Pembantuku Konglomerat

Pembantuku Konglomerat
Keliling kota bersama lla


__ADS_3

Bisakah kau mendengar suaraku? Apakah kau tidak tahu, hatiku begitu putus asa.


Hatiku terasa sakit setiap hari.


Kau tertinggal di hatiku, dan Aku akan hidup seperti ini hingga akhir. Aku hidup tanpa mengatakan apapun.


***


"Olaaaa!" panggil Lila dengan suara nyaringnya.


Mereka kini bermain bersama dengan semua mainan yang Lila miliki. Kuda-kudaan, bola, tenda, dan semuanya. Sora menemani Lila bermain sesuka hati, sedangkan Niji sedang mengerjakan tugas online nya di kamar.


"Harus selesai siang ini. Udah terlanjur ajak Sora main ke pantai soalnya." ucap Niji yang fokus pada laptopnya.


"Lila haus belum, kalau haus bilang ya? Nanti Ola buatin tutus." ucap Sora.


"Hawus, nini... Hawus..." balas Lila dengan mengusapi lehernya.


Sora pun menggendong Lila, dan membawanya ke dapur. Dengan satu tangan, Sora berhasil membuatkan susu untuk Lila, dan segera balita mungil itu habiskan dalam seketika.


"Nonton ipin, nonton ipin..." tunjuk Lila pada Tv besar di ruang tengah.


Sora langsung mengerti, dan menghidupkan Tv untuk Lila. Ketika memencet remote untuk mencari chanel, tiba-tiba ada berita tentang keluarganya.


Isi berita itu adalah pernikahan mewah dari putri Prasasti yang selama ini di banggakan. Sora menatapnya dengan memicingkan mata, karena terkejut dengan langkah yang Papinya ambil demi melindungi nama keluarga.


"Siapa yang menikah? Kenapa tak di perlihatkan wajah pengantinnya?" gumam Sora.


"Lah kan kau tahu, itu pewaris utama pemilik hotel besar di indonesia. Kenapa kau tanya lagi?" sambung Niji, yang begitu mengagetkan Sora.


"Iya, tapi penasaran aja sama foto mempelainya. Dan... Bukannya kemarin dikabarkan pergi dari rumah?" balas Sora.


"Anak konglomerat kayak gitu, mana ada yang betah pergi dari rumah lama-lama. Mereka ngga akan tahan dengan dunia luar, apalagi harus meninggalkan semua fasilitas yang do berikan Papanya. Mana ada...." ucap Niji dengan nada ledekan.

__ADS_1


"Contohnya Elu...." tunjuk Sora pada Niji.


"Apaan sih, kok jadi aku." balas Niji dengan tawa renyahnya.


Niji mengambil alih Lila, sementara Sora membereskan rumah menggantikan Bik mun yang belum juga kembali. Sora menyapu dari depan kebelakang, lalu mengepelnya hingga bersih mengkilat. Bahkan Ia pun tak menyangka, bisa mengerjakan semua itu sendirian.


"Beres.... Ternyata gue pinter juga bebersih gini." bangganya pada diri sendiri.


Ketika hari menjelang sore, Niji kembali mengajaknya pergi sesuai janjinya. Lila sudah mandi dan di dandani dengan cantiknya, dan Sora pun sudah rapi dengan pakaian alakadarnya.


"Kemana kita sayang?" goda Sora Lila.


"Antaiiiiii..." sorak gadis mungil berkucir dua itu dengan begitu gembira.


"Suka ke pantai?"


"Sukaaaaaaa... Mau lihat antaaaai!" jawabnya lagi.


"Tapi Lila ngga boleh mandi air pantai, dia alergi."


Dengan motor Bik Mun, mereka mneyusuri setiap jalanan kota bengkulu. Niji sengaja membawa mereka berputar-putar terlebih dulu, dan menikmati suasana kota.


Kota dengan sejuta kenangan, meski hanya beberapa tahun di tinggali Sora bersama Maminya. Lima tahun sebenarnya, tapi Sora belum bisa mengingat kenangan semasa Bayi. Di usia Tiga tahun pun, terasa samar baginya, ketika Maminya di labrak Mami Dewi, Istri pertama Papinya.


Kenangan itu begitu pahit, karena Mami Sora sampai terluka parah dan robek di bagian bibir. Sedangkan Sora, hanya bisa bersembunyi di balik hordeng ruangan itu. Bahkan untuk menangis pun Ia tak berani.


"Begitu banyak perubahan disini. Banyak pembangunan, dan pergantian bangunan lama menjadi baru." ucap Sora.


"Ya, sepuluh tahun belakangan memang banyak renovasi. Gedun-gedung yang sudah kurang layak, dihancurkan dan di bangun baru yang lebih modern. Sedangkan yang masih bagus, hanya akan di renovasi." jawab Niji.


"Itu, patungnya...." pekik Lila dengan menunjuk patung Fatmawati di simpang Lima.


"Iya, besar sekali. Cantik kan?" balas Sora, dan Lila hanya mengangguk.

__ADS_1


Kembali berputar-putar, Lila mengajak mereka untuk memberi makan Rusa di Rumah Dinas Gubernur Bengkulu.


"Kasih makan Uca, ayok." rengeknya yang memang jarang diajak keluar rumah.


"Gimana?" tanya Niji pada Sora.


"Ayok, lagian baru jam segini. Sekalian aja senengin nih anak." jawab Sora dengan santai.


"Horeee... Kasih makan Ucaaa..." sorak Lila.


Rumah Dinas Gubernur Bengkulu merupakan salah satu alternatif, tujuan wisata untuk mengusir kepenatan dari lelah saat bekerja selama sepekan bersama anggota keluarga. Disini, wisatawan dapat menikmati puluhan rusa jinak, yang dilepas di halaman Rumah Dinas.


Tidak hanya itu, wisatawan dapat memberikan secara langsung makanan kepada rusa. Untuk memberikan makanan ke rusa tersebut, wisatawan dapat membeli buah pepaya dan kangkung, yang disediakan belasan pedagang di depan pagar rumah dinas Gubernur itu.


Dan tak kalah indahnya, di seberang tempat mereka saat ini, ada sebuah mercusuar yang sering di sebut dengan View tower. Disana termasuk tempat tongkrongan anak muda, karena suasana yang selalu ramai setiap harinya. Dan banyak permainan yang akan memanjakan anak-anak yang datang.


"Kasih makan rusanya udahan yok, kan mau ke pantai." bujuk Sora.


"Ke pantai nian?"


"Iya, ayok..." gendong Sora padanya.


Bertiga, mereka kembali menyusuri jalanan. Kembali melewati kampung cina, tapi arahnya berputar ke kanan dari arah yang di ambil Sora kemarin.


Dari kejauhan pun sudah nampak, para pemuda dan anak-anak yang berenang dalam siraman ombak pantai yang landai. Karena memang, disana lah tempat para wisatawan di izinlan untuk berenang di pantai dengan batasan yang tersedia.


Sora pun mengambil tempat duduk yang nyaman, dan berhadapan langsung dengan toples Opak yang Ia incar.


"Nah, makanlah. Kuahnya mantep itu." Niji mempersilahkan.


Dan Sora pun tak segan untuk mengambil opak berukuran bulat dan besar itu, lalu menyiramkan kuah sate di atasnya. Ia begitu menikmatinya, sembari mentap lautan dengan berbagai macam bentuk orang yang sedang mandi di sana.


" Ola, mau." pinta Lila.

__ADS_1


"Ini pedes, ambil yang lain aja. Potongan sama Abang ya?"


"Apaan, aku ngga doyan itu kok. Abisin aja sendiri." balas Niji, yang asyik dengan Hpnya.


__ADS_2