Pendekar Bebek Gila

Pendekar Bebek Gila
3. Pelarian ke lereng Lawu


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, suara suara burung kecil mulai berkicau meramaikan alam yang segar berembun di pagi hari, terlihat pergerakan dua bayangan hitam melompat lompat di atas batu di pinggir sungai yang airnya gemericik jernih segar dan menyejukkan siapa saja yang memandangnya, dua bayangan hitam terus melompat menghindari menapak air yang dingin, yang belakang berlari agak kepayahan karena di punggungnya ada sesosok anak kecil berumur sekitar delapan tahunan menggelayut erat seakan takut jatuh dan tertinggal dari kedua orang itu.


"Bongkeng.....!! berhenti....!!" bisik bayangan yang di depan berhenti dari larinya dan meloncat di pasir yang terlihat bersih di pinggir sungai itu.


"Ada apa ndoro....!!??" Jawab bayangan hitam yang di panggil Bongkeng itu berhenti dan mengikuti ke pasir di pinggir sungai itu.


"Berhenti.....,sebaiknya kita istirahat dulu Bongkeng kasihan den Sastro mungkin dia kelelahan setelah semalaman kita ajak berlarian menembus semak belukar....!!" jawab Kentho menjelaskan pada Bongkeng.


"Dennn.....!! Raden Sastro....!??" panggil Bongkeng pada anak kecil yang menggelayut di punggungnya.


"Iya paman Bongkeng aku ngantuk sekali...., apa kita sudah sampai di rumah orang tuamu paman....??!" Jawab anak kecil itu sambil menggeliat malas karena masih ngantuk.


"Waduhh.....,bocah edan....!!! kita berdua ketakutan di kejar pembunuh bapak ibumu kamu malah enak enak tidur di punggungku.....dasar bocah semprulll....!!!" Dengus Bongkeng meracau sekenanya.


"Heeehhh....., sudah sudah ayo kita segera bergerak.....!!!" Ucap Kentho menyudahi kekesalan Bongkeng pada anak tuan majikanya yang sekarang menjadi anak sebatang kara.


"Ndoro Kentho....., apa tidak sebaiknya kita istirahat dulu ndoro, Bongkeng berlari menggendong den Sastro sudah dari semalaman dan tubuhku capek sekali ndoro....!!" Ucap Bongkeng mengusulkan untuk istirahat di pinggir sungai itu, karena Bongkeng merasa sudah sangat jauh sekali berlari dari semalaman sambil menggendong momongannya yang tertidur di punggungnya.


"Heemm....., baiklah turunkan den Sastro rebahkan tubuhmu di batu besar itu dan tidurlah barang sebentar biar tubuhmu segar kembali.....!!" jawab Kentho sambil berlalu ke arah tegalan di pinggir sungai itu.


"Lha ndoro Kentho mau kemana ndoro....., apa mau meninggalkan kami berdua...??" Tanya Bongkeng sambil menurunkan tubuh momongannya di atas pasir di pinggir kali itu.


"Istirahatlah kamu sama den sastro...., aku mau cari ubi kayu buat ganjal perut...!!" Jawab Kentho sambil berlalu.


"Haaahh.....masuk itu ndoro cari yang banyak ya ndoro aku laper banget.....he...hee...hee...!!" Jawab Bongkeng dengan cengengesan sambil mengelus elus perutnya yang buncit karena banyak cacingnya.


Setelah mereka bertiga istirahat dan makan ubi kayu ngambil milik petani di ladang, lalu mereka kembali berjalan menuju arah selatan. Seharian penuh mereka terus berjalan sesekali istirahat di bawah pohon yang ada di pinggir jalan setapak itu, memang sengaja mereka tidak ambil jalan di pedesaan karena takut masih di cari oleh gerombolan kelabang ijo, mereka berjalan melewati pinggiran hutan agar tidak terlihat oleh orang orang yang mungkin akan curiga akan keberadaan mereka bertiga.


Sementara itu di kota kadipaten Randu kendit sang Adipati sangat senang mendengar laporan dari Sentono tentang kematian Ki Rejo pakulo. dengan beberapa prajurit siangnya sang Adipati ikut melayat jenazah Ki Rejo pakulon untuk di kuburkan. Tapi ada yang mengganjal di pikiran sang Adipati Buono Lanjar karena tidak melihat anak Ki Rejo pakulon dan si Kentho bawahannya Ki Rejo pakulon sebagai praja pajak di kadipaten Randu kendit.


"Sentono....., kemana anak si Rejo pakulon....??!!" Bisik Adipati Buono Lanjar pada Sentono prajurit kepercayaannya.

__ADS_1


"Maaf Kanjeng Adipati saya belum mendapatkan berita tentang itu, dan secepatnya akan saya suruh telik sandi untuk melacak anak Ki Rejo....!!" jawab Sentono dengan suara bergetar takut sang Adipati murka.


"Sentono cepat selesaikan kerjaan yang aku percayakan padamu, jangan sampai membuat aku kecewa Sentono...!!!" Perintah Adipati dengan nada yang kesal.


"Sendiko dawuh kanjeng....!!" Jawab Sentono dengan menundukkan wajahnya. Lalu sang Adipati berjalan ke arah Ki Sabdo Bungkik yang juga terlihat berada di rumah Ki Rejo pakulon.


"Bungkik....., aku harap apa yang kamu ucapkan adalah kebenaran sehingga apa yang telah aku lakukan pada Rejo pakulon tidak sia sia dan salah sasaran...!" Bisik sang Adipati pada Ki Sabdo Bungkik yang menghaturkan sembah pada Adipati Buono Lanjar.


"Kanjeng Adipati...., tindakan Kanjeng sudah sangat tepat karena kalo sampai satu purnama lagi Kanjeng Adipati tidak segera mengambil tindakan, maka kadipaten Randu kendit akan terjadi pralaya dengan kadipaten Bumi Areng...!!" ucap Sabdo Bungkik meyakinkan junjungannya.


"Hemmm.....baiklah segera selesaikan apa yang perlu dalam penguburan keluarga Rejo pakulon, aku serahkan padamu bukik....!!" Jawab sang Adipati sambil berjalan menuju ke kuda lalu menaikinya dan pergi ke kota kadipaten untuk kembali ke keraton.


"Sediko dawuh Gusti Kanjeng Adipati...!!" jawab Sabdo Bungkik dengan menghaturkan sembah sambil membungkukkan badannya.


Penguburan jenazah keluarga Rejo pakulon tanpa ada sanak saudara yang menghadirinya karena sanak saudara dari Ki Rejo dan istrinya jauh di kadipaten wengker bagian selatan tanah Jawa. Setelah penguburan jenazah suami istri yang di fitnah itu lalu satu persatu warga yang menghadiri penguburan kedua jenazah suami istri praja kadipaten itu pulang dengan pertanyaan di benak masing masing yang tanpa jawaban yang jelas, mereka semua menganggap kematian ke Rejo pakulon dan istri adalah sebuah peristiwa yang misterius, lebih lebih anak Ki Rejo pakulon seperti hilang tanpa jejak dan tidak ada seorangpun warga tetangga Ki Rejo pakulon yang mengetahuinya. Hari berganti hari Minggu berganti Minggu kematian keluarga Rejo pakulon lama lama sudah terlupakan oleh warga sekitarnya dan seperti tidak pernah ada peristiwa pembunuhan purnama berdarah yang menggemparkan yang pernah terjadi. kehidupan warga randu kenditpun sudah mulai normal kembali, ketakutan ketakutan akan isu isu pembunuh purnama berdarah pun sudah semakin terlupakan oleh warga randu kendit yang sempat was was dan kawatir peristiwa itu akan menimpa keluarga mereka, karena Sabdo Bungkik membuat isu bahwa keluarga Rejo pakulon di rampok dan di bunuh karena Ki Rejo pakulon melawan puluhan penyamun pada malam bulan purnama malam itu.


Kita tinggalkan dulu warga randu kendit yang hidup normal dengan segala kesibukan mereka masing masing, kita menuju keberadaan dan petualangan si Bongkeng dan Raden Sastro marmoyo yang dalam pelariannya menuju keselatan menemui beberapa kesulitan dan penderitaan. dua purnama lebih sejak si Kentho yang entah mengapa tiba tiba menghilang pada malam hari di saat mereka bertiga sedang tidur beristirahat di sebuah gubuk di pinggiran hutan dekat tegalan petani di sebuah kampung kecil di lereng gunung Lawu yang menjulang tinggi dengan anggunnya. Bongkeng dan Sastro marmoyo seperti orang buta yang kehilangan tongkatnya karena tidak ada lagi orang yang selama ini melindungi dari berbagai ancaman yang kadang tanpa mereka sadari mengancam pelarian mereka di sepanjang wilayah yang mereka lewati. Namanya daerah asing Bongkeng dan Sastro tidak mengenal Medan nya sehingga mereka kadang kadang menemui penyamun dan begundal begundal kecil, untungnya mereka tidak memiliki harta apapun yang bisa menarik dari kejahatan begundal begundal pada jaman itu. Mereka terus berjalan kearah selatan dan menuju lereng gunung Lawu, tak terasa dengan segala halang rintangan yang mereka hadapi berdua mereka tiba di sebuah candi tua yang tidak terawat terlihat rumput liar dan lumut mengerubungi candi itu sampai tersamar bahwa itu adalah sebuah candi. Lalu mereka mencari tempat yang sedikit lapang untuk istirahat, karena senja mulai merambat lalu mereka membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh yang mulai di terpa dinginnya angin gunung Lawu.


"Sialan.....semut tak tau diri malam malam begini belum tidur, masih saja suka gigiti tubuh keriputku....!!" Guman bayangan putih itu dengan kesal.


" Sebaiknya aku segera turun saja kayaknya bocah dekil hitam bermata belok itu sudah tidur mungkin ini waktunya aku membawa bocah kecil itu untuk aku serah kan kepada kakang Resi....!!!" Ucap bayangan itu yang ternyata seorang lelaki tua berbaju putih lusuh membawa tongkat bambu.


"Heepp......!!! Tab....tab....!!!" dengan gesit lelaki tua itu melayang turun dari pohon dengan anggunnya dan menapak lembut tepat di depan Sastro marmoyo yang terkesiap melihat tiba tiba ada sesosok putih bungkuk di depan hidungnya.


"Haaa......hantuuu....hanntuuu.....Bongkeng.....a....a....da hantuu kang Bongkeng.....tolong bangun....!!!" Spontan Sastro marmoyo berteriak saking terkejutnya melihat laki laki tua tiba tiba ada di depanya.


"Sssstttt......!!!! aku bukan hantu bocah geblekkk.....!!!" Ucap lelaki tua itu dengan menaruh telunjuk tangan ya di depan mulut.


"Siapa kau.....??!!" Tanya Sastro masih dengan raut wajah yang ketakutan.


"Ada....apa den......!!???" Ucap Bongkeng yang kaget dan bangun dengan menggosok gosok matanya.

__ADS_1


"Hadeeehhh.....ini si bocah dekil bangun lagi....gagal aku mau bawa anak ini....!!" Dengus lelaki tua itu dengan kesal. Dengan secepat kilat lelaki tua itu lalu menotok syaraf suaranya si Bongkeng sehingga si Bongkeng TDK bisa bersuara hanya terduduk dengan mata yang melotot ketakutan.


"Hei....bocah bagus.....kamu harus ikut kakek agar hidupmu tidak semenderita saat ini cah Bagus....!!" ucap lelaki tua itu pada Sastro marmoyo.


"Siapa kamu kakek tua dan kamu apakan kakangku Bongkeng...!!?" Ucap Sastro marmoyo dengan wajah sedikit mereda dari ketakutan setelah tahu di depanya ternyata bukan hantu tapi kakek tua berwajah bersih dan menyejukkan siapa saja yang memandangnya.


"H..h..hh...h...h....!!! Bocah tengik untuk apa kamu mau tahu siapa kakek...hemm...yang penting kakek tidak berbuat jahat padamu, tapi ingin menolongmu bocah bagus....hehe....!!?!" kekeh orang tua itu sambil tongkat bambunya di acungkan pada wajah Sastro marmoyo.


"Menolongku...kakek tua....??" Tanya Sastro marmoyo dengan mimik wajah bertanya.


"Iyaa.....aku di utus oleh saudaraku Resi Sawo galing untuk membawamu ke puncak Lawu, dan mengambilmu sebagai murid kakang Resi...!!" Jawab lelaki tua itu dengan suara yang sedikit pelan.


"Kakangku Bongkeng bagaimana kek apa juga akan ikut...!!??" Tanya Sastro pada kakek tua itu di depanya.


"Hh....hh....h....! tidak cucuku bocah bagus....kakangmu si Bongkeng dekil nanti biar ikut aku saja ke bukit gupak Warak biar nanti aku ajari dia untuk menjadi temanmu melalang buana membasmi kejahatan bila sudah waktunya nanti...!!" Jawab lelaki tua itu lagi.


"Aku gak mau kek berpisah dengan kakang Bongkeng....!!" Jawab Sastro dengan tegas.


"Hei bocah bagus....bocah tengik...kamu harus ikuti kata kataku agar hidupmu menjadi berarti di dunia fana ini....he...he...he....!! Ucap kakek tua itu lalu mendekat sama si Bongkeng yang masih kaku hanya mata beloknya yang bergerak gerak mengikuti gerak tubuh dari kakek tua itu.


"Dengarkan kata kataku bocah dekil...setelah totokan pada tubuhmu memudar segeralah berjalan ke arah barat carilah bukit Gupak Warak aku menunggumu di sana...!!" Ucap lelaki tua itu memberi arahan pada Bongkeng.


"Ayo bocah bagus sebelum fajar menyingsing aku harus sudah menyerahkan mu pada calon gurumu....!!!" Sambil berucap kakek tua itu membopong tubuh mungil Sastro marmoyo dan melesat cepat menuju puncak Lawu, hanya sepeti bayangan putih saja yang terlihat karena ilmu lari cepat dari orang tua itu sudah dalam tataran tingkatan yang sempurna. Sastro marmoyo hanya bisa pasrah di gendong oleh orang tua itu hanya tangannya yang mungil yang berpegangan erat pada baju putih lusuh dari kakek tua itu.


"Hemmm.....siapa bocah kecil ini sehingga kakang Resi Sawo galing menyuruhku mencari dan menyerahkan anak ini padanya....??!!" Guman kakek tua itu dalam hatinya bertanya tanya. Kalo dari apa yang di rasakan saat berinteraksi dengan bocah kecil ini memang struktur tulang dan otot ototnya sangat sempurna dan sangat cocok untuk menjadi seorang pendekar bilih tanding.


"Weesssss......tab....tab.....wesssssss......!!!!'' Hanya suara angin dan tapak kaki meloncat loncat yang terdengar oleh kencangnya kakek tua itu berlari sambil menggendong Sastro marmoyo menuju puncak Lawu. Sementara itu sejak kepergian kakek tua yang membawa Sastro marmoyo, si Bongkeng setelah sepeminuman teh mulai bisa menggerak kan tubuhnya dan segera dia beringsut mengejar ke arah kakek tua itu menghilang di telan rerimbunan pohon dan gelapnya malam. Setelah beberapa saat Bongkeng mengejar tapi gak ada hasil lalu Bongkeng kembali ke tempat semula dan hanya bisa duduk pasrah di dekat perapian yang mulai mengecil bara apinya.


"Denn.....Raden....marmoyo.....maafkan kakang den tidak bisa melindungi mu dari orang orang yang berniat jahat padamu denn...hu..hu....hu.....!!!"" Dengan tersedu sedu si Bongkeng menangis menyesali hilangnya Sastro marmoyo.


"Aku harus mencarinya.....!! tapi kemana....!??? Ohw....iya kakek tadi bilang aku suruh ke bukit Gupak Warak....!! aku harus mencari bukit itu semoga aku dapat petunjuk....!!"

__ADS_1


Lalu Dengan berjalan pelan bongkeng menuju arah barat dan mulai mencari bukit Gupak Warak.


__ADS_2