Pendekar Bebek Gila

Pendekar Bebek Gila
4. Lembah braholo


__ADS_3

Hari menjelang pagi kakek tua yang menggendong tubuh Sastro marmoyo tiba tiba berhenti di salah satu puncak gunung Lawu dan di sana ada sebuah lembah kecil dengan mata air yang memancar deras dengan pohon pohon liar yang banyak tumbuh di lembah itu. Bagi sebagian orang lembah itu terlihat sangat angker, tapi bagi penghuninya lembah itu begitu indah dengan banyak di tumbuhi bunga edelweis yang indah.


"Hei bocah...!! bangun kita sudah sampai...!!" Ucap kakek tua berbaju putih itu dengan sengaja menjatuhkan tubuh mungil Sastro marmoyo.


"Aduhhh....!!! Suara Sastro mengaduh karena tidak siap di jatuhkan begitu saja di tanah berbatu.


"Hhhhh....hhh....hh....!! udah jangan cengeng begitu saja sakit, kamu itu calon pendekar harus kuat dan tabah menghadapi segala penderitaan" ucap kakek tua itu sambil terkekeh menyebalkan.


"Di mana kita kek di sini terasa dingin banget....!!" tanya Sastro pada lelaki tua yang telah menggendongnya sampai di lembah itu.


"Ini namanya lembah Braholo bocah bagus....kamu akan hidup di sini dalam beberapa Warsa untuk belajar olah Kanuragan dan olah kebatinan, ku harap kamu bisa secepatnya turun gunung dan tertipkan kehidupan di alam yang fana ini....!!" jawab kakek tua itu menjelaskan. tapi Sastro marmoyo hanyalah bocah baru berumur delapan tahun yang pemikirannya belum bisa mencerna apa yang di ucapkan oleh lelaki tua yang membawanya sampai di lembah Braholo itu.


"Ayo....kita menuju ke pondok itu semoga kang resi sudah bangun...!!" ucap kakek itu lalu berjalan menuju pondok dari kayu, dan Sastro marmoyo pun segera mengikutinya.


Kira kira jarak lima tombak dari pondok tiba tiba pintu pondok terbuka dan terlihat kakek tua bertongkat kayu hitam berbaju hitam keluar dari pondok dengan senyuman yang mengembang.


"Kriieettttt....!!" Suara pintu kayu berderit akibat gesekan pintu di buka.


"Oohh....hooo.....kamu sudah datang wahai tua bangka keparat.....he...he...he.....!! ku harap kamu membawa pesananku...!!" ucap kakek tua berbaju hitam yang keluar dari pondokan di lembah Braholo itu.


"Hemmmm....kang resi sudah bangun rupanya.....??!, tentu saja aku bawa apa yang kakang Resi pesankan kepadaku, kalo tidak mana mungkin aku datang ke tempat sesepi ini kakang....hhh...hh...hh....!!!" jawab laki laki tua yang membawa Sastro itu kepada kakek tua berbaju hitam. Tua bangka keparat adalah tokoh dunia persilatan aliran putih yang suka mencopet uang orang orang kaya di pasar dan keramaian untuk mencukupi kehidupannya, Atau sering juga di panggil Raja copet dari bukit Gupak Warak. Sedangkan kakek tua berbaju hitam yang di panggil Resi oleh raja copet Gupak warak adalah Resi Sawogaling atau di dunia persilatan di gelari Pendekar rokok klobot dari lembah Braholo, karena kakek tua itu suka sekali menghisap rokok klobot dan sebagai salah satu senjata andalannya untuk bertempur dengan musuh musuhnya.


"Baguslah....kalo kamu sudah jalankan apa yang aku pesankan padamu keparat....!!" ucap resi sawo galing pada raja copet Gupak Warak.


"Ya sudah kakang Resi, aku tidak bisa berlama lama di sini, aku serahkan bocah ini kepadamu nanti setelah kakang Resi izinkan dia untuk turun gunung sempatkan untuk bocah ini mampir ke tempatku kakang biar aku bisa berikan sedikit bekal untuk dia turun gunung....!!" Ucap raja copet Gupak Warak memberikan pesan sebelum dia pamit pergi.


"Heemm...,baiklah ku harap anak ini bisa segera menyerap semua yang aku miliki biar tugasku sebagai manusia di dunia fana ini juga terlaksana dengan benar....!!" jawab Resi Sawo galing dengan sedikit senyuman.


"Baik kang resi aku mohon pamit untuk pulang ke Gupak Warak karena aku akan menerima seorang murid untuk menjadi penerus tahta raja copet di tanah Jawa ini kakang....!!" Ucap copet Gupak Warak lalu berlalu pulang dengan berjalan lenggang kangkung.


"Hati hati di jalan tua bangka keparat.....!!" Teriak resi Sawo galing mengingatkan sahabatnya itu.


"Hhh.....hh....hhh....!!!" hanya kekeh kecil jawaban dari copet Gupak Warak dan suasana lembah itupun kembali sepi dari umpatan dan makian resi Sawo galing kepada sahabatnya copet Gupak Warak.


"Bocah bagus...., siapa namamu bocah tengik ....Hem ...hhhh....hh....!!??" Tanya Resi Sawo galing pada Sastro marmoyo di sertai kekehnya yang lucu.

__ADS_1


"Raden Sastro marmoyo kek....!!" jawab Sastro dengan jelas tanpa rasa takut pada tokoh tua aneh dan angker itu.


"Oohh.....oo....o...o....!! seorang Raden toh kamu anak malang..., Hem...baiklah Raden....saat ini sudah tidak ada lagi Raden Sastro marmoyo, yang ada sekarang namamu aku ganti Wirang Ningratan....kamu ngerti bocah bagus....??!!'' Ucap lelaki tua itu membuat Sastro bertanya tanya kenapa nama pemberian orang tuanya di ganti.


"Kenapa kek namaku kakek ganti dengan Wirang Ningratan....???!" Tanya Sastro dengan mimik keheranan.


"Sini.....kamu bocah pintar....duduk di dipan Deket kakek, akan kakek jelaskan kepadamu biar kamu paham....!!?" Jawab Resi Sawogaling melambaikan tangannya mengajak Sastro untuk mendekat dan duduk di dekatnya. Setelah Sastro marmoyo duduk di dekat resi Sawogaling lalu kakek itu menerangkan agar Sastro mau menerima nama pemberiannya, semua itu semata mata untuk mengelabui telik sandi yang di sebar oleh kadipaten Randu kendit yang sampai saat ini masih menugaskan beberapa telik sandi untuk mencari keberadaan Sastro marmoyo anak dari Rejo pakulon yang telah di bunuh oleh kelabang ijo atas perintah Adipati Buono Lanjar. Sastro yang belum paham akan apa yang di ucapkan oleh Resi Sawogaling hanya bisa diam dan mengiyakan apa yang di ucapkan oleh sang Resi kepadanya.


Kita tinggalkan dahulu sementara Sastro marmoyo dan Resi sawogaling di lembah Braholo, kita menuju keberadaan si Bongkeng yang terus berjalan ke arah barat menuju bukit Gupak Warak di lereng gunung Lawu bagian barat.


"Hemmm....sudah seharian aku berjalan dan sempat tanya pada beberapa orang yang aku temui di lereng gunung ini tapi belum sampai juga bukit Gupak Warak itu....!!" Dengus si Bongkeng dengan kesal karena harus mencari sebuah bukit yang belum pernah di dengar olehnya. Tapi karena mengingat pesan oleh kakek tua berbaju putih yang di temuinya dan melarikan momonganya Reden Sastro marmoyo di sebuah candi tua semalam dengan tanpa lelah si Bongkeng tetap berjalan walaupun perutnya berkokok minta di isi.


"kruuookkk....kruuookkk....!!!" Suara perut Bongkeng berkokok.


"Hadehhh......perut ini juga tidak mau bersahabat kenapa setiap hari minta di isi, sudah tau saya ini pengelana miskin mbok minta di isi itu sebulan sekali...gitu....he..he...he...!!!'' Celoteh Bongkeng sambil tangannya mengelus perutnya yang lapar.


"Sebaiknya aku istirahat dulu mencari buah buahan untuk mengisi perut ini" Ucap Bongkeng berbicara sendiri. Lalu Bongkeng mulai memeriksa beberapa pohon yang sekiranya berbuah dan bisa di makan. Dan ada pohon jambu hutan yang berbuah lebat lalu Bongkeng memanjat pohon itu dan mulai mengambil beberapa tangkai gerombolan buah jambu yang ranum ranum menggoda perut si Bongkeng yang penuh cacing itu.


"Wahhahaha.....kalo ini bisa kenyang perut sialanku ini......hi...hi...hi.....untung betul aku hari ini.....!!!" Celoteh Bongkeng sambil mulutnya mengunyah daging jambu yang segar manis berair.


"Cress.....!!" Suara daging jambu di kunyah mulut tongos si Bongkeng dengan rakusnya. Setelah hampir habis buah jambu hutan segar itu lalu Bongkeng merebahkan tubuh dekil baunya dan tanpa sadar mata beloknya pelan pelan mulai memejam menikmati sejuknya udara di bawah pohon jambu yang rimbun itu. Tak terasa si Bongkeng sudah hampir tengah hari di buai mimpi, sampai lupa akan tujuanya dari malam tadi, untung ada ranting kering yang patah akibat di tiup angin dan jatuh tepat di gigi tongos si Bongkeng.


"Suuuuttt.....Tuing....!!! ceklaakk...." Suara ranting pohon jatuh dan tepat mengenai Gigi si Bongkeng yang waktu itu menganga dengan alunan suara dengkur khas Bongkeng.


"Waduuhhhh.....waduhh biyung.....kayu kurang ajar, jatuh kok ya milih di gigiku....waduhh.....haaaaa.....duhh yunggg.....!!!" teriak si Bongkeng dengan sumpah serapah meluncur deras dari mulutnya yang bau. Untung Gigi si Bongkeng tidak patah atau ambrol dari gusinya, cuma sakit yang luar biasa yang di rasakan oleh Bongkeng.


"Kurang ajar sekali kau pohon jambu tidak beradab, ada orang tidur se enaknya kau jatuhi aku dengan ranting busukmu....!! pas di gigi lagi....haaa...haa...duh yungg....!!" Dengan masih sumpah serapah lalu Bongkeng mengambil ranting yang jatuh tadi dan di lempar ke arah pohon jambu dan mengenai beberapa tangkai buah jambu yang menggelantung sehingga gerombolan tangkai jambu itu berjatuhan ke tanah berumput.


"Hhhaa...hahhaa....rasakan pembalasanku jambu busuk....Hihi...hiii.....!!!" dengan ketawa seperti orang gila Bongkeng pergi meninggalkan pohon jambu itu.


"Waduhhh.....sayang itu jambu berjatuhan di rumput....he...he..he...!!!" Teringat akan Jambu yang di lempar tadi berjatuhan dan dasar si Bongkeng melihat makanan yang nganggur otak rakusnya mulai berjalan dan.


"Siuuttt.....sreeekkk...blaaassss.....!!" Tanpa berpikir panjang tubuh kurus dekilnya berbalik arah dan tangan lincahnya meraih beberapa tangkai buah yang tergeletak lalu kaki cepatnya segera tancap gas berlari menjauhi pohon itu dengan beberapa tangkai berada di genggaman tangannya.


"Heee...he...he....lumayan buat bekal sampai bukit sialan itu....!! mana bisa pohon bodoh mau membodohi seorang Bongkeng....hi...hi.hi....!!!" Racau mulut Bongkeng menghibur diri sendiri.

__ADS_1


Sementara itu di sebuah bukit yang bernama Gupak Warak seorang lelaki tua terlihat duduk di sebuah pohon beringin sambil minum tuak, sepertinya dia sedang menanti seseorang.


"Dasar bocah dekil busuk, masak cari bukit Gupak Warak saja seharian belum nyampek sini....hemm apa tahu ya dia mau aku ajari jurus jurus copet untuk menggantikan aku mencari nafkah....hehehhe....!!!" Ucap lelaki tua itu sambil sesekali meneguk tua kesukaannya.


"Sruupp....gluck...gluuck...!!" Suara tuak kembali membasahi kerongkongan keriput si tua bangka keparat itu.


"Aku tunggu sambil tiduran saja, dan pohon kesayanganku ini cukup nyaman untuk merebahkan tubuh rentaku ini....!!" Ucap lelaki tua itu lalu meluruskan tubuhnya di cabang pokok pohon beringin besar yang terlihat angker dan rimbun. Belum sampai sepenanak an nasi matang telinga tajam pendekar copet Gupak Warak samar samar dari kejauhan mendengar langkah kaki yang tertatih Tatih menuju kearahnya.


"Hemm.....rupanya baru sampai manusia dekil bergigi tongos ini.....hehhhhh....hhh.....!!!" guman kakek Gupak warah terkekeh membayangkan muka si Bongkeng yang berantakan.


"wwooo.....lha ini kayaknya kata penduduk kampung tadi bukit tinggi di lerengnya ada pohon beringin kembar.....wooo..o..o..o...ini rupanya...!!" celoteh bocah remaja hitam tongos bermata belok itu.


"Wuuusss.....tokk....!!!" sebuah sinar putih melesat cepat mengenai tepat di kepala, Sebuah ranting kecil jatuh tak jauh dari tubuh si Bongkeng.


"Waduuhhhh.....buajingannn.....!!!siapa berani beraninya melempar aku....heeee.....setan demit genderuwo keluarlah.....dan pergi jangan takuti aku......tolong yaaa ....hihihi....!!" Dasar bocah sialan bicaranya pertama seperti menantang ternyata belakangnya sangat mengecewakan.


"H...hh....h...hh......!!! bocah gak waras ini sangat lucu sekali...semoga otaknya bisa menyerap apa yang akan aku turunkan padanya....!" Kekeh kakek tua di pohon yang dengan sengaja menggoda Bongkeng dengan melempar ranting pohon kecil yang mengenai kepalanya tadi.


"Haaahh.....Ndak berani keluar.....ha..ha...ha...ha....jangan macam macam sama raden Bongkeng sanjaya.....kalo macam macam akan tau rasanya pukulan dari ku....haaahhh....!!!" Celoteh Bongkeng menggema membuat riuh suasana lereng bukit yang biasanya sepi menjadi seperti pasar.


"Heepp.....!!! tab...tab....kruseeckk....!!!" copet Gupak Warak sudah gak sabar ingin menampar mulut rombeng calon muridnya itu lalu turun dengan melompat ke cabang dan meluncur ke tanah di bawah pohon beringin itu tepat di belakang si Bongkeng.


"Heehh....siapa kau.....!!!" Secepat kilat tubuh Bongkeng berbalik dan seperti memasang kuda kuda bak pendekar bersiap mau bertarung.


"Ha....ha...ha.....haa.....!!!, heehh....bocah sialan bisa apa kamu sok pasang kuda kuda segala apa kamu bisa jurus jurus silat heee....bocah tolol....!!!" Ucap copet Gupak Warak sambil terkekeh melihat pasangan kuda kuda yang di lakukan oleh Bongkeng.


"Ohhh.....o...o....o....!! kamu ternyata orang tua pencuri anak anak....!!! kebetulan kita ketemu di sini, ayo segera katakan di mana Raden Sastro marmoyo atau kamu ingin tulang tulang rentamu itu remuk oleh pukulanku.....!!!" Bentak si Bongkeng kepada copet Gupak Warak.


"Waha...ha...ha...ha...ha....!! *** njarann.....!!! hihi....hi....hi...hi...kurang ajar bener.....hahaa....ha ..ha...lucu lucu....!!!" Copet Gupak Warak sampai sakit perutnya melihat kemarahan si Bongkeng yang sok pendekar.


"Apanya yang lucu wahai orang tua pencuri....!!??" Tanya Bongkeng yang membuat si copet berhenti ketawa ngakak.


"Heii....!!! bocah hitam dekil mata belok gigi tongos kamu itu siapa ...??? kok sok jagoan mau remukkan tulang belulang ku...he....??! ha....ha...haa...., kencing saja kamu belum bisa lurus...!!" Ujar Copet Gupak Warak sambil menunjuk gigi tongos si Bongkeng.


Suasana di lereng bukit Gupak Warak itu semakin riuh karena perdebatan mereka berdua sampai sampai mereka lupa matahari sudah condong ke barat. Setelah melalui penjelasan dan pengertian dari copet Gupak Warak Bongkeng baru mau mengerti dan menerima dia di ambil menjadi murid raja copet Gupak Warak.

__ADS_1


__ADS_2