perlu sampai ke Jogja.
Namun karena jauh juga dan memakan waktu tiga setengah jam akhirnya saya urungkan niat saya menyusul Dian kesana.
Setengah harian saya keliling keliling kota Semarang. Dari sholat Jumat di Masjid Agung Semarang, jalan jalan ke Simpang Lima dan sholat ashar di Masjid Baiturrahman Semarang hingga menghabiskan sorenya kota Tua dan pulang melewati Sam Poo Kong.
Tak terasa sampai kembali di kost pun pukul sepuluh malam. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur.
##################################
Keesokan harinya,
"Kreekkk... Kreeekkk... Kreeekkk. Gubrak. Prankk." Ternyata tepat tanggal, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB, saya di bangunkan oleh gempa yang lumayan terasa kencang hingga membuat oleng dan menjatuhkan figura foto saya dan Dian yang terpasang di dinding kamar saya.
__ADS_1
Tanpa fikir panjang lagi, saya bergegas berlari kearah luar kamar. Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Cukup.lama getaran itu terasa, semua penghuni kost di samping samping kamar saya dan diatas kamar saya pun pada berhamburan keluar dan mencari titik aman mereka masing masing.
Saya tidak habis habis membaca istighfar dan sholawat hingga getaran hebat itu berakhir.
"Alhamdulillah, gempanya sudah berakhir. Semoga tidak ada gempa susulan lagi yang lebih dahsyat ya Allah." Doa saya dalah hati.
Seluruh penghuni kost yang lain pun bersyukur, kondisi kost kami masih aman aman saja. Akhirnya setelah semuanya di rasa aman dan getaran sudah tidak terasa lagi, saya dan penghuni kost yang lain mulai kembali memasuki kamar kost masing masing.
Pagi itu saya langsung menyalakan televisi saya yang sudah bosan menancap di dinding. Saya cari cari berita terkait dimanakah lokasi gempa itu, sembari merapihkan figura saya yang jatuh.
Berita di televisi, menginformasikan gempa dahsyat telah terjadi di kota pelajar pagi tadi dengan lebih dari enam koma nol sekala richter.
Saya langsung panik dan mencoba berusaha mencari tahu keadaan Dian disana melalui ponsel saya.
Ponsel Dian sama sekali tidak bisa saya hubungi, saya pun menjadi panik. Saya takut Dian kenapa kenapa di Jogja sana.
Mungkin kalau kemarin saya mengurungkan niat saya untuk ke Jogja, hari ini saya memberanikan diri saya untuk langsung melaju ke kota itu. Dian masih belum bisa saya hubungi. Namun setelah berfikir panjang dan bersiap siap untuk menuju ke sana. Ternyata sebelum keluar gerbang, Bapak Kost saya melarang saya untuk kesana terlebih dahulu. Karena kondisi masih kurang kondusif, katanya rumah rumah roboh disana sini. Jalanan serba macet dan tidak beraturan berita ini diinfokan dari rekannya yang baru sampai di Jogja.
Karena pertimbangan itu, saya mengurungkan niat saya kembali untuk berangkat kesana.
Tidak lama,
"Kring.. Kring.. Kring.." ponsel saya berbunyi, ternyata dari Dian.
"Ndre, Gempaaa... Serem banget." rengek Dian.
"Kondisi kamu gimana Yan ? Perlu saya jemput engga dari sini ?" rentetan pertanyaan saya.
"Kondisi saya aman, Ndre. Puji Tuhan. Ini saya sedang sama Meta. Hanya kondisi rumah singgah kami banyak sekali retakan namun masih kokoh. Sebelah rumah singgah kami banyak yang roboh Ndre."
"Oh ya sudah, nanti saya bantu infokan ini ke Ayah ya. (Ayahnya Dian). Biar beliau tidak panik dulu." jelas saya.
"Tidak usah, Ayah tadi sudah telfon kok." sahut Dian.
"Oh baiklah, saya perlu kesana engga Yan." tanya saya lagi.
"Engga perlu dulu, Ndre. Mudah mudahan tidak ada lagi gempa susulan." balas Dian. "Nanti kalau memang urgent, saya pasti kabari kamu kalau perlu dijemput." jelasnya lagi.
"Ok, Sayang. Baik baik disana ya."
"Tumben manggil saya sayang, Ndre." canda Dian.
"Itu tandanya, kamu jangan lupa cepet pulang Yan. Karena ada seseorang yang sedang merindukanmu."
"Hahaha... Iya Sayang. Saya pasti cepet pulang kok. I miss you." jelas Dian lagi.
"Miss you too". Ucapan terakhir saya untuk Dian saat itu.
Akhirnya rasa panik pun berangsur angsur meredam. Bapak kost juga ikut menanyakan kabar Dian, pacar saya. Setelah saya infokan keadaanya seperti apa, beliau pun turut reda serta meyakini saya kalau keputusan beliau untuk mengurungkan saya berangkat ke kota itu adalah keputusan yang tepat.
"Nak Andre, serius sama Mba Dian ?" bisik Bapak kost saya.
"Belum tahu Pak, saya sih inginnya cepat cepat kelarin kuliah saya dulu." jawab saya.
"Iya, Nak Andre kan pendatang. Jauh jauh ke kota ini, semoga segala misinya cepat tercapai ya. Bapak doakan, kuliahnya cepat beres dan mendapatkan hasil yang baik." Doa beliau.
"Aamiin, terimakasih ya Pak." jawab saya.
Bapak kost saya ini memang jarang sekali ada di rumah atau di kostan. Namun ketika sedang ada dirumah, beliau sangat rajin mengecek kondisi kost kami bahkan jika ada hal yang menurut beliau tidak nyaman, beliau segera menyuruh asistennya untuk memperbaiki kerusakan yang beliau temukan di kost kami. Sehingga sebagai penghuni kost ini, saya betul betul.merasa betah dan nyaman.
__ADS_1
(bersambung..)