Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
KENCAN PERTAMA


__ADS_3

Keesokan harinya, jam terasa begitu cepat berlalu. Di jam istirahat tepatnya di jam makan siang, saya baru saja selesai mengambil jam kuliah dan setelahnya berniat untuk bergegas pulang ke kost. Tiba tiba saya mendengar nama saya dipanggil dari koridor bagian atas, tepatnya koridor lantai dua kampus kami.


"Ndre !" terdengar suara wanita sedang memanggil saya.


Saya pun segera menoleh keatas. Dian melambaikan tangannya dan bergegas mencari jalan untuk menuruni tangga serta bermaksud menemui saya.


"Mau kemana kamu ?" tanyanya.


"Astaga, maaf saya lupa." terang saya. "Hari ini jadi ya ? Ok. Saya ikut." jelas saya lagi.


"Sebentar aja, buru buru amat." kata Dian dengan kakinya bergerak seakan akan ingin menginjak kaki saya.


"Iya Dian." saya pun menurutinya. "Sekarang kita ngumpul dimana ?" ajak saya.


"Yowiss, ikut dulu ke kantin yuk !" centil Dian mulai nampak dan mulai memberanikan diri menggandeng tangan saya.


Setelah memastikan kendaraan saya terkunci dengan baik, saya pun segera mengikuti Dian untuk memasuki kantin dan memilih bangku untuk kita berdiskusi lebih lanjut.


Didalam kantin itu, saya lihat Dian seakan akan biasa saja. Tapi berbeda ketika saya lihat mahasiswi yang kebetulan makan dikantin ini seakan akan berbisik bisik seolah olah sedang memperhatikan dan membicarakan saya dengan Dian.


Saya agak sedikit malu juga, seolah olah sedang banyak pasang mata yang mengarah ke meja saya.


"Lah, bengong ?" kejut Dian. "Mau pesan apa ?" sambungnya Dian.


"Eh... Kebalik. Harusnya saya yang nanya." jawab saya.


"Walah, kesuwen Mas." keluh Dian. "Es jeruk dua ya Bu." pinta Dian kepada ibu warung langganannya di kantin itu.


"Hmmm... Ini anak, egonya lumayan juga." keluh saya dalam hati.


"Semalam kemana ?" Dian malah tiba tiba menginterogasi saya.


"Ya pulang, ke kost. Terus tidur." jawab saya bingung.


"Awas ya kalau bohong !" ketus Dian sambil tersenyum mengejek.


"Kenapa sih nanya gitu, Aneh aja ?" pinta saya.


"Katanya semalam mau telfon ? Saya tungguin kok engga telfon telfon." kali ini Dian langsung mengungkapkan blak blakan keluh kesahnya semalam.


"Ya.. Katanya, kamu tidur." jawab saya aneh. "Ya saya ngapain telfon lah." jelas saya lagi.


Saya sebenarnya agak ilfil dengan wanita seperti ini, tapi anehnya kok ke Dian saya malah engga bisa. Kejadian kemarin sepertinya begitu membuat kita mejadi merasa semakin dekat.


Saya ini cuek sebenarnya orangnya, tapi di depan Dian seolah olah saya merasa seperti sedang mengayomi Dian.


"Harusnya jangan janji ya ?" keluhnya lagi.


"Oh.. Ok. Saya minta maaf ya." jawab saya. "Pulang hari ini jam berapa ?" tanya saya balik.


"Jam tiga sore, emang kenapa ?" Dian menjawab.


"Sebagai permintaan maaf saya, saya tunggu kamu ya nanti sore di halte depan kampus." jelas saya.


"Beneran ?" tanya dia kurang yakin.


"Lihat nanti sore ya." saya pun memastikan.


Lima menit berlalu, akhirnya pesanan kami pun datang juga. Dian langsung membuka isi tasnya dan bergegas mengeluarkan sebinder polio laporannya. Dia tampak begitu lucu ketika sedang sibuk menulis, pintar juga kelihatannya. Ini terlihat dari luwesnya dia ketika memulai mengarang sebuah kesimpulan.


Teman teman kelompok kami yang lain pun mulai memenuhi meja kami. Ketika datang pertama kali, kalimat yang mereka ucapkan ke saya dan Dian adalah


"Cieee... Ciee... Udah berdua aja." mendapat sapaan seperti itu saya hanya tersenyum dan tidak sengaja saya bertatapan mata dengan Dian. Secepat itu Dian menunduk kembali dan sibuk melengkapi kesimpulannya.


Waktu istirahat pun, tidak terasa telah usai. Saya sebenarnya sudah habis jam kuliah hari itu. Sedangkan Dian masih ada dua mata kuliah lagi dan selesai tepat di jam tiga sore. Setelah kesimpulan yang dibuat Dian sudah rampung, mereka pun berpamitan dan meninggalkan saya sendirian di kantin itu. Dian pun.mengikuti mereka untuk melanjutkan jam kuliahnya.


Disini saya melihat Dian seperti seseorang yang sedang mencari kebahagiannya sendiri. Seperti gadis yang memiliki trauma akan sesuatu dimasa lalu dan jiwanya mulai membaik kembali ketika bertemu dengan orang yang dirasa nyaman baginya.


Ini terlihat ketika dia sedang fokus mengarang kesimpulan di laporannya dan bahkan ketika kami sedang berkumpul tadi, teman temannya seakan akan tumben melihat Dian begitu antusias dan semangat siang itu.


"Ah.. Lagi lagi bodo amat dah. Saya mau tidur siang dulu, biar jam tiga sore bisa fresh jemput Dian di Halte." ungkap saya dalam hati.


Saya pun bergegas meninggalkan kantin itu dan segera memacu motor saya untuk meninggalkan kampus.


###################################


Jam tiga sore lebih lima, saya masih sendiri di halte depan kampus. Tepat dihadapan saya sebuah motor bebek kepunyaan saya yang melegenda, dengan tidak luput dua helm berjajar rapih diatas joknya.


Perasaan saya berkecamuk ketika jam tiga sorenya telah lewat beberapa menit. Saya takutnya Dian lupa telah pulang lebih dulu dan sudah tidak berada di kampus.


Disaat kebingungan saya itu, Nevi tiba tiba muncul keluar dari gerbang kampus. Dia berboncengan juga dengan Risa. Karena Risa lebih dulu melihat saya, makanya dia menyuruh Nevi menghentikan laju motornya dan menghampiri saya.


"Ngapain Mas ?" sapa Risa. "Hahaha.. Bengong di halte kayak tukang ojek." sindir Risa.


"Enak aja." jawab saya.


Karena saya sudah lama tidak bertemu Nevi, saya dan Nevi berpelukan seperti biasa.


"Lama kita engga ketemu Broo." ungkap Nevi. "Main mainlah ke Kost Mak Jah." ajaknya lagi.


"Sorry Nev, akhir akhir ini saya juga lagi banyak jam praktek terus kemarin kemarin masih sering ke distro Wahyu juga." jawab saya. "Terus pas weekend, waktu itu saya ke kostmu juga. Kamunya tidak pernah ada." jelas saya lagi.


"Telfon dulu aja kalau mau main, Sob. Weekend kadang saya ada dirumah Risa. Di daerah Tlogosari." balasnya.


"Hahaha.. Kayaknya kalian berdua udah mulai serius nih." sindir saya.


"Kayak ujian mas, serius.. serius." canda Risa membalas.

__ADS_1


"Yowiss, semoga kalian langgeng terus ya. Adem dan ayem lah sampai waktunya." sahut saya.


"Amiin, Ndre." kata Nevi.


"Mas, pertanyaan saya kok belum dijawab ? Lagi ngapain disini ?" Risa pun kembali menanyakan ulang kesaya.


"Semester lima udah pada bubar belum ya ?" Tanya saya ke Risa.


"Ciee.. Nyariin siapa Mas." Risa malah mengejek."Lah, berarti itu angkatanku." jelasnya lagi.


"Alahalah, sukro zon aja lu Sa." canda saya.


"Hahaha... Su'udzon kali." jawab Nevi.


"Oh iya. Sampean nunggu Dian yo Mas ?" Tanya Risa justru mengejutkan saya.


"Ciee.. Dian siapa tuh sayang ?" celetuk Nevi ke arah Risa pacarnya sambil matanya mengejek kearah saya.


"Sayang.. Sayang.. Pala lu peyang." aneh, Risa malah masih sama seperti dulu kepada Nevi.


Tapi saya yakin, rasa sayang Risa terhadap Nevi juga sudah mulai bertumbuh lebat seperti pohon mangga yang sudah mau berbuah. Hahaha.. Kecuali kalau pohon mangganya hasil cangkokan ya.


"Kelas A semester saya belum pada bubar sih Mas, tadi. Kayaknya masih ada jam tambahan." jelas Risa. "Ditelfon atau di sms aja toh Mas." sambung Risa lagi.


"Yowiss, masih aku tunggu disini deh." jawab saya.


"Ehemm.. Kenalin kita kita loh ya, nanti." ledek Risa lagi.


Saya bingung mau jawab apa, ketika Risa mengejek saya seperti ini. Karena saya sama Dian juga belum ada apa apa.


Akhirnya saya pun cuma jawab dengan senyuman saja kepada mereka.


"Yowiss Mas, aku cabut dulu ya." sahut Risa sambil menyuruh Nevi menyalakan kembali motornya.


"Tungguin aja ya Mas, nanti saya sms Dian juga deh. Kalau sampeyan nungguin dia." sambungnya lagi sembari terus berlalu setelah Nevi berhasil menjalankan motornya.


"Duluan ya Broo," sapa Nevi.


"Siap Nev. Ok." jawab saya.


Setelah hampir satu jam, akhirnya banyak mahasiswa keluar dari gerbang itu. Sepertinya itu seangkatan dengan Dian. Tapi kok Dian belum juga muncul ya.


Saya pun sabar menunggunya di halte samping gerbang kampus kami. Hingga saya akhirnya dikejutkan oleh suaranya dari arah belakang.


"Lama nunggu, Ndre ?" sapa Dian.


"Engga kok, baru sampai juga saya." jawab saya.


"Risa tadi sms saya." jelas dia. "Udah lama kenal Risa ya kamu ?"


"Ya, begitulah." jawab saya.


Kali ini wajah Dian agak aneh, wajahnya begitu dingin. Tidak seperti biasanya.


Gelagatnya juga kalem, berbeda pada saat siang itu. Ketika saya ditarik olehnya masuk kedalam kantin bahkan ketika dia memanggil saya dari koridor di lantai dua kampus kami.


Tapi akhirnya dia mengikuti saya juga, dia bersedia naik lagi motor saya yang kedua kalinya dan memakai helm yang telah saya bawakan untuk dia.


Kami pun lalu melaju dari halte itu, melalui teman teman Dian yang sedang berjalan kaki menuju kost mereka masing masing yang tidak begitu jauh.


Teman teman Dian pun, bersorak ketika kami melewati mereka. Mereka kira kita sudah jadian.


Pokoknya berasa norak banget sih bagi saya.


Tapi ketika saya lihat dari sepion sepeda motor saya, ketika saya sengaja arahkan ke wajah Dian. Dian sama sekali tidak tersenyum atau merespon apapun. Wajahnya tetap dingin dan misterius.


Dijalan, kami seperti sedang melewati musim dingin. Tidak ada patah kata pun yang keluar dari mulut kami. Karena saya merasa kurang sedikit nyaman, akhirnya saya beranikan diri memulai percakapan.


"Kok diem aja Non ?" kata saya menyapa.


Pertanyan saya tidak direspon oleh Dian. Tapi Dian tiba tiba memeluk saya dari belakang. Tubuh hangatnya mulai mencairkan susana kami yang sedang dingin.


Dian lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah saya dengan posisi telapak tangan menengadah keatas.


"Ndre, genggam tangan saya." pintanya.


Saya pun terkejut dan saya pun mengiyakan ajakannya. Saya menyambut tangannya dengan mengulurkan tangan kiri dan tangan kami pun akhirnya bergenggaman erat.


"Ndre, terimakasih ya." katanya.


"Untuk apa ?" tanya saya.


"Jujur Ndre, kenapa kamu seperti ini sama saya ?" dia malah balik bertanya.


"Saya peduli sama kamu Yan." jawab saya.


"Itu aja ?" tanyanya lagi.


Disini pikiran saya berkecamuk. Apakah Dian sebenarnya sudah tahu kalau saya sebenarnya ada rasa dengan dia atau Dian hanya memanfaatkan event event seperti ini hanya untuk mengobati lukanya saja.


Tapi tidak usah fikir aneh aneh lagi lah, saya rasa ungkapan Dian ini serius.


"Saya suka sama kamu Yan." jelas saya.


"Sayang engga ?" tanyanya lagi.


"Bangettt Yan." saya akhirnya luluh dipelukan Dian.

__ADS_1


"Ndre, hari ini tanggal Satu Juni Tahun Dua Ribu Lima kita resmi jadian ya. Jangan tinggalin aku ya Ndre. Aku juga sayang sama kamu."


Sepanjang jalan itu, dari kampus menuju simpang lima. Ikrar kami terucap. Genggaman tangan Dian tidak pernah lepas sampai ke komplek rumahnya. Scurity komplek menyapa kami, dan kami pun menyapa kembali mereka yang sedang duduk duduk berjaga dengan ramah.


Sesampainya di teras rumah Dian, Dian menyuruh saya memarkirkan motornya dipekarangannya. Lalu saya dipersilahkan singgah dan mampir dulu di rumahnya.


Saat itu kondisi rumah Dian sedang ramai, ada orang yang sedang berinteraksi dengan penghuni rumah Dian yang lain. Seperti sedang memilih milih gaun untuk sebuah resepsi.


Karena agak sungkan, saya memilih duduk di kursi yang terletak di teras rumahnya.


Dian pun akhirnya memasuki rumahnya.


"Eh anakku sing ayu dewek, uwis muleh rupane." Sahut seorang ibu dari dalam rumah.


"Ono acara resepsi ning endi, Mah." Jawab Dian sembari mencium tangan ibu itu.


Setelah mencium tangan ibu itu, Dian melirik kearah saya dan melambaikan tangannya seolah olah meminta saya menghampirinya. Tanpa ragu, saya pun lalu menghampirinya.


"Ini ibu saya Ndre," kata Dian.


"Sore Tante," saya pun menyapa beliau. Lalu mencium tangannya.


"Sore Mas." sapa Ibunya Dian.


"Dian, temenmu tolong dibuatkan teh toh." sahutnya lagi.


"Engga usah repot repot Tante." jawab saya.


"Engga kok. Yowis silahkan dilanjut lagi. Tante lagi bantu Mak Darsih dulu ya, nyari nyari gaun buat resepsi anaknya." jelas Ibunya Dian. "Eh Darsih, sampeyan dadine pengene seng endi ?" sambung beliau lagi.


"Nganu Bu, mboten ono sing cocok mun niki. Ono koleksi opo meneh yo ?"


Mereka pun akhirnya kembali sibuk dengan urusannya masing masing.


Dian saya lihat sudah masuk tenggelam dirumah itu, saya pun kembali ke tempat duduk itu lagi tempat dimana saya awal bertamu di rumah Dian.


Lima menit berlalu, Dian pun akhirnya keluar dari dalam rumahnya. Sembari membawakan teh panas dan menyuguhkannya kepada saya.


Setelah menaruh teh itu di meja tunggu disamping kursi saya, Dian pun duduk dikursi sebelahnya lagi.


"Beginilah, rumah saya." Dian memulai percakapan."Selalu ramai kalau waktunya musim kawin tiba."


"Alhamdulillah, berarti Ibu kamu sudah banyak pelanggan." jawab saya.


Dian pun lalu mengulurkan tangannya lagi, dia seolah olah meminta saya untuk menggenggemnya.


Cuma kali ini, ajakan Dian saya tolak. Saya tidak enak kalau hal ini sampai dilihat Ibunya.


Dian pun hanya tersenyum.


"Hahaha.. Kaku amat sih kamu." kata Dian.


Sejam berlalu, Dua jam berlalu Hingga malam pun tiba. Tiba tiba, ponsel Dian pun berbunyi.


Sempat saya lihat, siapa yang menelfon Dian. Tertera "sayangku" di depan layar ponselnya.


Tapi belum sempat saya memastikan, Dian sudah mengangkatnya.


"Opo ?" kata Dian.


Entah apa yang di bicarakan oleh mereka, bahasanya betul betul bahasa jawa halus. Seperti bahasa Solo.


Sekilas Dian melirikkan matanya kearah saya, lalu dia segera masuk kedalam rumahnya lagi. Dan melanjutkan pembicaraannya dengan seseorang di ponselnya.


Sebenarnya saya sudah mau berpamitan, tidak enak soalnya malam malam masih berkunjung kerumah teman wanita. Saya belum pernah dan belum terbiasa juga. Namun Dian belum juga kembali, sekilas dia masih terdengar meladeni telfon itu dan sudah hampir satu jam belum juga menghentikan telfonnya.


Karena agak jenuh, akhirnya saya beranikan diri memanggilnya. Semoga dia segera keluar rumah dan saya bisa berpamitan.


Perasaan saya begitu penasaran sebenarnya, kepada siapakah sosok yang menelfon Dian. Suaranya dibalik ponsel itu cowok dan Dian masih meladeni telfonnya lebih dari setengah jam. Bukan cuma itu saja, dia seolah olah menyembunyikannya dari saya.


Setelah tiga kali saya memanggilnya, akhirnya Dian pun keluar juga. Auranya berubah seolah olah cerah dan bahagia.


Karena cemburu, saya pun langsung sedikit ketus kepadanya.


"Yan, kalau memang masih ada hati lain yang kamu jaga. Tolong izin kan saya pergi saja dan lupakan terkait hal tadi." Keluh saya.


Mendengar ungkapan itu, Dian langsung menggenggam tangan saya.


"Ini masa lalu saya Mas, tolong jangan pergi dulu !"


"Saya engga bisa Yan. Sebelum lebih jauh, saya lebih baik pergi."


"Mas tolong, saya sayang sama kamu."


Dian tiba tiba menangis dan memeluk saya.


Diteras itu saya menjadi campur aduk perasaanya. Emosi saya berubah menjadi rasa iba dan penasaran.


"Kenapa dengan kamu Yan ?" itu pertanyaan yang saat ini tertancap di hati saya.


"Oh ya, saya belum kenalin sosok Dian ya. Dian itu digambarkan seperti Mahalini Idol penyanyi tercantik bagi saya di negeri ini".


Akhirnya, karena kelakuan Dian lah. Saya terpaksa membuatnya tenang dulu, sebelum pamitan pulang. Dian lagi lagi tidak cerita banyak malam itu.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Karena saya masih tahu etika, saya berpamitan dengan Dian. Dian pun akhirnya merestui kepergian saya malam itu namun ketika saya memintanya untuk memberitahukan Ibunya kalau saya hendak berpamitan.


"Engga apa apa Mas, jalan aja. Ibu biasanya sudah tidur jam segini.' kata Dian.

__ADS_1


Akhirnya saya pun pulang dari rumah Dian dengan perasaan yang semakin nambah semrawut.


(bersambung..)


__ADS_2