
Sepasang pengantin baru itu tengah menjalankan formalitasnya. Mereka menjalankan ritual bulan madu, agar meyakinkan semua orang pada pernikahan yang mereka jalani saat ini.
Puspa mengikuti rayan dan terus berjalan dibelakangnya menarik koper miliknya sendiri. Rayan sama sekali tak menoleh kebelakang meski hanya untuk melihat puspa yang kerepotan dengan barangnya.
"Mas, kita mau kemana sih? Kok, aku ngga dikasih tahu arah tujuan kita kemana?"
"Kemana saja, asal bisa menjauh dari mereka. Rasanya aku muak jika terus seperti ini," jawab rayan dengan wajah datarnya.
Padahal baru beberapa hari mereka menikah, tapi seperti sudah berbulan bulan rayan tersiksa terus bersama dengan puspa. Ia bahkan tak pernah sekamar, dan rayan mengalah tidur diruang kerja. Sebegitu enggan rayan melihat Wanita itu saat ini.
"Lagipula kau bukan sora. Ingat? Aku mengucap janji itu menyebut nama sora, dan bukan puspa."
"Iya, inget kok. Jangan dipertegas mulu," jawab puspa dengan rasa sakitnya.
Hingga mereka duduk bersama dan rayan mengambil tiketnya. Tapi rayan masih sedikit berbaik hati untuk memberikan sebuah minuman dingin sebagai Pelepas dahaga puspa yang tampak begitu kelelahan. Biar bagaimanapun, dan entah kenapa ayah rayan begitu menyukai puspa sejak menjadi menantunya.
__ADS_1
Panggilan pada penumpang telah di umumkan. Puspa terkejut dan membulatkan mata ketika tujuan mereka disebutkan, dan pas dengan tujuan kepergian keduanya.
"Hah? Kok kesana?" tanya puspa.
"Kau keberatan? Jika tak ingin ikut, lebih baik kau pulang kerumah dan tinggal bersama ayah." Rayan kembali ketus, dan ia berdiri meninggalkan puspa untuk chek in keberangkatan mereka.
Ini pertama kalinya puspa naik pesawat dan pergi sejauh itu tanpa sore disampingnya. Ia begitu tegang, perutnya kencang dan kakinya dingin saat ini. Bahkan rasanya sudah mual, tapi ia tak bisa mengeluarkan itu semua karena hanya berputar di dalam perutnya saja.
"Kau takut?" tanya rayan yang duduk disampingnya.
"Sedikit," jawanb puspa. Dan ia menggigiti kukunya sendiri saat itu dengan kaki yang tak bisa diam terus ia gerak-gerakkan tanpa sadar.
Rayan hanya diam menghela napasnya panjang. Ia memejamkan mata dan berusaha tak perduli dengan gadis yang ada disebelahnya asal ia tak berteriak ketakutan saat ini. Perjalanan Empat puluh lima menit hingga peswat itu kembali mendarat di Bandara. Puspa melepas cengkramannya, dan baru sadar jika tangan rayan terluka.
"Mas, maaf."
__ADS_1
"Sudah, ayo turun. Berharap ini semua tak infeksi nanti," tukas rayan yang kemudian berdiri meningalkan puspa lagi. Seperti itu, meski puspa juga tak pernah berharap banyak akan hubungan mereka berdua.
**
Sora tengah duduk diteras menemain Lila bermain saat ini. Ia memperhatikan wajah ceria dan bahagia itu dengan mainan barunya, yang memang tak ada beban untuk gadis kecil seusia lila. Bahkan, sora sudah mendapatkan beban hidup dari ayahnya sebelum ia dilahirkan kedunia.
Ya, sora yang terlahir dari ibu yang adalah istri kedua itu selama hidupnya di cap sebagai anak seorang pelakor. Sakit, tapi semua bukti memang mengarah kesana. Mereka semua tak terima, jika sora yang akan menjadi pewaris utama perusahaan mereka.
"Ola, napa cedih? Sini main mama Ila," panggil gadis kecil itu padanya.
"Ola ngga sedih, sayang. Ola Cuma duduk temenin ila. Emang kelihatan sedih?"
"Ola tantik," puji gadis kecil itu padanya. Hingga suara gemuruh pesawat yang akan mendarat seketika menghebohkan Ila dengan segala rasa ingin tahunya.
"Icawat! Icawat!!" teriak Ila begitu bahagia melihat seperti burung raksasa yang tampak jelas akan turun dari udara.
__ADS_1
"From_JAKARTA," lirih sora menatap pada pesawat diatas sana. Seperti mendadak diserang kerinduan yang mendalam pada sesuatu atau seseorang yang ada didalam hidupnya.
Ja