
Hari pernikahan itu telah tiba. Di kediaman keluarga pranata, sudah begitu ramai berkumpul semua sanak saudara dan tamu undangan dari semua kalangan.
Keluarga Rayan pun telah datang dengan pasukan mereka. Puspa pun telah siap di kamarnya, dengan balutan kebaya putih lengkap dengan mahkotanya.
"Kamu sudah siap, Puspa?" tanya Ayu yang menghampirinya.
Baik Sora mau pun Puspa, mereka tak memiliki banyak teman ataupun sahabat dekat. Sora terlalu kritis dalam berteman, Ia pun tak suka ketika seorang mengaku teman dan mendekatinya hanya karena Sang Papi. Tapi, jika tak karena itu, orang tak akan mau mendekatinya.
Begitu juga dengan Puspa. Ia selalu terikat dengan Sora selama ini. Ia tak memiliki sahabat lain, karena mereka selalu memanfaatkannya untuk memanfaatkan Sora. Bukan hanya teman wanita, Pria pun seperti itu. Hanya memanfaatkan Puspa agar dekat dengan Sora.
"Dan kini, akhirnya aku harus kembali melindungimu. Aku akan menikah dengan Rayan dan memakai namamu disana. Aku tahu ini berdosa, tapi... Ini lah yang bisa aku lakukan." batin Puspa.
Ia kemudian di gandeng Ayu untuk keluar, menghampiri Rayan untuk Ijab qabul mereka.
" Apa ini sah?" tanya Puspa pada Ayu.
" Entahlah. Aku tak bisa berkata apapun tentang ini. Jika pun ada kesempatan bicara, pasti itu terbatas. Kau lebih tahu, karena kau lebih lama di rumah ini." balas Ayu, dengan wajah datarnya.
Puspa hanya kembali diam, Ia tahu persis posisi Ayu di rumah itu. Ia menantu, tapi suaranya nyaris tak pernah di dengar. Tugasnya hanya merawat Akito, dan sesekali ke Rumah Sakit jiwa untuk mengontrol mertuanya yang dirawat disana. Ia tak beda dengan puspa sebenarnya, hanya beda dari status dalam keluarga, tapi tugas dan kewenangan mereka amat sama tiada beda. Masih bersyukur jika suaminya tak lantas membuang dirinya hanya karena satu kesalahan yang Ia lakukan.
" Posisiku, tak ubahnya sepertimu. Hanya seorang Babu, berkedok istri putra sulung keluarga ini. Bedanya, aku harus memiliki anak untuk penerusnya." imbuh Ayu.
Kini mereka telah ada di antara para tamu. Puspa duduk tepat di sebelah Rayan, dan siap untuk mendengarkan ijab qabul mereka yang tak pernah terencana. Bahkan siapa saja mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya.
"Aku tak ingin mempermainkan pernikahan." lirih Rayan padanya yang fokus menatap penghulu didepan mata.
"Anda kira saya mau? Saya hanya Babu disini. Saya bahkan tak bisa mengatakan tidak pada keluarga ini." jawab Puspa dengan begitu apa adanya.
__ADS_1
Semua proses dilakukan oleh mereka berdua, hingga akhirnya, Ijab qabul itu pun terucap. Puspa hanya bisa menangisi semuanya begitu dalam sementara Rayan hanya menatapnya dengan tajam seolah merasakan perih dan sakitnya puspa saat ini.
"Wanita ini. Ia hanya alat keluarga ini. Ia tak bersalah, dan aku tak patut membencinya. Hanya hingga sora kembali, akankah semuanya kembalih normal?" gumam Rayan dalam hati.
♦️♦️♦️
"Aaaah, perasaan ini. Kenapa tak enak seperti ini? Aku sudah sarapan, bahkan sudah mandi. Tapi kenapa masih tak nyaman." gumam Sora, yang terus memegangi dan mengelus dadanya.
"Kenapa kau?" tanya Niji yang menghampirinya.
"Ngga papa... Ngga enak aja rasanya. Kayak lagi ada sesuatu, tapi entah apa." jawab Sora.
Mereka hanya bertiga dengan Lila di rumah. Papa dan Mama Niji sedang ada di rumah sakit, karena hari ini ada visit untuk Kaka Niji. Bik Mun ikut, karena harus membantu untuk memandikan bujangnya di sana. Sejak kecil, Ryuji paling dekat dengan Bik Mun, dan tak mau dengan pengasuh yang lain.
"Ra... Aku minta maaf atas yang kemarin. Karena udah berburuk sangka sama kamu." ucap Niji.
"Ya, mungkin beginilah nasib orang ngga punya. Selalu di curigai dimana-mana. Parahnya, kadang di tuduh atas sesuatu yang ngga pernah mereka lakukan sama sekali. Maka dari itu, aku sampai sekarang ngga pernah punya temen deket."jawab Sora, dengan segelas susu hangat di tangannya.
Sora seperti wanita dengan banyak trauma, dan tampak begitu banyak yang Ia sembunyikan dalam semua cerianya, Keras hatinya, dan segala cuek yang pernah Niji perhatikan beberapa lama setelah bertemu Sora.
"Jalan yok." ajak Niji.
"Kemana? Siang-siang begini. Lila juga masih tidur."
"Ya nantilah. Tunggu Lila bangun, udah mandi dan cantik. Ku bawa keliling bengkulu. Pasti banyak yang belum di kunjungi 'kan?"
"Iya sih, pengen ke Pantai. Duduk santai makan opak sama kuah satenya, lihatin anak-anak mandi pantai."
__ADS_1
"Kayaknya kamu tahu, apa udah pernah kesini sebelumnya?" tanya Niji yang makin penasaran.
"Dulu, Mama pernah disini waktu usiaku masih Lima tahunan. Berasa pengen ulang kenangan itu aja, sebagai pengobat rindu ke Mama."
"Ra.... Mama mu?"
"Udah meninggal, kecelakaan. Saat usiaku Lima belas tahun."
"Owh, maaf." sesal Niji, yang tanpa sengaja membuat mata Sora berkaca-kaca.
"Dah, ngga papa. Mau ditangisin kayak gimana juga, ngga akan bisa balik." Tapi, andai bisa menemukan kebenaran tentang kecelakaan itu, pasti hati ini semakin tenang dan ikhlas.
Niji menepuk bahu Sora, sekedar untuk menenangkan dan meanabahkannya. Ia tak tahu apapun, dan tak akan pernah bisa berbuat apa-apa untuknya.
Rumah Sakit Bayangkara.
Di ruang ICU, disana terbaring Ryuji, kakak Niji. Tidur begitu pulas dengan segala peralatan yang terpasang di tubuhnya.
Kecelakaan terjadi Beberapa bulan lalu, ketika Ryuji memutuskan pulang dari pelarian menuju kota kelahirannya. Dalam tragedi itu, Ia mengalami cidera kepala yang begitu berat, meski luka di tubuh tak terlalu parah. Semua orang curiga, jika Ia mengalami beberapa penganiayaan. Karena melihat luka di kepala bagaikan luka dari benda tumpul yang sengaja dipukulkan padanya.
Sempat Pak Rudi meminta polisi untuk menyelidiki, tapi kasus akhirnya di tutup karena tak mendapatkan titik terang sama sekali. Barang bukti, jejak, dan lainnya tak pernah di temukan. Jika itu benar-benar kesengajaan, maka orang yang melakukan itu berarti sudah begitu profesional dengan semuanya.
"Bik, biar saya bantuin ngelap badannya. Tapi diem-diem aja, ya? Meskipun tidur, dia pasti bisa denger dan bisa rasain." bisik Bu Fatma padanya.
Bik Mun mengangguk, dan mulai dengan tugasnya. Bu Fatma mempersiapkan air hangat dan waslap untuk membersihkan tubuh Ryuji. Perlahan, karena meski tidur, Ia pun merasakan sakit di tubuhnya. Apalagi masih ada memar yang hingga kini belum sembuh.
Dalam tubuh yang kekar itu, terdapat sebuah tato bergambar mata yang begitu indah, tepat di lengan kirinya.
__ADS_1
"Ini pacarnya?" tanya Bik Mun.
"Mungkin, saya juga ngga tahu. Bibik tahu, dia ngga pernah mau mengobrol bahkan melirik saya." jawab Bu Fatma, dengan perasaan yang sedih.