
Hari mulai semakin gelap. Sora dan Niji mulai bersiap untuk pulang dan membayar semua pesanan mereka barusan kepada penjaga kedai.
Melewati jalanan berpasir, mereka menuntun Lila di kanan dan kirinya. Berlompatan melewati anak tangga dan semua rintangan yang ada.
"Hooop.. Sampai kita di motor. Saatnya kita pulang." ajak Sora yang kembali menggendongnya.
Sebelum berangkat, Sora kembali mendengar suara tangis seorang anak yang begitu memelas. Sora mencari dan megarahkan pandangan ke sumber suara, dan terus mencari keberadaanya..
"Ra... Ayo, ngapain lagi?" ajak Niji yang telah siap di motornya.
"Bentar deh... Kamu denger ngga, itu ada anak nangis kenceng banget. Kayak lagi di gebukin bapaknya."
"Denger, tapi itu bukan urusan kita. Ayok pulang."
Sora sudah ingin menaiki motor itu, tapi tampak olehnya, ketika ayah dan anak itu mendekat pada Sora di parkiran.
Ayah itu sedang memukuli bahkan menendang anaknya dengan kasar, tak berhenti meski anaknya menangis meraung-raung karenanya. Sang ayah terus memarahinya dengan bahasa daerah, dan Sora tahu artinya.
Sora terus memperhatikan mereka dengan tajam. Jantungnya berdesir kencang, kakinya gemetar, dan air matanya mulai keluar. Ia bahkan tak menghiraukan panggilan Niji padanya.
"Jangan.... Jangan pukul lagi, jangan. Aku mohon..." Sora mulai meracau tak jelas.
"Ra... Kamu kenapa? Ayo pulang..." Niji meraih tangan Sora, tapi Sora menepisnya.
"Jangna hajar dia lagiiiii!!!" pekik Sora dengan begitu kuat.
Ia pun berlari menghampiri mereka, lalu spontan memberikan tendangan berputar pada pria itu. Hingga Pria itu jatuh dan tersungkur di tanah berpasir.
"Raaaaa! Astaga ini anak." pekik Niji yang tampak begitu syok dengan kelakuan gadis itu.
Ia kemudian menggendong kembali Lila dan menghampiri Sora dan pria itu.
"Woy tino! Apo-apoan kau ini? Datang-datang nyepak orang sekendak utak. (Woy. Perempauan! Apa-apan kamu ini? Dateng-dateng nendang orang seenak jidat)." omel pria itu yang nampak begitu murka.
"Saya paling ngga suka lihat anak dikerasin gitu sama ayahnya. Kenapa orang tua harus menyiksa lebih dulu agar anaknya menuruti semua maunya. Apa ngga bisa dengan cara lembut?" balas Sora.
"Anak-anak aku, suka-suka aku lah. Dia kalau ngga di kerasin, memang ngga nurut. Kamu ngga tahu apa-apa, ngga usah ikut campur. Untung cewek kau."
__ADS_1
"Ra... Ya Allah, Ra. Kamu ngapain pake acara begitu? Malu, Ra." tegur Niji yang kini di sampingnya.
"Aku kesel, lihat orang tua sok keras kayak dia. Giliran anaknya pergi, langsung nangis nyariin." jawab Sora.
"Ya, itu kan kalau di tempat kamu. Ini engga, kamu di perantauan."
"Bodo... Mau laporin polisi juga hayuk, kesel aku." jawab Sora.
"Ayo lah, ke kantor polisi. Biar ditangkap sekalian, kau. Ikut campur urusan orang," tantang pria itu pada sora.
Semua orang yang berkerumun, hanya menuruti pria itu. Karena mereka tahu, pria itu tak dapat di lawan karena berwatak keras. Akhirnya, Sora di giring ke pos polisi terdekat untuk mediasi.
" Ji... Kamu pulang aja, antar Sora. Kalau mau, nanti kesini lagi ngga papa. Kalau engga, biar aku pulang sendiri." pinta Sora.
Niji termenung, bingung mengambil keputusan. Sora disini sendiri, dan bahkan tak memiliki teman. Bagaimana bisa menyelesaikan kasus yang menimpanya, apalagi berurusan dengan orang berwatak keras.
Namun, Ia memikirkan Lila yang tampak mengantuk dan lelah.
"Oke, aku pulang dulu. Ngga lama, aku balik lagi demi kamu. Kamu jangan melawan, kamu jangan bales keras. Bila perlu, minta maaf aja ngga papa." bujuk Niji padanya.
Niji pun pulang, dengan Lila dalam pelukannya.
" Ola mana?" tanya nya sepanjang perjalanan.
"Nanti abang jemput Ola, ya? Lila pulang dulu, bobo sama Mama."
"Iya..."jawabnya dengan mata yang sayu.
Niji tiba di rumah, tepat ketika Papa dan Mamanya tiba.
" Darimana kamu? Sora mana? "tanya Pak Rudi.
" Ma, tolong Lila dulu, ya? Niji mau ngomong sama Papa." ucap Niji, dengan memberikan Sora pada Mamanya.
Mama Fatma menerima bocah yang telah lelap itu, lalu membawanya ke dalam kamar untuk di tidurkan. Niji dengan ragu, meminta sang papa duduk dan memulai obrolan mereka.
" Ada apa? Ada masalah? "
__ADS_1
" So-Sora, Pa. Sora di tangkep di pos polsek pantai Zakat."
"Lah, kok bisa? Kenapa dia?" tanya Pak Rudi, dengan wajah begitu kaget.
Niji pun menceritakan hal yang tadi terjadi secara lengkap. Pak Rudi pun mengangguk dan mencoba memahami inti dari permasalahan itu dengan baik.
"Dia refleks, Pa. Sayangnya, memang ketemu orang yang keras kepala tadi." ucap Niji lagi.
"Baiklah, ayo kita kesana sekarang. Papa akan bantu bicara."
Dengan wajah berbinar, Niji pun menyetujui permintaan sang papa. Mereka pergi setelah pamit dengan Mama Fatma, dan menuju ke polsek dimana Sora di amankan.
***
"Nona, boleh lihat KTP nya?"
"Ini, Pak." ucap Sora, menyerahkan KTP aslinya pada polisi.
"Anda, asli jakarta? Kenapa disini?"
"Saya kerja, jadi Baby sitter." jawab Sora.
"Halah, baru Baby Sitter sudah banyak gaya. Mending pejabat, atau PNS." ledek Pria yang di hajar Sora tadi.
"Anda PNS?" tanya Sora.
"Iyo lah, warga terhormat, abdi negara."bangganya.
" Seorang PNS adalah seorang abdi negara. Semua tindakannya, harusnya mencerminkan diri sebagai seorang abdi negara yang baik, jujur, dan disiplin. Tapi, kenyataan yang saya lihat adalah sebaliknya. Kelakuan anda, sama sekali tak patut di contoh." jawab sora dengan lantang.
" Kau! Beraninya... Siapa yang mengajarkanmu perkataan kasar seperti ini, orang tuamu?" amuknya.
"Tak ada orang tua, yang mengajarkan anaknya berkata kasar. Tapi, sang anak sendiri, yang akan memperlajarinya dari melihat. Apalgi melihat perilaku orang tuanya. Sama seperti anak bapak, dia akan kasar dengan teman-temannya nanti." tunjuk Sora, pada bocah kecil yang sedang duduk berselimut handukĀ di pojokan.
Anak kecil itu masih tampak syok, dan menatap ayahnya dengan penuh amarah.
Anak itu mengingatkan Sora pada dirinya sendiri. Yang selalu menatap Papi nya penuh dendam dan rasa benci. Apalagi, ketika Ia rindu dengan Maminya, maka Ia akan semakin membenci Papinya.
__ADS_1