
Pacuan motor akhirnya berakhir di sebuah rumah kostan sederhana. Nevi dan Firdaus lalu memarkirkan kendaraannya.
Lalu mereka mengajak saya ke sebuah kamar kost ukuran empat kali tiga meter yang cukup sempit namun masih nyaman bagi ukuran kami anak rantau.
"Sementara, tidur disini dulu. Terserah sampai semua urusanmu beres." kata Nevi.
"Engga usah khawatir, kalau kamu engga nyaman disini.
Disekitaran kost ini banyak kost kostan lain yang sesuai seleramu." sambungnya lagi.
"Hahaha... Lu hina saya atau apa Nev. Saya tidur dengan tenda doang juga siap." jawab saya.
"Yowis, mana kamar mandinya.
Saya gerah dari tadi nih Nev.
Saya numpang mandi ya !" terus saya lagi.
"Siap ! Nanti saya antar, anggap aja rumah sendiri ya Ndre." bilangnya.
Setelah membereskan dan merapihkan barang bawaan saya, yang saat itu hanya sebuah ransel yang penuh dengan pakaian dan juga berkas. Saya bergegas menuju kamar mandi yang diantarkan oleh Nevi, sahabat saya.
"Iki kamar mandine. Ning kene adus tok yo. Kalau mau MCK, di depan." jelasnya.
"Enggih ndoro." jawab saya, sambil bercanda.
"Asuu, emang aku majikanmu." ketusnya sambil meninggalkan saya untuk kembali ke kamarnya.
"Astaga ! " Gerutu saya dalam hati.
Kamar mandi disini tidak seperti kamar mandi pada umumnya yang ada di tempat asal saya.
Kamar mandi disini terasa sangat tidak nyaman, karena hanya berukuran dua kali satu meteran saja.
Cukup sempit saya rasa, karena bak mandinya hampir setengah ruangan itu dan menyambung ke kamar mandi sebelah.
__ADS_1
Dindingnya juga penuh dengan lumut, karena masih dengan batu bata merah yang belum dilapisi plester bahkan semen.
Lantainya juga hanya dengan keramik seadanya. Untung saja, masih ada pintu kayu yang hampir lapuk. Pintu ini pastinya membuat saya merasa agak sedikit nyaman dalam berkreasi di kamar mandi itu.
"Berkreasi ? Hahaha mandi maksudnya Broo. "
Tanpa pikir apa apa lagi, akhirnya saya tanggalkan atribut kerajaan saya. Lalu saya nikmati air terjun dari sebuah lobang di ember kecil yang ternyata juga sering dijadikan gayung di kamar mandi itu.
"Jangan ngintip ya !!"
###################################
Setelah keluar dari kamar mandi, saya berpapasan dengan seorang ibu paruh baya.
Ibu itu berwajah agak ketus dan saya lihat dia, sedang sibuk menyapu lantai.
"Permisi Ibu," sapa saya sopan, sembari berencana melaluinya menuju kamar sahabat saya.
"Eh, jenengan sopo ? Mlebu mlebu kostku." sapa saya dijawabnya dengan ketus.
"Enggih Bu. Permisi." jawab saya seadanya sambil berencana melaluinya.
"Asem di takoni kok malah rak jelas. Aku teriaki maling opo koe !."
(Untuk Translate nanti saya tulis dibawah ya. Tapi nanya aja deh sama temenmu yang orang jawa. Hahaha)
Ketus ibu itu lagi.
Kali ini dengan nada marah, sembari mengacungkan sapunya ke arah saya.
"Enggih Bu.. Enggih". karena saya kurang paham apa maksud ibu itu. Saya hanya bisa menjawab dengan kata itu.
"Metu orak sing Kostku !!" Ibu itu mulai berteriak dengan keras.
Seketika kostan menjadi ramai, semua penghuni kost itu mendadak keluar semua dari kamarnya. Hingga akhirnya...
__ADS_1
"Niku jenenge Andre Bu, koncone Nevi sing Bandung. Nyuwun sewu, kulo karo Nevi dereng nyampe izin ke Ibu."
Untung teman Nevi yang bernama Firdaus masih berada di kost ini dan keluar tepat waktu.
"Enggih Bu." lagi lagi saya hanya bisa jawab dengan kata itu.
"Oalah, selamet koe nang. Aku kiro maling koe nang." jawab ibu itu lagi, sembari tampak sedikit senyumnya.
"Koe iki nang, nang. Aku lagi nyaponi, koe asal mlaku ae. Nganggo sendal meneh." Sambungnya lagi.
"Enggih bu." lagi lagi saya jawab dengan kata itu.
"Nyuwon sewu Bu. Andre iki, ketok'e dereng iso bahasa jowo.
Lah sing Bandung kok, rak mudeng ra, yen sampeyan ngajak boso jowo." Kali ini Firdaus yang menjelaskan kondisi saya kepada ibu itu. Yang saya yakini seyakin-yakinnya kalau ibu itu adalah pemilik kost disini.
"Oiya lali, jaluk sepurone ya Nang." sahut ibu itu lagi. "Yowis ndang lungo wis, salam enggo Nevi yo cah bagus. Alalalah, piye sih aku Mas Firdaus, aku yo rak iso bahasa indonesia sih." kali ini ibu itu nampak panik.
"Hahahaha... Udah Ndre, lewat aja. Ntar aku susul ke kamar Nevi." sambung Firdaus.
"Siap Bang. Maaf ya." jawab saya.
"Permisi Ibu, Terimakasih ya Bang." sambung saya, sambil meninggalkan mereka berdua disana.
"Ganteng yo Daus, koncone si Nevi. Uwis due bojo durung ya? Gelem ora ya, karo anakku."
"Wedus, malah di jodohke." jawab Firdaus.
"We, rak sopan ! Tak balangi sapu sampean !"
"Hahahaha... Kabur ah." canda Firdaus.
Nampaknya suasana kost itu pun, sudah berangsur angsur sepi kembali.
(bersambung..)
__ADS_1