Pembantuku Konglomerat

Pembantuku Konglomerat
Bapak bangga sama kamu


__ADS_3

"Ardy, belum ada perkembangan tentang Sora?"


"Belum, Pi_Maaf.  Bahkan anak buah kita sudah Ardy kerahkan ke berbagai penjuru kota. Bahkan diluar kota," jawab Ardy.


"Rapatkan barisan pencarian. Usahakan di temukan dalam bulan ini. Bila perlu, kamu sendiri yang jemput dia di sana."


"Ba-baik, Pi." jawab Ardy.


Selepas pesta pernikahan Puspa dan Rayan, suasana istana itu menjadi kian sepi. Sanak saudara yang datang telah pulang ke tempatnya masing-masing. Tinggal Papi, Ardy serta istri dan anaknya menjadi penunggu rumah.


Ardy tampak stres dengan segala tekanan dari Sang papi mengenai Sora. Apalagi, perlakuan sang papi padanya. Seolah Sora adalah ratu yang akan menguasai seluruh sang Papi.


"Lantas, apa Hak ku sebagai anak lelaki Satu-satunya disini?" gerutunya.


"Anak laki-laki harus kuat, Mas. Harus bisa berdiri sendiri, dan jangan hanya menunggu dari Papi. Cobalah mandiri, apalagi posisi mu sudah jelas. Kamu ngga akan bisa menyaingi Sora." ucap Ayu padanya.


"Lebih baik kamu diam, Ayu. Lebih baik kamu rawat Mami ku dengan baik. Jangan lagi ikut campur urusan kami." sergah Ardy.


Mereka menikah karena dijodohkan. Dan Ardy menyetujui itu karena Ayu adalah seorang perawat. Sehingga Ia bisa memanfaatkan tenaganya untuk merawat Maminya yang ada di rumah tersembunyi. Ardy mengambil sang Mami dari Rumah sakit Jiwa, dan merawatnya di rumah itu.


"Mas... Aku mau urus Akito yang sakit. Dia demam karena kangen Sora."


"Akito biar perawatnya yang urus. Kamu urus Mami ku di sana. Laporkan jika ada perkembangan darinya. Jangan bantah aku."


Ardy pun pergi meninggalkan Ayu yang tampak kesal dengannya


***


Pak Rudi datang bersama Niji, ke kantor polisi. Ia tampak tenang, tapi semburat wajahnya memperlihatkan kecemasan yang mendalam akan diri Sora.

__ADS_1


"Ra, kamu ngga papa?" tanya Niji dengan cemas.


"Ngga papa kalau aku mah. Cuma itu, Si Bapaka keras kepala. Mau nuntut aku seenak jidat." jawabnya.


"Kalian tunggu di luar. Biar Papa bereskan kasus ini di dalam." ucap Pak Rudi, lalu meninggalkan mereka berdua di ruangan besuk.


Baik Niji dan Sora hanya bisa diam, mereka tak berbicara apapun sepanjang waktu.


"Sora, ayo kita pulang." ajak Pak Rudi padanya.


"Sudah selesai, Pak? Saya bebas?"


"Ya, banyak saksi mengatakan kamu tidak bersalah. Apalagi, di kedai yang dekat dengan kejadian itu mempunyai CCTV  aktif. Jadi, kamu bebas dari segala tuntutan."


"Alhamdulillah." ucap Niji dan Sora bersamaan.


Mereka pun pulang, dan Niji membawa mobil itu. Sedangkan Sora dan Pak Rudi duduk dibelakangnya dan bicara berdua.


"Sora ngga suka, lihat Ayah yang melakukan kekerasan sama anaknya. Sora benci, dengan Ayah yang otoriter. Yang maunya menang sendiri, dan ngga mau mendengarkan pendapat anaknya." jawab Sora dengan menundukkan kepalanya.


"Lalu... Kamu boleh melakukan itu? Sesuka hati menghajar orang lain di depan umum?"


"Maaf, Sora salah. Dia bahkan ngga mau mendengarkan anaknya terlebih dahulu. Itu bisa buat sang anak trauma."


"Baiklah, bapak bangga sama Sora. Sora bisa mengambil tindakan. Meski kurang di benarkan, Sora mampu membela orang lain dan Sora memiliki prinsip dalam hidup Sora." Pak Rudi memujinya dengan begitu bangga.


Sora menatap Bosnya itu dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini, Ia mendapat pujian atas sikap yang telah Ia ambil. Meskipun harus menyusahkan, tapi Pak Rudi mau membelanya.


" Bahkan, Papi pun tak pernah bangga pada apapun yang aku perbuat," gumam Sora dalam hati.

__ADS_1


Mereka pulang kerumag pak rudi disambut lila dalam gendongan mama fatma. Mereka cemas jika sora kenapa-napa, dan pasti akan pasang badan untuknya. Entah kenapa mama fatma pun begitu menyayangi sora. Melihatnya saja seperti mengingatkan seseorang dari masa lalunya yang berharga.


"Ola!" pekik lila yang mengulurkan tangan ingin segera memeluknya. Sora berlari, menghampiri gadis itu dengan segera.


"Maafin ola, tadi ninggalin Lila." Sora mengecupi pipi gadis itu dengan begitu gemasnya.


Pak rudi ikut masuk juga bersama niji dibelakangnya. Ia bahkan mengajak mereka semua duduk untuk bicara bersama seperti layaknya keluarga.


Sora pernah diajak berkumpul, tapi akhirnya bukan permasalahan intern keluarga yang dibahas ardy dan papinya. Meski awalnya jelas, tapi kemudian harta yang kembali akan menjadi bahan perdebatan mereka.


Mereka diam. Bik mun meraih Lila agar tak mengganggu pembicaraan mereka disana. "Sora," panggil pak rudy padanya.


"Iya, Pak?" jawab sora yang tampak gugup. Meski awalnya mendapat pujian, tapi tak menutup kemungkinan jika pak rudy akan memecatnya. "Maaf, jika bapak ngga berkenan dengan saya. Jika bapak tak suka, saya bisa_"


"Kamu berasal darimana? Dan bagaimana keluarga kamu?"


Sora terkejut mendengar pertanyaan itu. Dan ia gugup untuk menjawabnya hingga kemudian menggaruk kepala.


"Saya_ ehm, saya memang kabur dari rumah karena mau dijodohkan oleh orang tua. Ya, saya ngga suka di jodohkan bahkan dengan pria yang tak saya kenal." Sora berusaha jujur meski tipis dan masih menyembunyikan kenyataan yang terpenting.


"Kamu sudah akan menikah? Lalu dimana mereka?" Pak rudy kembali bertanya. Karena menurutnya, sora itu unik dan sedikit istimewa. Dan saat itu, sora terpaksa harus berbohong demi menutupi kebohongannya yang lain.


Sementara itu di sebuah Rumah sakit jiwa. Ayu tengah duduk menunggu seorang wanita yang tengah diam membisu dipojokan ruangannya. Memamg ruangan cukup mewah, tapi tetap saja itu ruangan untuk pasien sakit jiwa.


Mereka terus berdiam diri tanpa interaksi. Ayu juga malas untuk memulai pembicaraan jika bukan ibu mertuanya lebih dulu yang memulai. Ia justru sibuk dengan hpnya dan mempertanyakan mengenai sang putra yang ada dirumah bersama perawatnya.


"Kamu harus pergi_" ucap sang mama mertua yang masih diam ditempatnya. Sedangkan ayu memicingkan mata, memastikan itu hanya sekedar ucapan atau memang mengajaknya berbincang.


"Jangan bertahan jika itu sakit. Kau bisa gila seperti aku disini. Hehe... Hehehe! Kau mau gila?" racaunya disana.

__ADS_1


Ayu hanya diam. Sekali lagi bahwa ibu mertuanya itu adalah wanita dengan gangguan kejiwaan yang tengah dirawat secara intensif di dalam sana.


__ADS_2