
Hari mulai gelap, seharian Sora tak pulang ke Kostnya. Kini Ia kembali di bibir pantai untuk menikmati sunset yang begitu indah. Setidaknya seperti itu, kenangan bersama Sang Mami dahulu kala.
Matahari yang mulai tenggelam, perlahan bagai masuk ke dalam lautan yang dalam. Langitpun berwarna jingga, menyilaukan mata tapi tetap menyinari dengan indahnya. Perlahan menghilang, tertelan lautan luas tanpa ujung dan batas.
Tak lupa Sora mengambil gambarnya, yang esok akan Ia tunjukan pada sang Papi. Meski Ia tak bisa menebak, apa ekspresinya.
"Ia selalu datar ketika aku menunjukkan sebuah foto, meski foto itu bahkan ku ambil dengan taruhan nyawaku." ucap Sora, yang kembali terkenang dengan dinginnya sang Papi.
Selepas adzan maghrib, Sora melangkahkan kakinya keluar dari lingkungan pantai. Mencari jejak tukang ojek, atau bahkan angkot yang lewat. Tapi, tak juga Ia temukan. Hingga akhirnya Ia berjalan bagaikan tuna wisma hingga sampai kembali di tempat kostnya.
"Huh, astaga... Capek banget..." ucapnya yang duduk di teras sembari mengatur nafas yang ngos-ngosan.
"Nak, darimana saja kau nih? Ibu daritadi cemas mikir kamu kemana, takut nyasar, ketemu orang jahat, apa segala macam." tegur Bu Norma pada Sora.
"Eh, Ibu... Maaf, Bu _ tadi kesenengan main pasir di pantai. Soalnya, di kampung ngga ada pantai, adanya gunung yang menjulang." jawab Sora cengengesan.
"Takutnya, kamu nyasar. Meski Bengkulu ini masih dibilang kecil, kalau nyasar juga susah ketemunya."
"Iya, Sora pakai Google maps buat cari alamat. Sama memanfaatkan ingatan, waktu sama Mam... Eh, Ibu Sora, dulu." jawabnya.
"Oh, pernah tinggal di sini. Yasudah, mandi terus istirahat. Anak cewek, pulang ke rumah cuma numpang tidur." omel Bu Norma lagi.
Sora menurutinya, kemudian masuk ke kamar dan mengistirahatkan dirinya sejenak.
"Uang yang gue bawa, cukup ngga ya? Entah berapa lama gue disini, rasanya juga males banget mau balik. Udah terlanjur nyaman." gumamnya.
Malam ini Sora tak ingin pergi. Kakinya terasa linu karena terlalu jauh perjalanan yang Ia tempuh. Tapi, Ia tak kapok dengan apa yang Ia lakukan, Ia akab terus kembali mencari tempat yang indah itu, dan membahagiakan dirinya sendiri untuk saat ini.
__ADS_1
"Tapak paderi, ini foto bersama Mami. Besok ke sana, ah. Ke Benteng Malborough juga, lanjut ke pantai Zakat." ucapnya dalam semua rancana.
♦️♦️♦️
Keluarga Pranata sedang melakukan diskusi dengan keluarga Rayan tentang rencana penting yang nyaris batal. Mereka semua bingung, terutama Ardy dan Papi Pranata.
" Kalau dari keluarga kami, sebenarnya tak terlalu masalah, Bang. Toh, Sora yang kabur dan mau membatalkan. Jadi kami juga ngga akan terlalu rugi atas semua kejadian. Balik lagi sama Abang, ini sudah ke Dua kalinya seperti ini. Pasti tercoreng nama Abang, keluarga besar, dan Hotel." ucap Ayah Rayan, Pak Wijaya.
"Iya, semua akan menjadi derita dan tanggungan kami. Aku hanya memiliki Satu anak perempuan, tapi kenapa begitu sulit hanya untuk memintanya tunduk padaku." keluh Papi Pranata.
"Pi, apakah kita tetap harus mengadakan pernikahan di rumah ini, tapi dengan pengantin pengganti?" tanya Ardy.
"Pengantin pengganti bagaimana? Ngawur kamu. Dengan pergantian mempelai pria saja sudah begitu mengganggu, apalagi ketika semuanya terganti?"
"Tapi, Pi... Setidaknya ini menyelamatkan keluarga kita sementara. Puluhan ribu undangan telah di sebar, begitu sulit untuk membatalkan mereka. Sebagian mungkin bisa, tapi jika sisanya datang kemari untuk sebuah pesta pernikahan, bagaimana jawaban kita?" jelas Ardy.
"Sebenarnya, dengan adanya ini semua, saya merasa seperti sedang di permainkan. Ketika harus menutupi aib keluarga kalian, dan sekarang tumpang tindih antara Satu kebohongan dengan kebohongan yang lain." jawab Rayan, yang tampak kecewa.
Semua hanya bisa terdiam dengan jawabannya yang begitu jujur. Tapi, memang harus ada sebuah pengorbanan kali ini, demi nama baik keluarga mereka.
"Siapa yang akan kalian tumbalkan?" tanya Rayan.
Papi Pranata melirik Ardy, karena dia lah pemilik jawaban dari semua pertanyaan ini. Tapi, Ardy pun masih bingung, siapa yang akan bersedia menggantikan Sora dalam pernikahannya. Meski pernikahan ini hanya sementara, dan akan di ulang ketika Sora kembali.
"Bukankah semua orang sudah tahu jika Sora kabur? Kau sendiri yang memajang fotonya di setiap sudut jalanan." sambung Ayu.
"Jangan ikut campur, Ayu. Lebih baik kau masuk, dan tidur bersama anakmu." tegur Ardy.
__ADS_1
"Itu anakmu juga." gerutu Ayu yang pergi dari acara mereka.
♦️♦️♦️
Suara langkah kaki dengan lemah masuk ke dalam rumah. Mama Fatma, pulang bersama Papa Hartono yang baru saja menjenguk putra sulungnua di Rumah sakit.
"Ma, Pa... Gimana kabar Abang?" tanya Niji.
"Masih seperti itu, dan tak ada perubahan. Masih bersyukur, jika tak mengalami kemunduran untuk kondisinya." jawab Papa Rudy dengan nada pasrah..
"Mana Lila, Bang?" tanya Mama Fatma.
"Sudah tidur di kamarnya. Dan... Ehm, sepertinya kita butuh pengasuh buat Lila. Karena 'kan, Niji diminta Papa untuk kembali fokus ke kuliah yang sempat terbengkalai beberapa lama." ucap Niji.
"Kamu serius, mau lanjutin kuliah? Ngga akan main-main lagi?" tanya Papa Rudy dengan antusias.
"Ya, seperti yang Papa pernah bilang. Ketika kita harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Dan ketika itu juga, semua tanggung jawab akan Niji emban sebagai anak tertua."
Pak Rudy menghela nafas lega atas jawaban itu. Karen memang sebuah ucapan yang mereka tunggu selama ini.
Sebelum Lila lahir, Niji adalah anak bungsu mereka. Anak yang senantiasa di manja dan seenaknya sendiri tanpa mau di tekan dengan berbagai aturan dari sang Papa. Tapi semua berubah ketika ada Balita itu, rasa tanggung jawab semakin tumbuh dalam dirinya sebagai anak bungsu gagal itu. Apalagi ketika Sang abang pergi dari rumah karena tak merestui pernikahan Papanya dengan Mama Fatma kala itu.
"Baiklah, kalau itu semua memang keputusanmu. Papa akan terus mendukungnya. Papa akan carikan seorang pengasuh untuk Lila, agar kuliahmu semakin fokus."
"Tapi masih harus dalam pengawasan Niji loh, Pa." ucapnya.
Pak Rudy menepuk pundak Niji, dengan perasaan bangga. Ia pun akan memberi dukungan penuh pada putranya itu.
__ADS_1