
Sora bisa tidur dengan nyenyak dan bangun dengan segar pagi ini. Apa yang dijanjikan mama fatma membuat harinya penuh semangat dan penuh dengan harapan baik kedepan. Sora segera melakukan tugasnya pada ila, dari bangun, mandi hingga sarapan bersama kedua orang tuanya. Entah jam berapa papa ila pulang, hingga pagi ini tampak sarapan bersama mereka berdua disana.
Usai sarapan mereka seolah kembali ke pos masing-masing, berpencar menjalani kesibukannya sendiri. Kecuali niji, yang tumben justru duduk membuka laptop dan bukunya.
"Abang kenapa?" tanyq sora yang menghampirinya, sementara ila tengah asyik dengan berbagai mainan yang ada di depan tv.
Mulai berserak lagi, tapi asal ila nyaman dan bahagia semua tak masalah. Yang bahaya adalah ketika si kecil ila mendadak minta ke pantai ditengah hari bolong dan tantrum hanya karena keinginannya tak dituruti dengan segera.
"Ini, ada tugas aku rupanya. Aku lupa, mana susah pula." Niji langsung menggauruki kepalanya, ia sama kelelahan semalam hingga langsung tidur lelap dan mendadak pagi ketika membuka mata.
Sora meraih tugas itu, dan ia sejenak membacanya. Ia lantas tersenyum miring menatap niji dan meraih buku yang ada ditangannya.
"Begini aja kau dak tau. Ini dasar ilmu management, Jik!" Sora meledeknya.
"Sok bisa,"
__ADS_1
"Lah emang bisa. Kan aku udah bilang aku sarjana, ngga percaya? Apa imbalan kalau aku bisa kerjain semuanya?" tantang sora. Ia juga tak mau rugi, pasalnya semua itu bisa ia kerjakan dengan cepat saat itu juga.
"Ku asuh ila seharian, kau jalan-jalan pakai motor aku. Gimana?"
Deal! Sora segera mengerjakan semua tugas niji. Ia mengerjakannya dengan begitu santai dan tenang seakan tak ada beban dalam kepalanya saat ini. Sementara niji terus memperhatikannya sembari melirik ila bersama mainannya.
Tak sampai satu jam, sora benar-benar mengerjakan semuanya dengan baik dan memberikannya pada niji. Tak ada sedikitpun coretan disana, semua mulus dan rapi tapi niji juga tak dapat memastikan kebenarannya..
"Aku kekampus. Kalau sampai salah, kena kau!" tatap tajam niji penuh ancaman, tapi sora justru begitu santai membalas tatapannya. Bahkan tersenyum, begitu percaya diri tak ada kesalahan dilembar yang ia kerjakan.
Satu jam, Dua jam, dan Tiga jam akhirnya berselang. Niji kembali pulang dari kampusnya dan langsung menghampiri sora yang tengah santai menyuapi ila sembari menonton tabnya.
" Nih," ucap niji sembari memberi kunci motor dan STNKnya pada sora. "Minyak ku isi full, sesuai permintaan."
Sora tersenyum puas mendengarnya, sudah jelas jawaban sora benar semua karena masih terekam jelas pelajaran itu dikepalanya saat ini. Ia menyelesaikan makan siang ila terlebih dahulu, kemudian bersiap untuk pergi siang ini.
__ADS_1
" Sendiri?"
" Iyolah, kan katanya me time. Apalagi bensin motor full," jawab sora dengan girangnya. Ia seperti mama muda yang tengah stres dan butuh waktu untuk menghibur dirinya.
Tapi tidak, Sora menilik rumah lawas mamanya yang sudah begitu ia rindukan suasananya. Sayang, ia harus menyamar seolah pengunjung yang numpang istirahat diteras rumah itu pada penjaga yang menunggunya disana.
"Rumahnya ngga pernah ditunggu ya, Bi?" tanya sora.
"Sesekali ada yang datang, Tuan rumah."
Deg! Jantung sora berdegup dengan amat kencang saat ini.
Bibik juga tahu pasal ardy, hingga ia pasti bisa membedakan antara papi dan kakaknya itu. "Papi, suka datang kemari?" tanya sora dalam hati..
Rupanya benar, meski mami sora istri kedua, tapi mamilah yang paling dicintai papinya selama ini. Dan bahkan PRASASTI, adalah nama singkatan dari Papi dan Mami sora. Bukan nama Papi dan mama ardy seperti yang orang pertanyakan selama ini.
__ADS_1