Pembantuku Konglomerat

Pembantuku Konglomerat
Rayan itu milik sora


__ADS_3

Hari sudah mulai petang. Niji yang tak sengaja terlelap, terbangun oleh suara tangis Lila di kamarnya.


"Haish, kenapa lagi anak itu?" kesalnya. Dan Ia pun segera menghampiri Lila dikamarnya.


"Abang.... Abaaaang.." pekik balita mungil itu.


Niji langsung menggendong dan menimangnya agar segera diam.


"Ini sayang, ini Abang udah disini. Maaf ya, udah ninggalin seharian." bisiknya pada Lila.


Ketika Lila mulai diam, tatapan Niji mulai mencari ke setiap sudut rumah. Seseorang telah hilng tanpa kabar sore ini. Pergi, tanpa pamit sepatah katapun padanya.


"Bik... Bik mun?" panggil Niji, lalu mencarinya kebelakang.


"Bik, Sora mana?" tanya Niji.


"Sora? Dia lagi pulang ke kost, katanya mau beres-beres." jawab Bik mun.


"Pakai apa dia?"


"Motor Bibik dia pakai. Kenapa?"


"Bik, kok. Bisa sih, percaya sama orang asing? Biar bagaimanapun, kita itu belum kenal dia. Ketemu baru ini, bisa-bisanya pinjemin motor. Nanti kalau di bawa kabur gimana?"


" Ya engga lah, Bang. Bibik percaya sama dia, ngga akan jahat kok."


"Lah, nyatanya... Sampai sekarang belum balik. Hayo." ucap Niji.


Bik mun tak terlalu memikirkan ucapan itu. Ia percaya pada hati nuraninya, bahwa Sora adalah anak yang baik. Ia pun kembali fokus pada masakannya.


"Nih, Bik... Pegang Lila." ucap Niji seraya memberikan Lila pada Bik Mun.


"Loh, abang mau kemana?"


"Cari motor Bibik lah, kalau dia jual gimana?"


"Siapa yang mau jual motor Bibik?"


"Sora? Akhirnya pulang." ucap Bik mun.

__ADS_1


"Iya nih Bik, makasih motornya." ucap Sora, mengembalikan kunci motor itu.


Sora kemudian menghampiri Niji yang sudah siap dengan jaketnya.


"Gue tanya sama loe, siapa yang mau jual motor Bik mun? Gue?" tanya Sora dengan tatapan tajam pada Niji.


"Ya Loe lah, siapa lagi? Kan loe yang pinjem motor ngga balik-balik." jawab Niji.


"Terus, loe fikir gue bisa seenaknya jual motor orang. Demi apa? Demi biaya hidup? Seberapa miskin gue dimata loe? Sehingga loe bisa hina gue begitu?"


"Ya... Ngga gitu juga, gue cuma..."


"Kenapa gitu, masih ada aja pemuda berpendidikan, tapi berfikiran semput kayak loe. Gue kira, dengan Mama papa loe yang baik, loe juga ikut baik. Rupanya? Sifat baik tidak datang melalui sebuah keturunan."


"Lah, kenapa bawa-bawa Papa mama?" sela Niji.


Sora menghembuskan nafas penuh kekesalan. Ia mulai terpancing emosinya, dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia biasa memukul, bahkan mencelakai orang ketika masih dalam perlindungan sang Papi. Tapi sekarang, tak akan ada yang dapat melindunginya disini.


Untung saat itu, Mama Fatma datang. Sehingga bisa melerai mereka semua.


"Eh, Kalian kenapa?" tegurnya.


"Ini, Niji nuduh saya bawa kabur motor Bik mun. Padahal saya pinjem sebentar buat beres kosan." jawab Sora dengan kesal.


"Ya, Niji curiga aja, Ma. Dia pinjem lama banget pulangnya. Apalagi, dia kan bukan asli orang sini."


"Iya, gue bukan asli orang sini. Makanya gue kasih KTP gue ke Bapak sebagai jaminan. Dan itu KTP asli. Dah, gedeg gue sama loe." ucap Sora, lalu melangkah meninggalkan Niji yang sedang di marahi Mamanya.


Sora kembali meraih Lila dari tangan Bik Mun. Ia mengajaknya bermain lagi sembari menyuapinya makan sore.


"Sora..."


"Iya, Bu... Kenapa?"


"Saya mau minta maaf atas perlakuan Niji sama kamu, ya?"


"Kenpa Ibu yang minta maaf?" tanya Sora pada Bu Fatma.


"Ya, karena Niji salah."

__ADS_1


"Harusnya dia yang minta maaf. Jangan diwakilin begini, nanti rasa tanggung jawab dia ngga ada." jawab Sora.


"Maaf, Bu. Bukannya sok tahu, tapi sepertinya memang terlalu memanjakan dia. Makanya begitu." sambungnya.


"Ya, saya akui. Memang kami memanjakan dia. Dia anak tertua disini, calon pewaris dari bisnis keluarga. Dia yang kami harapkan, dia yang kami gadang-gadang bisa membuat semua semakin sukses dan berkembang." jawab Bu fatma dengan begitu tulus.


"Beginilah mungkin, rasanya ayah dan Kak Ardy menjagaku. Aku yang digadang sebagai calon pewaris mereka, dan harus juga di jaga dan dapat yang terbaik. Sayangnya, terbaik bagi mereka, tak cukup baik untukku." gumam Sora dalam hati.


"Kamu... Masih punya orang tua, Sora?" tanya Bu Fatma..


"Ehm? Masih, Bu. Tapi di jakarta."


"Terbalik rasanya. Biasanya, orang sini rela pergi ke jakarta demi bekerja. Tapi kamu justru dari sana ke sini."


"Ya, mungkin sistem timbal balik aja, Bu. Kalau ngumpul disana semua, jakarta makin gampang penuh nanti." canda Sora, membuat suasana hangat diantara mereka.


Makan malam tiba, bertepatan dengan kedatangan Pak Rudi. Ia baru saja pulang, setelah bergantian dengan Bu Fatma untuk menunggu putra sulungnya di rumah sakit.


" Ra, makan yang banyak. Bapak lihat, kamu kurus sekali." ucap Pak Rudi padanya.


"Iya, Pak. Saya emang gini dari dulu. Ngga tahu, ngga bisa gemuk. Turunan Mama." jawab Sora sedikit segan.


Mereka ceria dan penuh canda tawa. Hanya Niji yang tampak muram, dan sesekali menatap Sora dengan tajam. Entah apa yang sedang Ia fikirkan mengenai gadis itu.


♦️♦️♦️


" Pi... Makan tang banyak dong. Kalau sedikit begitu, gimana mau sehat." bujuk Ayu pada mertuanya.


"Papa kenapa? Kepikiran Sora?" sambung Ardy.


"Ya, ini makanan kesukaan Sora. Jadi ingat, dia di sana sudah makan apa belum? Bagaimana dengan gizinya." ucap Tuan Paranata.


Ardy mendengkus kesal. Lagi-lagi hanya Sora yang ada dalam fikiran Papinya. Padahal, Dia yang selalu ada di depan mata.


"Papi fokus ke kesehatan Papi dulu. Besok kita mau nikahin Puspa sama Rayan. Papa ngga boleh lemah disana." ucap Ardy dengan tegas.


Tuan Pranata baru ingat tentang itu. Dan Ia menyesal, telah lupa memberitahu Sora tentang semuanya.


Puspa adalah Satu-satunya sahabat terbaik, dan orang yang paling Sora percayai. Sehingga benar-benar tepat, untuk di jadikan sebagai pengantin pengganti, dan setidaknya menutup aib keluarga Pranata.

__ADS_1


"Jangan sampai mencintainya, karena Rayan itu milik Sora." ucap Tuan Pranata, pada Puspa kala itu.


Puspa mengangguk, tapi Ia pun tak dapat menjamin hatinya sendiri. Mereka adalah pria dan wanita dewasa, yang pasti akan ada godaan ketika bersama.


__ADS_2