Pendekar Bebek Gila

Pendekar Bebek Gila
6. Ki Buyut restu aji


__ADS_3

Pagi itu di lembah Braholo terlihat sangat tenang dengan sejuknya udara puncak gunung Lawu yang menjulang tinggi, semerbaknya harum khas wanginya rumput semak belukar di iringi alunan irama alam dengan celoteh burung burung kecil dan serangga hutan, terlihat tenang dan menenangkan hati. Di antara suasana tenang itu terdengar sayup sayup suara dua orang sedang berlatih Kanuragan, sepintas terdengar suara orang tua yang sesekali memaki sumpah serapah dan di selingi teriakan teriakan suara anak remaja yang sedang di genjot dengan tehnik tehnik jurus jurus kuno yang sudah sangat langka karena jurus jurus yang di pelajari oleh Sastro Marmo atau wirang ningratan adalah jurus jurus yang hanya di kuasai oleh resi Sawogaling hasil dari perenungan dan menyatu dengan alam selama enam puluh tahun Resi Sawogaling meramu semua rasa,cipta,dan gerak sehingga terciptalah jurus jurus ampuh yang sangat sulit di kalahkan dalam pertarungan.


"Terus.....ya...yaa....seperti itu bocah tolol....!!! kakimu kurang tinggi.....!! tendangan mu menyasar kerongkongan bukan dada goblok....!!!" Suara serak pendekar tua itu yang sesekali memaki muridnya terus saja membentak agar gerakan yang sudah di ajarkan bisa sempurna di peragakan oleh murid kesayangannya.


"Kerongkongan....kek.....!! tak pikir dada....he...hee....he....!!!" Celoteh Wirang ningratan masih dengan melakukan gerakan gerakan yang sangat sulit.


"Dadamu itu.....woooo......dasar bocah kurang ajar......., sudah di bilangi sasaranya kerongkongan ngeyel....!!" Bentak pendekar tua sambil terus ngomel ngomel mengarahkan muridnya berlatih di pagi yang cerah itu.


Dengan gesit lalu Resi Sawogaling masuk di arena latihan muridnya dan melakukan serangan serangan dengan menggunakan tongkat hitamnya yang terlihat seperti bayangan hitam mengejar kemanapun tubuh Wirang ningratan menghindar, seperti tidak memberikan ruang untuk sekedar menarik nafas pendekar tua itu terus melakukan serangan serangan yang sangat berbahaya karena serangan itu begitu cepat dan mengandung hawa sakti yang terasa panas membara di suasana yang sejuk di puncak gunung Lawu itu.


"Kakek tua bau tanah ini mau membunuhku apa ya....??!!" Guman Wirang ningratan dalam hati dengan masih terus menghindar setiap serangan dari sabetan dan tusukan tongkat dari kakek gurunya. Wirang ningratan merasakan nafasnya sudah ngos ngosan untuk menghindari setiap serangan yang datang, dan sesekali menangkis tongkat yang menyerang ******** dan kepalanya terdengar benturan tangan Sastro dan tongkat dari galih kayu sisir yang keras.


"Praaakkk....., desss.....ssuuuuttt....!!!" Suara benturan tangan yang di lambari hawa sakti dan tongkat dari kedua guru dan murid itu terdengar seperti pertarungan sungguhan.


"Haa...ha...ha....., mana serangan balikmu bocah goblok.....dari tadi hanya menghindar seperti banci di kejar angsa.....haa...haa....!!!" Ejek pendekar tua itu pada muridnya.


"Swiinggg.....sreeekk....krak....., Wuusss desshhzz....!!!" Selarik serangan kembali melabrak pertahanan Wirang ningratan dan terdengar kali ini seperti ada kayu yang patah dan di susul suara sumpah serapah dari pendekar tua itu.


"Wooo...lha....bangsat kecil....., berani sekali kau patahkan tongkat saktiku.....kurang ajar.....!!!" Maki pendekar tua itu lalu melenting salto ke udara dan mundur beberapa tongkat dari posisi Wirang ningratan masih memasang kuda kuda pertahanan.


"Waduhhh.....maaf kek gak sengaja....hi..hi...hii...!! Jawab Wirang ningratan cekikikan melihat tongkat kayu kakek tua itu patah jadi dua, Akibat benturan dengan dengan lengan kecil wirang ningratan yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi sehingga galih kayu sisir hitam itu pun tak kuasa menahan kerasnya benturan dengan lengan Wirang ningratan.


"Luar biasa bocah ini....., kenapa tenaga dalamnya begitu pesat sekali hampir mencapai kesempurnaan, bahkan tingkatannya hampir sama dengan tingkatan tenaga dalam ku...!!" Guman Resi Sawogaling dalam hati heran sekaligus bahagia. Belum usai rasa penasaran pendekar tua bau tanah itu, sepintas telinganya mendengar sebuah gerakan yang sangat halus dari arah rerimbunan semak belukar di sekitar arena latihan pendekar tua itu dan muridnya. Dengan pengalaman selama hidupnya sebagai seorang pendekar sakti kewaspadaan Resi Sawogaling langsung terjaga dan dalam sekejap sebuah pukulan dengan di lambari hawa sakti melesat cepat kearah rerimbunan semak belukar di tempat terdengarnya gerakan halus yang di rasakan oleh Resi sawogaling.


"Seettt.....Wuusss....!!" Segulung alur angin berwarna biru muda melabrak rerimbunan semak belukar.


"Blaaarrrrr......!!!, Suuutt....siinggg....., tab.....tabbb....!!!" Suara ledakan akibat dari alur Angin yang melabrak semak belukar terdengar membahana di antara pepohonan lembah Braholo dan terlihat semak belukar membeku dalam sekejap, terlihat di sela sela ledakan melesat bayangan putih keluar dari rerimbunan dan menapakan kakinya di depan Resi Sawogaling.


"Hei.....Sawogaling......!!! kamu mau membunuhku....??!!" Ucap bayangan putih itu setelah kakinya menapak di tanah lembah.


"Wha..ha...ha....., ngapain kamu sembunyi sembunyi di semak belukar Restu aji......??! aku kira maling ayam....hhh...hh....hh....!!!" Kekeh Resi Sawogaling setelah melihat ternyata sahabatnya Ki Buyut Restu aji yang baru saja di serang dengan pukulan 'Salju gunung lawu' yang di lepaskan oleh Resi Sawogaling dengan tenaga dalam separoh lebih. Kakek tua berjubah putih itu adalah salah satu tokoh dunia persilatan yang tergabung dalam Partai bunga teratai. Yaitu sebuah perkumpulan pendekar pendekar aliran putih yang menaungi wilayah bagian selatan gunung Lawu meliputi daerah kadipaten wengker dan sekitarnya.


"Sawogaling.....sudah lama aku tidak mampir ke pondokmu...., eee....lagi menikmati pertunjukan olah jurus yang sangat luar biasa malah kamu hajar dari depan....., sungguh kamu masih saja ceroboh Sawogaling....!!" Ucap kakek tua itu mengingatkan sahabatnya.

__ADS_1


"Hhh....hhhh......hh...., maafkan aku Restu....!!, tumben kamu mampir janda mana yang mbawamu sampai puncak gunung yang terpencil ini temanku...!??" kekeh pendekar tua itu menanyakan tujuan Ki Buyut restu aji mampir ke pondoknya.


"Sawogaling aku cuma mampir saja tidak ada tujuan yang berarti, tapi entah mengapa perasaanku pingin ketemu kamu dalam beberapa purnama ini, ingin sekali menyambangimu ke puncak ini...!!" Ucap Ki Restu aji menjelaskan kedatanganya ke lembah Braholo.


"Baiklah ayo kita ngomong ngomong di pondok sambil minum teh dan makan singkong rebus....Hh...hh....hh....h...aku yakin Ki pasti lapar....!!!" Ajak Resi sawo galing pada temanya untuk ke pondok. Sementara itu Wirang hanya bisa diam melongo melihat kedua orang tua itu bersendau gurau melepas kangen.


"Hheii....wirang...cukup latihan hari ini....., segera buatkan kakek teh dua gelas bambu dan rebuskan singkong buat kami teman ngobrol....!!" Perintah Resi Sawogaling pada wirang ningratan muridnya.


"Ee....ee....,iya kek....segera...laksanakan....!!" Ucap wirang ningratan tergagap mendapatkan perintah dari gurunya.


Sepintas mata tajam Ki buyut Restu aji melirik ke Wirang ningratan dengan penuh tanda tanya, karena yang di rasakan oleh kakek sakti itu dari tadi ada sebuah hawa sakti yang sangat besar melingkupi raga bocah remaja itu.


"Sawogaling....., apa bocah itu muridmu...?? sejak kapan kamu mau mengambil seorang murid...? setahuku kamu gak mau punya murid....!!" Ucap Ki Restu aji membuka obrolan sambil berjalan menuju pondokan Resi Sawogaling.


"Ceritanya panjang....nanti aku ceritakan semuanya padamu tapi biarlah perutku ini terisi dulu dengan singkong rebus...he..he..he....!!" Ucap kakek tua itu selengekan. Setelah itu dua tokoh persilatan itu berjalan menuju pondokan Resi Sawogaling dan duduk di batu yang di buat kursi dan meja di depan pondok. Mereka ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu teh panas dan rebusan singkong buatan wirang ningratan.


Setelah rebusan singkong dan teh tersaji lali kedua pendekar itu terus saja ngobrol ngalor ngidul sampai lupa waktu dan entah berapa lama Resi Sawogaling menceritakan tentang muridnya dan keanehan keanehan yang di rasakan selama menjadikan wirang ningratan menjadi muridnya. Mendengar semua penjelasan sahabatnya itu Ki Buyut Restu aji terperangah dan berfikir mungkin ini yang membuat perasaanya ingin sekali menyambangi sahabatnya Sawogaling di puncak gunung Lawu.


"Ya.... semoga saja apa yang aku upayakan tidak sia sia....!!!" Jawab resi Sawogaling sambil menyalakan rokok kelobotnya.


"Sahabatku Sawogaling bila di izinkan aku ingin memberikan sarungku ini sebagai hadiah untuk muridmu, semoga bisa bermanfaat bila nanti dia sudah turun gunung." Ucap Ki buyut restu aji sambil melepaskan dan menyerahkan sarung warna putih kepada resi Sawogaling.


"Hh....hh....h....terimakasih kawanku tentunya akan sangat senang sekali anak itu menerimanya....!!" Jawab resi Sawogaling malu malu menerima pemberian dari sahabatnya itu, karena resi Sawogaling tahu sarung itu bukan sarung sembarangan tapi sarung sakti yang selama ini menjadi salah satu senjata andalan milik Ki buyut restu aji.


"Baiklah.....Sawogaling terimakasih atas sambutan mu yang hangat...., waktu sudah hampir petang aku harus kembali ke Wengker masih banyak urusan yang harus aku selesaikan" Pamit Ki Buyut restu aji kepada resi Sawunggaling.


"Baiklah sahabatku terimakasih sudah mau melihat keadaanku di puncak yang sepi ini....sekiranya bila kamu lewat sini mampirlah teh hangat dan singkong rebus pasti aku suguhkan kepadamu...he..he..he..he....!!!" kekeh pendekar tua itu lalu memanggil muridnya.


"Wirang....., sini sebentar.." panggil Resi Sawogaling pada muridnya.


"Iya kek.....!!!" jawab wirang yang sudah ada di dekat gurunya.


"Ayo....sungkem sama kakek restu aji.....!!!" Perintah orang tua itu pada wirang. Lalu wirang meraih uluran tangan Ki buyut restu aji dan mencium punggung tangan dari pendekar tua itu. Tapi yang di rasakan oleh pendekar tua itu adalah tersedotnya tenaga inti yang di miliki oleh Ki buyut restu aji, di tahan tapi seperti malah semakin kuat yang di rasakan oleh pendekar tua itu.

__ADS_1


"Apa ini......!!!" Guman Ki buyut restu aji dalam hati, sepintas sempat melihat wajah resi Sawogaling tersenyum aneh pada Ki buyut restu aji. Untung wirang segera melepaskan tangan lelaki tua berjubah putih itu sehingga hawa inti Ki Restu aji tidak tersedot banyak oleh kekuatan misterius yang ada dalam tubuh anak remaja ini.


"Sawogaling.....!!! kekuatan apa yang ada dalam tubuh anak ini...galing...??" Bisik Ki Buyut restu aji menanyakan perihal sesuatu yang di rasakan saat bocah remaja itu mencium punggung tangannya.


"Hh....hh....h....h......!!" Kekeh Resi Sawogaling tanpa menjawab.


"Jangan cengengesan kamu Galing.....!!?" Desak Ki Buyut Restu aji kepada sahabatnya itu.


"Jangan kaget sahabatku itulah yang aku resahkan, ada kekuatan yang luar biasa terpendam tidur dalam raga muridku, bahkan tenaga dalam bocah itu hampir setingkat yang aku miliki....hh...h...h.....!!!'' Jawab Resi Sawogaling sambil terkekeh.


"Maksudmu terpendam tidur bagai mana galing....??" Tanya Ki Buyut Restu aji semakin penasaran.


"Begini....Restu..., di dalam tubuh muridku ada sebuah kekuatan yang tanpa di sadari oleh bocah itu, di ubun ubunnya ada Rajah namanya Rajah puser bumi...., dan kalo bisa membuka simpul rajah puser bumi maka bocah itu tidak akan terkalahkan walau kita keroyok berdua.....hhh...hh....hh...h....., entah siapa yang bisa membuka simpul Rajah itu....!!??'' Terang Resi Sawogaling menjelaskan pada sahabatnya. Dua orang tokoh dunia persilatan tanah Jawa itu begitu serius membahas permasalahan yang ada di raga si Wirang ningratan mereka terlibat sebuah pembicaraan yang seperti nggak ada jalan keluarnya. Entah berapa lama mereka terus ngobrol terdengar ******* ******* nafas yang di hembuskan karena tidak bisa menemukan apa yang harus mereka lakukan.


"Baiklah Sawogaling coba aku nanti tanyakan pada sahabat sahabat kita mungkin ada yang tahu cara membuka segel Rajah puser bumi yang ada di raga muridmu, atau sang hyang agung sendiri yang akan membuka..." Ucap Ki Buyut Restu aji sambil beranjak dari duduknya.


"Yaa....ya.....kuharap juga begitu kawanku semoga nanti Rajah puser bumi bisa menemukan jalannya sendiri agar bisa di pergunakan oleh muridku.


"Kalo begitu....aku mohon pamit tak terasa senja sudah mulai turun....!!?" Ucap Ki Buyut restu aji berpamitan kepada Resi Sawogaling.


"Baiklah kawan.....sampaikan salamku pada teman teman...bila engkau menjumpai mereka....!!" Jawab Resi Sawogaling.


"Iya....iya....., aku pamit dulu sampaikan salamku pada muridmu semoga suatu saat nanti aku bisa bertemu muridmu di waktu dan tempat yang berbeda....!!" Hhh...hh....hh....!!!" Selepas pamitan kakek tua berjubah putih itu melesat bak anak panah melompat dan menapak di pucuk pucuk semak belukar di sepanjang jalan setapak ke arah hutan belantara di puncak Lawu.


"Hh....hh....h...., dasar tua bangka sok ganteng dari dulu begitu gak berubah selalu menjaga penampilan....!!!" Ucap Resi Sawogaling mengiringi kepergian sahabatnya.


"Harusnya begitu kek......, jaga penampilan yang rapi bukan seperti kakek baju lusuh gak pernah ganti...bau tembakau lagi....he..he...he....!!!" Celetuk Wirang ningratan yang tiba tiba sudah di belakang gurunya.


"Setan alas....., bikin jantungan saja kamu bangsat kecil.....!!!" Bentak Resi Sawogaling pada muridnya.


"Maaf kek gitu aja marah.......!!!" Jawab wirang sambil berlalu ke arah mata air untuk membersihkan tubuhnya.


Malam mulai turun Resi Sawogaling dan wirang ningratan duduk duduk di balai dalam pondok dengan di terangi getah pohon damar yang di bakar, terdengar suara Resi Sawogaling memberikan nasehat nasehat untuk bekal hidup nanti bila sudah menjadi seorang pendekar dan hidup di lingkungan orang banyak. Suasana malam itu begitu damai di lembah Braholo yang ada cuma hembusan angin malam yang dingin dan suara suara serangga malam yang mengalunkan melodi melodi keindahan di malam terang bulan.

__ADS_1


__ADS_2