Pendekar Bebek Gila

Pendekar Bebek Gila
5. Rajah puser bumi


__ADS_3

Tiga purnama sudah Sastro berada di puncak gunung Lawu, tepatnya di lembah Braholo untuk mengasah kemampuannya dalam berolah Kanuragan dan olah jiwa, dan tiga purnama itu pula Sastro di gembleng bak pusaka di tangan seorang pandai besi, di pukul di tekuk di bakar lalu di pukul lagi di bakar lagi biar raga dan jiwa Sastro kecil bisa berkembang menjadi seorang pendekar yang pilih tanding. Segala penderitaan di dera pada jiwa dan raga Sastro kecil untuk membentuk fisik dan mental yang mumpuni agar mampu menghadapi tantangan di masa depan.


"Wirang......!!'' Panggil kakek tua berbaju hitam itu memanggil muridnya, dan terlihat asap rokok klobot yang mengepul memenuhi udara sekitar.


"Iya guru.....!!" Jawab bocah kecil itu lalu mendekat.


"Cukup latihanmu hari ini....!!! kamu sekarang pergilah ke mata air basuhlah badanmu biar segar nanti malam tepat bulan purnama aku ingin kamu semedi di atas batu badar besi di sana itu...!!" perintah Resi Sawogaling pada wirang muridnya.


"Sendiri guru....!!??" tanya wirang sambil garuk garuk bokongnya.


"Hh...h...h...h....!! iya no....kalo berdua itu namanya ngobrol bukan semedi bocah tolol....hehehe....!!!" Kekeh kakek tua itu sambil mengelus kepala anak kecil di hadapannya itu.


"Baiklah guru semua perintah guru akan wirang lakukan....!!" Jawab wirang atau Sastro marmoyo sambil berjalan menuju mata air untuk mandi membersihkan badannya.


"Ya sudah sana cepat mandi dan cepat kembali...!!" perintah Resi Sawogaling kepada muridnya. Tanpa menjawab lagi bocah kecil itu berlari menuju mata air di bawah pondokan Resi Sawogaling, tubuh ramping Wirang meloncat loncat lincah dari batu ke batu lainya yang berada di sepanjang lembah, terlihat sangat ringan dan enteng gerakan bocah kecil itu dalam menyusuri jalan setapak menuju pancuran mata air.


Lembah Braholo malam itu seperti bersinar terang akibat dari cahaya rembulan bulat sempurna karena malam itu malam bulan purnama, terlihat Sastro marmoyo bersemedi dengan duduk bersila tangan bersedekap di dada. sudah hampir separuh malam bocah kecil itu mengosongkan pikiran mengolah rasa dan cipta konsentrasi berpusat kepada sang hyang agung, dari kejauhan Resi Sawogaling terlihat duduk sambil memegang rokok klobot dengan asap dan api yang mengepul tebal memenuhi udara sekitar dan matanya tak pernah sedikitpun beranjak perhatiannya dari tubuh muridnya yang di terpa hawa dingin udara lembah di puncak gunung Lawu, gunung paling mistis di tanah Jawa.


Sepintas terlihat kabut tipis membayangi tubuh wirang dan dalam hitungan detik terpancar sebuah sinar warna biru muda keluar dari ubun ubun Wirang lalu sinar itu menyelubungi tubuh kecil bocah itu, Dan tubuh itu mengeluarkan asap tipis mengepul pelan ke udara.


"Ini saatnya.....!!!" Ucap kakek tua itu lalu tubuh rentannya melenting ke udara dengan kecepatan yang luar biasa saking cepatnya hanya terlihat bayangan hitam dan ekor api dari rokok klobotnya dan turun tepat di belakang tubuh Wirang.


"Heeebbb.....!!!" Telapak tangan orang tua keriput itu di tempelkan pada ubun ubun Sastro Wirang marmoyo dan sebuah cahaya keemasan masuk ke ubun ubun bocah kecil itu dengan deras bahkan yang di rasakan oleh Resi Sawogaling tenaga dalam yang di salurkan tersedot sepenuhnya, sehingga membuat tubuh tua itu gemetaran dan terlihat keringat dingin sebesar jagung bergelantungan di wajah pendekar rokok klobot dari lembah Braholo itu.


"Kurang ajar.....Kekuatan apa yang berada di tubuh anak kecil sialan ini mengapa selama ini aku tidak bisa merasakannya.....!!!" Guman orang tua itu dalam pikirannya.


"Hiiakk!!!....seet.....siuutt.....tab....!!!" dalam sekejap tubuh Resi Sawogaling sudah di tempat semula, sementara tubuh Sastro Wirang mulai kembali normal dan persemedian itu usai.

__ADS_1


"Wirang.....!!!" Panggil orang tua itu sambil memegang punggung muridnya.


"Iya guru.....!!" jawab Sastro Wirang sambil membuka matanya.


"Sudah....cukup semedimu bocah bagus, sekarang istirahatlah hari sudah mau menjelang pagi" perintah Resi Sawogaling pada muridnya.


"Baik kakek guru...." jawab wirang dan segera turun dari batu badar besi lalu menuju pondokan untuk istirahat sesuai perintah gurunya. Sedangkan Resi Sawo galing tidak habis pikir di saat menyalurkan tenaga dalam ke ubun ubun Sastro marmoyo alias wirang ningratan terasa seperti ada kekuatan besar dalam raga muridnya yang belum terdeteksi oleh pendekar rokok klobot yang sakti mandraguna. hanya sepintas tadi terlihat oleh mata tajam pendekar tua itu sebuah Rajah seperti Cakra mengeluarkan cahaya biru yang berputar putar di ubun ubun bocah kecil itu.


"Rajah apa itu yang ada di ubun ubun anak ini...., sebuah rajah yang membulat dengan gambar Cakra kembar berputar mengelilingi ubun ubunya ....hemmm....anak ini menyimpan misteri...., pantas roh eyang guru menyuruh aku menyelamatkan bocah ini....??!" guman resi Sawogaling dalam hati. Malam itu mata Resi Sawogaling tidak mau di ajak istirahat dan terbang ke alam mimpi, perasaanya begitu penasaran dengan apa yang barusan di alami, baru kali ini Resi Sawogaling tidak mampu mengatur ritme waktu menyalurkan tenaga inti ke dalam tubuh muridnya bahkan seakan akan seluruh tenaga dalamnya akan tersedot habis kalo saja tadi Resi Sawogaling tidak segera menyudahi apa yang telah di lakukan untuk memberikan aliran hawa sakti ke dalam tubuh muridnya. Dan perasaan Resi Sawogaling begitu antusias untuk lebih serius lagi dalam mendidik muridnya agar menjadi tokoh dunia persilatan yang bisa menjadi panutan para pendekar aliran putih.


Sementara itu di bukit Gupak Warak si Bongkeng juga sangat giat sekali dalam mempelajari jurus jurus copet dan ilmu kebatinan tingkat tinggi, walau kadang tingkahnya membuat raja copet Gupak Warak kesal tapi apa yang di usahakan oleh bocah remaja itu sungguh membuat raja copet Gupak Warak menjadi terkesan akan kesungguhannya dalam berlatih olah Kanuragan dan oleh kesaktian. Malam itu Raja copet Gupak Warak merasakan angin begitu segar Sepoi Sepoi membelai wajah keriputnya, hewan malam bernyanyi riang di antara semak belukar seakan mengalunkan sebuah Gending yang bisa membuat jiwa. Tapi di antara semua keindahan itu, raja copet Gupak Warak bukanlah pendekar kemarin sore, kesaktian dan pengalaman hidupnya berpetualang di dunia fana ini membuat semua Indra tubuhnya sangat peka akan tanda tanda alam, maklum dia adalah salah satu pendekar kelas Wahid di tanah Jawa Dwipa ini, raja copet merasakan ada sesuatu peristiwa besar yang akan dia saksikan. Belum sempat pendekar tua itu meraba raba apa sekiranya yang akan dia saksikan dari kejauhan telinganya yang sangat peka mendengar hembusan angin tipis akibat dari efek orang berlari cepat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna.


"Ssss....ss....ss....!!" Suara angin terbelah oleh cepatnya sesosok tubuh kurus berwarna hitam gelap dengan di belakang bayangan hitam yang melesat menuju bukit Gupak Warak itu terbias sebuah alur terang merah menyala sebesar kelereng memanjang mengikuti bayangan yang berlari itu seperti ekor komet yang jatuh dari langit. Dan karena ekor sinar terang itu pula si Copet Gupak Warak jadi tahu siapa yang terburu buru menuju ke arahnya.


"Hemmmm.....rupanya si kakang Resi Sawogaling yang berlari seperti di kejar anjing menuju kemari, ada apa kang resi kemari begitu terburu buru..?" Guman raja copet Gupak warak dalam hatinya. Tidak sampai sepeminuman teh bayangan hitam itu sudah berada di depan gerbang bukit Gupak Warak yang mana saat itu raja copet Gupak Warak sedang berdiri di tengah jalan persis di antara gerbang bukit yang berupa dua beringin kembar.


Wwuussss......Ssrrriiiitttt...sreeeccxxx.......!!!!" Suara sendal dari kulit kerbau yang di pakai resi Sawogaling bergesekan dengan tanah dan daun daun kering yang berjatuhan di bawah pohon beringin besar itu.


"Hee....e .he....he....!! maaf kang resi kebetulan aku sedang jalan jalan kesini karena cuacanya begitu bagus dan cerah kang.....!!" Jawab raja copet Gupak Warak sambil terkekeh melihat ekspresi wajah resi Sawogaling.


"Untung aku cepat ngerem lariku kalo gak aku Reo bisa terbelah tubuh busukmu ketabrak...!!! he...he...he...., Gupak Warak aku ingin membicarakan sesuatu denganmu..!!" Ucap Resi Sawogaling sambil duduk di atas batu besar di bawah pohon beringin itu.


"Masalah apa kang Resi....!?? kok sampai berlari seperti di kejar anjing...h..hh...hh...." Kekeh Gupak Warak sambil ikut duduk di samping Resi Sawogaling.


"Woooo.....cengengesan....serius aku ini.....bangsat ..!!" Ucap Resi Sawogaling sambil melotot angker matanya pada Gupak Warak.


"Iya...iya kang bicaralah.....,gitu aja marah, cepat tua nanti kang kalo suka marah marah....!!" Jawab Gupak Warak sambil tersenyum.

__ADS_1


"Memang kita sudah bau tanah.....kok,....wooooo kamu ini belum pernah makan rujak batu ya mulutmu itu.....!!" Racau Resi Sawogaling masih kesal dengan ucapan sahabatnya itu.


"Hh....hhh.....h..h...h!!!" Gupak Warak hanya bisa ketawa.


"Kamu masih ingat bocah yang kau bawa itu....Gupak Warak...!!"


"Ya masih ingat to...baru juga beberapa purnama....!!, bagaimana kang perkembangannya....!!" Jawab Gupak Warak menanyakan keadaan Sastro Marmo alias wirang.


"Ya itu yang ingin aku bicarakan sama kamu tua bangka keparat.....!!!" Dengus pendekar tua itu sambil menghembuskan asap rokok klobot khas tembakau milik pendekar tua itu dan wajahnya menatap bulan purnama yang menyinari bukit Gupak Warak dengan terangnya. Lalu Resi Sawogaling bicara tentang muridnya tentang kemajuan yang begitu cepat dalam beberapa purnama ini dan yang paling membuat kaget raja copet Gupak Warak adalah kata kata dari Resi Sawogaling yang mengucapkan Rajah puser bumi.


"Apa....kang yang kamu bicarakan....!??, Rajah puser bumi....???" Tanya Gupak Warak sambil matanya melotot menyelidik perkataan Resi Sawogaling yang barusan di ucapkan tadi.


"Iyaa....., itulah yang ingin aku bicarakan serius denganmu keparat ....!!" ucap Resi Sawogaling dengan mimik yang senang sabatnya sudah paham apa yang akan di bicarakanya.


"Setahuku kang, rajah puser bumi hanya di miliki oleh legenda pendekar zaman kakek buyutku...! yang di beri anugerah Rajah puser bumi oleh sang hyang agung....,kalo gak salah namanya pendekar Bunga teratai...,sosok legenda yang sangat sakti mandra guna tapi itu tiga ratus tahun yang lalu kang.....!!" Ucap Gupak Warak dengan mimik muka serius.


"Itu lah....., dan dunia akan kedatangan seorang pendekar yang tidak bisa di kalahkan, karena siapapun yang bisa membuka simpul dan menguasai rajah puser bumi dia akan menjadi seorang pendekar yang sangat sulit di kalahkan....!!" Ucap resi Sawogaling mengiyakan ucapan sahabatnya.


"Baik kang resi nanti bila sudah saatnya anak itu kakang Resi biarkan berkelana membasmi Angkara murka, tolong pesankan padanya untuk mampir di Gupak Warak sini kang.....!!"


"Apakah kamu juga ingin menjadi gurunya juga wahai tua bangka keparat.....hemm....!!" Tanya Resi Sawogaling dengan alis mata yang meninggi sebelah dan asap rokok klobot yang membubung memenuhi area sekitar mereka berdua ngobrol di malam purnama itu.


"Kakang Resi...izinkan aku sedikit memberinya petuah dan bekal yang aku bisa kakang.....!!! setidaknya kalo tidak mau jadi muridku yaaahh....menjadi cucu angkatku kan juga gak papa to kang.....!!!" Jawab Gupak Warak dengan sedikit merendahkan nada suaranya.


"Hhh...hh. ..hhh....!!! dasar setan pasar......., boleh saja kamu turunkan beberapa ilmu kesaktianmu yang tidak berguna itu Gupak Warak, tapi tolong jangan sekali kali kau ajari dia jurus jurus copetmu....aku gak suka.....!!!" Ucap resi Sawogaling sambil membuang mukanya.


"Heeehhh...he...he....h...h..., tenang kang resi aku sudah mempersiapkan yang akan melanjutkan jurus jurus copetku, aku janji tidak akan berikan sedikitpun jurus copet pada anak itu kakang....!!" Jawab Gupak Warak sambil terkekeh.

__ADS_1


"Baiklah Gupak Warak kayaknya hari sudah mau pagi aku pamit dulu....!!!, Heeb.....b.....,sretttt. wuusssss......!!!!" Dengan sekali loncat tubuh Resi Sawogaling melesat cepat di antara pucuk pucuk semak belukar dan hanya terlihat bayangan hitam dan ekor percikan api dari rokok klobotnya yang masih menyumpal di mulut nakal pendekar tua renta itu. Sementara itu Raja copet dari bukit Gupak Warak hanya bisa memandangi sahabat sekaligus kakak yang bisa untuk berbagi keluh kesah dan saling tukar pengalaman dalam menjalani hidup sebagai seorang pendekar sakti tanah Jawa yang di hormati kawan maupun lawan.


"Sang hyang agung....terimakasih engkau persiapkan calon pendekar yang akan melindungi tanahJawa ini dari Angkara murka....., semoga akan jadi kenyataan harapanku ini!!" Ucap lelaki tua itu sambil berlalu kembali ke puncak bukit menuju podokan untuk istirahat. Setelah pembicaraan antara dua tokoh besar dunia persilatan aliran putih itu, gerbang bukit Gupak warak ringin kembar terasa sunyi hanya hewan malam yang masih bernyanyi menikmati cerahnya malam bermandikan cahaya purnama dan gemerlapnya beribu bintang menghiasi langit yang biru.


__ADS_2