
Sudah dua Warsa lebih Wirang ningratan Tidak bertemu Si Bongkeng sejak pertemuannya di pinggir kali dan berlanjut di pondokan Gupak Warak, karena kakek resi Sawogaling setelah itu tidak lagi mengajak wirang ningratan untuk turun gunung mencari persediaan makanan lagi di pasar, selama ini cuma resi Sawogaling yang turun untuk mencari persediaan makan agar bisa mencukupi kebutuhan mereka berdua di puncak Lawu yang anggun. Sehingga rasa rindu di hati Wirang ningratan kadang mencuat tak terbendung ingin menyambangi pamomongnya walau hanya sekejap mata atau sekedar ngobrol, tapi semua itu tak terlaksana karena Resi Sawogaling melarang muridnya itu untuk keluyuran gak tentu. Dan selama dua Warsa itu Wirang ningratan bener bener di persiapkan segala sesuatu untuk olah batin dan olah Kanuragannya agar nanti bisa menanggulangi semua yang akan di hadapi di dunia nyata berbaur dengan masyarakat banyak dan pasti akan bertemu dengan segala golongan pendekar dari aliran putih maupun aliran hitam dan pasti akan terjadi konflik dengan di akhiri sebuah pertempuran karena pada zaman itu belum ada polisi yang bisa di mintai keadilan, hukum saat itu ya hukum rimba siapa yang kuat dia yang menang. Dalam lamunan wirang nigratan di bawah pohon dekat mata air di kaki lembah tiba tiba Wirang ningratan sepintas telinganya yang tajam mendengar sebuah gerakan yang menimbulkan desiran angin yang melabrak ke arahnya.
"Swiiiissss....srekkckk.....tap..tap....ssshhhossshh.......duuckk.....pyaaarrr........!!!!" Benar saja sebongkah batu gunung berwarna hitam melesat cepat menyasar ke tubuhnya, dengan sigap dan secara reflek tangan Wirang ningratan menangkis dengan mengepalkan tangannya yang secara otomatis sudah mengalir hawa sakti yang melambari kepalan tangannya dan menyambut serangan itu, sebuah ledakan membahana di lembah Braholo, batu sebesar kepala bayi hancur berkeping keping setelah beradu dengan kepalan Wirang ningratan.
"Hhee..heee...he...he...hhh....h..h...!!!"Uhuucckk....uhuucckk...huukk....!!!" Terdengar kekeh dengan di akhiri batuk batuk orang tua yang tiba tiba muncul mendekat ke Wirang ningratan.
"Kakek mau menumbuhku.....!!??!" Ucap Wirang ningratan sambil bersungut sungut kesal.
"Hhhaa....ha...ha......, membunuh.....bukan menubuh......hhe..he...he....., ingin tapi gagal.....haha...ha...ha....., bagus bagus tidak percuma aku menggembleng mu selama sepuluh Warsa lebih untuk menjadikanmu seorang pendekar yang tangguh....!!" Ucap kakek tua itu yang adalah Resi Sawogaling sambil terkekeh bangga melihat reflek dan kesigapan muridnya sangat cepat dan sangat peka semua Indra di tubuhnya.
"Wirang....kakek sudah sangat tua...., dan kakek harus segera menghindari keramaian kehidupan di dunia ini kakek perlu banyak menyendiri dan bertapa....,dan sekarang sudah waktunya kamu turun gunung menertibkan Angkara murka di tanah Jawa ini sebagai wakilku, sudah dua Warsa ini sedang ada peristiwa penculikan dan pembunuhan wanita wanita hamil yang di ambil janinnya untuk di jadikan tumbal persembahan dari bangsat bangsat tokoh aliran sesat ...., ku harap kamu sudah siapkan mental mu untuk bisa memberikan sumbangsihmu....membantu membersihkan Angkara murka muridku....!!" Ucap resi Sawogaling dengan di iringi kepulan asap rokok klobot kesukaannya.
"Kakek mengusirku.....!!??" Jawab wirang ningratan singkat.
"Wooooo.....bocah geblek...,bukan mengusir, maksud kakek berkelanalah mencari pengalaman hidup agar hidupmu serasa ada gunanya.....!!!" ucap resi Sawogaling menjelaskan.
"Kemana kek aku harus pergi.....??" jawab bocah berumur delapan belas tahun itu polos.
"Ya kemana terserah kamu....,berkelana seperti pendekar pendekar itu lho.....biar pantas di sebut pendekar....masak pendekar ndekem saja di puncak gunung.....hhh...h......h...!!" Kekeh kakek tua itu geli melihat kepolosan muridnya.
"Ya kek....., bolehkah wirang ke Gupak Warak kek ingin menemui kakang Bongkeng....!!!??" Jawab bocah polos itu kepada gurunya.
"Yaaaa...yaaa...., tapi habis itu kamu pergilah ke Wengker temui sahabatku Ki buyut restu aji di padepokannya ada titipan buat sahabatku itu.
"Wengker itu arahnya kemana kek.....wirang gak tahu.....!!" jawab wirang ingatan singkat.
"Gunakan instingmu sebagai seorang pendekar Wirang....., kamu punya mulut kan bisa bertanya....!!!"
"Baiklah kakek guru....kapan wirang harus berangkat ke Wengker kek....??!!" Tanya wirang ningratan tanda mengiyakan perintah gurunya.
"Besok pagi pagi kamu berangkat.....temui dulu si Bongkeng pamomongmu itu....biar kamu ada teman bicara, untuk kamu ajak mencari keberadaan Ki buyut restu aji agar kamu TDK sendirian....!!?!"
"Baik kek......!!"
"Sekarang kamu kembali ke pondok persiapkan apa saja yang ingin kamu bawa dalam perjalananmu nanti...!!" perintah resi Sawogaling pada muridnya. Lalu kedua murid dan guru itu sama sama kembali ke pondokan dan lembah dekat mata air itu kembali sunyi sepi hanya ada serangga hutan yang sedang birahi menyanyi untuk memanggil pasangannya.
Pagi pagi sekali wirang ningratan sudah mandi di mata air dan sudah memasak air merebus singkong untuk pengganjal perut kakek gurunya. Terlihat Wirang ningratan memakai baju hitam celana gombrong hitam ikat kepala putih dan selembar kain sarung hadiah dari Ki buyut restu aji membelit di pinggangnya.
"Wirang.....sudah siapkah dirimu....??!!" Tanya Resi Sawogaling melihat muridnya sudah rapi.
__ADS_1
"Sudah kek....., sengaja pagi pagi aku mempersiapkan diri agar tidak sampai siang tiba di bukit Gupak Warak...!!" Jawab wirang nigratan sembari duduk di hadapan gurunya yang sedang duduk bersila menikmati segelas bambu teh gunung, beberapa potong singkong rebus, dan sebatang rokok klobot yang setia menyumpal di mulut orang tua sakti itu.
"Hhhhe....he...he.....kamu terlihat tampan wirang itu Rambutmu jangan terlalu panjang masak pendekar rambutnya sebokong......!!!'' Cukup sebahu saja nanti lebih tampan.
"Iya kek.....tapi siapa yang akan memotongnya kek....., kakek bisa motong rambut wirang.....??!!" Ucap wirang bertanya pada kakek gurunya.
"Bukan nggak bisa wirang tapi kakek malas motong rambutmu yang bau itu ....suruh pamomongmu nanti kalo sudah sampai di Gupak Warak....!!!" kilah resi Sawogaling mendapat permintaan muridnya untuk memotong rambutnya.
"Nggak mau kok usul......hhh...h....!!!" Ucap wirang sambil cengengesan.
"Sudah jangan cengengesan.....!!!, kamu kalo sudah menjadi seorang pendekar jangan adigang adigung adiguno yang artinya jangan sombong jangan keminter dan jangan merendahkan orang lain.....!!" Nasehat Resi Sawogaling pada muridnya.
"Muridku kenapa aku memberimu nama Wirang ningratan......??!!"
"Wooo....iya kek aku juga penasaran kenapa kakek memberiku nama yang tidak ganas sama sekali.....dan malah cenderung lemah nama itu kek....!!???" Ucap wirang yang baru inget ingin menanyakan alasan memberi nama Wirang ningratan (*** Dalam bahasa Indonesia artinya, Malu di Jalan)
"Wirang.....karena kakek sudah tahu akan seperti apa petualangan mu nanti, kamu tanpa sengaja akan sering di bikin malu oleh pamomongmu saat kamu berdekatan dengan wanita yang cantik, Tapi semua itu sudah menjadi garis dari sang hyang agung untuk kamu jalani sebagai seorang pendekar sakti tapi tak berkutik bila ingin mendapatkan hati seorang wanita.....!!!hhhh....hhh....hh...hh....!!!" kekeh lelaki tua itu seakan menertawakan muridnya.
"Waduduuhh......berat berarti kek hidupku.....??? kalo seandainya aku tidak bersama kakang Bongkeng gimana kek....??" Tanya Wirang dengan kemungkinan kemungkinan untuk mengakali garis hidupnya.
"Whahhahahha....ha..ha...ha.....hukkgg....huuggkk....uuhuuuicckk.....kkuuueeeecxkkk.....cuuiihh......Plokk.....!!"
"Weeehhhhh.....kek....., jorok....!!!!"
Heehhh....hh....hhhh....h.h....!!!, udah sana berangkat.....!!! matahari sudah naik....!!!" Ucap resi Sawogaling menyuruh muridnya agar lekas berangkat ke bukit Gupak Warak.
"Kek...., saya nggak di beri senjata kek...masak pendekar gak punya senjata andalan kan di lihat orang kurang bagus kek.....nanti di kira pendekar Ceng Ceng po....Kek gak disegani lawan...haduh...gemana sih....!!!" Protes wirang ningratan pada gurunya merasa kepergiannya untuk berkelana tidak di bekali senjata apapun, cuma segepok tembakau gewol beberapa lembar klobot jagung.
"Wirang kakek bukan orang kaya....,kakek gak mampu beli persenjataan dari seorang empu atau pandai besi, tapi dulu kakek sempat di beri senjata oleh guru kakek saya titipkan pada raja copet Gupak Warak, coba nanti kamu tanyakan pada tua bangka keparat itu....!!" Ucap kakeknya mendapatkan protes dari murid kesayangannya.
"Senjata apa kek......., Keris...., pedang....., tombak....., atau.....apa kek.....!!???" Tanya wirang ningratan semangat ingin mengetahui akan mendapatkan senjata buat bekal perjalanan.
"Hhh....h....h....h....!!! bukan seperti bayanganmu wirang......kenapa kakek tidak mau menggunakannya karena senjata itu di pakai seorang pendekar tidak membuat kita bertambah gagah dan berwibawa.....makanya aku tidak mau membawanya....Hhhh....h....h....h" Kekeh Resi Sawogaling melihat semangat muridnya ingin mengetahui senjata apa yang akan di berikan kepada muridnya itu.
"Kenapa kek....kok kakek nggak mau menggunakan nya....., memangnya senjata apa itu kek....!??!" Tanya Wirang ningratan sedikit kecewa.
"Wirang....., selama ini kakek senjatanya cuma rokok klobot, dan kesaktiannya melebihi senjata apapun yang pernah kakek hadapi, makanya aku juga menurunkan semua jurus rokok klobot dan cara menggunakannya padamu wirang....,jadi senjatamu ya itu tembakau yang kamu bakar agar km bisa menggunakan jurus jurus rokok klobot wirang.....!!??" Ucap resi Sawogaling menjelaskan.
Memang selama hampir setengah abad ini pendekar mana yang tidak tahu kehebatan pendekar rokok klobot dengan kesaktiannya mampu membuat sebatang rokok menjadi senjata yang mematikan.
__ADS_1
"Jadi selama ini kakek memaksa wirang untuk merokok ini agar wirang bisa menggunakan rokok ini menjadi senjata kek....??!" Tanya wirang lagi.
"Ya salah satunya itu...., tapi tembakau bagus buat kebugaran tubuhmu wirang, asal kamu bisa mengatur tubuh untuk merubah racun tembakau menjadi obat....!! Tapi semalam kakek bermimpi di temui guruku yang sudah tiada agar senjata yang aku sia siakan itu aku serahkan padamu muridku ku harap kamu mau menerima dengan ikhlas sejelek apapun itu warisan dari guruku....!!" Panjang lebar Resi Sawogaling menerangkan.
"Trus itu senjata apa kek....!!" Tanya wirang ningratan penasaran.
"Senjata itu sebuah kudi bergagang dari gading gajah dan sarungnya juga dari gading gajah.....hhhh...h...h.... nanti kamu akan lihat sendiri.....!!!" Kekeh kakek tua itu menjelaskan seakan tak yakin wirang mau juga menggunakan.
(*Kudi adalah alat pertanian pada zaman sekitar tujuh ratus tahun yang lalu di tanah Jawa)
"Baiklah kek coba nanti aku tanyakan pada kaket copet Gupak Warak dan akan aku pakai sebagai senjata andalanku kek walaupun seperti apa bentuknya....!!" Ucap wirang memelas menerima senjata dari warisan gurunya.
"Matahari sudah meninggi segeralah kamu pergi ke Gupak Warak Wirang...., dan ini gulungan lontar untuk Ki Buyut restu aji dan ini lontar untuk tua bangka keparat si Gupak Warak...!!" Ucap orang tua itu menyerahkan dua gulungan lontar untuk di serahkan kepada kedua sahabat dari Resi Sawogaling.
"Baik kek aku mohon diri....kakek hati hati di pondokan jangan lupa istirahat kek jangan bertapa terus....!!!" Ucap wirang ningratan berpesan kepada gurunya.
"Sudah sudah....cepat pergi aku sudah muak melihat tampangmu selama ini.....!!!" Ucapan dari resi Sawogaling seakan akan mengusir Wirang tapi sebenernya hatinya ingin masih di temani bocah ini.
"Kek.....huaa....huaa......hixz....hixzz.....!!!" Tak terasa Wirang menangis meninggalkan pendekar tua itu sendirian di puncak Lawu yang sepi itu.
"Woooo....bocah semprull....pendekar kok nangis malu maluin saja kamu wirang....!!! sudah sudah...cup...cup....!!!" Sekarang pergilah ....!!!" Ucap kakek tua itu sambil melepaskan semburan asap rokok klobot yang panas membara seperti wedus gembel bergelombang mengejar Wirang ningratan.
"Fuuuhhhn.......wuuusss.....!!!" Sebuah gelombang asap rokok mengejar keberadaan wirang ningratan, melihat datangnya gelombang panas itu lalu wirang ningratan melenting ke atas dan melesat meninggalkan pondok gurunya menyusuri jalan setapak turun dari puncak Lawu.
"Sialan kakek tua bau tembakau itu...., benar benar mengusirku....!!!" Guman Wirang ningratan ngedumel dalam hati sambil berlari bak setan di kejar anjing.
Setelah mengusir muridnya dari pondok lembah Braholo dengan semburan asap rokok klobot itu, Kakek tua itu duduk di depan pondok terbengong bengong dalam kesunyian.
"Semoga wirang bisa seperti yang aku harapkan, bisa membanggakan aku dan guruku, semoga sang hyang agung selalu melindunginya....!!" Guman kakek tua itu dalam hatinya.
Hampir setengah hari wirang ningratan pergi dari puncak lembah Braholo menuju bukit Gupak Warak dan sampai dia di sebuah candi kuno yang tidak terawat di lereng Lawu, suasana yang sepi sunyi saat itu membuat wirang merasakan kesunyian itu dengan hati yang masih bersedih karena harus meninggalkan gurunya sendirian di lembah Braholo.
"Hemm....ini kan candi di mana aku di bawa kakek Gupak Warak untuk di serahkan pada kakek tua bau tembakau itu....he...he...he....., semoga kakek baik baik saja kek....!!" Segera Wirang ningratan melesat lagi berlari menuju ke arah bukit Gupak Warak, dan kali ini lesatan Wirang ningratan sudah terlihat sebuah ekor bara api dari rokok klobot yang menyumpal di mulutnya persis seperti gurunya resi Sawogaling.
Hee..he...he..., ternyata nikmat juga berlari sambil merokok....ada rasa gemana gitu....hhh...hh...hh.....h...!!!" sudah ada tanda tanda murid dari Resi Sawogaling juga terlihat Degleng seperti gurunya yang ceplas ceplos kalo ngomong.
Mendung terlihat kelabu di atas sekitaran gunung Lawu khususnya dan di atas tanah Jawa umumnya, hujan juga mulai rintik rintik membasahi bumi, dari kejauhan terlihat bayangan hitam melesat menuruni lereng gunung dengan di belakangnya terlihat ekor bara api dan asap yang mengepul mengikuti kemana bayangan hitam itu melesat berlari menuruni leren gunung menuju sebuah bukit di sebelah barat gunung Lawu yang mistis.
__ADS_1