
Setiap langkah pasti ada akhirnya, semua perjuangan pasti akan berakhir dengan kemenangan.
Saya berdiri menyanyikan lagu kebangsaan dengan mata berkaca kaca.
Akhirnya, saya telah gagah memakai toga.
Sebagai Apoteker muda.
Orang tua saya di tribun nampak bangga, ketika anak kesayangannya maju ke mimbar untuk disematkan.Tangis haru bahagia, mewarnai suasana ruangan itu.
Saya lihat Nevi dan Risa saling bergandengan tangan. Saya ingin menggandeng siapa ? Hahaha.
Saya lihat Dian juga matanya berkaca kaca, tapi saya hanya sebatas melihat saja.
Setelah semua tersematkan, kita sama sama membaca sumpah profesi dan diakhiri rangkaian pidato motivasi.
Acara wisuda pun akhirnya selesai. Risa dan Nevi menghampiri saya, kami saling mengucapkan selamat dan saling melepas kebahagiaan.
"Rencana habis ini kemana Ka ?" tanya Risa.
"Saya paling kerja di Jakarta, Sa." jawab saya.
"Kamu gimana ?" tanya saya lagi.
"Saya tergantung Nevi." jawab Risa.
"Saya akan nyari kerja di sini aja Ndre. Jika sudah mapan nanti saya undang ya." Sahut Nevi.
"Aamiin, semoga kalian langgeng ya." Doa saya untuk Nevi dan Risa.
__ADS_1
"Ndre, selamat ya." tiba tiba Meta menyapa saya dan menjabat tangan saya. Saya pun membalas Meta.
"Kamu habis ini, mau kemana Ndre ?" tanya Meta. Lagi lagi ingin tahu saya kemana selepas wisuda.
"Saya mungkin akan hijrah ke Jakarta, Met." jawab saya. "Kamu, gimana ?" tanya saya balik.
"Saya kemungkinan ke Jakarta juga, Ndre. Kebetulan saya sudah keterima kerja di salah satu rumah sakit swasta disana." balas Meta dengan antusias.
"Oh ya, boleh dong saya ikut." pinta saya.
"Boleh, masih butuh beberapa orang Apoteker lagi kok Ndre. Cabang mereka kan banyak." sambut Meta.
Akhirnya lega juga saya, saya sudah punya gambaran kemana langkah saya selanjutnya. Terimakasih Meta.
Meta itu sebenarnya cantik dimata saya, sepertinya dia juga posisinya masih sendirian. Ini terlihat ketika wisuda, hanya orang tuanya saja yang hadir. Beda seperti beberapa wisudawan lain, mereka ditemani oleh calon pasangan mereka masing masing.
Konon kata Meta juga, Dian akan segera melangsungkan pernikahannya bersama Yoga setelah selesai wisuda. Kurang apa Yoga, Dia seorang Dokter muda. Orang tua mana yang akan menolak, jika Yoga ingin melamar anak gadisnya.
Yoga juga dari golongan yang sama dengan Dian. Akhirnya saya dan Dian tidak perlu repot repot mengalah demi cinta dan meninggalkan keyakinan kita.
Anggap saja, saya dan Dian adalah sepasang kekasih yang sama sama menjaga jodoh orang lain.
Beginilah, kisah saya. Seorang Pecundang Tandang. Mohon maaf, jika bendahara bahasa saya masih berantakan dan kacau. Karena ini adalah karya pertama saya dalam membuat novel.
Novel ini saya buat di tahun 2010, kisah ini hanya fiktif ya. Jika ada kesamaan tokoh itu hanya kebetulan.
Pesan saya, untuk para pembaca.
__ADS_1
Teruslah berjuang, untuk menggapai cita citamu. Meskipun cintamu kandas bukan berarti hidupmu juga berakhir.
Jangan memaksakan sesuatu, apalagi sampai meninggalkan Tuhanmu untuk cinta. Karena keyakinan kita sama sama memperbolehkan kita mencintainya namun jangan mengambil dia dari Tuhannya.
Novel ini siap untuk di revisi dan dikembangkan lagi.
Selesai dan Terimakasih.
###################################
T A M A T
__ADS_1