
Tujuh ratus tahun yang lalu di sebuah kota kadipaten di Utara tanah Jawa terjadi gonjang ganjing, karena antara praja utama kadipaten saling curiga mencurigai saling berebut pengaruh untuk bisa merebut hati sang Adipati Buono Lanjar, saling fitnah dan saling jegal terjadi sudah lebih dari dua Warsa, dan puncaknya salah satu praja utama kadipaten Ki Rejo pakulon menjadi korban fitnah keji dari Ki Sabdo bungkik yang menghembuskan Isu bahwa Ki Rejo pakulon telah bersekongkol dengan kadipaten Bumi Areng untuk meruntuhkan kekuasaan Adipati Buono Lanjar di Kadipaten Randu Kendit, dan dengan segera Adipati Buono Lanjar mengambil sikap dengan memberikan perintah prajurit kadipaten untuk melakukan tumpes kelor pada keluarga praja utama yang berkhianat pada adipati, yaitu Ki Rejo pakulon. Kanjeng Adipati Buono Lanjar memberikan arahan kepada prajurit kepercayaannya untuk menyewa pembunuh bayaran agar rencana tumpes kelor keluarga Ki Rejo pakulon di anggap pembunuhan biasa bukan sekandal yang terencana, Ki Sentono prajurit kepercayaan Adipati Buono Lanjar lalu mencari seorang tokoh dunia persilatan yang di pandang mampu untuk mengalahkan kesaktian Ki Rejo pakulon.
Matahari sudah terbenam di ufuk barat temaramnya senja mulai menyelimuti bumi Kadipaten Randu Kendit, Ki Sentono dengan di temani oleh bawahannya memacu kuda ke arah selatan menuju bukit Condro, di mana di situ ada seorang tokoh dari aliran hitam yang sakti Mandra guna bernama Kelabang Ijo dan komplotannya. Tepat sebelum tengah malam rombongan Ki Sentono telah memasuki hutan Condro yang terkenal sangat angker di mana setan genderuwo pahrayangan bercokol di sekitar hutan bukit condro. Suasana hutan yang menyeramkan di iringi dengan hembusan angin yang dingin menusuk tulang, terdengar gemerisik daun daun bergesekan menambah seramnya suasana di malam itu. Sementara itu Ki Sentono dan bawahannya memacu kudanya dengan hati hati karena jalan yang hanya setapak dan di penuhi terjalnya bebatuan kapur yang runcing membuat Ki Sentono memacu dengan hati hati agar kudanya tidak terluka kakinya, malam itu rembulan bersinar sangat terang sehingga jalan setapak yang di lalui Ki Sentono menjadi jelas terlihat walau agak samar karena ternaungi oleh dedaunan pohon di hutan itu.
"Ki.....apa tidak sebaiknya kita lebih cepat memacu kudanya Ki...? agar kita cepat sampai di pondok Kelabang ijo..!?" Tanya bawahannya Ki Sentono setengah berbisik.
"Tenangkan pikiranmu....sebentar lagi kita sampai...!!" Jawab Ki Sentono datar.
"Baiklah Ki ku harap kita lekas sampai, perasaanku gak enak seperti ada yang mengawasi Kita sejak masuk hutan ini" Jawab bawahan Ki Sentono dengan pelan.
Mereka terus memacu kudanya pelan dan sekonyong konyong kuda Ki Sentono berhenti mendadak dan meringkik dengan keras membuat sunyi nya malam itu terasa mengerikan. Bersama suara ringkik kuda terdengar gelak tawa seseorang yang menggema di antara pepohonan, tawa yang mengandung hawa kesaktian tinggi sehingga membuat dada kedua prajurit kadipaten Randu kendit itu terasa sesak untuk bernafas. "Ha...ha...ha...ha....!!! angin mana yang membuat dua cecunguk kadipaten tersesat di hutan kekuasaan ku ini.....!!!?? ha...ha...ha...!!!" Sebelum suara dan tawa itu menghilang gemanya di hadapan Ki Sentono sudah ada seorang manusia dengan wajah yang penuh dengan bekas luka dengan senyuman menyeringai yang membuat kuda kuda abdi kadipaten Randu kendit itu meringkik ketakutan.
"Siapa kau kisanak...??" Tanya Ki Sentono dengan suara yang bergetar.
"Ha...ha...ha...!!! harusnya aku yang bertanya padamu wahai cecunguk jelek...hi...hi...hi....!!!" Jawab manusia menyeramkan itu di sertai gelak tawa cekikikan.
"Aku prajurit kadipaten ingin menemui kelabang ijo....!!"
"Waduhh.....!! haha...ha...ha...!! buat apa kalian datang kemari mau menemui kakang kelabang ijo Hem....?, mau antar nyawa mu prajurit geblek ....haha...hiihi...hehe...!!?"
"Aku datang kemari atas perintah Kanjeng Adipati Buono Lanjar untuk memberikan pekerjaan pada kelabang ijo! siapa dirimu wahai kisanak..?" tanya Ki Sentono kepada manusia yang berdiri di depanya.
"He..he...., baguslah kalo kamu datang kesini mau ngasih rejeki buat kita...he...he...he.....!! Aku adik Kelabang ijo namaku Gagak dengklang yang tampan....ha...haa...ha...ha...!!" Jawab gagak dengklang dengan congkaknya.
"Baiklah gagak dengklang....!!, pertemukan aku dengan kelabang ijo segera karena hari sudah semakin larut...!!" Ucap Ki Sentono mengharap. Sementara itu sebelum gagak dengklang sempat mengeluarkan jawab pan atas permintaan Ki Sentono sebuah bayangan hitam melesat dari balik lebatnya pepohonan hutan Condro.
__ADS_1
"Dengklang biar aku urusi Manusia ini....!!" Seketika sebuah suara menggelegar membelah kebekuan suasana malam itu. Seorang pemuda berumur sekitar tiga puluhan tiba tiba sudah berdiri di samping Gagak dengklang.
"Hai.....prajurit kadipaten, ada apa kalian bisa tersesat sampai di sini...., apa kalian ingin mengantarkan nyawamu yang tidak berharga itu.....hem.....ha...ha....haa...?!!!!" Ucap pemuda itu sambil berkacak pinggang.
"Kisanak aku kesini atas perintah sang adipati untuk menemui kelabang ijo, kalo sekiranya kisanak mengetahui keberadaanya mohon antarkan kami untuk bertemu dengan nya." Jawab Ki Sentono dengan meminta. sementara itu bawahan Ki Sentono sudah gemetaran melihat dua tokoh dunia persilatan dari aliran hitam yang sangat berwibawa dengan keangkeranya.
"Ha....ha..ha....!!! siapa namamu prajurit...., sekarang kamu sudah berhadapan langsung dengan pendekar kelabang ijo yang tersohor akan kesaktian nya....he...he...he....!!" Ucap kelabang ijo dengan pongahnya.
"Apakah anda yang bernama Kelabang ijo wahai kisanak....??, tak ku sangka dari suaramu umurmu masih cukup muda...!?, tapi kesaktianmu begitu tersohor sampai di mana mana...!!" jawab Ki Sentono dengan berusaha menyanjung.
"Sudah tidak usah basa basi banyak bacot kamu prajurit rendahan, apa gerangan yang kau inginkan sampai malam malam begini nekad mencariku....?, ku harap apa yang kamu inginkan tidak mengecewakanku....!!" Ucap kelabang ijo dengan tidak sabaran.
"Baiklah pendekar kelabang ijo, aku kesini atas perintah Adipati Buono Lanjar, untuk menyewa mu memberikan hukuman yang setimpal atas pengkhianatan kepada kadipaten!!" Ucap Ki Sentono menjelaskan maksud dan tujuannya menemui pendekar kelabang ijo dan komplotannya.
Setelah semua di haturkan perintah sang Adipati Buono Lanjar dan Ki Sentono juga sudah menyerahkan uang satu tali kepada pendekar kelabang ijo sebagai uang panjar atas kerjaan yang akan di kerjakan komplotan itu, lalu Ki Sentono mohon diri dan langsung memacu kudanya keluar dari angkernya hutan bukit Condro yang suasana nya penuh dengan keangkeran menuju pulang ke kota Kadipaten untuk laporan kepada sang adipati.
"Buka gerbang nya.....!!" Bentak penunggang kuda itu pada prajurit jaga yang terlihat gugup.
"Kriieetttzz...!!" Suara gesekan kayu pintu gerbang yang seakan merintih kesakitan di makan usia. Setelah pintu terbuka Ki Sentono segera memacu kudanya kembali menuju ke pendopo untuk laporan kepada sang Adipati di pendopo kadipaten.
Pagi itu pendopo masih sepi tidak ada satupun praja kadipaten kelihatan batang hidungnya, dengan tubuh yang lelah Ki Sentono menuju pendopo dan duduk bersila di lantai kayu menunggu sang Adipati menemuinya.
Sementara itu di sebuah rumah joglo besar dengan pekarangan yang luas di tumbuhi pohon pohon yang keliatan sudah tua, terlihat seorang laki laki setengah baya sedang mengelus ngelus rumbai seekor kuda jantan yang gagah berwarna coklat tua dengan bulu yang bersih mengkilat. Dan terlihat seorang pemuda dekil berkulit hitam bermata belok berlari tergopoh gopoh ke arah lelaki yang sedang memanjakan kuda kesayangannya.
"Ndoro.....!!!, ndoro.....!!!ada tamu mau ketemu ndoro....di pendopo...ndoro.....!!" Panggil pemuda itu pada majikanya dengan wajah lucu karena mata beloknya.
__ADS_1
Sepintas laki laki itu menoleh dan bertanya. "Hemmm......siapa yang bertamu pagi pagi begini....??" tanya laki laki setengah baya itu dengan wajah penuh tanda tanya. "Gak tahu ndoro saya belum pernah melihat tamu ndoro Rejo....!" jawab pemuda dekil itu dengan wajah tertunduk.
"Hemmm.....!! baiklah bongkeng kamu masukan kuda ini ke kandang, coba aku liatnya siapa gerangan pagi pagi sudah bertamu di rumahku....!" Ucap Ki Rejo pakulon sambil menyerahkan pelana kuda ke Bongkeng pemuda dekil yang sudah ikut Ki Rejo pakulon sejak masih kecil. Laki laki setengah baya itu adalah seorang praja utama kadipaten Randu kendit dia adalah Ki Rejo pakulon. Dengan bergegas praja kadipaten itu menuju pendopo rumah, dan terlihat di sana seorang berpakaian lurik memakai ikat kepala hitam sedang duduk di kursi kayu berukir yang ada di tengah tengah pendopo rumah Ki Rejo pakulon.
"Lho Dimas Kentho....!! pagi pagi kok sudah ke sini ada perlu apa Dimas...??" Tanya Ki Rejo pakulon sedikit merasa heran.
"Kakang Rejo.....,bisakah kita bicara sebentar kakang, ada hal yang perlu saya sampaikan kepada kakang Rejo pakulon" Jawab tamu Ki Rejo yang bernama Kentho, dia adalah salah satu praja di kadipaten Randu kendit bawahan Ki Rejo pakulon sebagai praja yang mengurusi pajak rakyat di Kadipaten Randu kendit.
"Ada apa Dimas..., kok keliatannya penting sekali sehingga pagi pagi begini Dimas sudah sampai di rumah kakang...??" Ucap Ki Rejo sedikit penasaran.
"Kakang pagi tadi Sentono sudah pulang, sesuai dengan apa yang kita perkirakan kakang, Kanjeng Adipati Buono Lanjar terpengaruh dengan omongan mulut busuk Ki Sabdo Bungkik yang selama ini selalu berusaha menjegal posisi kakang sebagai praja pajak..!" Jawab Kentho dengan setengah berbisik.
"Apa yang membuat Dimas bisa berpikiran seperti itu...??" Tanya Ki Rejo pakulon tak kalah bebisiknya.
"Kang...., Sentono baru pulang dari bukit Condro, buat apa Sentono ke bukit Condro kalo tidak ingin menyingkirkan kakang Rejo dengan menyewa seorang pembunuh bayaran kakang...!!?" Jawab Kentho menjelaskan.
"Oh...o...o...o....aku sudah paham dimas...!! segera suruh orang kita untuk mencari berita tentang kepergian Sentono ke bukit Condro Dimas, jangan sampai kita mati konyol tanpa mengetahui maksud busuk Sabdo Bungkik" Ucap Ki Rejo pakulon pada bawahannya untuk segera mencari berita tentang rencana apa yang akan di lakukan Sabdo Bungkik dan gerombolannya untuk menggembosi pengaruh Rejo pakulon pada Adipati Buono Lanjar.
Kentho mengangguk dan tanpa banyak bicara segera keluar dari pendopo memacu kudanya menuju kota kadipaten untuk melihat lihat keadaan dan memata matai gerak gerik Ki Sentono dan anak buahnya. Tapi Kentho sangat yakin bahwa Ki Rejo pakulon cepat atau lambat akan segera di jegal pengaruhnya entah dengan cara apa Kentho masih belum bisa menafsirkan rencana apa yang akan di lakukan oleh Ki Sabdo Bungkik dan gerombolannya.
Sepekan sudah sejak Kentho datang kerumah Ki Rejo pakulon suasana kadipaten terasa kaku dan antara praja utama kadipaten saling curiga mencurigai. Selama itu pula Ki Rejo pakulon selalu meningkatkan kewaspadaannya terhadap cara cara licik yang di gunakan oleh Sabdo Bungkik yang berusaha untuk menyingkirkan Ki Rejo pakulon dengan cara apapun itu. Rencana demi rencana juga di susun oleh Ki Rejo pakulon bersama Kentho dan orang orang kepercayaannya untuk selalu mencari berita dan langkah apa yang perlu di lakukan untuk menangkal rencana licik Ki Sabdo Bungkik yang semakin lama semakin terasa kebusukannya.
Hari menjelang tengah malam, suasana di rumah Ki Rejo pakulon begitu sunyi terasa mencekam di pendopo terlihat ada tiga orang laki laki sedang berbincang serius sambil menikmati hidangan yang ada dan minum kopi tubruk yang terasa harum wanginya. Tapi angin di malam itu seakan enggan untuk bertiup, di kejauhan lolongan anjing liar melengking membuat suasana di malam purnama itu terasa mencekam dan penuh hawa yang menakutkan.
"Dimas Kentho dan kau Sudiro, besok pagi segera susun rencana untuk bagaimana caranya agar kita bisa menemui Kanjeng Adipati secara pribadi dan kita buka semua apa yang telah di lakukan oleh Sabdo Bungkik selama ini pada kadipaten Randu kendit...!!!" Ucap Ki Rejo pakulon memberikan arahan pada kedua bawahanya, agar bisa mengusahakan untuk bertemu secara pribadi dan tertutup untuk bongkar semua kelakuan Ki Sabdo Bungkik yang sudah dengan sangat licik berkhianat kepada Kanjeng Adipati Buono Lanjar.
__ADS_1
"Baik kakang Rejo aku dan Dimas Sudiro besok pagi akan mulai untuk menyiapkan pertemuan kakang dan Kanjeng Adipati agar kita bisa bicara sejelas jelasnya dengan benar kakang...!!" Jawab Kentho dengan yakin. Tapi kenyataanya tanpa sepengetahuan Ki Rejo Adipati Buono Lanjar sudah termakan oleh mulut manis Ki Sabdo Bungkik yang dengan liciknya bisa mempengaruhi Adipati Buono Lanjar untuk menyingkirkan Ki Rejo pakulon yang telah di anggap berkhianat kepada kekuasaan Adipati Buono Lanjar dengan cara bersekongkol dengan kadipaten Bumi Areng untuk melengserkan kekuasan adipati di bumi randu kendit. dan tanpa di sadari oleh Ki Rejo pakulon Adipati Buono Lanjar sudah gerak cepat dengan menyewa kelabang ijo dan komplotannya untuk menghabisi Ki Rejo pakulon dengan cara di tumpes kelor. Malam semakin larut dan lolongan anjing masih terus terdengar seakan mengisyaratkan akan terjadi sesuatu yang sangat mengenaskan di bumi Randu kendit tepat di bulan purnama yang terasa redup sinarnya.