Pembantuku Konglomerat

Pembantuku Konglomerat
Mama fatma dan mami sora


__ADS_3

Sora melihhat mama fatma tengah duduk santai disofa ruang tengah. Ia menyalaka tv, tapi sama sekali ta kia nikmati karena hanya hanya memejamkan mata sembari mengadahkan kepala keatas. Sora lantas menghampirinya kemudian meraih bahu mama fatma untuk ia pijit. Sempat kaget, tapi mama fatma kemudian kembali tenang menikmati pijatan demi pijatan sora ditubuhnya.


“Pijatan kamu enak, Sora. Kamu belajar darimana?” tanya mama fatma.


“Ngga belajarl, Bu. Ini spontan aja bisanya, memang kata ayah saya pijatan saya enak.” Sora terus memijit bahu dan lengan mama fatma secara bergantian, hingga sesekali ia melenguh nikmat apalagi dibagian yang saat itu ia merasakan pegal yang luar biasa.


“Ibu, Dokter kan?”


“Iya, tapi masih dokter umum. Kenapa?” Mama fatma kembali bertanya, apalagi ketika melihhat sora seperti tenga menahan sebuah pertanyaan dalam hatinya. “Sora?” panggil mama fatma.

__ADS_1


“Begini, sora punya mami yang … Yang juga dokter seperti ibu, tapi mami sora udah meninggal tujuh tahun lalu karena kecelakaan.”


“Mami sora Dokter?” Mama fatma tampak kaget mendengarnya, tapi saat itu sora meminta agar mama fatma melirihkan ucapannya. Wajar saja keras, karena mama fatma takjub dan penasaran pada sora yang justru menjadi pengasuh di rumahnya saat ini.


Sora akhirnya menceritakan tentang mami padanya, Wanita yang telah melahirkannya itu bernama Sasdianita Aditama. “Sora dan mami dipisah sejak sora usia lima tahun dan mami pengabdian disini. Dan lagi karena… Mama, istri pertama papi ngga mau mami datang kesana.”


“Kalian di asingkan??” tanya mama fatma dengan wajahnya yang begitu serius, dan sora mengangguk menjawab pertanyaannya saat itu. Ia juga bercerita jika kadang mami sering diam-diam datang ke Jakarta dan mencuri kesempatan menengok sora bagaimanapun caranya.


Sora membulatkan mata, ia kaget ketika mama fatma seperti begitu mengenal maminya. “Ibu kenal mami sora? Serius?” tanyanya antusias.

__ADS_1


“Ya, sangat kenal dia karena dia adalah pembimbing terbaik saya. Bahkan ia sudah menganggap mama seperti adiknya sendiri, menemaninya dikala sepi dan menghibur hatinya saat ia rindu dengan buah hatinya disana.” Mama fatma menjelaskan hubungan mereka yang memang sebaik itu, yang bahkan mama fatma sering mendapat ongkos kuliah dan menumpang hidup di rumah lamanya.


“Kamu kenapa tak ke rumah itu, Sora?”


“Tidak, sora ngga akan kesana,” jawabnya, kemudian menceritakan masalah yang ada dan statusnya yang kabur dari rumah dan dari kejaran kakaknya. Jika ia di rumah itu, pasti ia akan segera ditemukan oleh mereka semua dan dipaksa pulang untuk pernikahan paksa.


“Sora ngga mau dinikahin seperti itu. Dan saat ini sora kabur, bahkan bertemu dengan sahabat dekat mami. Yang ingin sora tanyakan adalah, apa benar mami kecelakaan?” tanya sora. Mama fatma saat itu hanya diam dan kembali menatapnya, ia seperti tengan menyimpan sesuatu yang begitu sulit ia ucapkan padanya.


Saat itu sora ditahan dan bahkan tak dapat melihat jasad sang mami untuk yang terakhir kalinya. Ia hanya melihat lewat foto, dan itu saja hanya memperlihatkan wajah sang mami yang telah bersih dengan tubuh yang sudah terbungkus rapi. Jika benar, sora hanya ingin meminta catatan tentang hasil visum sang mama yang mereka lakukan di Rumah sakit itu.

__ADS_1


“Sora hanya ingin yakin, agar sora tak lagi bertanya-tanya atau menuduh orang lain atas kematian mami.”


“Sora merasa mami sora dibunuh, kenapa?” tanya mama fatma. Tapi sora hanya menggelengkan kepala, ia fikir itu hanya insting seorang anak terhadap ibunya dengan segala rasa penasaran yang ia tahan selama ini.


__ADS_2