Pembantuku Konglomerat

Pembantuku Konglomerat
Kamar terlarang


__ADS_3

Suara tangis membuyarkan semua kegiatan. Balita itu memekik begitu kencang memanggil Mamanya. Sora pun berlari, disusul Bik Mun dari belakang yang langkah kakinya mulai sedikit payah.


Sora melihat Lila sudah berada di ujung tempat tidur dan nyaris jatuh. Ia langsung meraih dan menggendong Balita bertubuh mungil itu dalam pelukannya, serta tangannya yang terampil membuatkan susu untuk anak asuhannya itu.


"Kamu sudah biasa ngasuh?" tanya Bik Mun.


"Sudah, saya sering ngasuh ponakan kalau Mamanya pergi." jawab Sora.


Bik Mun melihat Lila yang langsung tenang, dan menyenderkan kepala di bahu Sora dengan dodotnya. Langsung akrab, dan tak ada rasa canggung.


"Pas, Lila suka sama kamu. Pandai-pandai lah lagi mengambil hatinya. Di usia segitu, Ia suka tantrum. Sama, seeperti para Abangnya."


"Bukannya cuma Bang Niji?"


"Tidak, ada Satu lagi. Tapi sedang merantau." ucap Bik Mun, yang sudah  di perintahkan untuk merahasiakan keadaan Putra sulung keluarga itu.


"Owh..." ucap Sora, dengan menggoyang tubuhnya menenangkan Lila.


Sora dan Lila tampak begitu cepat akrab. Mungkin karena Sora pernah menggendong Lila sebelumnya. Mereka pun bermain bersama di kamar Lila, makan bersama, dan bahkan bernyayi seperti kebiasaan Lila dan Niji.


"Ini Kakak siapa?" goda Sora pada Lila.


"Kakak ola..." jawabnya dengan ceria.


Sora pun ikut gembira dan memeluk Lila sembari menggelitikinya sampai terkikik kegelian. Membuat Pak Rudi yang melihatnya semakin yakin untuk menitipkan sang bungsu pada Sora.


"Ra... Bapak kerja dulu, ya? Titip Lila sampai Niji pulang. Setelah itu, kamu boleh pulang dan bereskan semua barang untuk pindah kemari."


"Loh, saya nginep?" tanya Sora.


"Ya, nginep. Sekalian, supaya ngga bolak balik. Jadi kamu juga ngga usah ribet bayar uang kost, lumayan kan uangnya buat yang lain." balas Pak Rudi.


"Ah, Bapak... Udah ganteng, pengertian lagi."


"Hah?"


"Aah, engga, Pak. Saya cuma lihat Bapak kayak Ahjussi korea pavorit saya." jawab sora.


"Ada ada saja kamu ini." ucap Pak Rudi, sembari menyunggingkan senyumnya yang menawan.


Pak Rudi pergi, tinggal lah Bik Mun dan Sora di rumah. Bik Mun pun kemudian pergi sebentar untuk mencari bahan untuk memasak.

__ADS_1


"Bibik naik motor?" tanya Sora.


"Iya, kenapa?"


"Nanti pinjem motor sebentar, mau pulang kost buat pamit."


"Iya, nanti bawa aja." jawab Bik Mun.


Sora kini menemani Lila bermain dengan bola-bola yang penuh dalam kolam balon miliknya. Ia seketika teringat sang keponakan yang pasti juga merindukan dirinya saat ini.


"Ito, rindu lah..." gumam Sora dalam diamnya.


♦️♦️♦️


"Ji, ngapain kau? Lemes nian hari ini?" tanya Jhon.


"Kepikiran Lila," jawab niji yang menidurkan kepala di meja kantin kampusnyam


"Lah_Lila kenapa, sakit? Makanya, jangan di bawa ngeluyur." Sahabat niji justru mengomelinya. Meski mereka dekat, kadang niji terlalu sering membawanya keluar apalagi untuk berkumpul dengan para sahabatnya yang lain.


"Bukan... Lila punya pengasuh, tapi kayak kurang srek sama pengasuhnya."


"Ibu-ibu biasanya lebih berpengalaman loh, kenapa malah cemas?" sambung Leo.


Mendadak fikiran Niji menggambarkan sesuatu yang buruk pada Lila. Apalagi, Mama dan Papanya otomatis sudah tidak ada di rumah pada jam ini.


Bayangan-bayangan kekejaman  terus menghantui, suara tangis Lila terbayang-bayang dalam fikirannya. Ia pun terbayang tawa puas Sora ketika hatinya puas memainkan Lila. Fikirannya semakin kacau, dan halusinasinya semakin tak terkendali.  Membuatnya sulit untuk fokus pada yang ada di hadapannya.


"Wooy, ngapain ngelamun?" tegur Jhon dengan menepuk bahunya.


"Njiiir, kebayang-bayang Lila." ucap Niji.


"Telepon ke rumah kan bisa, kenapa ribet."


Niji pun segera mengambil Hp, lalu menelpon ke rumahnya. Sedikit lama, membuatnya semakin gelisah.


"Mana sih?" gerutunya.


Kaki Niji bergoyang-goyang, kepalanya berkali-kali Ia usap dengan kasar.


"Sabar, Ji... Siapa tahu mereka sibuk."

__ADS_1


Niji tak menjawab, dan terus berusaha menelpon.


"Hallo..." jawab Sora..


"Eh, iya... Hallo, mana Lila?" tanya Niji.


"Lila? Lagi dodot, abis mandi tadi. Kenapa?"


"Rewel ngga, atau gimana?" tanya niji dengan nada cemasnya. Memang begitu cemas karena lila tak pernah disentuh orang lain selain dia dan keluarganya.


"Ih, lebay... Orang Lila juga diem daritadi. Nangis cuma bangun tidur doang. Kenapa, suudzon?"


"Ya, cemas aja. Wajarlah, namanya sama orang baru. Yaudah, mau lanjut kuliah lagi."


"Hmmmm...." jawab Sora singkat, lalu mematikan teleponnya.


Niji pun bernafas lega, dan segala khawatirnya seketika hilang. Kini Ia kembali tenang dan siap kembali dengan kuliahnya.


Niji saat ini menjadi mahasiswa tertua di kelasnya. Bahkan Jhon dan Leo berusia Dua tahun lebih muda dari Niji yang seharusnya menjadi kakak tingkat mereka. Tapi, mereka justru bersahabat sangat akrab tanpa menanggalkan rasa hormat pada yang lebih tua.


Harusnya Niji semester akhir sekarang, tapi terhenti hanya karena semua kesibukan tak pentingnya. Kala itu, Ia belum sadar arti sebuah tanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga.


Seperti yang telah di laporkan, Lila kini sudah mandi, dan sudah rapi dengan pakaian sorenya. Padu padan antara rok tutu dan baju berbahan rajutan, serta rambutnya yang di ikat Dua kanan kiri, menambah lucu dari balita yang sedang aktif itu.


"Mama Lila, kalau pulang jam berapa, Bik?" tanya Sora pada Bik Mun.


"Kadang sore, kadang malam. Soalnya, Nyonya di IGD, terus kadang bantuin temen di praktek pribadi." jawab Bik Mun, yang kembali harus berbohong.


"Berarti, Lila jarang ketemu Mamanya ya? Kasihan. Kenapa masih ngotot kerja begitu, padahal Bapak udah kaya raya?" tanya sora. Penasaran, karena biasanya sanggup meninggalkan pekerjaan demi keluarga. Namun, yang terjadi adalahnm sebaliknya.


"Ah, jangan terlalu ikut campur lah. Kerjakan saja apa yang perlu di kerjakan. Yang tidak perlu, jangan terlalu di fikirkan." balas Bik Mun.


Sora seketika merasakan sesuatu. Seperti ada yang tengah bik mun sembunyikan darinya. Tapi kembali lagi, jika ia adalah orang baru dirumah itu. Ia tak berhak terlalu banyak bertanya dan ikut campur disana.


" Seperti familiar, itu saja." Sora membatin dan memegangi dadanya.


"Kamar yang disana, sora jangan masuk." Bik mun menunjuk pada sebuah kamar kosong yang ada didekat kamar niji. Ia tampak begitu serius ketika melarang sora untuk masuk, apalagi mencari tahu isinya. Seperti sebuah misteri, dan semakin dilarang sora akan semakin penasaran.


" Jaga diri sora... Kamu masih butuh disini untuk persembunyian kamu. Jadi, jangan macam-macam." Sora menahan diri dengan segala rasa penasaran yang ada. Jiwa petualangnya seakan terus memanggil seperti ada sesuatu di dalam sana.


"Sora," tepuk bik mun ketika sora melamun.

__ADS_1


"Iya, maaf..."


__ADS_2