Pembantuku Konglomerat

Pembantuku Konglomerat
Dia bukan gadis kecil


__ADS_3

Di rumah keluarga Pranata, semua masih tegang. Apalagi, semua mempertanyakan tentang hari pernikahan yang semakin dekat. Semua pusing Tujuh keliling dengan adanya keadaan ini.


"Ardy, bagaimana perkembangannya?" tanya sang Papi.


"Pi, maaf... Semua sudah Ardy kerahkan, semua juga sudah Ardy lacak. Terakhir, Ia ada di bandara, tapi kabur ketika mereka mengejarnya."


"Bagaimana kekuatan yang telah kamu bangun itu, Ardy? Kenapa tak bisa hanya menangkap seorang gadis kecil saja?" omel Papi Pranata.


"Gadis kecil? Gadis kecil, Papi bilang? Dia gadis kecil yang bahkan bisa mematahkan tangan seorang pria bertubuh kekar dalam sekali pukulan. Papi memang tak pernah memahami anaknya. Ia hanya terobsesi, agar Sora bersikap sesuai keinginannya." gerutu Ardy dalam hati..


Meski tak begitu akrab, tapi ardy amat tahu bagaimana adik semata wayang yang selalu dianggap kesayangan ayahnya itu. Yang sejak kecil jago berkelahi, tapi selalu menangis manja didepan ayahnya. Dan benar seperti kata ardy, bahwa sora mampu mematahkan tangan seseorang hanya dengan sekali pukulan. Semua tak ada yang menyadari itu, karena selalu menganggap sora sebagai gadis kecil lemah lembut dan penurut.


♦️♦️♦️


Masih di pantai panjang, Sora telah berpindah tempat di bawah pohon cemara yang berjejer rapi. Ia meletakkan tas ranselnya, dan duduk bersandar di bawah pohon itu, menikmati hembusan angin yang begitu menyejukkan.


Sebelum Ia pergi, nomor Hp, bahkan ATM telah Ia ganti dengan kartu ATM rahasia yang Ia buat tanpa sepengetahuan sang Papi. Isinya adalah hasil tabungannya sendiri, selama Ia bekerja di kantor Papinya sebagai pegawai biasa.


Angin membawa sebuah suara tangis anak kecil dari sebuah tempat. Sora yang terkejut, langsung membulatkan matanya dan menganalisa sumber suara. Dan Ia langsung berdiri dan mengikuti arah suara, Ia curiga terjadi sesuatu pada anak kecil itu.


Sora melihat dari kejauhan, ketika seorang Pria sedang menggendong anak kecil, yang menangis meraung di ujung sana. Pria itu sedang memaksa sang anak untuk ikut naik ke motornya, dan anak itu terus menangis dan menolaknya, tapi tetap di paksa.


Sora meradang, karena memang benci dengan sebuah tindak kekerasan, apalagi pada anak balita seperti itu.


"Wooooy, lepasin anak itu!" pekiknya, dengan berlari menghampiri mereka.


"Woy, berhenti!" bentak Sora, lalu mengambil anak itu darinya.


"Heh, heh, apa-apaan?" tanya Niji padanya.


"Eh, dasar penculik anak. Loe apain dan mau bawa kemana dia, sampai nangis kejer begini?" omel Sora, dengan Kalila dalam pelukannya.

__ADS_1


"Heh, apa-apaan lah kau nih. Lepasin ngga?" sergah Niji, berusaha meraih Lila dari tangan Sora.


"Eh, cewek aneh, Tante galak! Ngapain nyulik adek sendiri? Sini, balikin. Tambah nangis kejer dia tuh."


"Bohong! Kalau ini adekmu, ngga akan nangis kejer begitu dia."


"Nyatonyo samo kau makin nangis woy! (Nyatanya, sama kamu makin nangis)" bentak Niji, yang makin tersulut emosinya.


Sora dan Niji, saling mempertahankan argumentnya masing-masing. Sora tak percaya sama sekali, ketika Niji berkata bahwa itu adalah adik kandungnya. Karena perbedaan usia yang tampak begitu jauh.


"Mustahil, kalau adek kecil ini adeknya. Jauh banget gitu, umur Mamanya berapa, sampai masih bisa ngelahirin anak kecil begini?" gumam Sora dalam hati, sembari terus menatap Niji yang kesal padanya.


"Kau... Jangan-jangan kau Bapaknya, nikah muda karena hamil di luar nikah. Udah itu, anak ini kau culik dari mamaknya 'kan?" tuduh Sora, pada Niji.


"Astaga, ini kebanyakan nonton sinetron. Jadinya begini nih...."


Niji meraih Hpnya, lalu memperlihatkan fotonya bersama  Lila yang sedang bersama.


Ia pun semakin pusing, karena Lila tak hentinya meraung.


"Dek, udahlah dek. Balik yok, adek tuh ngga boleh jajan itu sama Mama." bujuk Niji pada Lila.


Sora masih berat menyerahkan Lila pada Niji. Ia masih belum begitu yakin dengan semua bukti yang ada.


"Cepatlah... Adek aku nih, la waktunyo tidur siang, makanya rewel. Terus, minta permen yang ada di sana itu, tapi ngga boleh sama Mama." ucap Niji dengan geregetan.


"Abang...." panggil Lila dan merentangkan tangan pada Niji.


"Sini, dek..." Niji kembali menggendong Lila dengan mata yang mulai terpejam.


"Ja-jadi benar, ini adeknya?" tanya Sora, dengan canggung.

__ADS_1


"Iya... Makanya, lain kali tanya dulu, jangan asal ambil sikap begitu. Untung ngga terlalu banyak orang, jadi aman." ucap Niji, sembari mengikatkan kain panjang untuk menggendong Lila.


"Ya... Maaf, namanya juga kaget. Mana lihat anak kecil, nangis kejer begitu." balas Sora, dengan memainkan jari dan kukunya.


Niji hanya diam, mulai menghidupkan motor dengan tangan kiri memeluk Lila yang mulai pulas. Ia pun berlalu dari hadapan Sora, yang terus menatapnya dengan gemas.


"Jaman gini, gendong anak pakai kain? Bener-bener deh, itu cowok." senyumnya.


Sora kemudian melanjutkan perjalanannya, menapaki jalanan sempit yang terbuat dari semen memanjang terus mengikuti panjangnya paantai. Ia pun tak tahu, akan mengarah kemana jalanan itu. Ia hanya mengikuti nalurinya saat ini, karena sejak dulu, Ia bahkan tak pernah bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan Sang Papi.


"Pi, Sora tak punya teman. Rasanya seperti, Sora harus terus membayar sesuatu, agar teman-teman itu tetap ada. Sora ingin, ketika semua orang melihat Sora dengan apa adanya, yang tak hanya mendekati Sora karena Sora itu anak Papi, ataupun salah satu pewaris hotel Horizon." ucapnya, ketika sesekali ada waktu bersama Sang Papi di rumah besarnya.


♦️♦️♦️


Motor Niji berhenti tepat di depan rumah. Ia pun segera memarkirkan-nya di garasi, dengan tetap memeluk erat Lila.


Bik Mun, sang asisten rumah tangga langsung datang untuk menyambutnya, dan meminta Lila untuk Ia tidurkan.


"Ngga usah, Bi_biarin aja sekalian ku tidurkan. Mama mana?"


"Sudah ke Rumah sakit, Bang." jawab Bik Mun.


Niji hanya mengangguk, karena Ia faham betul kesibukan Sang Mama belakangan ini. Selain Ia seorang dokter, Ia juga harus menjaga adiknya yang tengah koma hampir Dua bulan ini.


Adik Mama Fatma mengalami kecelakaan parah, sampai membuatnya Cidera kepala berat. Bahkan, mengalami pendarahan di otaknya. Hidupnya hanya karena terbantu peralatan dari Rumah sakit, tapi Mama Fatma masih terus memperjuangkan agar Ia sadar kembali, bagaimanapun caranya.


Niji menidurkan Lila di ruang tengah, tepat di depan Tv. Dan sembari menunggu, Ia bermain game di Hpnya.


"Ini, Bang_ susunya Lila." ucap Bik Mun.


"Iya, Bik_Terima kasih." ucap Niji.

__ADS_1


"Begini rasanya, ketika memiliki adik dengan usia begitu jauh. Katika anak seusiamu sedang begitu bahagia dengan dunianya, tapi kamu tetap di rumah, agar adik kesayanganmi ini tak menangis." ucap Niji, dengan mengusap tubuh adiknya.


__ADS_2