
"Kamu...." tunjuk Sora pada Niji.
"Kau, ngapoi kau disini? Aishdah... Kacau urusan." gerutu Niji.
"Kalian saling kenal?" tanya Pak Rudi.
"Ngga kenal, pak. Cuma pernah ketemu aja." jawab Sora.
"Gara-gara dia nih, Pa_ Niji hampir di keroyok warga. Masa iya, Niji dituduh nyulik adek sendiri."
"Mana aku tahu, itu adekmu. Orang dia juga nangis, curiga lah aku." jawab Sora dengan mamain kan jarinya kembali.
"Ah, sudahlah. Itu hanya salah faham saja." lerai Pak Rudi. "Niji, Sora ini akan membantu kamu untuk mengasuh Lila selama kamu kuliah."
"Lah, kenapa harus dia, Pa? Ngga ada kandidat lain apa? Dia urakan gitu, macam preman. Mana bisa ngasuh anak."
"Bisa... Sering kok asuh keponakan di rumah, kalau mamany pergi." balas Sora.
"Beda maemunah, itu keponakan. Nah ini, anak majikan. Tanggung jawab dan kerjanya beda. Kalu ponakan, suka-suka kau ngurusnya karena kau idak di gaji maknya." ujar Niji.
"Terus?"
"Ya kalau kau ngasuh anak majikan, kau harus ekstra hati-hati, perhatian, dan lebih teliti dengan semua yang di perlukan."
"Halah, sama aja. Yang penting jaga anak kecil ya begitulah. Apa sih bedanya?" Sora terus saja membalas ucapan niji, tapi hanya sebagai pembelaan terhadap diri sendiri.
"Bedanyo, itu ponakan kau, dan ini adek aku. Keras palak nian kau nih (keras kepala banget kamu nih)." omel Niji dengan bahasa daerahnya, ia sangka sora tak paham akan arti dari bahasa yang ia ucapkan padanya.
Sora hanya menatapnya sinis, dan bibirnya meniru gerak ucapan Niji.
" Sudah lah, pokoknya... Sora jadi Pengasuh Lila mulai sekarang. Atas pengawasan kamu, seperti yang kamu minta. Jadi, kamu bisa semakin fokus dengan kuliah. Kejar, dan segeralah lulus seperti janji kamu kemarin." ucap Pak Rudi pada Niji.
Ia lelah, karena fikirannya begitu banyak terbagi saat ini. Asal lila sudah ada yang menjaga, ia pun bisa sedikit tenang saat ini dan bisa sedikit fokus mengawasi Ryuji.
"Yaaa.... Setua ini, belom kelar kuliah." ledek Sora dengan tawanya.
__ADS_1
"kamu sendiri bagaimana?" cicit niji membalasnya.
"Aku? Aku udah sarjana dong, Sarjana Management. Usia Dua puluh dua tahun, udah wisuda dengan nilai terbaik." ucap Sora dengan bangganya.
"Lagak... Nilai terbaik management, kok jadi Babu."
"Ish, kau..." tatap nyalang sora padanya. Rasa ingin memberikan sebuah bogem dari kepalan mautnya saat itu juga.
"Sudahlah, jangan bertengkar terus. Justru Sora jadi contoh, meski sarjana tapi ngga pilih-pilih kerja. Untuk sementara disini, nanti Bapak carikan kerja yang sesuai buat kamu." ucap Pak rudi pada Sora, kemudian Ia pun masuk ke dalam kamarnya.
Niji mengajak Sora ke kamar istirahatnya untuk menaruh semua barang yang Ia bawa. Lalu mengajak Sora ke kamar Lila yang tak jauh dari kamar itu. Ia akan bekerja disana, dan mau tak mau harus hafal seluruh bagian rumah yang ada. Apalagi lila begitu aktif, dan ia bisa bersembunyi dimana saja dan akan sulit ditemukan nanti.
" Kamarnya deket, supaya kalau ada apa-apa, cepet ketahuan." ucap Niji, dan Sora hanya mengangguk mendengarkan..
Masuk ke kamar Lila, Ia kini sedang tidur pulas dengan dot dalam pelukannya. Tampak begitu tenang dan manis bagi Sora yang sejak awal jatuh hati padanya.
"Tak seperti abangmu, menyebalkan." gumam Sora.
"Aku denger." tegur Niji yang sedang membuka lemari Lila.
" Mama Dokter, terbiasa semua harus higienis. Jangan sampai buat dia marah, dia itu lelah karena kerja seharian." ucap Niji.
"Beliau masih muda, Mama tiri?"
"Haruskah di jawab? Yang jelas, dia mamaku dan Lila." balas Niji yang begitu menghormati mamanya itu.
"Iya, Maaf..."
Semua penjelasan mengenai kamara dan keperluan Lila sudah selesai. Niji ingin menjelaskan tentang rumah dan yang lain. Tapi, sudah waktu nya untuk jam kuliah. Ia pun memanggil Bik Mun untuk mewakili tugasnya.
"Bik Mun, Asisten rumah tangga kepercayaan kami. Sudah seumuaran aku kerjanya, jadi sudah hafal semua." ucap Niji.
"Bik, pergi kuliah dulu." pamitnya.
"Iya, Bang... Hati-hati." jawab Bik Mun. Yang bahkan niji tak segan untuk mencium tangan wanita paruh baya itu dengan begitu sopan.
__ADS_1
Bik Munaroh namanya, bekerja pada keluarga Niji sudah Dua puluh lima tahun. Beliau seorang janda tanpa anak, dan hanya Lima bulan menikah. Tapi, Ia ditinggal selingkuh suaminya. Itu membuatnya sangat trauma, bahkan sempat di rawat di Rumah sakit jiwa beberapa bulan karena depresi.
Bik Mun mulai mengajak Sora mengelilingi rumah, dan memperkenalkan semua ruangan beserta manfaat dan isinya.
"Kerjaan Bibik cuma masak dan beberes. Masalah bersih-bersih, ada sendiri yang datang Dua hari sekali, membersihkan semua barang koleksi Nyonya." ujar Bik Mun.
♦️♦️♦️
Tuan Pranata sedang berdiri sembari menatap keseluruhan luas hotelnya.
Hotel yang Ia bangun dengan segenap jerih payahnya, menggantungkan semua jiwanya di sana. Dari titik yang benar-benar Nol, hingga sampai ke titik tertinggi seperti saat ini.
Hotel itu yang akan Ia wariskan pada Sora, anak perempuan Satu-satunya. Meski, begitu banyak orang yang mempertanyakan dan menyayangkan hal itu.
"Kenapa Sora? Ardy bagaimana? Seharusnya, kerajaan terbesar itu tahta nya jatuh kepada anak laki-laki. Apalagi, Ia anak tertua dan putra semata wayang, sama seperti Sora." ucap para anggota dewan ketika rapat.
Namun, dari beberapa yang kontra, terdapat pula yang Pro dengan keputusan itu. Mereka yang tahu betul karakter Tuan Pranata, dan Sora. Mereka pun tahu, bagaimana kecakapan Ardy dalam mengelola bisnis sang Papi.
Perdebatan tak hanya terjadi dalam lingkungan hotel, tapi juga dari kalangan keluarga. Mereka lebih banyak mendukung Ardy, di banding Sora yang bagi mereka hanya lah anak istri kedua yang tak berhak mendapatkan apapun.
"Kalian tak tahu, dan ini keputusanku. Tak ada yang bisa mengganggu gugatnya." jawab Tuan pranata pada mereka.
Dan semua diam dengan semua ucapan itu. Kini, mereka kembali dipusingkan dengan masalah Sora, yang justru kabur entah kemana.
"Pi..." panggil Ardy.
"Ada apa?"
"Puspa akhirnya bersedia menikah dengan Rayan sebagai ganti Sora." jawabnya.
"Baguslah, setidaknya itu tanda sayang Puspa pada adik kecilnya itu. Ini juga hanya sementara, mereka akan bercerai ketika Sora pulang."
"Baiklah, Adi akan memerintahkan Ayu untuk mengurusnya. Dan... Memberi pengertian pada Rayan."
Ardy pun keluar, setelah mendapatkan anggukan kepala dari Sang Papi.
__ADS_1
"Kemana kamu, Sora? Kenapa jadi seperti ini kamu sekarang?"