Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
BERTEMU DIA


__ADS_3

Dua semester telah saya lalui dikampus ini, saya tidak merasa repot sekali terkait kesibukan saya sekarang.


Saya juga mendapatkan reward dari Wahyu, terkait design saya yang telah berhasil di tumpahkan oleh nya di beberapa t-shirt yang dia jual. Lumayan, design saya dihargai seratus ribu per karyanya.


Wahyu bilang design saya bertema alam sekali dan berkarakter serta lumayan disukai juga di pasaran anak anak muda.


Kompetisi sehat semakin kencang di distro itu, karyawan Wahyu yang sebelumnya mengurusi perihal design itu mengakui kebolehan saya dalam sisi berimajinasi. Kami pun tidak segan segan bertukar ilmu bahkan berkolaborasi.


Dalam dunia distro, memang menjadi hal wajar kalau kita harus mengupdate tema yang bisa disukai pasaran. Distro Wahyu pun semakin ramai, justru kehadiran saya disana membuat Wahyu bertambah ladang usahanya.


Yang biasanya menjual atribut kongkow anak muda yang bertema musik dan karikatur, kini bertambah menjadi bertema ala ala anak mapala.


Barang yang dijualnya kini bertambah dengan macam macam alat pendakian. Walau pergerakkannya belum begitu pecah, tapi semakin lengkap dan setiap hari selalu ada saja pendaki yang mampir ke distro kami.


Hari demi hari pun berganti. Jadwal saya pun sudah mulai padat. Karena di semester ini, banyak sekali kuliah praktikum yang harus saya jalani. Akhirnya karena mulai agak keteteran membagi waktu, saya minta izin untuk keluar dulu dari distro milik Wahyu.


Wahyu pun memaklumi dan posisi saya sementara digantikan olehnya. Karena dia sudah menyelesaikan studinya dan tinggal mengambil profesi. Katanya kalau jadwal jenjang profesi, waktunya lebih flexible dan santai.


Kembali ke aktifitas saya dikampus, hari ini saya mendapatkan jadwal praktikum. Praktikum kali ini ditentukan pelaksanaannya dalam bentuk tugas berkelompok.


Dalam sebuah praktikum pengukuran kandungan zat kimia di dalam sampel tanaman ini, saya berkelompok dengan empat mahasiswa lainnya. Salah satu diantaranya adalah Dian. Sekilas Dian itu seperti sosok yang tidak sengaja saya tabrak ketika hendak keluar dari kantin kampus kami.


Masih sekilas saya ingat, namun entah bagi Dian. Dian ini anaknya serius tapi agak lucu. Dia cantik seperti gadis jawa oriental dengan matanya begitu indah. Dian selalu membuat suasana praktikum ini menjadi sangat menarik oleh canda candaan centilnya.


Awalnya saya menganggap segala bentuk candaan Dian yang terjadi di meja praktikum itu biasa saja. Bahkan karena sosok Dian inilah, saya menjadi semakin akrab dengan teman teman yang baru saya kenal dari kelompok saya.


Sampai akhirnya praktikum kami berjalan dengan lancar, bahkan hasilnya sangat memuaskan. Hal itu lah yang membuat kesan tersendiri bagi kami.


Setelah praktikum itu selesai, kami pun pulang dengan hati yang bahagia. Ruangan praktikum pun akhirnya mulai sepi. Jam menunjukkan pukul lima sore.


Saya sebenarnya hendak pulang cepat sampai kost, namun Wahyu tiba tiba menelfon saya. Dia menyuruh saya untuk datang ke distronya, menggantikan sementara seorang karyawannya yang pulang karena ada keperluan.


Kasihan karena partnernya seorang wanita, jadi katanya agak takut kalau sendirian jaga distro itu sampai malam.


Akhirnya saya pun mengiyakan. Saya segera mengambil motor saya dan langsung bergegas menuju kesana.


Di awal awal perjalanan, ketika melewati gerbang kampus. Saya lihat Dian sedang duduk di sebuah shelter tempat pemberhentian kendaraan umum. Karena dia teman praktikum saya, akhirnya saya hampiri dia sebentar.


"Hai, belum pulang ?" sapa saya.


"Iya Ndre, masih nunggu angkutan nih. Tumben agak telat lewatnya." jawabnya.


"Mau bareng engga ?" ajak saya.


"Emang kamu ke arah mana ?" Dian malah balik bertanya.


"Saya mau ke arah Pandanaran." jawab saya.


Dian belum menjawab, dia malah terdiam.


"Hei, kok bengong ?" sahut saya lagi. "Memang kamu mau ke arah mana ?"


"Oh, saya kira kamu sudah tahu saya pulangnya kemana ?" jawab Dian, malah dengan nada bercanda.


"Loh, memangnya saya.." belum sempat saya ungkap penuh hati kecil saya, tiba tiba..


"Ok, tapi anterkan saya dulu ke kost teman saya ya." jawabnya renyah.


"Oh Ok." saya pun mengiyakan dan Dian dengan segera menaiki bagian belakang motor saya.

__ADS_1


Saya diarahkan oleh Dian menuju kost temannya. Ternyata letaknya tidak jauh dari kampus dan bahkan sebelah kost saya.


Setelah sampai di kost yang dituju, saya disuruh tunggu sebentar didepan gerbang. Dian pun segera masuk dan menaiki anak tangga, ternyata teman Dian tinggal di salah satu kamar bagian atas.


Tidak sampai lima menit, Dian pun kembali. Kali ini dia turun dengan menggunakan helm. Ternyata dia menyempatkan mampir ke kost temannya hanya untuk meminjam helm.


"Hahaha.. Sungguh anak yang baik." celetukku dalam hati.


"Ayo jalan !" perintah Dian.


"Lah, emang lu siapa ?" canda saya.


"Engga jadi nih." jawab Dian agak kaget.


"Hahaha... Ok tuan putri. Berangkat !" saya pun segera melajukan motor saya, berboncengan dengan Dian.


Di tengah perjalanan, saya dengan Dian agak canggung. Saya merasa kok suasana kami saat ini sangat aneh. Saya juga merasa, Dian tidak canggung juga di bonceng sama saya.


Dia agak sedikit merapatkan tubuhnya kepada saya. Walaupun sebenarnya jok motor saya itu flat. Tidak seperti motor motor cowok kebanyakan, yang agak turun kedepan.


Saat saat seperti inilah, membuat jantung saya agak berdegup kencang. Dari yang saya anggap biasa, jadi saya anggap ada apa apa.


Dian itu orangnya agak rame juga, tapi tetap anggun menurut saya. Dia selalu mencari topik pembicaraan disaat suasana menjadi sepi dan tidak menarik.


"Kamu, asli Bandung ya ?" tanya Dian.


"Kok tahu." jawab saya.


"Tahu lah, temen teman saya banyak cerita tentang kamu." sahutnya. "Kamu cukup terkenal juga loh." sambungnya lagi.


"Oh ya. Padahal saya bukan siapa siapa toh."


"Hahaha... ya engga tahu." ledeknya.


"Ndre, anter saya sampai rumah ya." pinta dia.


"Hmmm... Ayahmu engga galak kan ?" tanya saya agak ragu.


"Hahaha... Kok bahasnya kesana." Dian pun celetuk heran. "Disini, pamali mengantarkan anak gadis orang cuma sampai pinggir jalan. Jadi kalau mau ngantar saya, jangan nanggung nanggung. Sampai rumah ya." jelasnya lagi.


"Oh itu toh, maksudnya." jawab saya. "Ok deh."


Akhirnya saya menyempatkan diri mengantarkan Dian sampai ke rumahnya. Rumahnya ternyata dekat juga dari simpang lima. Persis di belakang salah satu RS Swasta terkenal disana.


Setelah sampai mengantarkan Dian kerumahnya, saya pun bergegas berpamitan untuk segera menuju distronya Wahyu.


"Alhamdulillah, sudah sampai." sahut saya.


"Oh, saya paham. Kamu muslim ya ?" tanya Dian.


"Yah begitulah." saya menjawab, namun saya belum tahu maksudnya Dian itu apa.


"Mampir dulu bentar, Ndre." ajak Dian.


Sebenarnya saya ingin lama lama mengobrol dengan Dian. Tapi karena saya sedang ditunggu di distronya Wahyu. Saya terpaksa menolak ajakan Dian.


"Next times deh, saya masih ada urusan di Pandanaran." jawab saya.


"Mesti, jemput cewek ya." ledek dia.

__ADS_1


"Engga, kalau diceritain panjang." jelas saya.


"Ok deh, oh ya.. Besok jangan lupa !" sambung Dian.


"Oh, apa ya ?" tanya saya lagi agak bingung.


"Besok rencananya kita mau bikin laporan hasil analisis praktikum tadi berkelompok bareng bareng ngerjainnya. Kamu bisa engga ?" info Dian.


"Waduh, jam berapa ?"


"Rencananya jam istirahat, kita rencana mengerjakannya di kantin." jelasnya.


"Oh lihat nanti ya. Oh ya, saya boleh minta nomermu ?" pinta saya.


"Ok, mana ponselmu." pinta Dian.


Tanpa ragu ragu, saya serahkan ponsel saya kepada Dian. Dian pun segera mengetik nomernya diponsel saya.


"Nih nomer saya, save loh ya." kata Dian.


"Iya. Saya jalan ya." jawab saya.


"Bentar." Dian kembali mengambil ponsel saya dari tangan saya. Dia pun menggunakan ponsel saya untuk menelfon seseorang.


"Kring... Kring..."


Ternyata ponsel di tas Dian lah yang berbunyi.


"Ok. Hati hati dijalan ya !" akhirnya Dian mempersilahkan saya untuk pergi meninggalkan halaman rumahnya.


Saya pun tanpa ragu lagi, meninggalkan Dian untuk dapat segera menghampiri distro teman saya.


"Cantik juga ya Dian. Ramah, baik dan kok saya jadi merasa kangen ya." keluhk saya dalam hati.


"Oh ya, iseng iseng selepas dari distro. saya kirim pesan ke dia deh. Basa basi apa gitu deh, semoga saja dia belum tidur." harapan saya. Harapan Jaya ! Hahaha.


Sesampainya di distro, seperti biasa. Saya melayani sebagian tamu yang mampir. Setelah tak terasa sudah pukul sepuluh malam, akhirnya saya bersama karyawan yang satu lagi menutup distronya.


Setelah distro itu ditutup dengan rapih, saya teringat lagi dengan Dian.


Sungguh ayu wajahnya, membuat saya terus membayanginya.


"Titt.. Titt.." ponsel saya berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


"Besok bisa ikut engga ? Dian." isi sms nya.


"Ok, bisa." saya pun jawab sms nya dengan singkat.


"Singkat amat jawabnya." balas Dian lagi.


"Maaf.. Maaf.. Saya sedang dijalan menuju kost." terang saya.


"Cie, baru pulang ngapel ya ?" ledeknya.


"Engga Dian. Nanti saya sambung lagi ya, kalau sudah sampai. Satu jam lagi ya." jelas saya lagi.


"Udah tidurlah saya Mas.Yowiss hati hati aja ya."


Dan malam ini ditutup oleh suasana hati yang tidak karuan. Baru kali ini ada yang memperhatikan saya.

__ADS_1


"Ah.. Paling dia lagi nyari kakak angkat kali ya. Oh ya.. Tukang ojek atau tempat sampah buat curahan dia. Hahaha... Bodo ah." isi otak saya pun seketika berkecamuk.


(bersambung..)


__ADS_2