
Puspa dan Rayan tiba di hotel tempat mereka akan menginap beberapa hari ini. Meski sebenarnya rayan juga memiliki keluarga disana, tapi berbagai alasan rayan ungkapkan demi tak dipaksa menginap disana. Untung saja alasan pengantin baru yang butuh ruang itu membuat mereka segera memahami apa maksudnya, walau disertai doa agar mereka berdua mendapatkan momongan secepatnya.
"KIta sekamar?" tanya puspa yang melihat satu ranjang di kamar mereka.
"Ya, kita berada dalam kawasan dan kekuasaan ayah sore yang bisa mengawasi kita berdua."
"Tapi tuan bahkan melarangku untuk dekat denganmu, jadi seharusnya dia juga tak terlalu bertanya jika kita memesan kamar dua." Puspa menjawab ucapan rayan padanya. Tapi ia seketika terdiam ketika rayan memberinya tatapan tajam. Ia segera beralih dan merapikan beberapa barangnya ke dalam lemari yang tersedia.
“Aku tak terikat, kan? Aku bisa pergi kemanapun aku mau selama disini?” tanya puspa sembari tangannya terus bekerja.
“Pergi, tapi jangan merepotkanku setelah ini. Aku ingin menenangkan diri dari semua kesialan yang aku alami,” jawab rayan datar padanya.
__ADS_1
“Mas fikir, Mas saja yang merasa sial? Aku juga, siapa mau menikah terpaksa dengan pria kaku seperti ini. Meski kaya raya, tak ubahnya seperti patung yang tak bisa diajak bicara.”
“Kau fikir, kau sedang bicara pada siapa saat ini? Rohhku?” tanya rayan, dan puspa hanya mengedikkan bahunya. Ia melenggang santai didepan rayan seolah tak terjadi apapun diantara mereka, apalagi rayan sendiri berkata jika ia bebas selama ada disana. Dan itu artinya puspa tak perlu merasa terikat dengan statusnya sebagai istri rayan.
Sementara rayan sendiri tengah duduk santai menatap keluar jendela dengan pemandangan tepat pada pantai yang indah dan begitu luas didepan matanya. Ia tak pernah kesana sebelumnya, tapi entah kenapa terfikir sesekali mengunjungi tempat yang memang belum pernah ia datangi selama ini. Saudara saja hanya perantau dan tak menetap, hingga bertemu hanya ketika mereka pulang ke Jakarta.
“Kau mau kemana?” tanya rayan yang diam-diam memperhatikan puspa telah rapi dan wangi.
Rayan hanya diam dan terus menatap kepergian puspa darinya. Ia merasa gadis itu begitu berbeda setelah lepas dari pengawasan keluarganya disana, dan ia seperti burung yang lepas bebas dari sangkarnya. “Ini sifat aslimu?” gumam rayan mengingat bagaimana diam dan tenangnya puspa didepan orang tuanya.
Puspa turun menuju lobi dan ia memanggil ojek yang mangkal didepan hotelnya. Lebih nyaman menggunakan motor untuk bekeliling memang, daripada harus menggunakan taxi dan ia tak akan bebas berhenti sesuka hati. Apalagi begitu benyak spot indah yang ia temukan dari pencariannya lewat internet, bahkan ia juga tak segan bertanya pada tukang ojek yang kebetulan adalah perempuan itu hingga ia nyaman untuk menyapa.
__ADS_1
“Kakaknya darimana?”
“Dari Jakarta, Bu. Ibu saya jadiin langganan ya, selama saya disini? Nanti saya kasih lebih,” tawar puspa yang langsung diterima dengan senang hati olehnya. Mereka bertukar nomor hp agar lebih cepat untuk bisa saling menghubungi di kemudian hari.
*
“Olaa, Antai Ola!” panggil gadis kecil yang ada dalam asuhannya saat itu. Seperti telah menjadi sebuah kebiasaan ketika soren hari sora dan niji mengajaknya jalan-jalan keliling pinggiran pantai Panjang dari ujung hingga keujung bertemu lagi dan Kembali kerumahnya.
“Sekarang ngga bisa, Sayang. Kak niji lagi ngga di rumah, ola susah mau bawa ila.”
“Akai ubin, ayoooo,” rengek ila yang tak sabar dengannya.
__ADS_1
Sora terus berusaha membujuk ila agar tak menangis kali ini, dan ia tengah menahan diri dari segala emosi yang sempat meledak kemarin. Ia tak ingin sesuatu terjadi lagi dan justru akan membebani bosnya saat ini.