Pendekar Bebek Gila

Pendekar Bebek Gila
17. Di antara selimut kabut.


__ADS_3

Kita tinggalkan dulu perjalanan Wirang, Bongkeng dan gadis cantik bernama lembayung senja. kita lihat perjalanan murid Ki Restu aji yang kala itu melakukan perjalanan mengambil perjalanan lewat gunung Lawu.


Sore itu Rangga,Palupi dan Rengganis sampai pada sebuah desa di lereng Lawu sebelah barat tepatnya di daerah bawah grojogan seribu Tawang (Sekarang sekitar Tawang Mangu) mereka terus memacu kudanya tanpa mengenal lelah suasana sore itu begitu cerah sehingga mereka tidak berniat untuk beristirahat di desa lereng Lawu itu.


"Kakang Rangga.....apa tidak sebaiknya kita istirahat di desa ini kakang.....!!!" Teriak Rengganis mengusulkan untuk istirahat di desa yang barusan di laluinya.


"Cuaca cerah nimas.....kita istirahat di jalan saja.....!!!" Jawab Rangga mulai memelankan kudanya.


"Menurutmu bagaimana nimas Palupi" Tanya Rangga minta persetujuan adik seperguruannya Palupi. Entah Palupi tidak mendengar atau memang malas menjawab Palupi hanya diam saja tidak banyak berbicara sejak keluar dari pendopo pagi tadi, entah ada apa dengan Palupi yang seperti tidak ada semangatnya melakukan perjalanan ke marbabu ini.


"Mbakyu......,mbakyu Palupi ...!!" Panggil Rengganis kepada Palupi kakak perseguruanya.


"Terserah.....kalian.....saja aku ikut.....!!" Jawab Palupi ogah ogahan.


"Ada apa dengan Palupi....!?!!, sepertinya tidak semangat dalam perjalanan ini, heeemm.....jangan jangan....!!??!" Guman Rangga dalam hati tapi kecurigaannya tidak di lanjutkan. Setelah jawaban Palupi yang terkesan acuh tak acuh ketiga pendekar itu tidak saling bicara lagi, lalu Rangga memacu kudanya menjadi lebih cepat dan kedua gadis murid dari restu aji itupun mengikuti dari belakang.


Entah berapa lama mereka memacu kudanya, setelah matahari tidak tampak lagi Rangga mengangkat tangan tanda untuk menghentikan kuda.


"Nimas kita berhenti di sini.....kita bermalam di pinggir sungai itu, kayaknya ada tempat berpasir yang agak lapang bisa untuk kita istirahat malam ini...!!!" Ucap Rangga memerintahkan adik adik seperguruannya untuk berhenti dan istirahat di pinggir sungai yang cukup bersih dengan hamparan pasir yang luas.


Lalu mereka bertiga mulai turun dari kuda dan menambatkan kuda kuda mereka ke batang semak belukar di pinggir sungai itu.


"Kakang....sebaiknya kita cari kayu bakar untuk menghangatkan badan dan membuat perapian...!!" Ucap Rengganis usul kepada kakak seperguruannya Rangga.


"Baiklah nimas.....biar kakang saja yang mencari kayu kayu kering, nimas siapkan saja bekal yang kita bawa dari padepokan!!" Jawab Rangga kepada Rengganis agar mau menyiapkan bekal makan yang mereka bawa dari padepokan.


Entah mengapa Palupi tidak seperti biasanya yang ceria dan manja, tapi kali ini terlihat hanya diam dan banyak melamun, sehingga Rangga maupun Rengganis sungkan untuk bicara kepada saudara seperguruannya itu.


"Rengganis....,pernah kah kamu merasakan jatuh cinta.....??!" Bisik Palupi kepada adik seperguruannya.


"Hhhhh.....hh...h....., ternyata mbakyu Palupi sedang jatuh cinta...., dengan siapa mbakyu....!!?!" tanya Rengganis di barengi ketawa geli melihat kakak seperguruannya sedang jatuh cinta sampai hidupnya seperti tidak ada semangat sama sekali.


"Sssstttt.....jangan keras keras, aku gak ingin kakang Rangga mendengar ......Rengganis....!!" Bisik Palupi dengan jari telunjuk di depan bibir tipisnya.


"Tenang mbakyu.....aman sama Rengganis...hi..hi...hi....." Jawab gadis manis itu berbarengan cekikikan dengan Palupi.


"Rengganis bila....nanti tugas dari kakek guru sudah selesai, Aku ingin berkelana mencari pengalaman hidup.....apa kamu mau ikut....!!?" Tanya Palupi dengan suara yang sangat pelan.


"Maksud mbakyu.....!!" Tanya Rengganis penasaran.

__ADS_1


"Yaa.....aku ingin mengembara mengelilingi tanah Jawa ini.....kamu mau ikut tidak....!!??" Jawab Palupi menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Apa boleh sama kakek guru mbakyu.....,mbakyu Palupi kan kesayangan guru, aku gak yakin kakek mengizinkan mbakyu berkelana gak jelas arah tujuan...!!" ucap Rengganis sambil menyiapkan bekal makanan yang di bawa dari padepokan.


"Entahlah......,tapi aku harus bisa.....,tidak puas rasanya hidupku kalo belum bisa berkelana mencari pengalaman untuk bekal hidupku di hari tua nanti?!!" Guman Palupi dengan mata yang menerawang jauh kedepan.


"Nimas.....ini kayu bakarnya kita buat perapian sebelah mana nimas....!!??" Tiba tiba Rangga muncul mengejutkan dua gadis yang sedang berbincang itu.


"Eew....ee.....emm.....,baiklah kang Rangga taruh sini saja biar rata api menghangatkan tubuh kita!!" Rengganis gelagepan menjawab ucapan Rangga yang tiba tiba muncul tanpa di duga.


"Ayo nimas Palupi....., basuhlah mukamu di sungai itu baru Kita istirahat.....!! Ucap Rangga menyuruh Palupi untuk membasuh mukanya di sungai.


"Yaa....kakang, nanti saja........aku masih malas untuk melakukan sesuatu" Jawab Palupi sambil tangannya melemparkan batu batu kecil ke arah permukaan air yang mengalir jernih.


"Ya sudah.....tapi jangan malam malam.....!!" Ucap Rangga kepada Palupi gadis yang diam diam dia sayangi, tapi rupanya Palupi tidak merespon dan malah terkesan cuek.


Palupi hanya diam dan terus bermain main dengan kerikil yang di lempar lemparkan ke air tanpa menjawab sepatah katapun.


Waktu sudah hampir tengah malam, Suara serangga serangga malam memenuhi suasana malam itu dengan nyanyian tidak jelasnya, terlihat di langit rembulan sabit terlihat indah dengan hiasan bintang bintang kecil yang yang gemerlapan di langit. Terdengar dengkuran halus dari Rangga dan rengganis yang sudah terlelap sejak tadi, kebetulan Palupi minta untuk berjaga malam itu,. terlihat Palupi belum bisa tidur matanya memandang langit di atasnya, tubuhnya terasa lelah setelah hatinya yang menahan rindu.


"Apakah dia merasakan getaran hatiku....?? atau malah mungkin tidak menganggap ku ada ...!!" guman Palupi dalam hati.


"Aku harus bisa, inilah waktunya.....aku harus berani ambil keputusan.....!!?! Yaa.....kapan lagi aku bisa bebas berkelana bertemu wirang kalo bukan saat ini, aku harus tinggalkan kakak dan adik seperguruanku....!!!" Seperti tersengat listrik Palupi terhenyak dan tiba tiba bangun, lalu berjalan pelan pelan dengan merapalkan ajian meringankan tubuh agar kedua saudara seperguruannya tidak mendengar kepergiannya. dengan sedikit tergesa Palupi lalu mengambil barang bawaannya, dan menuju ke arah kuda untuk melepaskan tali kudanya lalu menuntun dengan sangat pelan.


Sekitar seratus tombak dari peristirahatan tadi lalu Palupi menaiki kudanya dan memacu dengan pelan menyusuri jalan setapak arah barat.


menjelang tengah malam Rengganis terbangun karena ingin buang air kecil, tanpa melihat saudara seperguruannya langsung saja menuju aliran sungai untuk menunaikan hajatnya, sepeminuman teh kemudian Rengganis kembali ke tempatnya, alangkah terkejutnya kakak seperguruannya Palupi sudah tidak ada di tempatnya, hanya ada Rangga yang mendengkur keras karena kelelahan setelah perjalanan seharian tadi.


"Kang.....kakang Rangga.....kemana mbakyu Palupi kang.....???!!" Teriak Rengganis membangunkan kakak seperguruannya.


"Dengan terkejut Rangga bangun dan memeriksa sampingnya yang sudah kosong bahkan tikar pandan tempat tidur Palupi pun sudah tidak ada. melihat semua itu Rangga hanya bisa diam termangu dengan seribu pertanyaan dalam hati.


"Kemana si Palupi kenapa meniggalkan kita tanpa pamit ada apa denganmu Palupi....!!?!" Hati Rangga berkecamuk kawatir campur tanda tanya.


"Kang apa tidak sebaiknya kita cari mbakyu Palupi kakang....!!?!" Rengganis yang dalam kecemasan mendesak Rangga untuk mencari keberadaan Palupi.


"Rengganis....., tenangkan dirimu, Palupi pergi dengan sengaja meninggalkan kita nimas.....!!!" Ucap Rangga menenangkan Rengganis.


"Kakang.....kenapa mbakyu Palupi pergi meninggalkan kita....,ada apa kakang, aku takut mbakyu di culik orang.....!!" Ucap Rengganis seakan tidak percaya apa yang di katakan oleh Rangga kakak seperguruanya.

__ADS_1


"Lihatlah nimas....kalo memang Palupi di culik orang, aku yakin penculik itu tidak mau repot repot membawa tikar dan perbekalan Palupi, dan tentunya kita juga akan mendengar ribut ribut....!!?" benar juga kata Rangga mana ada penculik mau menggulung tikar tempat Palupi tidur kalo niatnya menculik orangnya.


"Benar yang kakang katakan, tapi kenapa mbakyu pergi begitu saja tanpa pesan apapun pada kita ...!?!" dengan seribu pertanyaan Rengganis bicara dan bertanya pada dirinya sendiri.


"Nimas...ayo kita berkemas kita susul nimas Palupi, semoga kita masih bisa menyusulnya....!!" Ajak Rangga untuk berkemas dan menyusul adik seperguruannya, walau Rangga kesal dalam hati tapi eyang guru sudah mempercayakan padanya untuk menjaga adik adik seperguruannya.


"Ini masih tengah malam kakang.....!!!" Jawab Rengganis dengan wajah yang kesal dan penuh tanda tanya.


"tapi nimas....Palupi tanggung jawabku, apapun yang terjadi aku gak ingin Nimas Palupi sendirian di hutan nimas.....!!" Jawab Rangga membujuk Rengganis agar mau segera berkemas.


"baiklah kakang......!!! tidak seperti biasanya mbakyu Palupi seperti ini....benar benar menjengkelkan...!!" jawab Rengganis kesal. Lalu mereka berdua pun segera membereskan semua dan segera pergi dari tempat itu untuk menyusul Palupi.


Sementara itu Palupi memacu kudanya dengan kencang menyusuri pinggiran hutan yang lebat ke arah barat daya.


"Hiaaaa......!!!!, hhiaaa.....!!!, hiihihirrregggkkk.......!!!" Suara Palupi memacu kuda seperti kesetanan dan kuda itupun berlari kencang dengan di awali ringkikan keras melesat menembus kabut tipis yang menyelimuti hutan yang di susuri oleh Palupi. akhirnya Palupi bebas menentukan jalanya sendiri mengikuti kata hatinya, entah akan sampai mana gadis itu akan mampu bertahan dari hantaman badai segala persoalan di rimba persilatan yang penuh dengan sandiwara kelicikan anak manusia demi mendapatkan harta, tahta dan wanita.


Dengan hati yang gundah gulana Palupi terus memacu kudanya dalam keremangan bulan sabit, suasana hutan yang sepi sunyi hanya ada suara serangga malam, tapi itu semua tidak mampu menggetarkan pendekar muda itu dia adalah Palupi gadis manja yang keras kepala. Entah sudah berapa lama dia memacu kudanya, tanpa terasa di ufuk timur semburat fajar sudah terlihat dan Palupi merasakan kantuk yang luar biasa, dengan tubuh yang lunglai Palupi memeluk erat leher kuda agar tidak terjatuh dari atas kuda.


"Hhhrrrrrr......hiiieeeeehhrrrre......hhhhrrrrrr.......!!!" Suara ringkikan kuda Palupi terdengar memilukan mungkin kuda itu sudah kelelahan setelah di pacu sepanjang malam ini.


"Hhhuussss.....ck...ck...ck.....,ayo kita minum dulu Jabung, itu ada sungai kecil di lembah. ....!!!" Palupi ngajak bicara kudanya seakan kudanya mengerti apa yang di katakan oleh gadis cantik itu.



"Hhiiiiiiiieeehh.....hhhrrrrrr......!!!" Dengan pelan kuda gagah itu, menuruni sungai dan mulai minum sepuasnya, sedangkan Palupi juga mambasuh mukanya dengan air sungai yang jernih dan menyegarkan.


"Jabung matahari sudah muncul....,aku ingin istirahat sebentar di bawah pohon itu...ayo kesana Jabung.....!!" Palupi dan kuda itu berjalan menuju pohon yang cukup rindang sehingga cukup nyaman untuk istirahat. Entah berapa lama Palupi ada di tempat itu saat ini terdengar suara dengkuran halus gadis cantik itu di bawah pohon yang rindang sedangkan si Jabung kuda milik Palupi asik merumput di sekitar pohon rindang yang menaungi Palupi dari terik sinar matahari.


Sebuah burung hinggap di atas pohon tanpa sengaja menjatuhkan buah buahan hutan kecil dan kebetulan menimpa kening Palupi sehingga membuat Palupi terbangun.


"Ohh.....sudah sampai mana aku ini....!!?! sampai tidak terasa hari sudah siang nyenyak banget tidurku....eeehhhhh...!!!" Guman Palupi sambil menggeliat melemaskan otot ototnya yang kaku.


"Lebih baik aku segera menyusul wirang aku yakin pemuda itu, belum jauh dari wengker .....!!!" guman gadis dalam hati lalu menuju sungai untuk mengambil air minum persedia yang di tempatkan dalam bumbung bambu.


"Ck....ck....ck.......?!!, Jabung ayo kita berangkat ......!!" Teriak Palupi memanggil kudanya. Lalu kuda itupun di pasangi pelana dan semua peralatan di kemas dan di taruh di punggung si Jabung, dengan sekali hentak tubuh langsing nan sexy Palupi sudah nangkring di atas punggung kuda.


"Hhiiiiiiaaa........!!!! Ayo Jabung....kita berjalan lagi.....!!!" Teriak Palupi memacu kudanya ke arah barat.


Entah sudah sampai mana gadis itu memacu kudanya, dalam perjalanan sesekali menemui rumah rumah penduduk di pinggiran hutan tapi Palupi terus memacu tanpa mengenal lelah.

__ADS_1


akankah Palupi ketemu wirang ningratan dalam perjalanan ke gunung Merbabu kita tunggu di episode berikutnya.


__ADS_2