Pecundang Tandang

Pecundang Tandang
CANDU CANDU CINTA


__ADS_3

"Sanggar Rias Bu Sardi, menerima rias pengantin, wisuda, khitanan dan kesenian." plang ini berdiri kokoh di halaman sebuah rumah joglo yang saya bilang sangat antik.


Rumah adat khas Jawa Tengah ini berdiri kokoh ditengah tengah halaman yang terbilang luas, sekitaran satu hektaran.


Letaknya memang agak jauh dari rumah Dian. Lokasinya cukup dekat dengan stadion sepakbola termegah dikota itu.


Suasana rumah ini sangat adem, pinggirannya di tutupi tanaman anak nakal setinggi setengah badan orang dewasa. Didepan rumah joglo itu juga nampak satu batang pohon rambutan yang sedang berbuah lebat serta dibelakangnya ada satu batang pohon jambu air yang juga lebat buahnya.


Saya merasa saat itu, Dian bukanlah orang yang hidupnya biasa biasanya. Saya agak minder sebenarnya, setelah mengenal Dian lebih dalam.


Di belakang rumah joglo itu juga, saya lihat ada dua buah mobil terparkir rapih. Satu mobil bermuatan sebelas penumpang yang memiliki simbol berlian di moncong depannya dan satu lagi, mobil SUV pasaran Jepang dengan muatan tujuh penumpang.


Ketika saya memarkirkan motor saya dihalaman belakang rumah itu. Dian buru buru mengajak saya masuk rumah itu.


Didalam rumah itu ternyata ruang tamunya dirancang sebagai tempat rias dan salon, semuanya terlihat lengkap. Dari alat keriting rambut yang seperti helm besar di kaitkan disebuah tiang, ada kursi keramas bahkan kursi untuk membersihkan kuku kuku tamunya.


Belum lagi di ruang tengahnya, terdapat 2 lemari besar besar berisi lengkap koleksi baju adat atau baju baju pengantin yang tergantung rapih.


Saya mengikuti kemana Dian menarik saya. Ternyata Dian mengajak saya ke sebuah kamar di ruangan tengah itu. Disana ada sebuah ranjang namun setengahnya penuh dengan keranjang keranjang lamaran dan kain kain batik yang mungkin untuk berbagai resepsi acara.


Begitu polosnya Dian mengambil kesempatan ditengah sunyinya rumah ini. Dian ternyata menarik saya kedalam kamar itu, Dian langsung ******* habis kalimat saya sebelum saya sempat bertanya.


Bibir saya menjadi basah, karena begitu liarnya sosok hawa yang satu ini. Tapi saya sama sekali tidak melihat dia seperti cewek murahan, saya rasa masih ada sisi anggun Dian dalam mengeja garis garis bibir saya.


Setelah merasa puas bermain disekitaran wajah saya, Dian langsung menatap saya.


"Bantuin saya beresin semuanya ya." pinta Dian.


"Ya, pasti saya bantu. Biar cepat selesai." jawab saya.


"OK, nanti aku kasih bonus." goda Dian.


Tanpa basa basi lagi saya ambil alih kendali di kamar itu. Dian mengambil alih bagian depan.


Entahlah, sebenarnya saya kurang paham juga, konsep Dian seperti apa. Tapi saya pikir, ya saya bereskan saja biar tertata rapih.


Setelah selesai merapihkan sisi kamar tadi, saya beralih ke ruang tengah. Ternyata Dian sedang mengecek kondisi gaun gaun dan pakaian yang tergantung rapih di lemari.


Dia nampak teliti sekali, mengecek gaun gaun itu satu demi satu. Sesekali saya iseng memeluknya dari belakang. Namun saya malah disambutnya dengan sentuhan sentuhan manis di bibir saya.


Saat ini saya masih bisa mengontrol emosi saya. Karena saya sadar, saya adalah tamu.


"Teng... Teng... Teng... Teng..." dua belas bunyi lonceng itu tiba tiba mengejutkan kami berdua.


Ternyata burung eletrik yang tertanam di tembok ruang tengah rumah joglo itu telah menunjukkan pukul 12 siang.


Sayup sayup saya dengar suara adzan dhuhur berkumandang. Karena saya sudah sedikit melupakan jadwal sholat semenjak Dian berada di kostku, saya segera menuju kamar mandi di rumah itu untuk.mengambil wudhu.


Lalu saya melakukan ibadah itu didalam kamar Dian dan saya biarkan pintunya terbuka. Hanya dengan feeling dimana arah kiblat, saya lakukan gerakan demi gerakan hingga kewajiban saya berakhir.


Ketika saya berbalik badan, saya malah melihat Dian sedang duduk persis di depan pintu kamar tempat saya menunaikan sholat. Kira kira saya merasa Dian pasti tahu dengan jelas apa yang saya lakukan didalam kamar itu.


"Habis sembahyang ?" tanya Dian.


"Iya Yan, maaf ya. Saya pakai kamarnya." jawab saya.


"Engga apa apa." jelasnya. Namun kali ini dia terlihat agak murung.


"Loh, kamu kenapa ?" tanya saya. "Capek ya ? Sini saya pijitin."


Saya pun lalu berjalan dibalik kursi yang dian sedang duduki. Saya pijit pelan bahunya, Dian pun menikmati pijitan saya. Lalu belum sempat tiga menit saya memijit Dian.


"Ndre, sini." pinta Dian sambil menarik tangan saya, agar saya bisa berdiri didepan. Posisi wajah Dian.menjadi persis menghadap perut saya. setelah itu, Dian memeluk saya lagi. Pelukkannya begitu erat menandakan bahkan ada sesuatu yang sedang dipikirkan Dian.


"Kamu mikirin apa ?" kata saya kepada Dian.


"Ndre, jika hal itu harus kamu pilih." suara Dian pelan. "Kamu lebih memilih Ibumu atau Aku ?" tanya Dian.


Mendengar pertanyaan itu saya langsung sejajarkan lutut saya dilantai. Saya usap poni rambut Dian yang sudah hampir menutupj matanya.


"Dian, saya pasti akan memilih Ibu saya. Karena tanpa pengorbananya, saya belum tentu bisa ketemu kamu." jawab saya.


"Ndre, sebelumnya kamu tahu tidak kalau saya berbeda ?" Dian melanjutkan pertanyaannya lagi.


"Jujur, saya tidak tahu Yan." jawab saya.


"Saya yang sebenarnya sudah tahu, Ndre." jelas Dian. "Cuma dulu Ibu saya sama seperti kamu. Itu yang menguatkan saya memilih kamu."


"Kok kamu tahu," tanya balik saya.


"Ya, ibu saya sendiri yang cerita sama saya lah Ndre."

__ADS_1


"Oh iya ya." saya dengan polos menerima jawaban itu. "Terus kamu kenapa nanya begini ?" tanya saya lagi.


"Saya cuma membayangkan kalau hari itu tiba, kamu akan pergi kearah yang mana." jelas Dian.


"Baru kemarin kita jadian Yan, pertanyaan kamu kok sekarang berat begitu ya." canda saya.


"Enak aja, tiga hari yang lalu iya." protes Dian.


"Oh iya ya, lupa." jawab saya.


"Ndre, janji sama saya." pinta Dian lagi.


"Apa tuh ?" sahut saya.


Dian langsung mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Jangan nakal lagi kayak semalam ya." jelas Dian.


Entahlah, saya tidak paham dengan maksud Dian. Saya hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Ok, kalau kamu tidak memaksa." jawaban saya, saya berharap kata kata ini mengena ke hati Dian.


Setelah semua ruangan itu kami anggap sudah rapih, kami lalu beralih ke halaman.


Melihat sungguh banyaknya buah rambutan, saya segera memanjat pohon itu.


Dian berteriak agar saya selalu berhati hati, saya pun mengiyakan. Sedikit demi sedikit buah rambutan yang terdekat dengan saya, saya petik dan saya minta Dian untuk mengumpulkannya dibawah.


Dian kelihatan bahagia sekali. Dia tampak bersemangat mengumpulkan buah buah rambutan yang sengaja saya jatuhkan. Dan sesekali dia meminta saya memetikkan buah yang iya tunjukkan.


Setelah terkumpul banyak, saya bergegas turun.


Dian pun begitu, setelah tahu saya telah selesai memetik buah rambutan itu. Dia bergegas mebawa keranjang itu ke kamar mandi. Rupanya Dian ingin mencuci terlebih dahulu buah itu.


Saat sudah terlihat bersih, saya dan Dian memakan buah itu bersama sama di bale yang terdapat di samping rumah itu.


"Manis juga ya, rambutannya." puji saya. "Kenapa engga sering di tuai sih Yan ?".


"Tau, Mas Chris males banget kalau disuruh papah petikinnya disini." kata Dian.


"Oh.. Pantesan."


Satu jam tidak terasa saya menikmati buah rambutan bersama Dian di bale ini. Mata saya pun terasa berat dan mengantuk. Hingga tidak terasa saya pun tertidur.


"Nduk.. Nduk..." Dian terbangun dan saya pun ikut terbangun.


Ternyata ketika saya tertidur di bale bale ini, Dian pun ikut tertidur. Cuma yang bikin panik itu, Dian tidurnya sembari memeluk saya sebelum Mas Chris membangunkannya.


"Oh maaf Mas." jawab saya.


"Opo Mas," jawab Dian.


"Koe diundang mamah, mrono mlebu ning jero sik." Kata Mas Chris. (Sorry, gara gara Dian selalu memanggil Mas Chris. Saya pun ikut dengan Dian, memanggil calon kakak iparku dengan Mas Chris).


"Whattt, Anjrittt !!" panik saya dalam hati.


Saya hanya bengong saja, sudah tidak tahu harus bagaimana saat Dian mulai beranjak memasuki rumah joglo itu. Saya sendiri tidak tahu, Mas Chris sudah berada disini semanjak kapan. Ternyata waktu ashar sudah tiba, sepertinya jika semuanya saya rasa beres. Saya akan segera pamit pulang.


Setelah menyuruh Dian masuk rumah joglo itu, Mas Chris langsung meninggalkan saya.


Gelagatnya biasa saja, dia langsung menancap gas motornya dan tidak tahu mau kemana.


Lima belas menit berlalu, Dian pun belum juga kembali. Saya mulai panik, saya takut ibunya Dian tidak suka dengan kelakuan teman anaknya ini. Ditambah lagi, pakaian saya hanya t-shirt kucel dengan celana jeans yang robek besar di sekitaran lutut. Tidak ideal lah, bagi calon menantu.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya Dian memanggil saya dari pintu rumah joglo itu. Dian menyuruh saya ikut juga masuk untuk menemui Ibunya Dian.


Saya pun menghampiri Dian dan menuju ruang tengah. Di ruang tengah, Ibunya Dian nampak sedang sibuk merapihkan gaun gaun baru yang ia bawa untuk kembali digantungkan ke dalam lemari.


Malihat saya dan Dian memasuki ruangan itu, Ibu Dian menyuruh saya duduk di sebuah kursi matu pengantin yang ada diruangan itu. Ibu Dian duduk di kursi pengantin dan langsung menghadap kesaya. Sedangkan Dian bergegas ke kamar, entahlah Dian dapat tugas apa dari ibunya.


"Andre, serius sama Dian ?" tanya Ibunya Dian.


Seketika saya langsung pucat ketika mendapat pertanyaan itu dari Ibunya Dian.


"Serius Tante." saya jawab sekenanya.


"Orang tua Andre, kesibukannya apa ?" tanya Ibunya Dian lebih intens lagi.


"Oh, Ayah saya seorang wirausahawan Tante. Kalau Ibu saya seorang perawat." jawab saya.


"Oh ya, perawat di RS mana ?"

__ADS_1


"Di salah satu RS Swasta di pusat kota Bandung, Tante." jawab saya lagi.


"Ayah usaha dibidang apa, Ndre ?"


"Di bidang Niaga, Tante." jawab saya.


"Oh pedagang ya." jelas Ibunya Dian.


"Iya Tante. Ayah saya asli padang sunda sebenarnya. Ibu saya jawa manado." ungkap saya lebih jelas lagi.


"Oh, iya. Tante mah cuma jawa tulen dan papahnya Dian juga cuma jawa cilacap." terang Ibunya Dian.


"Andre sudah lama kenal Dian ?" sambung beliau lagi.


Disini saya bingung, harus menjawab apa. Akhirnya...


"Saya temen kuliahnya Dian, Tante." jawab saya.


"Oalahhh, pantesan. Semester berapa Ndre ?" tanya ibunya Dian lagi.


"Ini sedang penetapan judul skripsi Tante. Semoga tahun depan sudah selesai." jawab saya.


"Semangat ya Ndre, Tante doain yang terbaik buat Andre. Sering sering nanti main kesini."


jelas Ibunya Dian.


Kalimat "Sering sering main kesini". Kalimat ini terasa ambigu bagi saya.


"Apakah saya direstui atau Tidak boleh terlalu sering mainkah, maksudnya." dilema dalam hati saya.


"Terimakasih Tante." saya hanya jawab itu saja.


Setelah jawaban itu, Ibunya Dian kembali sibuk merapihkan pakaian pakaian yang baru datang untuk di.masukkan ke dalam lemarinya.


Saya masih duduk di kursi itu, saya bingung saya harus bagaimana. Hingga akhirnya saya beranikan diri untuk membantu Ibunya Dian.


"Biar saya bantu, Tante." kata saya.


"Engga usah Nak Andre, kalau mau bantu mungkin susul Dian aja ya." jawab Ibunya Dian.


Akhirnya saya menyusul Dian di kamar. Nampak Dian sedang kerepotan menaik naikkan keranjang lamaran ke atas sebua mezzanin penyimpanan yang sekilas seperti plavon di kamar itu.


Saya meminta bertukar posisi, saya di posisi atas menaiki tangga untuk memasukkan perlengkapan itu kedalam mezzanin sedangkan Dian di bawah tangga yang menyiapkan segala hal yang perlu disimpan.


"Mamah, nanya apa Ndre ?" tanya Dian.


"Oh, mamah cuma nanya saya sudah makan atau belum doang." canda saya.


"Emang iya, ah... Serius !" rengek Dian.


"Hahaha..." saya pun tertawa melihat ekspresi lucunya anak bungsu yang satu ini. "Tidak Yan, mamah tadi nanya tentang kuliah saya saja." jelas saya. "Mamah minta saya lekas selesaikan kuliahnya, lalu segera melamar kamu Yan." rayu saya.


"Masa sih. Perasaan, mamah engga bahas itu, waktu sama saya tadi." Dian merasa aneh.


"Iya memang bahas itu saja kok." jelas saya lagi.


"Ya sudahlah, kalau begitu." Akhirnya Dian pun menyerah.


"Kamu sendiri pas dipanggil mamah, bahas apa Yan." tanya saya.


Belum sempat Dian bercerita. Ibunya Dian malah minta pamit.


"Diann... Mamah pulang dulu ya. Kamu jangan sore sore disini. Kalau sekiranya sudah rapih, cepetan pulang ya" Sapa Ibunya Dian.


"Iya mah. Jam 4 an nanti Dian pulang. Sebentar lagi ya." Dian menjawab.


"Ndre, tante pamit dulu ya. Mampir ke rumah ya, Ndre !"


"Baik tante. Terimakasih." balas saya.


Ibunda Dian pun beranjak pergi meninggalkan kami berdua di rumah itu, kami pun bersama sama mengantarkan Ibunya Dian hingga ke halaman. Ternyata Mas Chris juga telah datang lagi untuk mengantar Ibunya Dian pulang.


Setelah memboncengi motornya Mas Chris, Ibu dan Mas Chris menghilang di persimpangan.


"Ayo, Ndre. Kita rapihkan sedikit lagi, terus pulang." ajak Dian.


Saya lihat Dian tampak masih semangat sekali.


Sedangkan saya ternyata sudah mulai merasakan lemas dan lapar.


Setelah finalisasi dan verifikasi ruangan demi ruangan telah terlihat rapih. Kami pun bergegas meninggalkan rumah joglo unik itu.

__ADS_1


"Unik.. Uniknya dimana sih? Uniknya seperti rumah rumah joglo yang sering kita lihat ketika mau ke Kudus atau Rembang. Joglo yang semua ornamentnya berasal dari kayu jati dan atapnya yang sering disebut dengan pancu."


(bersambung..)


__ADS_2