Pendekar Bebek Gila

Pendekar Bebek Gila
21. Ki sapu angin


__ADS_3

kita tinggalkan dulu keempat pendekar muda yang lagi beristirahat di kedai sebuah desa.


Kita Coba melihat perjalanan Rangga dan rengganis yang terus memacu kudanya berharap dapat menyusul Palupi, Tapi nyatanya setelah beberapa hari terus memacu kuda tanpa mengenal lelah mereka tidak mampu melacak kepergian Palupi ke arah mana.


"Kakang......purnama tinggal dua hari lagi, kita sebaiknya konsentrasi ke Merbabu biar mbakyu Palupi mencari jalannya sendiri sesuai keinginannya kakang....!!!!" Ucap Rengganis yang mulai putus asa pencarian terhadap Palupi.


"Ganis....apa yang akan aku katakan pada guru nanti bila guru menanyakan keadaan Palupi nimas....??!!" Jawab Rangga dengan wajah lesu akibat rasa curiga dan rasa iba yang menjadi satu.


"Aku juga bingung kang......,kenapa mbakyu Palupi begitu cerobohnya meninggalkan tanggung jawab yang sudah sanggup di pikulnya dan sekarang pergi entah kemana seperti pengecut..!!" Jawab Rengganis dengan kesal.


"Nimas....jangan bicara seperti itu, apapun yang dia lakukan Palupi adalah saudara seperguruan kita nimas.....,tidak baik kamu bicara begitu.


"Hhhhemmss.....,kang seharusnya kita melewati jalur barat daya untuk mencapai Merbabu....!!!" Ucap Rengganis berusaha mengalihkan pembicaraan.


"hhh.....!! baiklah nimas kita cari jalan menuju Merbabu aku yakin nimas Palupi tidak apa apa....!!!" Rangga menarik nafas dengan berat lalu melepaskan.


"Hiiaaa........!!!! hiiiaaaa........!!!" Kedua pendekar dari padepokan bunga teratai itu kembali memacu kudanya menyusuri jalanan tanah dusun dusun kecil yang sepi. Hingga di suatu desa yang agak ramai, terdapat beberapa penduduk desa sedang asyik bekerja mencari nafkah, dan di sebuah perempatan desa itu terlihat banyak penduduk desa sedang berkumpul.


"hhhrrr......ck...ck...ck......!!!" suara Rangga menghentikan kudanya.


"Rahayu kisanak......,kalo boleh saya bertanya jalan arah ke gunung Merbabu lewat yang mana kisanak....!!!!" tanya Rangga sopan kepada penduduk kampung yang sedang memegangi ayam jago di perempatan jalan itu.


"Maaf kisanak ini dari mana dan mau kemana.....kalo boleh saya tahu.....??!!" tanya pemuda desa itu balik bertanya.


"Eee......saya dari kadipaten wengker Ki....., dan saya sedang melakukan perjalanan ke arah gunung Merbabu...!!" Jawab Rangga kepada pemuda yang bertanya asal Rangga dan rengganis.


"Oowh.....,kisanak kalo mau kearah gunung Merbabu harus memutari bukit itu kisanak.....karena sebelah kiri bukit itu ada sungai yang cukup deras airnya dan kuda kuda kalian tidak akan bisa ikut menyeberang...!!" Jawab pemuda desa itu menjelaskan dan memberi tau arah terbaik untuk menuju gunung Merbabu.


"Baik terimakasih kisanak, terimakasih sebelnya atas bantuan dari kisanak semua....!!!"


"Yaa....yaa.....kalian masih muda muda hati hati di jalan..."


"Baik terimakasih......izinkan kamu kembali melakukan perjalanan....!!" ucap Rangga menunduk menghormati pemuda yang memberi tahukan arah menuju Merbabu.


"Yaa.....silahkan .....!!!"


"ckk....ck...ck...ck.......hheerrrrr......!!!, hiaaa.....hiaaa......!!!" Sepasang pendekar muda itu lalu kembali memacu kudanya ke Utara untuk memutari sebuah bukit yang menjulang tinggi menghindari sungai yang membentang luas di timur bukit itu.


Entah berapa lama mereka sampai ke bukit itu yang tampak sore hari menjelang matahari terbenam mereka tiba di kaki bukit yang terjal menjulang angker itu. Terus saja mereka memacu kudanya seakan tidak merasakan lelah.


"Grekkkaaakkk......!!!!, bruuuaaakkkkk........" Sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan yang mereka susuri.


"Hiiiihihihheeeeehhhhh....hhrrrhhhrrr.....!!!" Kuda Rangga dan Palupi meringkik keras dan bergerak tidak teratur karena panik.


"Ssshhh....ck..ck..ck....hheerrr....!!" Rangga dan rengganis menenangkan kudanya.


"Sial.....ada pohon rapuh kayaknya nimas....,tumbang menghalangi jalan kita" Tiba tiba


"wwhuuuussss.....!!!shhhrooooottttt.......krosaaaacck.....!!!" Pohon besar yang tumbang di tengah jalan itu terlempar dari jalanan yang Rangga dan renganis susuri.


"Oohhhgg.....,nimas hati hati.....!!!"


"kang......!!!" kedua pendekar itu terkejut bukan kepalang bahkan kuda mereka meringkik keras dengan kaki terangkat tinggi.


"Halah..ha ..ha ..ha ..ha ..haa.......!!!" Sebuah ketawa terbahak membahana di antara pohon pohon besar di kaki bukit itu. dengan waspada Rangga dan rengganis segera memundurkan kudanya waspada akan situasi yang tidak di duga itu.


"Ada apa ini kakang....Rangga.....!!!" ucap Rengganis geram.


"Tenang nimas.....kendalikan dirimu....kita hadapi bersama sama apapun yang terjadi.....!!" Rangga berusaha menenangkan Rengganis yang memang mempunyai sifat pemarah dan keras kepala.


"Hhhii...hii...hi...heee..he..he....!!!!, swingg...sheeeb.....sheeeb.....Deb......!!!,Ha..ha..ha.......,ga...gga...gga...dis c...c...ca...cantik...dan pe...pe...pe...pemuda ga...ga...ga.gah....ma...ma...m...mau ke..ke..mana k..ka...kalian...hemm....he..he..he....!!" Tanpa di duga kedua pendekar itu tiba tiba sebuah bayangan melesat menapak di pucuk pucuk semak belukar lalu bersalto dan menapak di tanah depan mereka dengan lembut.

__ADS_1


"Huuhh.....siapa kamu kakek tua....,kenapa menghalangi jalan kami.....!!!" bentak Rengganis dengan mimik muka yang sedang murka.


"Ahaiii....ga..ga...ga..dis sa...sa...san..santik.....j....j...ja... jangan marah dong.....hihihi....!!" Terlihat seorang kakek tua dengan caping bungkuk dan bertongkat kayu di atasnya ada hiasan kepala bebek. bicara gagap sedang berdiri di tengah tengah jalan di depan mereka.


"Kakek....tua..., sedang apa kamu di tengah jalan dan menghadang perjalanan kami....hemmm....apa maksud kakek ini....!!?" Ucap Rangga yang lebih tenang bicara dengan kakek tua itu.


"He...he..he....pe..pe..pemuda Ga...ga..ga ...gah..., a...a...aku hanya ingin mencoba i...i..i..ilmu ke...ke...ke...saktianku yang baru....,a..a...a...ku sudah me..me..nunggu pendekar...ya..ya..yang....le..le...lewat tapi...yang le..le..lewat hanya pe..pe..petani lemah....he...he..he....., i..i...ini kebetulan...kalian lewat.kalau di li..li..lihat dari penampilan ka..ka...kalian adalah..se... Se..seorang pe...pe..pendekar makanya...a..a....aku ingin a..a..adu kesaktian de..de.denganmu...he..he..he...!!"


(Capek juga ngetik bicara orang gagap....😀😀😁....)


"Haduh...maaf kakek tua kami dalam perjalanan dan kami terburu buru kami tidak bisa melayani keinginan kakek....!! jawab Rangga sopan.


"Hi..hi..hi....kamu ta...ta..ta..takut...ya....hi..hih..hi....!!!" Ucap kakek itu sambil membuka capingnya.


"He kakek aneh....kami bukan takut tapi kami nggak ada waktu untuk melayanimu....!!" Bentak Rengganis ketus kepada kakek itu.


"Iya...kek..kamu benar benar tidak ada waktu....mungkin lain hari kita bisa bertemu dan main main bersamamu.....!!!" Rangga menambahi apa yang di katakan oleh Rengganis.


"A...a...a...aduhh....!!.,sudah la..la..lama lho aku menciptakan i...i...ilmu ini, masak su..su..suruh bantu u..u..untuk men..men..mencoba nggak mau....!!" ucap kakek itu seperti menghiba.


"Siapa sebenernya kakek ini....dan apa tujuanmu mengajak kami untuk berduel kek....haa....!!" Teriak Rengganis yang mulai tidak sabar.


"Nimas simpan tenagamu untuk menghadapi ratu Cempoko, kita tidak perlu membuang tenaga percuma hanya untuk menghadapi kakek gagap ini nimas....!!" Ucap Rangga menasehati adik seperguruannya.


"Tapi kakang kita terhambat perjalanan kita.....!!!"


"Sudahlah nimas biar kakang yang bicara sama kakek ini.....!!!, kakek siapa namamu nanti setelah aku kembali dari gunung Merbabu akan aku cari kakek dan kita bisa main main barang sejurus dua jurus...!!"


"He..he..he....a..a...anak muda.....!!, namaku Ki s..s...sa...sapu angin, aku adalah...pe..pe..pendekar sakti...he..he...?!!" Jawab kakek itu dengan bangganya.


"Baiklah kakek sapu angin....aku akan....cari kakek bila nanti aku sudah kembali dari Merbabu....!!!"


"Hei....kakek tua...kenapa kalau kamu ingin menjajal ilmu kesaktianmu tidak ke gunung Merbabu saja Ki....di sana ada Angkara murka yang akan kita hancurkan bersama pendekar pendekar tanah Jawa....!!!" Ucap Rengganis memberi tahu kepada Ki sapu angin.


"Ya...datanglah tepat bulan purnama kamu bisa mencoba seberapa sakti ilmu yang kamu ciptakan....!!"


"Ba..ba..ba...iklah kalo kalian ta..ta..takut....biar aku coba di gunung mer..mer..mer...babu....a..a..aku akan datang ..a..a..anak muda...hi..hi..hi....!!" habis bicara begitu kakek tua bernama Ki sapu angin itu melesat hilang dalam sekejap di kegelapan hutan yang sudah mulai merayap malam.


"Hadeehh....kakang....perjalanan kita jadi terhambat....ayo kita teruskan perjalanan ini kang aku harap sebelum tengah malam kita bisa beristirahat di sebuah desa yang kita lewati" Ucap Rengganis lega gangguan sudah hilang.


"Baiklah nimas ayo....,hari mulai gelap tidak usah kencang kencang lari kudamu nimas....!!!"


"baik kang.....!! hiaaa....hiaaaa....!!" Lalu kedua muda mudi itupun kembali melanjutkan perjalanan memutari bukit menuju arah barat.


Malam mulai turun menyelimuti bumi sebenarnya rombongan wirang dan Rangga tidak terlalu jauh tapi mereka hanya beda jalur sehingga mereka tidak saling bertemu di perjalanan.


Malam itu rombongan wirang beristirahat di sebuah dataran yang lapang tidak jauh dari sungai kecil yang airnya mengalir dengan jernih.


Suasana rembulan yang sudah mau purnama membuat pandangan mereka di sekitar terlihat jelas.


"Ndoroo....sebaiknya ndoro istirahat biar Bongkeng yang berjaga ndoro....!!!" Ucap Bongkeng kepada ndoronya.


"Aku belum ngantuk kang.....kita berbincang saja kang...!!"


"He..he...he...baik ndoro...bagaimana kalo kita bikin kopi ndoro mumpung singkong bakarnya masih, lumayan buat ganjal perut....!!"


"Masuk Kang usulmu....ya sudah kang Bongkeng ambil air biar wirang yang menyiapkan apinya....!!?"


"Baiklah ndoro...he..he...he....asyik ngobrol sambil ngopi...!!" lalu Bongkeng menuju sungai kecil itu untuk ambil air.


tiba tiba.

__ADS_1


"Suuungggg......pak.....Deb.....!!!" Sebuah bayangan melompat dari pucuk dahan ke pucuk semak belukar dan melompat menapak di kepala Bongkeng sebagai pijakan yang sedang jongkok ambil air, lalu melompat lagi ke pucuk semak semak.


"Buajinduulll......apa ini......!!! Woi......setannn.....bangsat....ini manusia anjingg. ...!!!" Bongkeng terkejut kepalanya di buat pijakan bayangan itu untuk melompat ke seberang sungai kecil itu.


"Maaf...hi...hi...hi.....!!"


"Berhenti kau keparat.......!!!" Bongkeng melesat mengejar bayangan yang menggunakan kepalanya sebagai pijakan tadi dengan sumpah serapah memaki maki. Dengan mengerahkan ajian lari cepat Bongkeng mengejar bayangan itu dan malah bayangan itu berhenti di dekat perapian yang di buat oleh wirang.


"Setan alas....berhenti.....!!!


"He..he...he.....!!!" Seorang kakek tua bercaping bungkuk dengan tongkat ada hiasan kepala bebek terkekeh di dekat perapian wirang. sedangkan Wirang juga baru muncul dari semak semak membawa kayu kering untuk menambah kayu bakar perapian. Lembayung dan Palupi yang tertidur sejak tadi terbangun oleh berisiknya makian si Bongkeng.


"Kang....siapa kang.....??!" Tanya wirang sambil meletakan kayu bakarnya dan waspada menghadapi sebuah kemungkinan yang akan terjadi.


"Setan tua ini menginjak kepalaku....semprulll orang tua gak tau adab....!!!" Amarah Bongkeng masih meluap sambil melotot kepada kakek tua yang terus terkekeh.


"Wirang.....!!!"


"kang Bongkeng.....!!??"


Hampir bersamaan Palupi dan lembayung memanggil wirang dan Bongkeng dengan maksud menanyakan apa yang terjadi.


"Hehehehe....mm..mm...m.m...aaf....,pemuda to...to...to...ngos aku tidak ta..ta..ta...u kalo i..i..i..tau kepalamu...a...a..aku kira tadi ..it..it..it...tu batu anak mu..mu .muda ....!!!" Ucap lelaki tua itu dengan gagap.


"Hei...tua bangka gak punya adab....jangan menghina aku ya, pakai bicara sok gaya gitu....!!" jawab Bongkeng gak menyadari kalo orang tua itu bicaranya gagap.


"Kang....sabar dulu kang....kayaknya bukan orang jahat kang, nyatanya mau minta maaf atas kesalahannya. ucap wirang menginginkan agar Bongkeng bersabar.


"Alah.....sabar sabar apa, coba kepalamu di injak......, kayaknya bekas menginjak tai kuda lagi....sialan bener.....!!!" kemaran Bongkeng masih terlihat sambil tanyanya membersihkan kotoran di rambutnya.


"Biar saya tanya dulu kang maksudnya apa.....!!?!"


"Iya....kang Bongkeng...hixz...hixz....hixz .....hh..h..h..!!!" ucap Palupi dan lembayung senja hampir berbarengan cekikikan.


"Kek....kakek ini siapa...dan mau kemana kek....kok bisa menginjak kepala kakang saya di pinggir sungai....??!!" tanya wirang mendekat kepada kakek tua itu dengan kewaspadaan penuh.


"He..he..he.....,ma..ma....m....aaf anak muda a...a...aku gak menyangka ...it..it..tu tadi kepala man..man..manusia anak muda....!!"


"ya...ya....trus kamu kira kepalaku ini apa ....orang tua coba jawab.....,bicara belepotan sok Sokan lagi uhhh....!!?!"


"He...he..he....., saya kira tadi bo...bo...bo....!!"


"Botak....!!" sela Bongkeng gak sabaran.


"Bukan....kok botak....to....!!"


"iya trus apa....!?!"


"Tak pikir tadi itu bo..bo..bo...!!!"


"bocahh.....!!!'' Bongkeng menyela lagi.


"woooo....si..si...sialan kamu to...to...tongos.....!!!" bentak kakek gagap itu marah kepada Bongkeng.


"He..he..he....!!!"


"hi..hi...hixz...hixz....!!!'' Wirang dan kedua gadis pendekar itu tertawa melihat perdebatan kedua orang aneh itu. satunya gagap satunya tongos.


"Aaahhh.....sudah sudah...kamu sudah menginjak kepala saya masih juga menghina gigi saya..maumu apa kakek tua gagap....!!" jawab Bongkeng semakin marah pada kakek tua itu.


"Baiklah kek.....duduk saja dulu sini dekat perapian....kita berbincang bersama sama sini.....!!" ajak wirang sambil duduk di dekat perapian yang mereka buat.

__ADS_1


"He..he..he .....terimakasih....an..an...anak muda.....he..he..he....!!" Kakek gagap itu terkekeh lalu duduk nyomot ubi bakar dan memakannya tanpa meminta izin dulu pada wirang dan teman temannya. Akhirnya malam itu mereka berlima berbincang bincang walau Bongkeng kadang masih sela omongan kakek gagap itu yang kadang membuat kakek itu memakai dan bentak Bongkeng, dasar Bongkeng di maki malah ketawa dan menggoda kakek tua itu.


bagaimanakah kelanjutan cerita pendekar wirang ningratan kita tunggu episode berikutnya.


__ADS_2