Pembantuku Konglomerat

Pembantuku Konglomerat
Ardy dan Ayu


__ADS_3

Sora bisa tenang tidur malam ini. Mama fatma berjanji membantunya untuk menyelidiki berkas kematian mama sora, yang kebetulan kala itu ia juga ikut menangani. Tapi tak banyak, karena saat itu pihak visum yang mengambil alih semuanya.


“Tapi ibu ngga janji akan lama. Kamu tahu, betapa sibuk ibu sekarang apalagi harus mengurus kakak niji yang sedang ada di ICU.”


“Hah, kakak niji di ICU? Saki tapa? Bisa sora bantu mengurusnya?” tanya gadis itu, apalagi mengurus lila tak sesulit yang ia kira selama ini.


“Tidak, Ra. Kamu fokus saja pada lila, dan ibu pada mereka. Nanti jika ada, pasti ibu akan hubungi sora.” Bu fatma bahkan mengusap wajah mulus sora, benar-benar mengingatkan pada sang mami yang ia sudah anggap sebagai kakakya kala itu. “Hanya saja mata kamu lebih terang, karena mamamu_”


“Hehehe, iya, mama keturunan jepang soalnya. Nama aslinya aja Harumi, tapi ganti karena keperluan lain saat itu.” Mama fatma mengangguk dengan ucapan sora.


Tak lama setelahnya mereka berpisah, sora kembali masuk ke kemari la untuk tidur disana dan mama fatma ke kamarnya. Sepi, karena suaminya tak ada disana untuk memeluknya karena ia menjaga sang putra disana.”Ya, aku tahu ini resikoku.” Mama fatma berusaha memejamkan matanya.

__ADS_1


Seperti itulah mereka. Mama kembali Papa pergi, begitu seterusnya hingga bahkan sora sempat bertanya-tanya ada apa dengan keluarga mereka.


“Kalau iya koma separah itu, kasihan juga. Besok bantuin ah, kalau lagi santai. Kasihan Ila, jauh terus dari mamanya.” Sora terus saja prihatin dengan gadis kecilnya yang memang amat butuh perhatian di usia emasnya. Meski ada sora dan niji, tapi ila tetap butuh sang mama untuk dekat dengannya.


Hingga pagi mejelang, sora tetap melaksanakan aktifitasnya seperti biasa. Bangun segera memandikan lila dengan berbagai drama yang ada. Saat itu ia ingat Ito, keponakannya yang ada disana. Dan benar saja, Ito juga tengah mandi bersama maminya dengan segala kerusuhan yang ia buat disana.


“Akito, mandi dulu , Nak.” Ayu terus saja membujuk sang putra yang justru berlarian kemana-mana bahkan lari sampai keluar kamar dengan tubh polosnya.


“Ngga mau…. Ngga mau!” teriaknya sepanjang mengitari rumah besar itu, hingga tanpa sadar menabrak tubuh sang papi yang tengah mempersiapkan diri dikamarnya dengan sang mami.


“Ito belum mandi? Ini sudah siang,” tanya ardy pada sang putra.

__ADS_1


“Papi, mandiin Ito,” pinta bujang kecil itu pada papinya yang telah rapi.


Ardy langsung menunduk menatap sang putra, kemudian menarik naik sedikit celana bahan yang ia kenakan agar mudah berjongkok menyejajarkan diri padanya, kemudian ia menepuk bahu sang putra.


“Ito sudah lima tahun, harusnya ito tak seperti ini lagi.”


“Namanya juga Akito masih kecil, Mas. Wajar jika dia masih meminta perhatian dari ayahnya,” ucap ayu yang datang menyusul mereka.


Ardy segera berdiri dan kembali merapikan dirinya, dan ia seakan apatis dengan kedatangan sang istri disana. Padahal kala itu ia yang mengejarnya hingga ayu luluh, namun setelahnya seperti hanya dijadikan perawat sang mama seumur hidupnya.


“Aku tak seperti itu. Maka dari itu, aku tak ingin anakku manja dan tak bisa diandalkan.”

__ADS_1


“Kau, bisa diandalkan? Jadi, dimana sora?” tanya ayu. Ia seakan sudah mulai Lelah dengan semua keadaan ini, tapi ia juga tak bisa pergi. Andai ia seberani sora, atau setidaknya tak terlanjur ada Akito diantara mereka pasti ia akan pergi sejak dulu.


“Jangan bertanya, pergilah urus anakmu dan segera sarapan bersama.” Ardy langsung pergi setelah mengucapkan perintahnya, seakan ayu disana hanya sekilas bayangan yang tak perlu ia perhitungkan.


__ADS_2