
Malam itu suasana serasa mencekam dengan kabar kabar banyak penculikan di wilayah kadipaten wengker. di setiap Desa yang di lalui Wirang dan Bongkeng selalu ada isu isu tentang penculikan wanita wanita hamil untuk di bunuh dan di ambil janinnya. Wirang dan Bongkeng hanya bisa mendengarkan saja maklum mereka berdua hanyalah pendekar junior yang belum banyak pengalaman di dunia persilatan.
Kebetulan malam itu Wirang dan bongkeng sedang berteduh di sebuah gubuk di pinggiran hutan yang biasa tempat para petani untuk istirahat bila di sawah. Dan sudah tengah malam Wirang tidak bisa terpejam matanya, apalagi suara dengkuran si Bongkeng yang sudah terlelap dari sore hari seperti suara babi hutan dan tanpa berjeda sedikitpun.
dengan suasana malam yang hujan rintik rintik di tambah dengan hembusan angin yang lumayan kencang Wirang asik ngeruntel di dalam sarung putihnya dan seperti ada aliran hawa hangat mengalir di sepanjang sarung pemberian dari Ki buyut Restu aji itu. Di saat wirang sedang berusaha memejamkan mata Lamat Lamat telinganya yang tajam mendengar suara orang seperti sedang bertarung. Di perhatikan lebih dalam lagi benar saja suara orang bertarung lebih jelas.
"Kang.....kang Bongkeng....!!!" Panggil wirang sambil menggoyang goyangkan tubuh pamomongnya.
"Hhsssnggrreoooookkk......rrrreeeggghhh.......ssssnggroookkk.......rrrrrerrrhhg......!!!" Suara dengkur si Bongkeng memang sungguh luar biasa. Jengkel si wirang lalu memencet hidung si Bongkeng.
"uuuffffzzzz......, eeehh....apa sih kamu ndoroo.....!!!" Ucap Bongkeng kesal.
"Kamu dengar nggak......!!!" Ucap wirang memberitahu Bongkeng.
"Apa.....ndoroo.....!!"
"Hadeeehh.....itu lho ada orang bertarung....kang kayak ya wanita...sama laki laki.....!!, ayo coba kita lihat...!! Ajak wirang yang langsung melompat keluar gubuk dan melesat hilang di kegelapan malam.
"Hadeeehhh.....ganggu saja si ndoroo......kurang kerjaan banget ngurusin orang berkelahi.....malam malam lagi....aduuuhh.....!!" sambil ogah ogahan si Bongkeng membuntuti wirang dari belakang. hanya beberapa lompatan wirang sudah melihat dua bayangan putih dan abu abu sedang bertarung pertaruhkan nyawa.
"Sssssttt.....sini saja kang kita lihat dari sini.....!!!" Ucap wirang menghentikan lompatan si Bongkeng.
"Siapa ndoro.....??, kayaknya perempuan ndoro.....yang pakaiannya putih itu....!!" bisik Bongkeng pelan.
"Hadeeehhh.....ya memang perempuan dari suaranya sudah kedengeran kalo itu suara perempuan kang.....!!" jawab wirang kesel.
"Lha.....iya......!!!" ucap Bongkeng seperti tanpa dosa.
"Woooo.......wedusss......!!!" ceracau wirang kesal.
"Ndoro.....apa itu bukan Palupi ndoro.....???" Ucap Bongkeng pelan.
"Kalo dari pakaian dan jurus jurusnya kayaknya iya kang.
"Sebentar.....aku lihat pakai mata belokku" Lali Bongkeng memusatkan hawa sakti ke mata kirinya yang belok dan terlihat jelas bahwa yang sedang bertarung hebat itu adalah Palupi. Suasana yang gelap membuat mata wirang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi Bongkeng yang sudah di ajari oleh Gupak warak ajian mata Beluk (Burung hantu dalam bahasa Jawa) Sehingga terlihat jelas seperti waktu siang hari.
Sementara itu Palupi sedang terdesak mendapatkan serangan beruntun seperti gelombang laut selatan terus mengejar dengan jurus jurus yang mematikan dan ajian ajian kesaktian yang ganas.
Sebuah alur ganas udara bergelombang melesat ganas ke arah Palupi yang saat itu baru saja menghindari sebuah serangan, belom sampai menapak di tanah sebuah serangan susulan sudah melabrak cepat ke arahnya dan celakanya Palupi tidak sempat menggunakan ajian selimut kelopak teratai untuk melindungi tubuhnya dari serangan pukulan lawan.
"whuussss....ssshhororrrrt.....bluckk......duuuaaaarrrr.....rrrr......rrrr.....rrrr.....!!!" Sebuah ledakan dibarengi dengan terlontarnya tubuh Palupi ke semak semak dan tubuh penculik wanita itu ke belakang dengan muka yang mendlosorrr di rerumputan.
"Bangsaaattt .....pembokong licikk....!!!" Ucap penculik itu segera berdiri dan pasang kuda kuda lagi.
"Kang....selamatkan Palupi....!!" Ucap wirang ningratan yang dalam waktu yang sangat genting itu segera melesat dan memotong pukulan sakti dari penculik itu ke arah Palupi. Tapi akibat dari gelombang kejut benturan tenaga dalam tingkat tinggi makan tubuh Palupi ikut terlempar ke semak semak. untungnya Palupi selamat dari pukulan ajian lahar Semeru yang ganas itu.
"Iya ndoro....!!" Bongkeng segera menolong Palupi dan membopong ke tempat lebih lapang beberapa tombak dari lokasi pertempuran. kayaknya Palupi pingsan akibat dari kuatnya gelombang yang menghempaskan tubuhnya.
"Setan alas......siapa kau bocahh.....!!!" Tanya pemuda itu dengan geram.
"Kamu tidak perlu tahu....siapa aku penculik muda....!!!" Jawab wirang dengan polos.
__ADS_1
"Waduhhhh.....haa...haa...haaaaa......, ndoro sama penculik jahat itu yang sangar ngomongnya, masak penculik muda.....sihh....!!!" Ucap Bongkeng setengah ketawa setengah menangis kesal karena kepolosan wirang.
"Lha orangnya masih muda itu kang.....!!" Jawab wirang dengan waspada dari serangan penculik itu.
"Iyaa.....tapi kamu bentak dia dengan kata kata penculik busuk, apa penculik bangsat ...gitu biar sangar.....masak pendekar harus ngajari sih....haduhh....!!" Teriak Bongkeng kesal sekali.
"Heii....setan tongosss.....diam mulutmu, nanti kau juga akan mendapat kesempatan untuk bisa merasakan kerasnya kepalan tanganku....!!!" Semprot penculik itu karena merasa di sepelekan dengan perdebatan wirang dan Bongkeng hanya masalah pemilihan kata.
"Waduuhhh......setan tongos.....he..he...he...!!!., seperti dia itu ndoro kalo memaki sungguh mantab dan enak di dengar ...he...he..he....!!!" Ucap Bongkeng cengengesan.
"Dasar.....orang gila masak maki maki kok enak di dengar.....!!!" guman wirang dalam hati. Sementara itu penculik yang semakin geram melihat tingkah dua pemuda sedeng ini secepat kilat melakukan serangan yang membabi buta dengan jurus jurus ampuh khas dari pendekar laknat Merbabu.
"Shuutt....siiingg....wuuss....wuuss...!!" dua alur serangan menyasar cepat ke rahang dan dada wirang ningratan, dengan menggunakan jurus jurus rokok klobot warisan dari resi Sawogaling wirang ningratan meladeni permainan silat penculik itu dengan santai.
"Mampus kau.....!!! hiaaaa.....!! Shhhhjoooosssshhh......rrrrreeettttt......!!'' Penculik kembali menerjang dengan jurus yang lebih mematikan setelah serangan pertama tidak mengenai wirang. Tapi kali ini pun serangan penculik itu di bikin mentah sama permainan silat wirang yang tangkas dan Trengginas menghindari setiap alur serangan yang datang dengan cepat dari penculik itu.
"Hhhaaaahhh......!!! kurang cepat seranganmu Kisanak.....!!!" Ucap wirang sengaja mempermainkan emosi penyerangnya semakin tidak terkontrol dan membabi buta.
Tanpa kata dan makian pendekar gunung Merbabu itu melancarkan sebuah rangkaian jurus pamungkas yang sangat berbahaya karena di barengi dengan ajian lahar Merbabu yang sangat ganas dan panas.
"Heeebb...!!! terima ini bangsat kecil....!!" guman penculik itu tengah mempersiapkan sebuah pukulan lahar Merbabu dengan lambaran tenaga dalam penuh.
"Wwwhheeeesssss.....!!! siiingg.....!!!" Sebuah pukulan dari tangan pendekar merbabu yang mengepul asap hitam kelabu berbau belerang, karena saking cepatnya yang terlihat hanya selarik asap hitam kelabu melabrak dada wirang ningratan dengan cepat. tapi wirang juga sudah mempersiapkan sebuah ajian pertahanan diri yaitu Ajian geger Boyo menghalau angin.
"Deb......Ssreeertt.....!!!" Sebuah alur angin membentuk tembok besar seperti bukit geger Boyo di gunung Lawu memapras datangnya serangan pukulan yang mengandung ajian lahar Merbabu dan terjadi benturan keras dengan adu tenaga dalam yang sangat menggetarkan area sekitar situ.
"Duuuueeeeerrrrrr........bllleeennnggg.......bbbllllaaaaarrrrrr.....!!!" Luar biasa akibat benturan dua alur tenaga dalam yang sangat tinggi maka terjadilah sebuah ledakan yang sangat dahsyat dengan percikan api yang sempat membakar semak semak belukar yang basah kena guyuran rintik hujan sejak malam tadi.
Setelah asap ledakan hilang terlihat pemuda itu sudah menaiki kuda dengan terbungkuk menempel punggung kuda melarikan kudanya ke arah Utara menyusuri jalan setapak menuju hutan lebat di Utara wilayah wengker. Sementara itu Wirang yang mendapatkan lontaran efek kejut dari ledakan itu masih sempat melenting kan tubuhnya ke udara dan bersalto beberapa kali tapi sayang pas mendarat ke tanah tanpa sengaja mengenai muka Bongkeng yang pada waktu itu melihat ndoronya terlontar ke udara bermaksud ingin menangkap tubuh ndoronya.
"Maaf kang......!!!" Ucap wirang singkat.
"Kang.....kemana penculik itu....??!!" tanya wirang yang merasa area pertempuran menjadi sepi.
"Lari lah....mungkin kalah sakti sama ndoroku....hhhh...hh...h...!!" Ucap Bongkeng berusaha menyanjung ndoronya. (Zaman sekarang: lebay)
"Lha perempuan yang di culik....??"
"Tenang sudah saya selamatkan...!" Terlihat seorang wanita muda sedang hamil lemas akibat baru lepas dari totokan pendekar Merbabu. Dan Palupi juga terlihat menemani wanita itu sambil tangannya memegang dadanya yang terasa sesak untuk mengambil nafas.
"Palupi bagaimana keadaanmu....???" Tanya wirang mendekati Palupi.
"Aku tidak papa cuma sedikit sesak dadaku, untung kamu tadi menolongku kalo tidak kamu potong serangan penculik itu mungkin aku akan terluka parah....!!"
Ucap Palupi yang sedikit heran dengan keberadaan dua pemuda itu tiba tiba muncul membantu mengusir penculik itu.
"Yang penting keadaan Palupi dan wanita ini tidak terjadi apa apa betul kan ndorooo....!!?" Ucap Bongkeng dengan kocak.
"Yaaa.......kang....!!, Nisanak bagaimana keadaanmu.....??!!" Jawab wirang lalu menghampiri perempuan desa yang di culik itu dan menanyakan keadaanya.
"Aku baik baik saja ndoro.....!!!??" Ucap perempuan itu dengan wajah yang sembab.
__ADS_1
"Hhee....Ndak usah panggil aku ndoro....panggil saja namaku Wirang...ni....saya bukan siapa siapa....!!" Jawab wirang dengan senyuman yang manis.
"Iya nisanak.....kami ini hanya pengembara miskin jadi tidak elok kamu panggil ndoro...." cerocos Bongkeng menambahi omongan wirang. Di sela sela obrolan mereka di kegelapan malam, dan kebetulan air hujan pun sudah tidak turun lagi, terdengar di kejauhan serombongan penduduk desa mendekati mereka. terlihat beberapa obor dari getah damar menerangi jalan menuju keberadaan mereka.
"Wirang....penduduk desa datang....!!" Ucap Palupi berbinar matanya mendapatkan penduduk desa yang menyusul kearahnya.
"Heehh.....itu itu....orang nya.....,hoooi....mereka di sini.....!!!" Seorang pemuda desa melihat keberadaan Palupi wirang dan Bongkeng, berusaha memanggil teman temanya yang masih berjalan di belakang. Lalu Palupi menghampiri penduduk desa itu dan menjelaskan situasi saat itu, karena di situ ada dua laki laki takut terjadi salah paham para penduduk desa.
"bapak bapak semua....., nisanak yang semalam di culik dalam keadaan baik baik saja kami selamatkan dari penculik jahanam yang sudah kabur tadi....,mohon kepada kisana semua mau menolong nisanak korban penculikan ini untuk bisa dibawa ke desa agar bisa segera di rawat" ucap Palupi keoada penduduk desa yang berada di situ.
"Saudara saudara kita bawa ke desa .....saja biar lebih nyaman....!!" Seorang jagabaya mengomando penduduk desa untuk membawa korban penculikan ke desa. Lalu mereka pun pulang ke desa dengan Palupi Bongkeng dan wirang mengikuti dari belakang menuju desa Gubengsari.
Sementara itu seorang Penculik yang tak bukan adalah sepasang pendekar laknat dari gunung merbabu terus memacu kudanya menuju arah Utara yang mana kakak seperguruannya menunggu, hari sudah menjelang pagi dan penculikan itu di gagalkan oleh tiga orang anak muda belia yang entah dari mana datangnya tiba tiba saja bisa menggagalkan penculikan yang sudah di rencanakan dengan matang. dan bahkan agak agaknya salah satu penculik itu sedang dalam keadaan terluka parah akibat bentrok dengan wirang ningratan.
"Bajingannn...siapa bocah tolol itu tenaga dalamnya begitu mumpuni,.....uhuuugghk....,bahkan ajian lahar Merbabu ku tidak mampu mendobrak pertahanannya" guman penculik itu bicara sendiri dalam perjalanan.
"Resoo.....!!! kenapa kamu.....!!" Teriak seorang pemuda yang tiba tiba muncul di hutan itu. Tapi rupanya penculik yang di panggil Reso itu tidak menyahut dan rubuh ke tanah dari punggung kuda.
"Bangsatt siapa yang.....berbuat ini padamu......reso....!!??" Karena tanpa jawaban lalu pemuda itu mendongakkan kepala Resoguno dan menekan sendi lehernya.
"Masih berdetak.....,kanapa Reso sampai pingsan......!!!" Lalu pemuda itu membuka baju Reso Guno dan terlihat di dada Reso Guno ada bekas pukulan berwarna hitam legam.
"Bangsat ....kenapa Reso Guno mendapat luka dalam seperti bekas pukulan lahar Merbabu....., ini aneh sekali...., aku harus buat Reso siuman...!!" Lalu pemuda itu menotok bagian punggung Reso Guno, dan tak seberapa lama terlihat Resoguno menggeliat siuman.
"Resoo....resoo.....!!"
"Panji.....tolong bawa aku ke Merbabu, hanya guru yang bisa menyembuhkan luka dalamku....!!" Dengan merintih Reso masih bisa terucap minta tolong untuk bisa di bawa ke Merbabu tempat gurunya berada.
"Baiklah.....bertahanlah....aku akan segera membawamu...!!" Lalu Panji segera menaikan tubuh Resoguno ke kudanya dan mereka berdua pergi ke arah barat laut menuju di mana arah gunung Merbabu tegak berdiri dengan gagahnya.
Sementara itu setibanya di desa wirang ningratan dan Palupi serta Bongkeng di jamu makanan dan minuman oleh kepala desa Gubengsari yang mana waktu itu penduduk desa merasa berhutang Budi kepada tiga muda mudi itu yang telah menyelamatkan salah satu warga desa yang telah di culik oleh dua pendekar laknat.
Tak terasa pagi telah tiba, dan mataharipun telah terlihat warga desa pun mulai pada pulang ke rumah masing masing sedangkan Wirang dan Bongkeng bersiap melanjutkan perjalanan.
"Wirang.....setelah ini mau kemana kamu, kemarin kamu mau ke kota kadipaten, kenapa malah tersesat kesini....?!!" Tanya Palupi yang masih penasaran atas kemunculan mereka berdua.
"Palupi.....kita itu salah pengertian.....!!!, si wirang di suruh gurunya untuk menemui Ki buyut restu aji, ternyata padepokan milik Ki buyut Restu aji itu di wilayah wengker sebelah barat....hhh....jadi kita kembali lagi....betul gak....ndoro....?!!" Ucap Bongkeng minta persetujuan wirang ningratan.
"Siapa...., Ki buyut restu aji.....!??!"
"iyaa...Palupi....., apa kamu pernah dengar padepokan bunga teratai, kata guruku Ki buyut restu aji berdiam di padepokan itu...!!!" Mendengar kata padepokan bunga Teratai Palupi sempat bertanya dalam hati.
"Mereka mencari guru.....ada apa ya...??!" guman Palupi dalam hati.
"Ndoro sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan ndoro....!!" ucap Bongkeng kepada wirang.
"Tunggu....Bongkeng wirang....., kalo ku ingin ke padepokan bunga teratai ikutlah denganku aku juga mau kesana" Ucap Palupi sambil tersenyum manis
"Haa....,mau ada perlu juga di padepokan kamu ya Palupi.....!!!" pungkas si Bongkeng sambil mengerjakan mata beloknya.
"Sudak jangan banyak tanya...ayoo ikuti aku....,kalian laki laki silahkan berlari ikuti kudaku....yaa....hhhhh....hh...hh...!!" ucap Palupi langsung melompat ke punggung kudanya dan memacu kudanya ke arah barat daya.
__ADS_1
Karena Bongkeng dan wirang tidak bawa kuda terpaksa mereka berlari mengikuti kemana larinya kuda Palupi.
"Waduuhh....berat kalo ini ndoroo....,ayoo ndoro....Hebbb..!!!" lalu Bongkeng dan wirang berlari di belakang kuda Palupi.